KEMERDEKAAN SEJATI HADIR
DARI KEBERANIAN
MENGIKUTI KATA HATI
* Merdeka !
iman
Soekarno – Hatta
Posted on August 15, 2008
Walau hubungan Soekarno dan Hatta mengalami pasang surut. Sebenarnya kedua orang ini sesungguhnya tetap bersahabat sampai akhir hayatnya. Sejak dulu keduanya memang berbeda dalam cara memperjuangkan kemerdekaan. Soekarno adalah orator ulung dan menginginkan penggerak revolusi massa, sementara Hatta sebaliknya. Ia pencerah alam pemikiran dengan pembawaannya yang tenang.
Menurut Soekarno jejaka Hatta adalah orang sangat malu dan merah mukanya jika bertemu gadis. Ia tak pernah berdansa, tertawa dan menikmati hidup. Tapi cara terbaik untuk melukiskan pribadi Hatta menurut Soekarno adalah dengan mengisahkan suatu kejadian.
ruang hening proklamasi kita
Posted on August 13, 2008
Persoalan suara siapa yang harus didengar tidak menjadi monopoli jaman sekarang. Para generasi muda saat ini yang progressive menyuarakan mereka yang lebih berhak memimpin bangsa ini daripada ‘ old establishment ‘ generasi tua.
63 tahun lalu para pemuda menolak dengan keras ide proklamasi dengan melibatkan PPKI ( Panitia Kemerdekaan Kemerdekaan Indonesia )- bentukan Jepang – karena dianggap representasi sebuah kemerdekaan yang diberikan oleh Jepang. Ini sesuai yang dikatakan Jenderal Terauchi pada tanggal 12 Agustus 1945 kepada Soekarno dan Hatta di markas besarnya Saigon. Bahwa Pemerintah Dai Nippon akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.
Persoalan tua muda, siapa yang layak mengambil keputusan atas nasib bangsa tidak melulu dilihat dari umur. Soekarno Hatta yang berumur 40 tahunan sudah dianggap barang rongsokan oleh generasi muda seperti Soekarni, Wikana, Soebadio, Soebianto Djojohadikusumo, Chaerul Saleh pada saat itu.
tentang Cina
Posted on August 10, 2008
Saat ditinggalkan oleh Gong Li yang memilih konglomerat Singapore, sutradara -nominasi Oscar – Zang Yimou menulis quotenya yang beredar di kalangan perfilman. Lelaki tidak menangis, tapi hatinya berdarah.
Kini Zang Yimou mungkin sudah melupakan hatinya yang pernah berdarah darah. Ia telah membuat seluruh rakyat daratan Cina menangis terharu melihat pembukaan Olimpiade Beijing yang paling spektakuler dalam sejarah Olimpiade. Zang Yimou yang ditunjuk untuk merancang upacara pembukaan Olimpiade, membuat sebuah disain seperti layaknya jalan cerita film. Sebuah catatan perjalanan bangsa cina sejak jaman dahulu kala sampai sekarang.
Melihat acara ini seperti kita melihat film film besutannya. Seperti menonton ” The Curse of Golden Flower “. Ada nyawa disana, juga emosi dan gelora yang meledak ledak. Dengan kata lain Cina memang ingin menunjukan kepada dunia bahwa, mereka adalah bangsa modern, besar dan layak ditakuti.
Baljitot
Posted on August 8, 2008
Ini mungkin problem klasik pemilik produk di Indonesia. Bagaimana memberi nama sebuah produknya. Saya geli sekaligus terkekeh kekeh , ketika mencari balsem buat kerokan. BALJITOT. Nama merk yang mengundang konotasi tertentu. Tapi orang memang tak peduli ketika memberi nama merk. Suka suka saja dan mungkin ada perhitungan fengs shui serta saran dari Mbah dipo di gunung menyan.
Beberapa kasus keberhasilan produk di pasar memang tidak ada hubungan dengan nama merk itu sendiri. Seperti kosmetik merk CE FUK yang mengambil dari nama pemiliknya sendiri. Daripada pusing pusing cari nama merk, ya sudah comot nama sendiri.
Tak tahu apakah nama atau merk unik bisa mendongkrak brand awareness. Mungkin Andrias bisa menjelaskan. Kembali ke BALJITOT. Maksudnya singkatan dari Balsem Pijit Otot, bisa juga diartikan Balsem habis dipijit melotot. Tapi jangan berpikir aneh aneh seperti…..ah sudahlah.
Perbedaan adalah Rahmat
Posted on August 6, 2008
Mestinya postingan tentang kaos yang saya beli di festival Kemang ini, masuk di cerita kaos . ” Perbedaan adalah rahmat ” judul kaos ini. Sebuah cara untuk mengembalikan rasa ikhlas yang sulit didapat dalam sebuah perdebatan. Lihat saja kongres HMI – Himpunan Mahasiswa Islam – di Palembang baru baru ini. Ketua HMI Ciputat Jakarta harus digotong ke rumah sakit karena terkena bogem mentah dari pasukan HMI Makasar. Ini baru organisasi mahasiswa sudah pukul pukulan, bagaimana kelak jika menjadi pemimpin atau wakil rakyat. Bisa jadi kepalan tangan dan emosi urat leher lebih dikedepankan jika perdebatan mengalami jalan buntu.
Daniel S Lev – Profesor pengamat Indonesia – ketika ditanya, apakah ia memiliki referens kehidupan politik yang ideal. Ia menjawab, tak usah jauh jauh melongok pada sistem demokrasi Amerika. Cukup melihat pada tahun 50 an, saat kehidupan demokrasi pada waktu itu mengajarkan bagaimana menghargai bentuk pikiran lawan. Pluralisme dalam ideologi dan pikiran adalah hal biasa.
Gerakan Seribu Buku
Posted on August 5, 2008
Ada sebuah kebiasaan yang tak boleh dilupakan, ketika kami pergi menjelajah untuk menyelam. Yakni membawa buku buku apa saja untuk dibagikan kepada warga daerah tempat kita menyelam. Ada yang membawa majalah, atau membawa buku pelajaran. Saat menikmati alam bawah laut Raja ampat, Papua, ada teman yang membawa alkitab. Demikian juga ketika menuju Selayar, ada yang membawa buku buku agama Islam. Tidak banyak, dan yang lebih menggembirakan sebenarnya saat melihat mereka menerima dengan suka cita oleh oleh kami dari Jakarta. Buku yang mungkin menjadi barang langka bagi sebagian orang di pelosok pelosok negeri ini.
Saat surface interfal di kepulauan Padaido bawah, Biak – Papua. Keriangan jam makan siang kami di pantai bertambah dengan hiruk pikuk anak anak pulau yang berebutan membaca Donal Bebek sampai buku cerita lainnya. Luar biasa.
jurnalisme delik aduan
Posted on August 3, 2008
Sarah Azhari sempat mengutarakan kekesalannya dalam sebuah dialog publik, sambil menunjuk aneka pemberitaan media info hiburan ( infotainment ) yang kerap menulis dan bernada menyudutkan. Lebih jauh ia menggugat tiadanya verifikasi terhadap dirinyasebelum berita itu muncul. Persoalan ini menjadi ide pembahasan menarik sebuah jurnalisme – terutama blog – sampai seberapa penting sebuah pemberitaan memerlukan cross check atau tidak sama sekali karena justru karena sifatnya yang instant dan lebih mementingkan ke-kinian up to date.
Berbeda dengan prinsip dan pola kerja jurnalistik mainstream yang berpedoman pada koridor jelas, yakni kode etik dan profesionalisme. Dalam blog sepertinya memang tak ada tatanan yang mengaturnya. Padahal dalam perjalanannya, selain menjadi media pewartaan, blog bisa mengusung issue issue seperti halnya infotainment – yang menurut Komisi Penyiaran Indonesia, info-hiburan dikategorikan sebagai program faktual alias program siaran yang menyajikan fakta nonfiksi – Panas, mendebarkan dan sekaligus membuat sebagian orang kebakaran jenggot.
Achilles
Posted on August 1, 2008
Achilles yang perkasa selalu merindukan sahabatnya Patrocolus. Dalam hikayat kuno Yunani, disebutkan persahabatan mereka selain sekadar teman laki laki. Ada unsur passionate yang mungkin diartikan tentang cinta. Apakah homosexual pada jaman sekarang, tidak ada yang bisa memastikan. Achiles selalu tender dan memasrahkan tubuhnya dipeluk sahabatnya setelah berperang. Berkasih kasihan sambil sesekali Achiles membalut luka di tangan Patrocolus. Demikian pada penggambaran sebuah lukisan Yunani kuno.
Jauh ribuan kilometer dari sana, Warok warok dari Ponorogo selalu memelihara gendak laki laki muda bertampang boyish, untuk memelihara rasa cinta. Konon kesaktiannya akan hilang jika mereka berhubungan dengan wanita. Warok Suromenggolo yang perkasa dan trengginas, bisa mendadak sendu dalam pelukan kekasihnya.
gele
Posted on July 28, 2008
Saya sempat mencoba rokok ketengan di sebuah toko tembakau pojokan Kota Gede – Jogjakarta. Mereka menjual rasa Marlboro light mentol, gudang garam sampai Jie sam soe. Semua merk yang ada di pasaran. Setelah kita memilih tembakaunya, ibu penjualnya melintingnya sendiri dengan mesin linting tradisional. Tentu saja dengan kertas lintingan rokok yang bertuliskan. Gudang Rakyat, Malioboro atau Jie Samu. Mungkin mereka takut kalau terlalu terang terangan memalsukan produk orang.
Saya hanya mencicipi marloboro light mentol dan tentu saja rasanya berbeda, karena mungkin sausnya juga berbeda.
Renungan capres dari Imogiri
Posted on July 26, 2008
Tak ada yang lebih nikmat daripada – pagi pagi – menikmati semangkok soto di pinggir sawah sambil duduk memandang hamparan hijau disepanjang perjalanan menuju Imogiri, Jogyakarta. Kalau Soetrisno Bahchir mengatakan dalam iklannya, Hidup adalah perbuatan. Saya lebih suka memilih tagline, Hidup adalah kesempatan. Ya , kesempatan mengisi perut dengan nasi hangat, toge, kol, tomat, suwiran ayam tipis tipis yang dikepyuri jeruk nipis. Kesempatan yang mungkin seorang Soetrisno Bachir tak mungkin lagi merasakan.
Bapak tua penjual soto mungkin juga tak pernah tahu siapa Soetrisno Bachir atau Prabowo Subianto dalam iklan iklan gebyar sosialisasi capres. Wong di sana, di Imogiri ia tidak memiliki televisi. Tapi orang orang seperti pak tua tadi, selain anak anak kecil, petani, masyarakat marjinal yang menjadi icon perjuangan mereka. Untuk bersama menuju sebuah Indonesia baru.
Renjana
Posted on July 21, 2008
Berbeda dengan versi penuturan aslinya bahwa Rara Jonggrang tidak mencintai Bandung Bondowoso. Sebenarnya justru setelah ‘ dikerjai ‘ oleh si puteri. Bandung Bondowoso mengejar Rara Jongrang yang lari bersembunyi di keraton ayahnya. Keraton Boko. Syahdan sambil memandang matahari tenggelam, si Bandung Bondowoso bisa meyakinkan kesungguhannya. Merekapun berpelukan. Semburat oranye menjadi latar silhoutte mereka berpagutan.Teramat lembut dan menggetarkan. Melupakan dendam dan berkawan rindu.
Kini Ia tidak menjanjikan seribu candi. Hanya sebuah candi kecil dibangun oleh Bandung Bondowoso. Tersembunyi dalam hati Rara Jongrang. Keajaiban sunset telah membangkitkan renjana di hati sang puteri. Sayang, tak ada yang mempercayai penuturan versi saya.
