16December2009
Posted by iman under: FILM; Militer; POLITIK.
Kita dari kecil terbiasa menonton film film Hollywood tentang perang Vietnam. Apa yang dilihat selain gerilyawan bertopi caping komunis yang militan dan kejam, serta kolonel kolonel anak buah Paman Ho Chi Minh yang suka menyetrum Chuck Norris atau Silvester Stalone. Sebuah pencitraan tentang ancaman komunis dengan mudahnya dihidangkan melalui film film action perang.
Padahal bangsa Vietnam - seperti Indonesia - yang merebut kemerdekaannya dengan perjuangan senjata, sejak penjajahan Perancis sampai campur tangan Amerika. Komunisnya Vietnam sama dengan komunisnya Yugoslavia jaman Josep Broz Tito. Komunis yang nasionalistik dan tidak ekspansif.
Bagi mereka perang ini, tidak ada urusannya dengan komunisme. Ini adalah perjuangan mempersatukan negerinya, juga mempertahankan negerinya dari agresor barat.
Film Balibo 5, tiba tiba membuka kenangan lama tentang aneksasi Indonesia terhadap bekas koloni Portugis di Pulau Timor. Apakah sebegitu kejamnya Indonesia, khususnya militer yang dengan dinginnya membantai penduduk sipil. Mengeksekusi pria termasuk wanita dengan disaksikan anak anak yang menangis dari balik pagar kawat.
Dalam film selalu ada interpretasi dari sutradara, tentang penokohan dan dramatisasi . Apalagi jika bicara tentang film fiksi dan Balibo bukan film dokumenter walau mengambil setting sejarah.
Mungkin hanya Oliver Stone yang cukup detail dalam urusan data dan riset sebuah film sejarah. Seperti ‘ JFK ‘ dan lebih kebelakang lagi, dalam film ‘ Salvador ‘ ( 1986 ) yang menceritakan seorang jurnalis Amerika yang meliput perang di El Savador, dan ia terjebak dalam hubungan dengan gerilyawan sayap kiri dan penguasa militer. Stone, mencoba mengangkat pembunuhan terhadap Jean Donovan seorang pekerja sosial dan 3 orang biarawati asal Amerika yang dilakukan oleh death squad rezim militer.
Film ini terasa perih melihat betapa rapuhnya manusia dalam kesewenang wenangan. Puncaknya, ketika Uskup Agung Oscar Romero dibunuh. Sutradara tetap detail menggambarkannya, termasuk memasukan kata kata pidato terakhir uskup kepada rakyat sebelum ditembak oleh regu pembunuh rezim militer.
Read the rest of this entry »
7December2009
Posted by iman under: FILM.
Ada yang menarik dari Industri film di Amerika – terlepas itu kental aspek komersialisasinya – bahwa film menjadi sebuah pewartaan tentang simbol simbol demokrasi dan keadilan. Film bisa menjadi cermin budaya sebuah peradaban manusia. Selalu saja ada kesewenang wenangan, dan hak hak manusia yang terampas dalam struktur masyarakat Amerika. Juga tentang kemunafikan, dan aparat yang korup. Potret utuh masyarakat ini sekaligus menjadi sumber inspirasi pembuatan film film yang mengedepankan sisi keadilan dan transparansi publik.
Sejarah peradaban Amerika yang dibentuk oleh imigran Eropa, Cina dan budak budak Afrika tak lepas dari aspek keadilan. Film film hitam putih sudah merekam tentang bagaimana cowboy cowboy pembela kebenaran melindungi kota dari gangster gangter serta tuan tanah yang tamak dan korup.
Hollywood juga mengangkat kisah kisah warga atau laporan tentang kasus korupsi politik ke layar lebar, tidak saja membuka mata tentang kebobrokan moral pejabat publik, tetapi juga menghasilkan film film yang bermutu.
Film pertama yang menggunakan motivasi kejahatan ini sebagai plot utama, adalah The Finger of Justice ( Paul Smith Pictures , 1918 ). Seorang politisi terkemuka. William Randall yang melakukan kejahatan korupsi untuk memperkuat kekuasaan di kotanya. Dua orang warga masyarakat, Noel Delaney dan Yvonne tergerak mengungkapkan kasus korupsi ini.
Namun dari sekian banyak film film yang mengangkat kasus korupsi, ada empat film yang mungkin paling menarik selama 40 tahun terakhir. Chinatown (1974 ), All the President’s men ( 1976 ), Suspect ( 1987 ) dan City Hall ( 1996 ). Dalam Chinatown menceritakan korupsi para politisi yang bersekongkol dengan pengusaha milyuner untuk membeli tanah dengan harga murah. Film ini memenangkan Best Picture, Best Actor ( Jack Nicholson ), Best Actress ( Faye Dunaway ) dan Best Director ( Roman Polanski ) dalam Academy Award.
Read the rest of this entry »
1December2009
Posted by iman under: HUKUM & ETIKA; TOKOH.
Pagi hari itu, tanggal 13 Agustus 1956, Menteri luar negeri Ruslan Abdulgani baru saja makan pagi dan bersiap siap untuk lawatan dinas ke luar negeri. Menurut rencana hari itu ia akan terbang menuju London, untuk sebuah konferensi Internasional tentang masalah nasionalisasi Terusan Suez.
Ia tercekat ketika ada 2 orang perwira AD dari divisi Siliwangi menemuinya dengan membawa surat perintah penangkapan yang ditandatangani oleh Kol.Kawilarang dalam kedudukannya sebagai penguasa perang Jawa Barat. Waktu itu Jakarta masih berada dalam teritori divisi Siliwangi.
Situasi sangat genting. KASAD Nasution merencanakan akan mengganti para panglima panglima pada tanggal 14 Agustus, sementara Kawilarang sehari sebelum pergantian, justru mengeluarkan surat penangkapan. Sebelumnya berdasarkan laporan dan beberapa investigasi surat kabar, Menteri Luar Negeri menerima uang dari seorang pengusaha Tionghoa sebesar satu setengah juta rupiah sebagai bagian dari ongkos cetak kartu suara pemilu.
Istri Ruslan Abdul Gani langsung menghubungi Perdana Menteri Ali Sastroamijoyo, yang segera memberitahu Nasution tentang penangkapan ini. Kasad Nasution yang tidak mengetahui tentang insiden ini – menyebutnya perbuatan koboi – segera memerintahkan komandan garnizun Jakarta segera membebaskan Menteri Luar Negeri.
Hari itu juga Ruslan Abdulgani berangkat dari lapangan terbang Kemayoran menuju London. Peristiwa itu disebut sebut sebagai kegagalan pertama bangsa ini, memerangi korupsi karena intervensi Perdana Menteri Ali Sastroamijoyo.
Pemerintah melalui Perdana Menteri menuduh ini merupakan pembangkangan untuk mencegah pergantian Kawilarang. Namun sesungguhnya masa itu banyak perwira Siliwangi yang cemas dengan perbuatan korupsi oleh pejabat negara, dan mereka bertekad memberantasnya. Apalagi mereka banyak tak percaya Panglima baru kelak – Suprajogi – merupakan kaki tangan Nasution.
Read the rest of this entry »
26November2009
Posted by iman under: HUKUM & ETIKA; TOKOH.
Suatu hari di bulan September 1971, setelah Hoegeng Iman Santoso dicopot sebagai Kapolri oleh Presiden Soeharto. Ia mengembalikan semua barang barang inventaris milik dinas termasuk peralatan radio dan mobil.
Jend Pol. M Hassan yang menggantikannya menemuinya.
“ Kamu kok gila gilan, semua barang kamu kembalikan ? “.
“ Habis khan bukan punya saya “ Jawabnya.
Hoegeng juga mengatakan kalau ia naik bis kota saja untuk kemana mana. Sang Kapolri pengganti tak sampai hati, sehingga memaksa untuk meminjamkan mobil kepadanya.
Ini memang bukan cerita khayal tentang integritas seorang pejabat publik di Indonesia, bahwa di negeri ini pernah ada orang mengangkat kejujuran di atas segala galanya.
Jauh sebelumnya, ketika masih menjabat sebagai Kepala Jawatan Imigrasi – sekarang Dirjen – Hoegeng pernah mengusir seorang pengusaha asal Aceh kesayangan Bung Karno. Waktu itu pengusaha besar itu meminta paspor diplomatik, dengan iming iming akan memberi uang jatah bulanan kepada Hoegeng.
Kelak, dalam sebuah pertemuan di Istana, si pengusaha itu berusaha memberi impresi kepada Hoegeng bahwa ia dekat dengan Bung Karno. Tapi Hoegeng tak perduli, ia langsung mengatakan di depan presiden bahwa, orang itu hendak menyogoknya. Serta merta, Bung Karno memarahi habis habisan di depan Hoegeng.
Jabatan Kapolri yang disandangnya memang membuatnya menjadi penegak hukum kebijakannya yang tegas dan tanpa pandang bulu. Bandar judi disikat sampai Roby Tjahyadi tokoh penyelundup mobil kelas kakap yang ditangkapi.
Konon bisik bisik, jabatan Kapolri dicopot karena pertautan Robby Tjahyadi dengan peranan para petinggi di republik.
Read the rest of this entry »
19November2009
Posted by iman under: BERBANGSA; INDONESIANA.
Kisah Nabi Sulaiman selalu diulang ulang saat menceritakan bagaimana dengan bijaknya selalu menemukan solusi hukum atas keadilan yang dicari cari rakyatnya. Ketika seorang ibu menghadapinya dan meminta keadilan karena seorang ibu lain telah menukar bayinya dengan bayi yang sudah mati. Sang Baginda pun bersabda dengan memberikan solusi dengan ‘ membagi dua ‘ bayi itu untuk menentukan siapa ibu sesungguhnya.
Kita tahu akhir cerita ini, dan jauh ribuan tahun sebelum jaman sekarang, ternyata hukum sudah melakukan terobosan untuk menemukan keadilan.
Sedemikian sulitkah mencari keadilan ? Ini bukan sebuah cerita khayal dari Fransz Kafka, seorang penulis Ceko keturunan Yahudi. Tentang seorang yang mendatangi pintu gedung hukum, dan bertanya kepada penjaga apakah ia bisa menemui sang keadilan. Si penjaga, dengan gagahnya – karena ia melindungi gedung hukum – serta segala wibawanya, mengatakan bahwa mungkin ia harus menunggu.
Orang itu terus menunggu sampai bertahun tahun, sampai ia tua, lemah dan matanya rabun. Di pintu itu ia tetap terpekur, sampai akhirnya mati. Sebelum mati, Kafka menuliskan. Ada sebuah cahaya yang tak pernah mati, mengalir dari dalam pintu hukum itu. Ini mungkin sebuah satire yang mengejek hukum itu sendiri. Orang itu tak pernah menemukan keadilan yang sebenarnya, hanya sejengkal dibalik pintu besar itu. Tertutup oleh kekuasaan.
Read the rest of this entry »
15November2009
Posted by iman under: PERJALANAN.
“ Wah wah wah wah “ suara itu bersahut sahutan memenuhi perkampungan Suku Dani di desa Jiwika - distrik Kurulu, Lembah Baliem - menyambut kedatangan kami. Artinya, terima kasih atas kedatangannya. Dusun yang luas ini terletak di dilereng bukit yang tinggi, dengan sebuah sungai kecil membelah hutan kecil disisinya.
Para lelaki keluar satu per satu dari pondok kayu berbentuk bulat dengan atap rerumputan yang disebut Honai, langsung menjabat erat tangan kami. Hangat dan sangat bersahabat. Semua lelaki dewasa tinggal bersama sama di pondok honai yang disebut Pilamo. Beberapa pasang mata tampak hanya menyelidik dari dalam kegelapan honai.
Sementara kaum wanita duduk duduk bersama anak anaknya di depan rumah pondok kayu memanjang. Rumah ini merupakan tempat tinggal wanita dan anak anak sekaligus berfungsi sebagai rumah dapur. Lebih tepatnya sebagai penyimpanan logistik bahan makanan, karena mereka memasak di halaman. Pondok bagi wanita dan anak anak disebut Ebeaila.
Yali Mabel, sang kepala suku menyeringai lebar sambil menghisap rokok tembakau local cap “ Anggur Kupu “. Wajahnya keras dan tatapannya tajam. Berambut keriting dan sebagian wajah hitamnya dicat hitam dari arang. Ia tetap mengenakan holim ( koteka ), bertelanjang dada, tanpa alas kaki dan kepalanya dihiasi hiasan bulu bulu burung. Ada hiasan kerang kerang yang menjuntai di dadanya. Satu satunya produk modern yang melekat di badannya hanya sebuah jam tangan stainless steel di pergelangan tangannya.
Read the rest of this entry »
30October2009
Posted by iman under: HUKUM & ETIKA; POLITIK.
Lelaki itu memakai kopiah itu berdesak desakan di antrian bersama orang lain di sebuah rumah sakit Cipto Mangunkusumo. Ia bernama Sidik, seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya. Tak ada yang mengira , bahwa lelaki lusuh itu akan membongkar – menyaksikan praktek pat gulipat – yang kerap terjadi di birokrasi pemerintahan. Lelaki itu sesungguhnya Yohanes Baptista Sumarlin. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara masa orde baru. Ia menyamar, turun lapangan langsung untuk mengumpulkan bukti dan menjebak sendiri. Sejak itu nama Sidik menghiasi media massa saat itu.
Ini adalah sebuah lakon yang tak selesai. Sidik tetap tak pernah menyelesaikan tugasnya. Jauh sebelumnya, bekas Wapres Mohammad Hatta sudah ditugasi menjadi dalam panitia khusus pemberantasan korupsi pada awal Orde baru.
Ia frustasi , karena rezim penguasa tak sungguh sungguh menjalani penegakan hukum ini. Selalu ada intervensi. Apalagi saat itu sangat kental kronisme para Jenderal, pengusaha serta boom minyak yang membuat Komisi Korupsi hanya menukangi kasus ecek ecek.
Ia sadar bahwa kedudukan in tidak bergigi dan ia tak bisa berbuat apa apa.
Tak ada yang tak mungkin dinegeri ini. Sebuah nama Indonesia yang sejak Sumpah Pemuda sudah dikumandangkan menjadi sebuah entitas bangsa yang berharap memiliki kerinduan sama tentang keadilan sebuah negeri jajahan yang lambat laun menjadi kerinduan tentang persatuan dan kemerdekaan.
Read the rest of this entry »
25October2009
Posted by iman under: BLOGGERS.
Tunai sudah janji saya. Kemarin, Pesta Blogger 2009 berlangsung dengan meriah dan sukses. Beberapa hal memang saya akui – terutama teknis pelaksanaan –memang agak mengganggu, seperti suara antar ruangan break out seassion yang saling nyelonong. Juga AC yang tidak maksimal.
Namun yang penting bahwa lebih seribu orang dari seluruh belahan negeri yang menghadiri hajatan ini bisa menemukan esensi yang utama. Kopi darat temu Blogger skala nasional yang luar biasa.
Sebagaimana petikan pidato pembukaan yang saya sampaikan. “ …. walau selalu saja ada pro kontra tentang sebuah ide besar Pesta Blogger, tapi ini memang bukan melulu Pesta. Ada semangat persahabatan, semangat kebangsaan, semangat gotong royong. Insya Allah akan membuat blogger Indonesia lebih baik bagi masyarakat dan negerinya “.
Ada kejutan lain, bahwa Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring bersedia hadir. Ternyata kesan puritan orang partai yang ditakutkan sebagian blogger tidak beralasan. Ia sangat humble dan membiarkan berfoto ria bersama para blogger. Berbagai petikan pantun yang disampaikan memang membuat suasana cair. He was stealing the show.
Ada sebuah janji yang akan saya tunggu ketika ia ucapkan kepada saya di ruang VIP. Bahwa ia akan memberi waktu perwakilan blogger blogger Indonesia untuk melakukan audiensi tentang apa dan bagaimana dunia blogging Indonesia.
Read the rest of this entry »