Kenapa harus Kalla ? itu mungkin pertayaan yang dilemparkan publik ketika SBY memilih sekondannya untuk dalam pemilu Capres 2004. Ia yang tak punya kendaraan politik , karena baru dipecat dari Golkar setelah menyebrang ke SBY. Sementara Golkar ( Akbar Tanjung ) memilih merapat ke koalisi PDI-P. Tak ada yang tahu, ketika Kalla dipecat oleh Gus Dur sebagai Menko. SBY adalah satu satunya menteri dalam kabinet yang menunjukan rasa keprihatinanya dengan membesarkan hati Jusuf Kalla. Ini yang selalu diingat oleh pengusaha bugis itu sehingga tak sedetikpun ia ragu menerima pinangan SBY.
Kedua, Kalla adalah orang pengusaha yang sukses. Populer di kawasan Indonesia timur, sebagai representasi keseimbangan antara Jawa dan non Jawa. Dalam kesepakatan berikutnya Kalla bersedia menanggung biaya kampanye sebesar 70 %, dan sisanya 30 % dari SBY. Kalla memang tidak bodoh dan penuh perhitungan matematis. Ini juga dikemukan oleh Eep Sjaefulloh Fatah bahwa bagi Kalla semuanya ada perhitungan logis dan untung rugi. Kepada SBY ia meminta kontrak politik lebih jauh. Jatah pengurusan ekonomi Indonesia, dan membiarkan sisanya seperti pertahanan, politik luar negeri menjadi hak presiden.











