17 March 2008

Siti Fadilah Supari

Posted by iman under: BERBANGSA; TOKOH .

Selalu saja ada kekaguman terhadap orang orang yang peduli dengan masalah kebangsaan dan keadilan. Dunia dihebohkan Siti Fadilah Supari , seorang Menteri Kesehatan kita menjadi corong suara pemberontakan terhadap ketidakadilan Amerika dan WHO dalam masalah kebijakan kesehatan dunia.
Fadilah menuangkannya dalam bukunya yang baru baru ini diluncurkan, berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung. Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, ia juga meluncurkan buku yang sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It’s Time for the World to Change.
Ia melihat konspirasi yang dilakukan negara adikuasa dengan cara mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung. Mereka mengambil sample virus dengan dalih riset dari negara negara yang terkena epindemik ini, lalu membuat vaksin dan menjualnya secara mahal ke seluruh dunia tanpa izin, tanpa kompensasi.
Mereka mencari keuntungan dengan menjual vaksin kepada negara negara yang justru terkena wabah ini.

Dalam bukunya Fadilah dengan mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi. Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO.

“Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul apa
nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan
dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat Freeport , dan
lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya
,” ujar srikandi ini.

Perlawanan Siti Fadilah dimulai ketika virus flu burung menelan korban di Indonesia pada 2005. Ia kelabakan mencari obat. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung. Ini tidak adil, negara-negara lemah yang terkena tidak memperoleh apa-apa. Untung saja ada bantuan dari India, Thailand, dan Australia.

Korban terus berjatuhan. Di saat itu pula, dengan alasan penentuan diagnosis, badan kesehatan dunia (WHO) melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hong Kong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen. Siti Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dibuat vaksin. Ironisnya, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusahaan besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung.

Siti Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan dan martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak. Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin.

Di saat keraguan atas WHO, Siti Fadilah mengetahui bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC. Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico, AS. Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui. Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS yang biasa merancang bom atom. Lalu untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia?

Siti Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu. Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos, memujinya. Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi .

Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon. Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil, transparan, dan setara. Ia juga terus melawan: tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia.

Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Siti Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di Jenewa November lalu, sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan. Ia telah membuat sejarah dunia dengan mampu memaksa Amerika dan WHO merubah kebijakan fundamentalnya yang dilakukan selama hampir 50 tahun.

Amerika dan WHO yang kebakaran jenggot dengan peluncuran buku Fadilah versi bahasa Inggris, konon menekan Pemerintah RI untuk menarik buku Fadilah, dengan imbalan kompensasi peralatan suku cadang militer yang selama ini diembargo. Presiden SBY memang sudah menemui Menterinya. Tidak tahu apa yang dibicarakan.
Hanya kita menyayangkan jika seorang SBY harus menjadi perpanjangan tangan Amerika untuk menekan perjuangan Fadilah.
Ia menjadi srikandi yang memperjuangkan keadilan, dan kesetaraan bagi sebuah bangsa yang harus bangkit dari keterpurukan. Bangsa ini harus berani ‘ berdikari ‘ lepas dari penjajahan baru bangsa asing. Jaman Bung Karno dulu ada slogan Berdikari – Berdiri di atas kaki sendiri, dengan maknanya : Berdaulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Sampai sekarang konsep berdikari masih relevan. Dan Siti Fadilah Supari memberi makna yang lebih dalam, bahwa kita jangan mau dibodohi oleh Amerika.

107 Comments so far...

siti amanah Says:

10 December 2009 at 7:34 pm.

dan pada awal jabatannya.. bu Siti diguncang kasus plagiat disertasi S3nya.. Ini sudah jadi bahan pembicaraan di kalangan FKUI.

lisbeth Says:

21 February 2010 at 12:36 pm.

apakh benar yang dikatakan bu siti?? harus membaca bukunya sampai tuntas… sumpah penasaran………

Longge Says:

21 February 2010 at 12:39 pm.

jika bu siti menentang WHO apa yg akan dilakukan bu endang sekarang????

Longge Says:

21 February 2010 at 12:40 pm.

apakah ad unsur politik di balik ungkapannya???

Aidi Khas Says:

11 August 2010 at 9:56 am.

1. Adanya penghianat2 bangsa demi uang dan kekuasaan
2. Pemerintah yg tidak perduli dan mudah dibodohi, kedaulatan dan martabat di injak-injak

Saya salut buat Ibu Siti Fadilah Supari…….
Ibu…..apa mungkin ketidak adilan kesehatan oleh WHO ada hubungannya dengan strategi kaum pagan menuju The New World Order?

AAAAAAAAAAAAA Says:

17 August 2010 at 10:37 am.

SBY ANJIIIIINGGGG….ANAK GW JADI KORBAN DAN MENINGGAL …AYO BUKA MATA RAKYAT INDONESIA…HUKUM ORANG INI DENGAN MENGGUNAKAN HUKUM RAKYAT………..SBY ANJIIIIIIIIIIIIINGGGGGGGGGG………….

Agus Ruhiyat Says:

13 July 2011 at 3:01 am.

Kepada Yth,
Ibu Siti Fadilah Supari
Di –
Tempat

Dengan hormat.

Kami atas nama keluarga pasen Rumah Sakit Umum Daerah Koja Jakarta Utara (RSUD Koja), di Lt.6 No.607, menyampaikan hal yang kurang berkenan atas pelayanan Rawat Inap Rumah Sakit tersebut, dan kami mendapat pengaduan bahwa : menurut penunggu pasien (istri pasien), Dokter dan Perawat yang bertugas tidak melayani pasien dengan sepenuhnya contoh kasus :

1. Pada hari selasa 11/7/2011, dokter menyuruh pulang pasien padahal kondisi pasien masih belum sembuh, untuk jalan pun dia tidak bisa.
2. Perawat tgl 11/7/2011 Lt.6 memanggila keluarga pasen (istri pasien) mengatakan “pasien pulang aja karena anggaran dari dinas kesehatan untuk pasen sudah habis batasnya”.

itu kasus yang kami terima, padahal anggaran kesehatan yang kami lihat di fraksi gerindra (DPRD) untuk keluarga miskin prov. dki jakarta sangat cukup.

Berkaitan dengan hal tersebut kami mohon Bapak/Ibu yang berwenang untuk dapat menidak lanjuti pengaduan ini, karena kalau di biarkan akan berdampak kurang baik bagi kesehatan pasien (masyarakat miskin), kami mau mengadu kepada siapa lagi kalu bukan kepada pihak-pihak yang terkait.

Maaf kami belum bisa menyebutkan nama pasien dan dokter serta perawat yang kami maksud tetapi bila kami dikonfirmasi dan di butuhkan kami siap untuk menyebutkannya.

Trimakasih

Leave a Reply

*

Mencari Jawaban

Artis tend to be dark, worried and superstitious creatures. This is not bad. It makes me perfectionist, it makes me care. Moreover the ability to see the darker side of life is an asset not just directing dramatic and tragic movies, but also for directing comedy, since comedy often has pain inside it. Do you believe that life and film tragically too close together ? I do ...
www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from Iman Brotoseno. Make your own badge here.


Categories

Archives

Hot Topics

Spice of Life


Why Blog ?

Why the BLOG will change the world ?The explosion of blogs throughout the world has been the biggest phenomenon since the rise of the Internet itself. Today, more people read blogs than newspapers. Blogs are just a tool, of course. It’s the bloggers behind the blogs that will make the difference. Here's Why

Blog lama saya masih dapat dilihat disini

( DISCLAIMER ) Photo dan Gambar Ilustrasi kadang diambil dari berbagai sumber di internet - GETTY IMAGES dan CORBIS selain photo teman dan milik saya sendiri. Kadang kala sulit untuk menemukan pemiliknya. Jika ada yang merasa keberatan bisa menghubungi untuk dicantumkan namanya.

Subscribe this blog

  Subscribe in a reader
Enter your email address:
  
Delivered by FeedBurner
August 2021
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031