4 June 2014

Berebut legitimasi Sukarno

Posted by iman under: PEMILU; POLITIK; SOEKARNO; TOKOH .

Memakai nama dan simbol Sukarno dalam pemilu sudah dilakukan sejak pemilu 1971, untuk mendapatkan dukungan luas masyarakat.
Dalam kampanye yang dilakukan PNI, mereka membawa Guntur dan Rachmawati. Sambutan yang luar biasa terhadap putera puteri Sukarno menunjukan, disatu pihak betapa luar biasanya kedudukan Sukarno dimata pendukungnya, sekaligus ketergantungan PNI terhadap Sukarno.

Sekarang Sukarno tidak saja menjadi sumber legitimasi ide ide politik PDIP, partai yang secara historis menjadi rumah baru PNI. Tapi juga diusung partai partai lain. Mereka berusaha menunjukan sebagai penerus cita cita Sukarno, walau sejujurnya dalam sejarah partainya, hampir sedikit – kalau dibilang tidak ada – pergulatan pemikiran Sukarno yang diadopsi.

Prabowo Subianto, kandidat Calon Presiden dari Gerindra berani mengindentifikasikan dirinya dengan penampilan yang mirip mirip proklamator itu. Baju putih putih berkantung empat dan peci hitam. Prabowo juga mengambil cara berpikir Sukarno dalam kerangka mitologi Jawa, yaitu konsep kepercayaan sebagai tercermin dalam cerita cerita wayang, mitos Ratu adil yang intinya adalah harapan, penantian kehadiran juru selamat.

Gaya orasi Prabowo yang mirip dengan Sukarno, untuk menunjukan negeri yang besar, sumber daya alam, demografi yang luar biasa, tapi penduduknya yang miskin. Keadilan sosial yang tidak merata.
Puluhan tahun lalu, Sukarno sudah berpidato berulang kali tentang luas Indonesia yang lebih besar dari daratan Eropa, dengan zona waktu yang berbeda. Kini Prabowo juga melakukan hal yang sama pada setiap pidatonya.

Sebagaimana Sukarno, Prabowo juga menunjukan kemandirian serta keberpihakan pada bangsa sendiri daripada bangsa asing. Sukarno juga sangat mencintai wayang, bahkan Presiden pertama Indonesia sangat kagum dengan sosok Bima. Tulisan tulisan Sukarno sebelum kemerdekaan, banyak memakai nama samara Bima.
Bukan kebetulan, dalam acara pemantapan tim pemenangan pasangan Prabowo – Hatta di Solo, dalang Ki Manteb Sudarsono memberikan wayang Bima yang dianggap sebagai personifikasi Prabowo.

Apakah Prabowo memahami dasar pemikiran Soekarno ? Coba kita lihat dalam manifesto perjuangan Gerindra di bidang agama, tertulis :
“ Setiap orang berhak atas kebebasan beragama dan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama/kepercayaan. Namun, pemerintah/negara wajib mengatur kebebasan di dalam menjalankan agama atau kepercayaan. Negara juga dituntut untuk menjamin kemurnian ajaran agama yang diakui oleh negara dari segala bentuk penistaan dan penyelewengan dari ajaran agama “

Walau akhirnya dihapus, jelas manifesto yang intoleran itu bertolak belakang dengan pandangan Sukarno tentang peran negara dalam agama. Sebagaimana diketahui, dalam majalah “ Panji Islam “ tahun 1940, Sukarno menulis artikel berjudul ‘ Memudakan Islam ‘ yang memuji langkah sekuler yang dilakukan pemimpin Turki, Kemal Ataturk. Ia menyebut pemisahan agama dari negara yang dilakukan Ataturk sebagai langkah berani, ketika agama diserahkan kepada individu pemeluknya, bukan menjadi urusan negara. Sukarno percaya tidak saja di Turki, tapi dimana saja, jika Pemerintah campur tangan dalam urusan agama, akan menjadi halangan besar dalam kesuburan agama itu sendiri.

Kontradiksi menonjol ada dalam masalah welt-anschauung, sebuah pandangan Sukarno yang merujuk pada Pancasila yang melandasi persatuan bangsa, adalah kebinekaan dan semangat gotong royong. Sementara setelah mendapatkan konstituen loyal berdasarkan issue issue nasionalisme seperti kemandirian dan kedaulatan, Gerindra justru memberi sinyal kepada kelompok intoleran untuk bergabung.

Selain itu, dalam salah satu pidatonya, Prabowo mengatakan, sebagai seorang pengusaha pada dasarnya dirinya adalah seorang kapitalis. Ia hanya menolak penjajahan baru dari sektor ekonomi terhadap bangsa Indonesia. Seorang pengusaha ( kapitalis ) tentu berbeda pemikirannya dengan nasionalisme Sukarno yang berjuang pada kemanusiaan. Ketika kita mendengar PT Kertas Nusantara ( dulu Kiani Kertas ) yang dimiliki Prabowo masih menunggak gaji kepada buruh buruhnya, otomatis teringat tulisan Sukarno “ Kapitalisme Bangsa Sendiri “ yang dimuat dalam harian ‘ Fikiran Ra’jat ‘ tahun 1932.

Sukarno menegaskan bahwa kapitalisme asing maupun kapitalisme bangsa sendiri sama saja, keduanya menyengsarakan rakyat jelata. Sukarno menunjukkan fakta-fakta itu dalam kehidupan buruh industri batik di Lawean Solo, buruh industri rokok di Kudus, Tulung Agung dan Blitar.

“ Mengutamakan perjuangan kebangsaan, itu TIDAK berarti bahwa kita tidak harus melawan ketamaan atau kapitalisme bangsa sendiri. Sebaliknya! Kita harus mendidik rakyat juga benci kepada kapitalisme bangsa sendiri, dan di mana ada kapitalisme bangsa sendiri, kita harus melawan kapitalisme bangsa sendiri juga! Tetapi MENGUTAMAKAN perjuangan nasional, itu adalah berarti, bahwa pusarnya, titik beratnya, aksennya kita punya perjuangan haruslah terletak di dalam perjuangan nasional “

Selain itu, Politikus PKS, Fahri Hamzah tiba tiba saja membuat kultwit – kuliah di twitter – tentang nasionalisme Sukarno yang ditarik dengan persamaannya dengan Prabowo. Padahal kita tahu, platform pemikiran marhaenisme, yang diakui oleh Sukarno sebagai marxisme yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia bertolak belakang dengan platform Al – Ikhwan al – Muslimin yang menjadi jiwa PKS.

Terakhir partai PAN, juga berusaha meraih simpati dengan menyediakan rumah polonia yang disebutnya sebagai rumah Soekarno, sebagai markas posko pemenangan Prabowo – Hatta. Padahal rumah itu sedikit sekali memiliki pertautan historis dengan Sukarno.
Rumah itu menjadi rumah tinggal salah satu isri Sukarno, Yurike Sanger. Dalam biografi Yurike Sanger sendiri, disebutkan Sukarno tidak benar benar tinggal disana. Ia hanya datang untuk makan siang dan ‘ beristirahat ‘ sebentar, sebelum kembali ke kediamannya yang resmi.

Bagaimana dengan Hatta Rajasa, Cawapres yang notabene ketua umum Partai Amanat Nasional ?
Keberpihakannya pada pembangunan jembatan Selat Sunda justru bertentangan dengan konsep negara kepulauannya Sukarno.
Hatta Rajasa melihat lautan sebagai pemisah, sehingga perlu dibuat jembatan. Berbeda dengan Sukarno yang melihat laut sebagai pemersatu, sehingga mimpinya suatu saat Indonesia memiliki pembuat pesawat terbang dan kapal yang menyatukan Nusantara.

Lalu bagaimana dengan calon yang diusung PDIP ? Sejauh ini Jokowi justru tidak secara personifikasi berusaha meniru Soekarno. Pertama, karena ia bukan orator yang bagus seperti Sukarno atau bahkan Prabowo. Kedua, ia sangat jarang menyebut Sukarno dalam pidatonya. Ia hanya mengatakan di sebuah pidatonya, bahwa pemikiran Sukarno masih relevan dengan kondisi saat ini. Jika dilaksanakan, maka konsep Trisakti seperti kedaulatan politik, kemandirian ekonomi dan kepribadian dalam kebudayaan akan menjadi soko guru bangsa ini.
Saya juga belum melihat bagaimana Jokowi mengaplikasikan sosio demokrasi dan sosio nasionalisme dari konsep Marhaenisme dalam revolusi mental yang diusungnya.

Pada akhirnya tidak ada yang bisa menyamai Sukarno. Dengan segala plus minusnya. Sukarno adalah manusia multi dimensi yang sulit dilahirkan kembali, karena jaman sudah berubah. Pemikiran dan pribadi Sukarno terbentuk dari rentang waktu yang panjang. Prabowo dan Jokowi tak akan mungkin pernah merasakan hidup di jaman penjajahan, termasuk di penjara dan dibuang oleh Pemerintah kolonial.
Coba dengar pidato yang berani dari Hadisubeno, Ketua umum PNI waktu pemilu 1971. “ Sepuluh Soeharto, sepuluh Nasution dan segerobak Jenderal, tidak dapat menyamai satu Soekarno “. Malangnya, tak lama setelah pidato itu, Hadisubeno meninggal secara misterius di sebuah rumah sakit di Semarang.

Saya hanya berharap para calon pemimpin tak perlu menjadi Sukarno Sukarno baru. Cukup memberikan dedikasinya terhadap bangsa dan negaranya tanpa berpretensi apapun, kecuali jiwa pengabdian. Inilah ‘ Dedication of Life ‘ yang ditulis Sukarno di penghujung kekuasaannya,

Saya adalah manusia biasa.
Saya dus tidak sempurna.
Sebagai manusia biasa saya tidak luput dari kekurangan dan kesalahan.
Hanya kebahagiaanku ialah dalam mengabdi kepada Tuhan, kepada Tanah Air, kepada Bangsa. Itulah Dedication of Life ku.

Jiwa pengabdian inilah yang menjadi falsafaf hidupku, dan menghikmati serta menjadi bekal hidup dalam seluruh gerak hidupku.
Tanpa jiwa pengabdian ini saya bukan apa-apa. Akan tetapi dengan jiwa pengabdian ini, saya merasakan hidupku bahagia dan manfaat

8 Comments so far...

Ridlwan Says:

4 June 2014 at 2:03 am.

Thanks tulisannya pak Iman, keren.
Kutipan Hadisubeno-nya baru pertama kali ini saya baca dan dengar.

Sayapun sepakat, Bung Karno tak akan dilahirkan kembali. Sejujurnya tahun 2009 lalu saya melihat sosok itu pada pak JK. Karena itu saya memilih dia.
Terobosan dan anti mainstream beliau mengingatkan saya pada gagasan2 Bung Karno:
Gagasan mereka sama2 kadang tidak populer dan dicemooh masyarakat. Akan tetapi seiring berjalannya waktu,gagasan mereka diakui masyarakat pada akhirnya. Ya mereka adalah orang2 yang lahir mendahului zaman.

Andai tahun 1965 sudah ada socmed, saya yakin rakyat akan melindungi bahkan rela menjadi pagar hidup untuk Bung Karno.

“Lebih baik mati untuk Kemerdekaan daripada hidup dalam kematian” – Bung Karno

DV Says:

4 June 2014 at 10:57 am.

Keren, Mas Iman!
Meski ada hal yang kita tak sepaham, tapi soal urusan Soekarno, aku memang harus menjura kepadamu! 🙂

Kalau waktu mengijinkan aku melihatmu lagi di PIM, aku pasti akan menyapamu. Maafkan yang tlah lalu 🙂

didut Says:

6 June 2014 at 9:04 am.

Pada akhirnya seorang Prabowo-pun yang saya pikir cukup percaya diri juga tidak percaya diri dengan membawa simbol masa lalu ke pemilihan Presiden kali ini

orbaSHIT Says:

6 June 2014 at 11:59 am.

prabowo >>>> njiplak BK abis tp janji bakalan ‘ngangkat si jahanam SOEHARTO jadi pahlawan nasional 😛

Alris Says:

6 June 2014 at 5:10 pm.

Mari kita ramaikan pesta pilpres 9 juli. Pilih sak karep dhewe….

tia Says:

10 June 2014 at 1:00 am.

tulisan yg bagus.. sebagai pengagum bung karno sy sependapat dgn tulisan ini..

ijin share ya

thx u

Rumail Abbas Says:

11 June 2014 at 7:01 am.

edun pisan 🙂

zulhaq Says:

4 July 2014 at 12:18 pm.

mau pencitraan seperti apapun, Pak Prab gak akan pernah bisa ‘meniru’ aslinya Soekarno.

Leave a Reply

*

Mencari Jawaban

Artis tend to be dark, worried and superstitious creatures. This is not bad. It makes me perfectionist, it makes me care. Moreover the ability to see the darker side of life is an asset not just directing dramatic and tragic movies, but also for directing comedy, since comedy often has pain inside it. Do you believe that life and film tragically too close together ? I do ...
www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from Iman Brotoseno. Make your own badge here.


Categories

Archives

Hot Topics

Spice of Life


Why Blog ?

Why the BLOG will change the world ?The explosion of blogs throughout the world has been the biggest phenomenon since the rise of the Internet itself. Today, more people read blogs than newspapers. Blogs are just a tool, of course. It’s the bloggers behind the blogs that will make the difference. Here's Why

Blog lama saya masih dapat dilihat disini

( DISCLAIMER ) Photo dan Gambar Ilustrasi kadang diambil dari berbagai sumber di internet - GETTY IMAGES dan CORBIS selain photo teman dan milik saya sendiri. Kadang kala sulit untuk menemukan pemiliknya. Jika ada yang merasa keberatan bisa menghubungi untuk dicantumkan namanya.

Subscribe this blog

  Subscribe in a reader
Enter your email address:
  
Delivered by FeedBurner
September 2017
M T W T F S S
« Aug    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930