25 September 2017

Rebels in Paradise

Posted by iman under: Militer; SEJARAH; TOKOH .

Jurnalis asal Inggris, James Mossman tahun 1961 menulis buku kisah peperangan PRRI di Sumatera berjudul ‘ Rebels In Paradise ( Indonesia’s Civil War ). Pekerjaan resminya memang sebagai jurnalis dan reporter TV untuk BBC. Namun ada yang mengatakan James Mossman adalah agen rahasia dari Mi6. Entah bagaimana, ia bisa berkelana keliling Sumatera sepanjang pergolakan PRRI. Buku ini jadi salah satu sumber referensi penting yang melukiskan suasana sewaktu PRRI hendak dan telah diproklamasikan di Padang bulan Februari 1958. Kisah selanjutnya ketika pasukan dari Jawa dikirim yang dipimpin Kolonel Ahmad Yani mulai menyerbu Padang.

James Mossman banyak mewawancara tokoh tokoh PRRI yang awalnya menganggap enteng situasi dan secara keliru menganalisa sikap dari Pemerintah pusat. Kolonel Simbolon yang ditanya ‘ Bagaimana anda yakin, Sukarno tidak akan menyerang ? ‘. Maka Menteri Luar negeri PRRI itu menjawab ‘ Dia tidak akan berani ‘ ( He hasn’t got the guts ).
Kolonel Dahlan Djambek mengatakan di Bukit Tinggi, “ Sukarno will never dare invade us here “. Padahal waktu itu Pekanbaru telah jatuh ke pasukan Pemerintah pusat.

Tapi Simbolon atau Dahlan Djambek lupa, bahwa ini bukan keputusan Sukarno seorang. Ada Nasution yang mendesak untuk mengambil tindakan tegas terhadap pemberontak. Sehingga betapa kagetnya tokoh tokoh PRRI ketika Sukarno menyetujui permintaan Angkatan Bersenjata untuk menyerbu Padang. Praktis tidak ada perlawanan ketika pasukan payung diterjunkan di atas lapangan terbang, Tabing. Padahal mereka sudah menyiapkan barikade lubang lubang yang dipenuhi bambu runcing.

Menurut Mossman, kepercayaan tokoh tokoh PRRI demikian tinggi, karena Jakarta sebagai pihak yang batil karena itu perjuangan PRRI akan menang. Sjafruddin Prawiranegara, Perdana Menteri PRRI yang diwawancara Mossman, ditanya perasaannya ketika diberitahu bahwa pasukan Jawa sudah memasuki Sumatera Tengah. Sjafruddin menyahut dengan suara ketawa gugup “ Mereka tidak akan dapat berbuat apa apa. Tuhan ada di pihak kami. God is on our side “.

Sejak hari pertama perang saudara ini sesungguhnya tokoh tokoh PRRI tidak berharap mereka akan bertempur sungguh sungguh. Menurut Mossman, Sjafruddin tak menyangka akan diserang oleh Jakarta. Sebelumnya ia merasa di faitacomply ketika tokoh tokoh militer mengangkatnya sebagai Perdana Menteri. Sebuah jabatan yang sebenarnya tak pernah ia harapkan. Mossman menulis tentang Sjafruddin “ He’s brave, passionate, narrow minded man. He’s the bank clerck who finally breaks loose and robs the banks “.

Tokoh tokoh PRRI terlalu berharap akan adanya campur tangan dari barat ( baca : Amerika ). Mereka berharap Amerika benar benar menurunkan pasukan dari armada VII di Pekanbaru, dengan alasan melindungi warga dan kilang minyak mereka. Namun pihak Jakarta bisa meyakinkan Amerika bahwa pasukan Pemerintah cukup mampu mengamankan disana.

Sumitro Djojohadikusumo awalnya membuka kontak dengan CIA di Singapore, yang dilanjutkan dengan komunikasi yang dilakukan Simbolon. Sehingga pada akhir Desember 1957, Kolonel Simbolon dan Letkol Sjoeib bertemu kepala CIA di Singapore, James Foster Collins guna membicarakan bantuan militer Amerika kepada pemberontak.

Merasa yakin dengan bantuan Amerika, tanggal 9 – 10 Januari 1958, para pemimpin pemberontak mengadakan pertemuan di Sungai Dareh, Sumatera Barat untuk mematangkan rencana mereka. Akhirnya di Padang tanggal 10 Februari 1958, Kolonel Ahmad Husein mengultimatum Pemerintah pusat yang segera direspon Nasution dengan pemecatan Ahmad Husein dan perwira lainnya yang mendukung pemberontakan.

Tapi bukan berarti Amerika tidak turun tangan. Pangkalan Subic di Philipina jadi base pengiriman senjata untuk pasukan pemberontak. Kapal USS Thomaston tiba 11 Februari 1958 mengangkut 900 pucuk senjata, 1440 senapan mesin dan 1,3 juta peluru diameter 9mm. Pengawalan pengiriman senjata oleh USS Thomaston dikawal kapal selam USS Bluegill.

John Mason agen CIA ditunjuk memimpin operasi dengan nama sandi ‘ Haik ‘. John ikut dalam kapal selam USS Bluegill yang bergerak di bawah permukaan laut Mentawai. Ia terus memantau lewat perikop kapal selam.
Sebuah pesan sampai di Padang: “Barang-barang sudah berada di laut lepas. Harap Tuan-Tuan besok mengambilnya.”

Dua hari setelah konferensi Sungai Dareh dalam kegelapan malam, kapal USS Thomaston memuntahkan dua kapal kecil dari lambungnya. Begitu kapal kecil yang penuh senjata itu menyentuh air laut, Thomaston segera kabur.
“Our baby is about to be born “ ujar Fravel Jim Brown, seorang agen CIA yang menyamar jadi pegawai perusahaan Minyak Caltex, bertugas ikut mendistribusikan serta mengamati pengiriman senjata itu di Padang. Inilah paket pertama bantuan senjata CIA, yang kemudian disusul droping senjata melalui Bandara Tabing.

Pengiriman lewat udara dilaporkan Keyes Beech, reporter Daily News Chicago yang berada di Padang. Pengedropan peti peti senjata demikian masivenya sehingga ia melukiskan tak berani keluar malam malam, karena takut kepalanya kejatuhan bazooka.

Wawancara Mossman dengan Simbolon di Padang Panjang tgl 15 April 1958, ketika pasukan Pemerintah semakin maju mendesak. Simbolon berkata “ Kami memerlukan pesawat pesawat pemburu. Cukup 2 atau 3 pemburu jet kami dapat menahan Nasution. Kenapa barat tidak melihat ini ? Kenapa mereka tidak punya kepercayaan untuk mengirim pesawat pemburu “

Uniknya, Kolonel Ahmad Yani sebagai pemimpin operasi penyerbuan ke Padang mendapat bantuan dari sahabatnya, Mayor George Benson, Assisten Atase Pertahanan Kedutaan Amerika di Jakarta. Bahkan Benson memberikan peta Sumatera dan membahas rencana penyerbuan bersama Yani. Ini menjadi ironi karena Yani, seorang perwira AD lulusan Fort Leavenworth, Kansas yang jelas pro Amerika dibantu oleh perwira AD Amerika guna menumpas pemberontakan yang didukung salah satu organ Pemerintah Amerika, yakni CIA.
Ini menjelaskan bahwa tidak ada koordinasi antara kedutaan Amerika di Jakarta dengan CIA. Pejabat atase militer di Jakarta tidak diajak konsultasi terlebih dahulu oleh pejabat di Washington.

Begitu pasukan pusat mendarat di pantai dekat Padang, serta merta pasukan PRRI lari kocar kacir. Mossman mengejar Kolonel Ahmad Yani sebagai Komandan Operasi 17 Agustus. “ Kolonel, kenapa tidak ada perlawanan dari pasukan pemberontak ? “
Yani menjawab dengan bangga “ Tidak begitu heran. Orang orang Minangkabau ini batinnya adalah tukang tukang kumango. They’re shopkeepers at heart. Mereka bercakap cakap terlalu banyak untuk menjadi parjurit yang baik. They talk too much to be good soldiers “.

Hanya perlu enam hari setelah kejatuhan Padang, Menteri Luar Negeri AS John Foster Dulles mengalihkan dukungan AS ke pemerintah pusat Jakarta, karena sadar Angkatan Perang yang menyerbu Padang umumnya terdiri dari perwira perwira anti komunis juga. Jadi tuduhan bahwa Pemerintah pusat disusupi komunis tidak valid lagi.

Mossman melihat salah satu sebab PRRI berantakan dari dalam adalah dengan diproklamasikan Republik Persatuan Indonesia ( RPI ) di Bonjol tanggal 7 Februari 1960 yang menggabungkan PRRI dan Darul Islam ( DI ) di Aceh dan Sulawesi Selatan. Para pemberontak Kristen dan abangan seperti Simbolon, Sumitro Djojohadikusumo tidak suka melihat bergabungnya Darul Islam. Belum lagi sikap pemberontak Permesta yang umumnya Kristen melihat fenomena kerja sama PRRI dan Darul Islam.

Memandang kisah kisah pemberontakan yang pernah terjadi di negeri ini memang tidak sekadar membaca apa yang tertulis dalam buku buku sejarah. Selalu ada hal hal dibalik sebuah kejadian, sehingga selalu membuat kita bisa memahami konteks yang terjadi. Tapi kisah James Mossman jauh menarik jika diangkat ke film. Kira kira saya membayangkan seperti kisah keterlibatan Ernest Hemingway dalam perang saudara di Spanyol dulu.

2 Comments so far...

rana kinanti Says:

27 September 2017 at 1:47 pm.

Seandainya dibuat film, kisah cinta siapakah yang layak dijadikan ‘bumbu’ pelengkap cerita sejarah ini?

OrbaFuckinShit Says:

20 October 2017 at 9:46 am.

kata2 pa’ yani keren “….They’re shopkeepers at heart…” LoL PRRI pemberontakan setengah hati

Leave a Reply

*

Mencari Jawaban

Artis tend to be dark, worried and superstitious creatures. This is not bad. It makes me perfectionist, it makes me care. Moreover the ability to see the darker side of life is an asset not just directing dramatic and tragic movies, but also for directing comedy, since comedy often has pain inside it. Do you believe that life and film tragically too close together ? I do ...
www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from Iman Brotoseno. Make your own badge here.


Categories

Archives

Hot Topics

Spice of Life


Why Blog ?

Why the BLOG will change the world ?The explosion of blogs throughout the world has been the biggest phenomenon since the rise of the Internet itself. Today, more people read blogs than newspapers. Blogs are just a tool, of course. It’s the bloggers behind the blogs that will make the difference. Here's Why

Blog lama saya masih dapat dilihat disini

( DISCLAIMER ) Photo dan Gambar Ilustrasi kadang diambil dari berbagai sumber di internet - GETTY IMAGES dan CORBIS selain photo teman dan milik saya sendiri. Kadang kala sulit untuk menemukan pemiliknya. Jika ada yang merasa keberatan bisa menghubungi untuk dicantumkan namanya.

Subscribe this blog

  Subscribe in a reader
Enter your email address:
  
Delivered by FeedBurner
December 2017
M T W T F S S
« Oct    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031