All Posts By

iman

korupsi & manusia Indonesia

Dalam bukunya “ Manusia Indonesia “ , Mochtar Lubis sudah memasukan korupsi dalam elemen Hipokrit dan Munafik sebagai salah satu ciri ciri manusia Indonesia. Lebih jauh dikatakan, manusia Indonesia bukan economic animal dan cenderung boros, tidak suka bekerja keras dan inginnya serba cepat kaya. Entah ini benar atau tidak, namun ada yang selalu saya kagumi dari Mohtar Lubis – terutama dari buku buku karyanya.- yakni konsistensi untuk menyuarakan keadilan, kejujuran dan nurani.
Ia memimpin Koran Indonesia Raya yang suka mengangkat kasus korupsi sehingga dibreidel pada jaman Soekarno maupun Orde Baru. Dalam tulisannya ia juga kerap menyinggung hal ini. Seperti dikisahkan dalam novelnya “ Maut dan Cinta “. Kisah para pejuang kemerdekaan yang menghadapi godaan korupsi saat ditugaskan mencari senjata di Singapura dari uang penjualan gula dan karet.
Lalu “ Senja di Jakarta “ secara tidak langsung menyindir praktek praktek kolusi dan korupsi di perusahaan negara.

Continue Reading

Momen yang hilang

Hari minggu ini, Abel – anak lanangku – menunjukan tulisan untuk tugas sekolahnya. Sebuah karya tulis mengenai RA Kartini yang ditulis dalam bahasa Inggris. Tentu saja grammaticalnya masih berantakan disana sini. Ndak masalah. Ada yang jauh lebih menarik, bahwa ia bisa menuangkan sebuah ide tulisan dari berbagai sumber tulisan yang dibacanya. Lihat saja, saya bisa merasakan kepedihan seorang Kartini karena tidak bisa melanjutkan sekolah. Apatisnya menghadapi hidup, bahkan ceritanya bisa menyambar ke sosok Agus Salim.
Untuk kesekian kalinya saya kehilangan moment moment pertumbuhannya dengan sebuah alasan klise. Kesibukan dan selalu di luar. Sepertinya tiba tiba ia sudah bisa bicara, lalu sebuah lompatan lagi ketika melihatnya sudah bisa berjalan. Lalu saya juga tak tahu kapan ia belajar komputer, tiba tiba saya menemui ia sudah duduk browsing di internet mencari kunci kunci rahasia untuk permainan Play Stationnya. Kini ia sudah bisa mengarang tulisan.
Ah, sungguh kesia siaan. Sekonyong konyong saya mengutuk diri sendiri.

Continue Reading

Kerudung Formalitas

Sesekali sekadar mencoba mengikuti gaya Mas Wicak yang gemar berburu gambar gambar bak truk. Tiba tiba saja truk ini melintas didepan saya dan memberikan sebuah ilustrasi yang sebenarnya cukup menggelitik. Cukup menyindir.
“ Kerudung Formalitas “.
Diam diam para supir truk menyuarakan sebuah pertanyaan. Apakah kadar keimanan dan kesholehan seseorang diukur dari bungkus atau baju yang dikenakan ? atau juga suara protes mereka karena ketika mengetahui istri istrinya di kampung akhirnya kawin lagi atau pergi menjadi pekerja urban di kota besar. Lama menunggu sang suami yang tak kunjung pulang.
Padahal para supir supir juga sudah terbiasa dengan ‘ formalitas warung remang remang ‘ di sepanjang pantura Jawa.

Halmahera

Gunung Gamalama kelihatan gagah berdiri dibalik kota Ternate, dilihat dari atas pesawat baling baling Fokker 27 yang membawa saya. Udara panas dan terik menyambut kami di bandara Sultan Babulah, para rombongan crew TV dan fotographer dari seluruh Indonesia yang diundang Bupati Halmahera Utara untuk merekam catatan pariwisata daerahnya.
Nama bumi Halmahera sudah ditulis dalam catatan penjelajah Eropa ketika Fransisco Serrao dari Portugis menjejakkan kakinya di Ternate tahun 1512 dan disusul Juan Sebastion de El Cano tahun 1521 bersama armada Trinidad dan Victoria dari Spanyol yang mendarat di bumi Tidore.
Mengherankan bahwa dalam pelajaran sejarah kita, sedikit sekali referensi mengenai kebesaran Kesultanan Ternate sebagai kerajaan Islam terbesar di Nusantara selain Aceh dan Demak. Bahkan Sultan Babulah berhasil mengusir Portugis dari bumi Maluku selamanya pada tahun 1575 setelah peperangan sengit selama 5 tahun.
Sisa kebesaran itu tidak sama sekali kelihatan. Halmahera adalah potret buram sebuah daerah yang tertinggal. Pemekaran menjadi Maluku Utara justru ajang pertikaian para elit dan proses pemiskinan rakyatnya.

Continue Reading

Riders on the storm

Penerbangan Mandala dari Surabaya malam ini begitu menakutkan. Menjelang turun mendekati Jakarta, hujan badai dan petir menyambar nyambar tanpa peduli. Berkali kali pesawat diguncang guncang dan naik turun seolah berusaha melepaskan diri dari kabut tebal. Tiba tiba saja saya merasa kecil ditengah ketidakberdayaan.

Seorang wanita disebelah kanan saya, memejamkan matanya sambil mulutnya komat kamit. Mungkin berdoa. Saya melirik gadis berkacamata disebelah kiri yang mencengkram tangan saya erat erat. Kepalanya menunduk dan menahan nafas.

Badai memang identik dengan kegalauan dan mungkin juga kematian. Begitu dekat , begitu lekat.

Sekarang jam 9.30 malam. Hujan masih saja dicurahkan dari langit sambil menunggu mobil jemputan di terminal kedatangan. Besok pukul 3 pagi saya harus kembali lagi ke Airport, mengejar penerbangan jam 5 pagi menuju Ternate, Halmahera.

Berharap badai akan segera reda, untuk selama seminggu nanti menjelajahi Halmahera sampai Morotai. Tapi siapa yang tahu ? Karena badai bisa begitu dekat dan sekaligus melankolis.

Riders on the storm

Riders on the storm

Into this house were born

Into this world were thrown

( Jim Morisson )

Foto : Purwanto Nugroho

Parno

Dulu ada teman saya yang kecanduan narkoba sampai sedemikian parahnya sehingga kita menyebutnya ‘ Parnoan ‘. Ya, dari kata paranoid. Betapa tidak, saking takutnya dengan cahaya atau siang maka seluruh tembok rumahnya dicat warna hitam. Dan ia mengurung diri disana sampai malam tiba untuk kemudian baru berani keluar.
Akhirnya ia kehilangan semua teman temannya termasuk istri dan anaknya. What a waste life. Siapa suruh ngedrugs ?
Istilah ‘parno ‘ sangat lazim di komunitas ajeb ajeb bin dugem. Halunisasi yang berlebihan menstimulasi kelenjar waras di otak mereka untuk selalu ketakutan dengan hal hal yang diyakini bakal mengancam mereka. Langsung atau tidak langsung.
Rupa rupanya stempel Agama bisa membuat sebagian orang tiba tiba menjadi paranoid dan kehilangan akal sehat.

Continue Reading

Akhirnya menang juga

Akhirnya kebenaran akan terlihat. Apapun jalan dan caranya itu. Surat Somasi kantor pengacara saya akhirnya mendapat jawaban dari Wang Xai Jun alias NB Susilo.
………………………………………
“ meskipun secara hukum belum ada peraturan dan Undang Undang yang mengatur kasus blogger, tetapi secara moral dan itikad baik saya mempunyai kewajiban dan tanggung jawab ilmiah untuk menjawab hak dari sdr.Iman Brotoseno. Untuk itu saya secara pribadi memohon maaf kepada sdr. Iman Brotoseno atas kejadian ini.
Tindakan maksimal yang bisa saya berikan adalah memberikan catatan kaki pada tulisan sdr.Iman Brotoseno dan/ atau menghilangkan tulisan sdr. Iman Brotoseno dari buku saya selanjutnya, dengan mengganti dari sudut pandang lain mengenai Soekarno. Untuk selanjutnya saya berjanji akan lebih berhati hati dalam mencuplik data.
Dan apabila permohonan maaf saya belum memberikan kepuasaan dsari sdr Iman Brotoseno maupun pihak Pamungkas & Partner sebagai penggugat – atas jawaban saya – maka dengan ini saya menyatakan siap untuk menghadapi segala resiko hukum yang ditimbulkan akibat tindakan saya “

Hormat saya
NB Susilo ST, MT, MH

Ya, sudah, Sekarang saya pikir pikir dan berkonsultasi dengan Pamungkas & Partner membahas langkah selanjutnya. Jauh lebih penting bahwa akhirnya ia mengakui tulisan saya , dan menyadari kesalahannya mencomot tulisan saya tanpa ijin.
Mengutip sebuah iklan, ……….” Blogger dilawan ! “

Dialog itu

Ternyata tak ada yang lebih indah dari sebuah rekonsiliasi. Konon demikian, kalau saya anggap pertemuan dialog antara Roy Suryo dengan the happy selected few blogger, daripada memakai istilah blogger negative atau positive.
Jangan keburu girang dahulu. Ada yang berkomentar kok judul dialognya aneh. Jangan jangan jebakan Betmen. Sekali lagi Roy Suryo pancen trengginas, berani mengambil inisiatif menyembut tantangan dengan bermain politik luar.
Mestinya moment ini ditangkap para ‘ delegasi ‘blogger dengan pemikiran yang sistimatis dan tidak membabi buta datang tanpa konsep. Kalau tidak, dialog ini hanya membuat rating Roy Suryo tambah naik. Persepsi masyarakat semakin mengkerucut, bahwa blogger itu menolak sensor, menolak pornografi, dan menganut paham liberal. Bahkan persepsi pasal lendir ini semakin dominan di luar sana. Padahal UU ITE tidak melulu mengurusi masalah ini, masih banyak hal hal yang berpretensi menjadi kontroversi dan perlu mendapat penjelasan.

Continue Reading

Roy Suryo orang kuat ?

Seorang pakar periklanan pernah mengatakan kepada saya mengenai sebuah definisi dalam strategi kampanye pemasaran. Yakni Politik Ruang dan Politik Luar.
Kenangan percakapan ini muncul begitu saja, melihat kesengkarutan – mengutip istilah Mas Wicak – dalam dunia internet akhir akhir ini. Apalagi kalau bukan pertikaian dan saling serang. Apakah ini penting ? Tergantung kita melihatnya, dan saya tidak membahas siapa yang benar. Saya hanya mengaitkan dengan positioning ‘ politik ‘ masing masing pihak. Blogger dan Roy Suryo.
Kita blogger hanya bermain dalam ruang blogsphere saja, maka dinamakan bermain politik ruang. Sementara Roy Suryo berani mengambil inisiatif bermain di luar wilayahnya, yang disebut bermain politik luar. Butuh keberanian dan strategi.
Kenapa demikian ?

Continue Reading

Para ibu yang berjuang

Berkat undangan Mbak Nenny Hartono, saya kembali menginjakan kaki di kampus Universitas Indonesia, setelah hampir 18 tahun saya meninggalkan kampus ini. Ini juga pertama kali saya menemuinya walau kita sering berkorespondensi melalui email. Saya mengenalnya – tepatnya dia yang memperkenalkan dirinya melalui email – setelah membaca tulisan saya yang sedikit menyinggung tentang ayahandanya. Beliau adalah putri Letjen KKO Hartono, bekas panglima marinir ( dulu KKO ) jaman Bung Karno.
Disini di dalam multi media centre , Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, sambil memenuhi undangan pemutaran film “ Afghan Chronicles “ serta diskusi dengan sutradaranya, Dominique Morisette , saya bertemu dengan sosok wanita sederhana yang aktif di Forum Silahturahmi Anak Bangsa ( FSAB ) . Sebuah forum untuk melekatkan komunikasi yang retak karena sejarah masa silam. Disana ada para putera puteri pahlawan Revolusi, PKI, Darul Islam, PRRI/Permesta maupun tokoh tokoh orde lama / baru.

Continue Reading

Internet & Copyright ( 2 )

Sebenarnya saya malas juga meneruskan postingan mengenai kasus penjiplakan baru baru ini. Bukan karena apatis. Bukan bukan itu. Toh, saya sudah menandatangani surat kuasa kepada kantor Pengacara Pamungkas & Partner untuk bertindak dan mengurus atas nama saya. Dalam waktu dekat Surat Somasi akan dilayangkan. Ini adalah langkah awal dari sebuah perjalanan legal action.
Ternyata banyak sahabat sahabat, pembaca di luar sana yang menunggu dengan antusias kasus ini, dan ingin mendapat penjelasan langkah langkah apa yang saya ambil. Secara detail. Secara terperinci.
Saya juga tak bisa mengabaikan mereka mereka yang sangat peduli. Bahkan sampai sampai bisa melacak situs friendster milik tersangka penulis buku itu. Bagi yang memiliki account friendster silahkan meng-add teman baru ini.
Ada pertanyaan menarik bagaimana kelak nanti saya membuktikan bahwa tulisan itu memang benar benar milik saya ? Apalagi ada yang mengatakan bahwa data published sebagaimana yang saya paparkan sebelumnya itu ternyata bisa dipalsukan.

Continue Reading

Internet & Copyright ( 1 )

Jika karya tulis anda dicomot tanpa ijin, apa yang harus anda lakukan ? pertanyaan semacam ini memang menggelisahkan dan sangat menggoda untuk ditelaah lebih dalam. Sejauh apa produk perundang undangan hukum kita mencakup ke ranah dunia internet ?
Pemerintah baru akan menyiapkan Rancangan Undang Undang ( RUU ) Informasi dan Transaksi Elektronik yang akan disahkan DPR, yang kini masih dalam tahap sosialisasi kepada publik dengan melibatkan Pemerintah, dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informasi. Termasuk disini pelanggaran hak cipta.
Hanya saja kapan UU ini akan disahkan belum tahu. Jika berbicara masalah pembahasan Rancangan Undang Undang di DPR bisa bisa menunggu sampai tahun jebot. Sama seperti RUU Perfilman yang sudah bertahun tahun kertasnya menumpuk jadi debu. Tentu ini berkaitan dengan vested interest para pihak yang terlibat. Tidak bisa dibandingkan dengan UU Telekomunikasi, Perbankan, Pertambangan atau investasi lain yang bisa dengan cepat digulirkan. Sudah rahasia umum, bahwa pembahasan peraturan Undang Undang di DPR erat dengan kepentingan pemain raksasa, pemilik modal dsb.
Tak aneh juga Bank Indonesia kesandung KPK, karena menggelontorkan uang 100 milyar yang diantaranya dialokasikan untuk biaya pembahasan perundang undangan di dewan. Tanda petik – uang lelah dan dana operasional.

Continue Reading