All Posts By

iman

Ecstacy

Baiklah kita bicara moral. Kata orang pergaulan di dunia film begitu lekat dengan dansa dansi, dugem dan otomatis narkoba. Saya mungkin tak bisa menyalahkan persepsi ini. Apa yang dilihat di infotainment melulu mengenai artis tertangkap basah mengkonsumi ecstacy atau shabu shabu. Padahal masih banyak yang professional, correct terhadap pekerjaannya. Jauh lebih banyak malah. Cuma artinya berita infotainment tak akan menjual kalau menceritakan artis sedang mengaji atau sedang berolahraga.

Bohong kalau kita bicara orang film tak pernah tahu hal hal seperti ini. Sebut saja sutradara atau artis yang sekarang sholatnya jengking terus atau memakai jilbab. Saya dulu kerap demi sosialisasi kadang kala pergi ke tempat dugem. Saya ingat waktu itu masih anak baru di film, sewaktu di Warisan – Krobokan , Bali, tiba tiba disodori sebutir obat mirip vitamin C oleh salah seorang artis yang kini kerap kawin cerai dan anggota group musik yang memakai nama diva.
“ Asyik deh, nanti kamu merasa happy..”
Waktu itu barang ini belum popular di Jakarta, dan hanya ditemui dalam pesta pesta di Bali. Para sosialita menyebut Ceu Iin. Tak tahu mengapa, mungkin ceceu dari bahasa sunda, dan Iin dari inex.

Sejak di SMA saya tahu ada obat obat jenis BK, Koplo, Mandrax dan saya tidak pernah menyentuhnya. Alasannya mungkin konyol. Saya tak mau menyentuh barang barang kimia. Lebih baik hasil alam seperti cimeng. Ya suka suka saja.

Continue Reading

Kanjur

Siapa bilang orang Indonesia semuanya suka korupsi ? tidak juga kalau melihat proyek percontohan yang dilakukan KPK dengan beberapa sekolah SMA di Jakarta. Kanjur Kantin Jujur – adalah kantin kecil, berbentuk etalase meja berisi barang barang kebutuhan sekolah, seperti pensil, buku, bolpen dan macam macam. Hanya disini tidak ada penjaga kantinnya.
Pembeli membayar dengan memasukan uang ke kotak, sesuai dengan harga label barang yang diambil. Ada sekolah yang mencatat keuntungan, alias jumlah uang yang masuk di kotak sama dengan nilai barang yang keluar. Walau ada juga Kanjur yang rugi bahkan sampai defisit, karena siswa selain tak membayar juga sekalian mencomot uang dalam kotak.

Pemahaman budaya anti korupsi yang digelontorkan lewat dunia sekolah sungguh menarik kalau kita bicara masalah yang rumit ini, yakni kejujuran. Sejak dini siswa sudah dikenalkan dengan bagaimana menjadi jujur utuk diri sendiri. Tidak usah di politik. Kadang di film saya sudah geleng geleng kepal melihat begitu tingginya biaya mark up yang dilakukan pekerja film. Mulai dari sewa lokasi, beli props ini itu sampai biaya perjalanan.

Continue Reading

Ilham Anas sebagai Barack Obama

Euforia Barack Obama membuat rejeki datang secara tiba tiba untuk fotografer asal Indonesia. Ilham Anas yang wajahnya mirip sebagai Barack Obama memulai perannya didunia selebritis. Menjadi bintang iklan untuk sebuah produk obat obatan di Phillipina.
Dalam film iklan ini diceritakan dia sedang diundang jamuan makan bersama Presiden Philipina, Gloria Macapagal – Arroyo.
Pakde Umar Kayam pernah memerankan Bung Karno dalam film ‘ Pengkhianatan G 30 S PKI ‘. Ketika syuting di Istana Bogor, para pelayan yang sudah puluhan tahun disana, tiba tiba ndeprok, ” Bung Karno Rawuh “.

Kemiripan wajah seorang tokoh bisa menimbulkan tragedi, lelucon atau tafsir diri kita sendiri. Untuk periklanan ini dipakai sebagai repositioning yang menjadi elemen penting dalam restrategizing. Suatu positioning dengan wajah tokoh terkenal – makanya banyak iklan memakai selebritis – tidak sekedar merefleksikan suatu ‘ ajakan ‘, tapi juga merupakan strategi pemasaran. Ini membuat perbedaan dengan produk kompetitor lainnya. Jadi konsumen akan semakin tinggi brand awarenessnya terhadap produk ini.
Ya, namanya iklan. Sebagaimana kata Budiman Hakim. Jangan berharap iklan akan menjalani fungsi mendidik.

Continue Reading

Ziarah Imlek

Tahun baru Imlek ternyata pernah menjadi asal muasal pergerakan kebangsaan yang di mulai di koto Solo. Pada tahun 1912 akibat kerusuhan yang terjadi antara Polisi Hindia Belanda dengan komunitas Tionghoa di Surabaya, para pedagang di sana melakukan pemogokan. Roda perekonomian terganggu.
Kejadian ini mengakibatkan kelangkaan distribusi bahan baku batik di Solo. Sebuah firma perusahaan dagang ‘ Sie Dien Ho ‘ yang salah satu usahanya menyediakan bahan baku batik tergoda untuk melakukan spekulan dengan cara mencari keuntungan yang sangat besar dari kekosongan bahan baku batik ini.

Dari pedagang pedagang jawa yang dirugikan , timbul perasaan senasib yang nantinya menjadi dasar pendirian Sarekat Islam.
Sejarah hubungan antara etnis Tionghoa dan pribumi jawa di Solo sudah ada sejak pemberontakan Pecinan jaman Paku Buwono II. Laskar Tionghoa ikut dalam andil menghancurkan keraton di Kartasura yang membuat Pakubuwono lari ke Ponorogo. Sisa sisa pasukan ini tersebar menjadi penduduk setempat setelah dihancurkan oleh pasukan VOC dan Mataram.

Continue Reading

John Lie

Awal September 1949. Kapal boat Republik Indonesia panjang 110 kaki dan berukuran 60 ton “ The Outlaw “ baru saja berlabuh di pelabuhan Bhuket, semenanjung Malaya. Para awak kelelahan, setelah kesekian kali lolos dari sergapan kapal perang Belanda. Semalam tepat selepas Penang, di laut bebas mereka bertemu dengan kapal patroli Belanda yang mengejarnya sambil melepaskan tembakan boffors dan miltraliurnya.
Kelihaian kapten ‘The Outlaw”, Mayor John Lie kembali teruji, untuk bisa membawa barang barang komoditi seperti karet, gula, teh untuk di jual dan ditukarkan ban, senjata, mobil dan kebutuhan perang kemerdekaan.

The ‘ Outlaw ‘ adalah legenda saat itu. Radio BBC selalu menyiarkan keberhasilan kapal itu dalam menembus blokade Belanda. Ini membuat Belanda semakin geram dan terus berusaha menjegat kapal kebanggaan Republik.
Saat saat beristirahat sambil membongkar muatan. John Lie kedatangan seorang wartawan LIFE Magazine – Roy Rowan – yang mewancara dan kelak dimuat dalam majalah tersebut Edisi 26 September 1949. Artikel itu berjudul “ GUNS –AND BIBELS – ARE SMUGGLED TO INDONESIA “

Continue Reading

Creative Industry Indonesia

Malam malam kemarin ketika mengupdate status di Face book. “ Im watching dvd The Case of Benjamin Button “. Mira Lesmana langsung menyambar memberi komen.
“ Pasti dvd bajakan, gw laporin lho deh..he he “.
Tiba tiba saya merasa aneh, sekaligus ada perasaan bersalah. Tentu saja Mira hanya just make of fun, walau saya yakin dia mungkin memiliki dvd dvd bajakan film film pilihannya. Hal hal seperti Ini membuat saya teringat mengenai konsep Industri kreatif Indonesia.

Tahun lalu saya dipanggil Departemen Perdagangan, bersama sama pelaku sektor industri kreatif, yakni periklanan, arsitekur, pasar seni dan barang antik, kerajinan, desain, fashion, film, fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan piranti lunak, radio dan televisi, serta riset dan pengembangan. Dalam rangka ikut merumuskan rancang bangun Industri kreatif Indonesia. Ini adalah proyek yang digadang gadangkan Menteri Marie Pangestu dan SBY dalam mendongkrak perekonomian bangsa.
Paradigmanya bahwa industri sumber daya alam kelak akan habis, dan industri jasa seperti kreatif menjadi sumber pemasukan devisa yang tak akan habis habisnya, bahkan terus berkembang.

Continue Reading

Olen

Nama aslinya Olen, asal Betawi. Bukan dari Russia. Saya juga tidak tahu nama lengkapnya. Setahu saya dia sudah dipanggil Olensky sejak saya mengenalnya di film tahun 1993. Orangnya kecil dan suka melucu. Ya gaya betawi begitu.
Pekerjaannya di film sebagai pembantu umum. Istilah kerennya PU. Dia menyiapkan teh, kopi, rokok dan membelikan makanan. Pokoknya segala kebutuhan logistik dan urusan perut bagi crew film di lokasi. Jadi Olen merupakan sosok yang sangat penting.
Olen sangat rajin dan pintar mengambil hati produser atau sutradara. Mungkin biar terus di’calling’. Diajak syuting.

Pagi pagi baru saja saya tiba di lokasi, dia sudah menyiapkan teh manis hangat. Sore sore ada penganan gorengan atau martabak. Tengah malam kedinginan, dia sudah menyorongkan secangkir jahe hangat. Belum supermie rebus sebagai pengganjal perut kalau pekerjaan sampai lembur.

Continue Reading

tik tik tik hujan

Jika pagi pagi SBY sudah mengkritik Pemerintah Provinsi Jakarta karena tidak memiliki system resapan air untuk mengatasi banjir. Tentu kita mempertanyakan Gubernur Fauzi Bowo yang mengusung predikat ‘ Sang Ahli ‘ dalam kampanyenya tempo hari. Hujan seharian kemarin membuat sebagian kota sudah tergenang. Kemacetan disana sini serta problem klasik, lampu merah mati dan polisi memilih berteduh.

Hujan menjadi momok menakutkan saat ini. Banjir dan akibatnya pada pekerjaan. Besok saya harus syuting film iklan, dan tidak yakin pawang hujan mana akan mampu menahan guyuran hujan. Mungkin hanya Pak Slamet yang bisa. Itupun kalau dia masih ada. Dia adalah kalau bekas pawang hujannya Presiden Soeharto.
Dulu kalau ada acara Pak Harto di Taman Mini atau sedang main golf. Pak atau Kiai Slamet ini bertugas mengusir membuang awan hujan dan air ke luar area ring satu. Jadi ada pameo di kalangan orang film, kalau mau syuting, jangan berada didekat daerah seputaran lapangan golf tempat Pak Harto biasa main. Pasti ketimpaan air hujan gusuran.

Continue Reading

Vivere Pericoloso

Enison Sinaro, seorang teman sutradara mengirimkan sebuah foto heroik, yang diambil poster di lorong lorong gedung Kuala Lumpur International Film Festival. Bung Karno sedang berteriak menggayang Malaysia. Entah kenapa poster itu dipasang disana. Yang jelas ingatan saya langsung menuju pada tahun tahun termasuk salah satu pidato Bung Karno pada pada masa itu, “ Vivere Pericoloso “. Artinya berani nyerempet bahaya.

Saya berpikir tahun 2009 harus berani juga menyerempet bahaya. Tentu saja bukan ujung ujungnya mati konyol. Perhitungan dan untung rugi harus dipikirkan. Krisis keuangan global, membuat principle pemilik produk mengetatkan budgeting korporasinya. Salah satu yang paling cepat dilakukan adalah memangkas anggaran promosi. Berarti orang orang seperti saya paling depan dikorbankan.

Beruntung tahun 2009 adalah tahun pemilu. Banyak kesempatan disana, karena banyak politikus bodoh atau pintar yang butuh orang orang seperti saya untuk memoles citra melalu iklan, komunikasi kampanye atau strategi lainnya. Untungnya juga mereka mungkin tidak pernah membaca blog ini. Bagaimana saya mencibirkan dunia sandiwara politik di negeri ini.
Tidak hanya calon presiden, calon calon anggota DPR atau DPD pun sudah berancang ancang membuat iklan citra dirinya di televisi daerah. Terlebih mereka sepertinya tidak terkena imbas krisis. Entah dari mana datang uangnya.

Continue Reading

Anton Shammas

Anton Shammas, seorang novelis dan penyair arab katolik warga Negara Israel menumpahkan frustasinya tentang sebuah identitas yang harus dipanggulnya. Sebuah kata “ Israel “.
Ia berasal dari desa Fassuta, di tepi Danau Galilea – utara Israel – dimana keluarganya turun temurun tinggal disana. Sebuah tempat yang penuh sejarah, ketika Yesus memanggil nelayan nelayan danau Galilea menjadi muridnya. Ia pindah ke Haifa, dan kemudian melanjutkan kuliahnya di Hebrew University, Jerusalem.

Dalam novelnya ‘ Arabesque ‘ The saga of his Arab Christian family, salah bagiannya bercerita pengembaraan keluarganya yang berimigrsi dari Syria sejak abad 19 dan bermukim di desa Fassuta, Galiliea. Hidup dalam penguasaan Kekaisaran Ottoman dan Inggris di Palestina, aneksasi Israel tahun 1948 sampai pendudukan tepi Barat dan jalur Gaza tahun 1967.
Anton Shammas terperangkap dalam sebuah kultur yang dipaksakan. Ia warga Negara Israel walau secara kultur ia tetap seorang arab yang bertanya tanya tentang identitas dirinya. Ini memang pelik, ketika akhirnya ia menemukan jawaban yang merupakan kenyataan pahit.

Continue Reading

Tentang Palestina

Nama saya Sayed. Saya bukan druze, Hisbullah, Hamas, PLO atau komunis. Saya adalah Kristen Palestina. Saya telah berjuang bersama Nasrallah dari Hisbullah sejak saya kecil. Melempar tank tank Israel dengan batu dan menyusupkan pesan pesan panglima kepada pejuang kami di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Orang tua saya terbunuh di kamp Sabra dan Shatila , dua puluh delapan tahun lalu. Kata kakek saya mayat mereka begitu menyedihkan. Kapak dan pisau kaum Falangis telah memenggalnya.

Lihat sejarah yang pernah ditulis tentang pembantaian itu. Pada tanggal 23 Agustus 1982, Bashir Gemayel salah seorang pemimpin Kristen Maronit terpilih menjadi presiden Lebanon. Ia harus menjembatani kelompok Falangis – faksi milisi Kristen – yang terbagi dua kubu. Memihak Israel dan disatu sisi memilih Suriah.
Bashir Gemayel menolak tekanan Israel dan tidak memberikan kuasa kepada tentara Israel untuk menyerahkan gerilyawan Palestina yang bermukim di Lebanon. Hingga tak berapa lama sebuah bom membunuhnya.
Kelompok Muslim dan Palestina menyangkal terlibat dalam kejadian ini. Sementara Isreal mempersalahkan Palestina. Ini membuat kelompok Falangis kembali bersatu dan mencurigai Palestina. Walau banyak pihak percaya justru agen Mossad berada di balik pembunuhan Presiden Lebanon ini.

Continue Reading

Laweyan – Maguwo

Kampung itu tak terlihat lagi semangat yang pernah menggetarkan pergerakan kebangsaan di negeri ini. Ada sisa sisa wajah keras mengangkut bal bal kain dengan sepeda. Hanya itu yang bisa memasuki labirin jalan jalan kecil di balik kampung  batik Laweyan.  Seorang wanita pembatik tulis tak peduli pada orang orang yang memandangnya takjum.
Ia juga tak tahu apakah keahliannya yang turun dari beberapa generasi sebagai kutukan atau berkah. Sebagaimana nenek kakeknya. Ia masih saja duduk di ruang yang pengab dan panas. Bersimbah bau lilin malam.

Padahal dari sana Samanhudi pernah membangkitkan solidaritas pedagang dan saudagar pribumi melalui Sarikat Dagang Islam. Bentuk perlawanan terhadap saudagar asing yang mencengkeram pengaruhnya di lingkungan Keraton Surakarta.
Malam itu Laweyan masih basah dengan hujan yang turun sejak saya memasuki Klaten. Di pojokan laweyan, Hotel ‘ Roemahkoe ‘ dengan gaya art deco –  sisa sisa kebesaran saudagar batik jaman dulu – menjadi tempat persinggahan semalam.

Continue Reading