All Posts By

iman

Langit Makin Mendung

Dalam sidang lanjutan Pengadilan Negeri Jakarta tanggal 25 Febriuari 1970. Waktu itu atas pertanyaan Jaksa penuntut. Hans Bague Jassin , atau biasa dikenal HB Jassin mengatakan, bahwa meskipun diceritakan oleh Kipandjikusmin dalam ‘ Langit Makin Mendung ‘ itu bertentangan dengan aqidah agama Islam yang dipeluknya, tapi Jassin sebagai seorang sastrawan yang katanya hidup dalam dunia imajinasi tidak bisa melepaskan diri dan untuk tetap menghargai karya imajinasi seorang pengarang.
Keteguhan HB Jassin dijuluki Paus Sastra Indonesia, sebagai pemimpin majalah Sastra untuk tetap tidak membuka jati diri siapa sesungguhnya penulis yang memakai nama Kipandjikusmin.

Diceritakan dalam cerpen yang dimuat dalam majalah Sastra, terbitan bulan Agustus 1968. Nabi Nabi di sorga merasa bosan, lalu memutuskan untuk mengirim utusan turun ke bumi. Nabi Muhammad yang telah dipilih sebagai wakil utusan dipanggil Tuhan untuk diminta penjelasan.
Muhammad menjelaskan bahwa ia dirasa perlu mencari tahu mengapa akhir akhir ini sedikit sekali manusia yang masuk surga. Tuhan menjelaskan keadaan dunia yang makin bobrok dan tak ada gunanya lagi dilihat. Namun Nabi Muhammad bisa meyakinkan Tuhan, bahkan disertakan bersama Muhammad, si Malaikat Jibril yang bertindak sebagai pengawal.
Maka dimulai melihat negeri Indonesia yang 90 % penduduknya beragama Islam, namun memiliki pelacuran yang besar juga sarang kejahatan, konspirasi komunis ( waktu itu masih belum lama pemeberontakan komunis terjadi ) dan berbagai macam kemaksiatan.

Cerpen itu dituduhkan oleh Pengadilan dan beberapa tokoh Islam, telah menghina terhadap abstraksi dan Kemulian Tuhan serta Nabinya, Muhammad Saw. Jassin tetap bersikukuh tak mau membuka nama penulisnya dan berani menanggung akibat diseret ke pengadilan. Walau ia dibela oleh sastrawan lainnya, tak mengubah vonis penjara selama setahun.

Continue Reading

Ada apa dengan Film Impor

In a way, there is something quoite noble about what we do. Our potential impact can not be minimized and should never be trivialized. At the same time that America has lost its dominance of the world’s economy. It has become a pre-eminent force in the world’s culture.

And this is largely because of what we do. People around the world may no longer drive in American cars, build with American steel or listen to American radios. But they go see American Films. They share our hopes and dreams and values when they experience the joy of a “ Pretty Woman “, the enchanment of a “ little mermaid “, or the inspiration of a “ Dead poets society “ .

Itu adalah cuplikan dari internal memo tanggal 1 November 1991 yang dibuat oleh Jeffrey Katzenberg – petinggi dari Walt Disney – yang ditujukan kepada seluruh pimpinan dan staff perusahaan. Memo sebanyak 10 halaman memang berisi strategi bisnis perusahaannya. Namun secara keseluruhan juga mencerminkan bagaimana mereka menjaga masa depan perfilman Amerika, dalam sebuah konglomerasi industri film yang luar biasa kuatnya.

Ramainya suara suara penolakan terhadap pajak film impor serta ancaman distributor Motion Picture Association ( MPA ) untuk menarik film film Amerika – baca : Hollywood – dari pasar Indonesia sebagai bentuk protes pengenaan royalti bisa dilihat secara luas justru sebagai bentuk perlawanan bisnis.

Dalam kasus ini sebenarnya yang diributkan hal hal yang sudah lazim dalam dunia perdagangan. Masalah pajak. Dan ditenggarai para importer film tidak melaporkan nilai transaksi secara benar. Padahal menurut Undang Undang no 17 tahun 2006 tentang Kepabeanan adalah nilai transaksi sebenarnya, yaitu nilai yang dibayarkan atau akan dibayarkan oleh importer. Selama inu patokan yang dipakai dalam cara penghitungan bea masuk dari film Impor adalah pukul rata US$0,43 per meter.

Ada sebuah ilustrasi menarik yang ditulis Sepudin Zuhri , wartawan Bisnis Indonesia. Ia menunjuk film film box office di Indonesia, yakni G.I. Joe, Harry Potter and The Half Blood Prince, Transformer, Terminator Salvation, Angels and Demands, X- Men Origins, 2012, dan Avatar. Dari 8 film tersebut meraup pemasukan sebesar US $ 22,4 juta atau sekitar Rp 220 milyar.

Continue Reading

Pledoi Arga Tirta Kirana dalam Kasus Bank Century


KASUS BANK CENTURY PERLU KAMBING HITAM SEORANG IBU YANG MEMBANTU SUAMI MENAFKAHI KELUARGA

Disampaikan pada persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

Jakarta, 8 Februari 2011

Bismillahirramannirrahim,
Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh, salam sejahtera para hadirin sekalian.
Yang Mulia Ketua Majelis Hakim
Yang Mulia Anggota Majelis Hakim
Yang saya hormati Penuntut Umum,

Yang saya hormati Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang mengikuti persidangan ini dan Penasihat Hukum, Suamiku, anak-anakku, Kakak-kakakku dan adik-adikku, Teman-teman Solidaritas 80 FHUI, teman-teman ILUNI FHUI, dan para sahabat serta hadirin yang menghadiri persidangan saya ini.

Pertama-tama saya panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT dan shalawat kepada Rasulullah Muhammad SAW., disertai doa semoga Yang mulia Ketua Majelis Hakim, Yang Mulia Anggota Majelis Hakim beserta seluruh keluarga senantiasa dikaruniai nikmat sehat, berkah dan lindungan dari Allah SWT. Doa yang sama saya panjatkan ke hadirat Allah SWT untuk yang Mulia Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat beserta seluruh jajaran Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat beserta seluruh keluarga. Doa yang sama saya panjatkan kepada Yang saya hormati Penuntut Umum, Penasihat Hukum, Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat beserta keluarga.

Dengan kerendahan hati saya menghaturkan terima kasih kepada Yang Mulia Majelis Hakim, yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menyampaikan Pledoi Pribadi sehingga saya dapat menjelaskan berbagai hal yang sebenarnya terjadi di dalam kasus pemberian 4 kredit di PT Bank Century Tbk yang menimpa saya. Saya berharap pledoi ini dapat menjadi bahan pertimbangan sehingga putusan yang diambil Yang Mulia Majelis Hakim adalah putusan yang seadil-adilnya.

Izinkanlah saya memulai Pledoi Pribadi ini dengan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya sehingga saya diajukan ke ruang sidang ini untuk di adili.

Continue Reading

Tifatul menatap modernisasi

Dalam sebuah perjalanan kunjungan ke Wina , Austria. Suatu malam, Presiden Soekarno memanggil ajudannya, Letnan Kolonel Bambang Wijanarko. Ia perintahkan agar sang ajudan pergi keluar menuju klub klub malam yang bertebaran di kota itu. “ Pilihlah wanita lokal “ demikian pesannya, sambil tak lupa memberi bekal 150 dollar. Uang itupun bukan dari Bung Karno semuanya. Presiden Republik Indonesia itu hanya punya 50 dollar, lalu meminjam 100 dolar lagi dari M Dasaad, seorang pengusaha yang ikut dalam perjalanan itu.

Tentu saja saran memilih wanita lokal hanya gurauan. Walau disisi lain, bisa dijadikan saran sesungguhnya. Intinya bahwa Bung Karno ingin agar ajudannya yang baru pertama kali keluar negeri, bisa lebih terbuka wawasannya tentang dunia barat termasuk wanita wanitanya.

Sejak muda, memang Soekarno kagum dengan barat, khususnya modernisasi yang bisa membawa bangsa bangsa barat menguasai dunia. Dalam majalah “ Panji Islam “ tahun 1940 , ia menulis artikel berjudul ‘ Memudakan Islam ‘ yang memuji langkah sekuler yang dilakukan pemimpin Turki, Kemal Ataturk.
Bung Karno menyebut pemisahan agama dari negara yang dilakukan Ataturk sebagai langkah berani dan radikal.
Katanya, “Agama dijadikan urusan perorangan. Bukan Islam dihapuskan oleh Turki, tetapi Islam itu diserahkan ke manusia manusia Turki sendiri. Tidak kepada negara. Maka salahlah kita, kalau menyebut Turki itu anti agama, anti Islam. Salahlah kita kalau menyebut Turki seperti misalnya, Russia “.

Menurut Soekarno, apa yang dilakukan Turki sama dengan apa yang dilakukan negara negara barat dimana agama diserahkan kepada individu pemeluknya, bukan menjadi urusan negara. Ia percaya tidak saja di Turki, tapi dimana saja, jika Pemerintah campur tangan dalam urusan agama, akan menjadi halangan besar dalam kesuburan agama itu sendiri.
Kini Istambul berbeda dengan Karachi. Istambul menampakan sebagai kota modern yang bergerak terbuka sementara Karachi tidak modern dan memberikan kesan lingkungan yang tertutup. Suatu masyarakat tertutup disebut ethnocentris. Bangsa, suku, agama dilihat menjadi sebagai pusat segala galanya. Misalnya, orang Yahudi yang melihat dirinya sebagai bangsa terpilih – the chosen people.

Continue Reading

Pesan Natal dari Garuda didada

Suara gemuruh isi Stadion Gelora Bung Karno terlalu keras malam itu. Sorak sorai 88,000 manusia membahana bercampur dengan dentum kembang api dan bunyi pengeras yang memekakan telinga. Apa yang saya rasakan dan lihat dalam Piala AFF antara timnas melawan Philipina memang bukan sekadar pertandingan bola. Ini perwujudan sentimen kebangsaan yang menyeruak begitu saja setelah sekian lama terpendam.
Stadion kebanggaan ini sudah biasa menjadi saksi pertandingan pertandingan besar. Tapi terus terang tak ada yang begitu se-emosional seperti sekarang. Tiba tiba saya sadar bahwa kita masih memiliki sebuah entity yang dinamakan Indonesia.

Sudah lama kita merindukan kebanggaan kolektif atas bangsa ini, setelah terus menerus dianggap bangsa paria. Kita tak bisa apa apa melihat rakyat kita disiksa, dibunuh di negeri orang. Sekian lama kita cemas kalau bangsa kita terancam tak memiliki identitas lagi, setelah batik, lagu, makanan, tarian di klaim bangsa lain. Kita juga merintih sedih melihat pemimpin yang ragu ragu membela kepentingan rakyatnya.

Perjalanan bangsa ini semakin lama semakin mengalami pergulatan yang intens tentang penentuan jati dirinya sendiri. Barang kali para pendiri Republik ini tidak akan percaya bahwa kebinekaan yang sudah diusung sejak negeri ini didirikan terus tergerus. Orang orang yang diserbu dan diusir ketika sedang berdoa dalam gerejanya, dengan alasan tak memiliki izin administrasi. Issue dan simbol sebuah keyakinan minoritas terus dipertentangkan, sehingga pohon natal atau atribut sinterklas di mall mall dianggap sebagai ancaman.
Lembaga Agama atau organisasi massa tersebut mungkin melihat surga yang berbeda, dan keyakinannya yang kokoh membuat makna kemajemukan ini terasa getir. rapuh dan menyesakan.

Continue Reading

Naturalisasi

Stadion kebanggaan Bung Karno malam itu kembali bergemuruh. Suasana memerah di tribun atas karena flare dan kembang api memuntahkan bias sinar merah disana sini. Sekitar 65 ribu penonton bersorak sorai ketika untuk kedua kalinya, aksi penalti Bambang Pamungkas menjebol gawang Thailand yang dikawal Kosin alias Sintaweechai Hathairattanakool, mantan Penjaga gawang Persib Bandung.

Indonesia dan Thailand memiliki sejarah panjang persaingan sepak bola. Kedua duanya sudah malang melintang di kawasan Asia ketika Arab dan Jepang masih takut takut menendang bola. Pemain Indonesia biasa melayani adu keras dengan pemain Thailand.
Iswadi Idris, mantan kapten Indonesia era 70an sering adu bogem, dengan playmaker Thailand, Niwat Srisawat. Bahkan dalam SEA Games 1977 di Kuala Lumpur, pertandingan dihentikan karena kedua tim adu pukul, dan Indonesia menolak melanjutkan pertandingan, sehingga kalah WO.

Tak ada yang berubah suasana stadion lingkar gelang pertama di dunia ini. Bangku bangku panjang kayunya masih sama 34 tahun lalu ketika pertama kali dibawa ayah saya kesini. Saya yang masih kecil terkagum kagum menyaksikan final penyisihan pra Olimpiade antara Indonesia dan Korea Utara tahun 1976. Sekaligus mendapatkan insight hebat, bagaimana sepakbola bisa membuat bangsa menangis, terutama saat Indonesia gagal memenangi pertandingan saat itu.
Kini malam ini saya kembali terkagum kagum bagaimana pemain Indonesia tidak membalas permainan keras, walaupun beberapa kali diterabas, digaprak oleh pemain pemain Thailand. Hanya tinggal penonton yang memaki sumpah serapah. Konon pelatih anyar asal Austria itu yang mengharamkam permainan kasar. Menjadi masuk akal, karena permainan kasar bisa menjadi pemicu kesalahan kesalahan yang tidak perlu. Ujung ujungnya malah kalah.

Continue Reading

Apa Kabar Obama

Barang kali memang tidak ada kepala negara selain Amerika Serikat yang begitu menyita perhatian dalam kunjungannya ke Indonesia. Tentu saja Barack Obama yang bisa membuat Presiden Austria ‘tenggelam’ di hari yang sama kunjungannya ke Indonesia.
Sejarah Indonesia sejak perang kemerdekaan memang susah untuk dilepaskan dari Amerika, terutama urusan dengan komunisme dan perang dingin. Selalu timbul tenggelam. Amerika jadi ogah ogahan membela sekutunya Belanda, karena negara muda ini sudah menunjukan keberpihakannya menumpas pemberontakan komunis di Madiun 1948. Amerika juga mati matian berusaha agar Indonesia tidak jatuh ke tangan komunis dalam periode selanjutnya.
Armada VII Amerika sudah lepas jangkar di perairan Riau sambil mendrop persenjataan untuk pemberontak PRRI yang jelas mengangkat senjata terhadap Jakarta yang dianggap pro komunis.

Presiden Soekarno yang awalnya kesal karena Presiden Einshower selalu merecoki urusan dalam negeri Indonesia dengan membantu pemberontak PRRI – Permesta, mendadak berubah pikiran pada masa pemerintahan Kennedy. Presiden ini memang tahu cara mengambil hati Soekarno. Berbeda dengan sebelumnya, dimana Soekarno hanya disambut di Gedung Putih. Kali ini Presiden Kennedy menjemputnya di lapangan terbang.
Mereka berdua sangat cocok dalam pemikiran. Mereka juga sama sama menyukai keindahan – wanita – khususnya. Presiden Indonesia ini diajak ke pabrik Lockeed, untuk melihat dan boleh membeli pesawat angkut C 130 Hercules yang saat itu masih gress dari pabrik. Padahal sekutu Amerika lainnya masih jarang memiliki pesawat jenis ini.

Continue Reading

Sumpah Pemuda dan Jejaring solidaritas

Seorang pengamat asal Belanda, Van der Plas yang hadir dalam Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 memberikan catatan menarik.
” Pemimpin Kongres, Soegondo tidak dapat memenuhi tugasnya dan kekurangan otoritas. Ia mencoba untuk berbahasa Indonesia, tapi tidak mampu membuktikan dirinya melakukannya dengan baik “
Disamping itu ia membuat laporan kesimpulan yang lebih jauh. Bahwa ada penolakan secara diam diam dari sebagian besar peserta terhadap penggunaan bahasa Melayu. Banyak orang Jawa, Sunda dan suku lainnya yang tampak tidak leluasa karena harus melepasakan bahasa Belanda atau bahasa daerahnya selama Kongres.

Namun Moh Yamin salah satu perumus konsep Sumpah Pemuda memang dengan gigih memaksakan pemakaian bahasa Melayu. Dia sendiri melakukan penerjemahan pidato Ny. Poernomowoelan yang berbicara dalam bahahsa Belanda tentang pendidikan dan lingkungan untuk anak anak. Walau sebenarnya tidak perlu dilakukan karena sebagian peserta berlatar belakang pendidikan Belanda, tetapi secara mengejutkan mereka justru berteriak teriak meminta diterjemahkan kedalam bahasa Melayu.

Ini menjadi tonggak karena, untuk pertama kalinya dalam sebuah pertemuan – kongres dalam masa penjajahan – bahasa Melayu, kelak Indonesia bisa diposisikan sebagai bahasa nasional yang membedakan dengan bahasa Belanda sebagai bahasa kolonial. Beberapa peserta kongres bahkan harus meminta maaf karena memakai bahasa Belanda dan tidak menguasai bahasa Indonesia.

Continue Reading

Jika saya berharap pada SBY

Hari hari terakhir minggu lalu, SBY memang disibukan dengan pilihan politik yang mungkin membingungkannya. Jangan salah, ini bukan masalah ragu ragu – seperti banyak orang menuding sifat dasarnya. Jika beberapa Presiden sebelumnya gemar bermeditasi ke petilasan atau tempat tempat sakral untuk mencari jawaban. SBY mungkin lebih mempercayai nalarnya, juga bisikan staff khususnya yang juga rajin memantau gejolak di jejaring sosial media.

Begitulah ia membatalkan kunjungannya ke Belanda. Sementara para wartawan, peserta rombongan yang sudah berada di atas pesawat semakin gelisah. Tambahan ransum pop mie dari pramugari untuk mengganjal perut, hanya menenangkan mereka beberapa saat.
“ Dalam waktu 45 menit, setelah konfirmasi dan mendengar pendapat Wapres dan menteri terkait. Saya memutuskan untuk menunda dan membatalkan “ Kata Presiden.

Ada untungnya anak lanang saya, mendadak googling Republik Maluku Selatan dan ingin tahu mahluk apa RMS itu. Bagus buat pelajaran sejarah. Tentu saja, SBY sangat mengenal sejarah gerakan separatis ini. Mertuanya, Jenderal Sarwo Edhie sangat mengagumi Slamet Rijadi – pendiri pasukan khusus, kelak RPKAD – yang gugur tertembak di depan Benteng Victoria, Ambon saat menumpas pemberontakan RMS tahun 1950. Saat itu ia baru berusia 23 tahun.
Ketika ‘ngapel’ semasa taruna di Magelang, SBY pasti mendengar cerita dari calon mertuanya, bagaimana keberanian Letkol Slamet Riyadi, mantan komandan Brigade Komandan Brigade V Wehrkreise I, menduduki Solo selama 4 hari pada masa perang Kemerdekaan.
Slamet Riyadi tak pernah takut datang, ke markas RMS di Ambon sana. Sedikitpun tak ragu ketika ia tak diijinkan membawa pasukan brigadenya yang sudah sehidup semati sejak perang kemerdekaan. Ia hanya diberi brigade pasukan eks KNIL untuk menumpas pasukan RMS – sebagian besar juga eks KNIL.

Continue Reading

Lebaran

Saya sudah tidak mungkin membawa anak lanangku merasakan mudik lebaran. Wong, eyang putrinya sekarang tinggal di Jakarta. Sementara dulu saya berhimpitan dengan tumpukan tas, rantang makanan, bantal, serta keluarga dalam mobil yang membawa menuju Jogyakarta dan Solo. Kadang juga naik kereta api. Tujuannya satu. Mudik ke rumah ndalem simbah.
Pengalaman kultural ini yang mungkin tak terjadi pada generasi anak saya.
Baginya lebaran hanya berkumpul dirumah neneknya, makan ketupat dan ujung ujungnya menjelang sore, mengajak ke Pondok Indah Mall. Setelah seharian bosan pada acara keluarga. Tidak ada perjuangan menembus jalanan pantura. Tertawa tawa melihat becak becak di Jawa Tengah yang gemuk mlenuk. Karena becak di Jakarta – waktu itu – masih kurus kurus. Mata kami juga was was sewaktu melewati hutan alas roban yang dulu begitu angker dan wingit.

Di rumah simbah, kami semua cucu tidur ramai ramai sambil menggelar kasur, karena kamar kamar utama dipakai orang tua kami masing masing. Jadilah lebaran bukan saja prosesi agama, tetapi juga prosesi liburan yang selalu ditunggu setiap tahun.

Perjalanan mudik bisa merefleksikan seperti perjalanan puasa. Berat dan penuh godaan. Macet, berhimpit himpitan merupakan perjuangan untuk bisa sampai di kampung halaman. Mudik menjadi hakiki bagi terutama orang Jawa. Namun bisa jadi tak berarti apa apa, karena perjuangan itu masih dalam taraf ana insan ‘ aku manusia ‘ . Hiruk pikuk rebutan tiket bersaing dengan calo dan copet. Kesibukan oleh ego eksistensi sebagai manusia yang bagaimana caranya harus pulang kampung.
Barangkali mudik memang lebih kepada pemindahan asset ekonomi. Membawa uang juga menularkan konsumerisme untuk kampung halaman. Benar benar prosesi liburan yang selalu sama dari tahun ke tahun, sebagaimana masa kecil saya.

Continue Reading

Tak ada yang salah dengan Pesta


Sebenarnya saya malas untuk bicara Pesta Blogger. Ini memang remah remah, tapi tetap saja jadi polemik, ketika masih ada orang orang menganggap Pesta Blogger sebagai pesta yang ditunggangi sponsor atau asing, mungkin sama kastanya dengan mereka yang dituding sebagai agen nekolim sampai neolib. Ah masa sih. Saya sih simpel simpel saja. Dulu saya pernah mengkritik penyelenggaraan Pesta Blogger pertama 2007. Totot menyebut saya sebagai pengkritik paling keras. Tapi tidak melulu membabi buta bahkan saya tetap hadir, bahkan kelak terlibat di dalamnya. Esensinya adalah saya menikmati perhelatan ini.

Dugaan saya tidak salah. Ini memang hajatan kopdar raksasa skala nasional. Jadi memang benar pesta dalam tanda kutip. Pestanya blogger blogger nasional – tentu saja yang mau datang. Bukankah rukun Blogger yang paling utama adalah Kopi darat. Kumpul kumpul serta ha ha hi hi, photo photo dan makan makan. Lihat saja kopdar blogger di seluruh penjuru negeri. Saling berkenalan, bertukar sapa dan yang paling penting bertukar url.

Its only blog. Nobody dies. Ya tidak usah serius serius amat tentang aspirasi yang didapat dari Pesta Blogger. Mau yang menyelenggarakan misalnya perusahaan MLM, yang mensponsori agen zionis, logonya diklaim sepihak. Santai saja. Kata Bang Rhoma, T-a-k-m-a-s-a-l-a-h.
Toh Pesta Blogger tidak akan membuat hidup mati kita. Apalagi sampai membuat dikotomi blogger nasional, blogger daerah, blogger Jakarta, blogger sosialis, blogger kapitalis, blogger sensitive, blogger minder.. Eh.
Ada teman yang mungkin sedemikian antinya, sehingga mentautkan widget komunitasnya saja bisa membuatnya meradang. Sedemikian sakralnya blog dan widget. Padahal mungkin dia lupa, bahwa pertemanan lintas blogger sedikit banyak membantu memperkenalkan, mensuarakan komunitasnya yang baru lahir waktu itu. Teman temannya mau datang ke kotanya, memenuhi undangannya dan sekaligus menulis postingan tentang komunitasnya. Kotanya. Semua sukarela.

Continue Reading

Mas Pong

Ada yang bilang Mas Pong pasti lulusan STM Penerbangan atau SMA 1 Budi Utomo. Karena kita sering melihat coretan pilox di seantero tembok tembok Jakarta bertuliskan “ Penerbangan “ atau “ Boedoet top “. Tapi mencoret di atap gedung DPR memang tidak mudah. Ini pasti Mas Pong memiliki ilmu gin kang – meringankan tubuh – atau kemampuan merayap seperti Spiderman.
Aksi protes ini fenomenal dengan sekaligus satir. Betapa tidak, Pong Harjatmo yang dalam penggambaran generasi 80an, sebagai tokoh antagonis dalam film film nasional. Kini menjadi pahlawan. Sejak film ‘ Gita Cinta Dari SMA’, peran guru olahraga seakan menjadi hak dia dalam film film berikutnya. Ini bukan karena kebetulan pendidikan Mas Pong adalah SGPD (Sekolah Guru Pendidikan Jasmani). Hampir sama dengan film film Amerika, ketika American football coach memiliki peran dalam sekolahan. Bedanya, Mas Pong naas selalu konyol ditertawakan murid muridnya. Misalnya karena celananya robek sewaktu memimpin senam pagi.

Urusan corat coret sepertinya memang tradisi bangsa negeri. Sedikit banyak juga menyumbangkan pada revolusi perubahan negeri. Tembok gedung – yang sekarang jadi kantor pos – di Jalan Cikini dekat kalipasir, dulu sering dicoret pejuang republiken yang bertuliskan dukungan terhadap kemerdekaan.
Belum masa masa berikutnya. Coretan agitasi PKI ‘ Desa mengepung kota ‘ sampai ‘ setan kabir ‘ sering ditulisi di tembok tembok perbatasan kota. Menjelang kejatuhannya, Bung Karno sempat marah marah karena tembok pagar istana Batutulis, di coreti ‘ rumah lonte agung ‘.
Coretan bisa menjadi simbol identitas. Rumah rumah yang ditulisi besar besar ‘ Milik Pribumi ‘ atau ‘ Islam ‘ diharapkan menjadi mantera penolak aksi aksi penjarahan dalam kerusuhan.

Continue Reading