All Posts By

iman

Habibie

If someone insults you, take it as a compliment that they spend so much time thinking about you, when you don’t give a second thinking about themHabibie

Tiba tiba seantero negeri kebakaran jenggot karena ucapan mantan Menteri Penerangan Malaysia yang mengecam BJ Habibie sebagai ‘anjing imperialis’ . Ini sehubungan dengan undangan Mantan Deputy Perdana Menteri Anwar Ibrahim ke BJ Habibie untuk memberikan pidato di perhelatannya. Mungkin BJ Habibie juga tidak perduli. Bisa jadi dia teringat Soekarno – Hatta pun kerap disebut ‘ budak fasisme ‘.
Tapi siapa yang ingat, kalau BJ Habibie dulupun ketika menjadi Presiden RI pernah menyinggung Lee Kuan Yew dengan menyebut Singapore sebagai ‘ little red dot ‘.

Manusia Indonesia memang pemarah. Supir nabrak motor, pasti digebuki si supir walau yang salah mungkin pengendara motornya. Bonek nyasar bisa dikeroyok. Ibu Ibu Garut juga marah, karena hak hak perempuan yang dilecehkan sang Bupati. Bukan karena kawin siri atau istri kesekian, tapi karena proses perceraiannya dengan melalui SMS. Padahal tahun 50an KOWANI, Korps Wanita Indonesia marah dan melakukan demo karena mengkritik keputusan Bung Karno mengawini Hartini. Ibu Ibu Indonesia tidak terima kalau presidennya melakukan poligami.
Sutan Syahrirpun marah karena merasa kebisingan dengan suara falsnya Sukarno yang bernyanyi nyanyi di kamar mandi, di tempat pembuangannya. Lalu dia berteriak. ‘ Tutup mulutmu ‘. Sejak itu Sukarno tambah dendam.

Continue Reading

Kebanggaan itu

Chris John akhirnya memenangkan pertarungan di Marina Bay Sands, Singapura melawan petinju Thailand yang lebih muda, Chonlatarn Piriyapinyo. Ia mempertahankan gelarnya yang ke 17 kali. Walau wajahnya bengep bengep, terkena bogem mentah lawan. Chris John masih menebar senyum di konperensi pers. “ Saya ingin bertinju sampai usia 35 tahun “. Masih ada 2 tahun lagi, kita masih boleh berbangga memiliki juara dunia.
Apa yang dinamakan kebanggaan tentang Indonesia. Karena dipuji Perdana Menteri Inggris bahwa Indonesia kelak akan menjadi negara maju karena kekuatan perekonomiannya.
Tentu bukan sepak bola juga. Kita sendiri bingung antara terpuruknya prestasi juga mana yang benar atau salah. PSSI atau KPSI. Lalu liga versi mana yang sebenarnya berhak memutar roda kompetisi.

Chris John dicibirkan ketika memilih dilatih di Australia daripada dilatih pelatih dalam negeri. Dicap tidak nasionalis. Tapi Dia tetap konsisten dengan pilihannya dan hidup disiplin dalam ‘ Ausralian’s way ‘ untuk tetap mempertahankan gelarnya demi keharuman nama negaranya.
Ketika dulu saya bawa syuting untuk iklan minuman energi. Dia tidak mengeluh dibawa naik turun bukit masuk keluar hutan dengan berjalan kaki selama 2 jam di Kabupaten Manggarai, Flores. Terus terang saya bangga bisa men’direct’ seorang juara dunia. Menyuruh lari, berekspresi atau berakting sesuai kebutuhan shooting board.
Kita juga tak tahu apa perlu bangga dengan penganugrahan gelar pahlawan Sukarno dan Hatta. Dua bapak bangsa yang sekian lama sengaja ditenggalamkan reputasinya demi kebutuhan rezim orde baru.

Continue Reading

Quo Vadis Pendidikan di Indonesia ?

Dan sejarah akan menulis, disana, diantara benua Asia dan Australia, antara Lautan Teduh dan Lautan Indonesia, adalah hidup suatu bangsa yang mula mula mencoba untuk hidup kembali sebagai bangsa. Akhirnya kembali menjadi satu kuli diantara bangsa bangsa. Kembali menjadi een natie van koelies, en een koelie onder de naties ( Sukarno. “ Tahun Vivere Pericoloso “ 17 Agustus 1964 )

Sepertinya kita terus bertanya tanya dengan landasan pendidikan negeri ini. Seolah olah sistem pendidikan di negeri ini stagnan atau bahkan mundur. Dulu, akhir tahun 60an dan awal 70an. Kita mengekspor guru guru dan dosen ke Malaysia. Mereka belajar di sekolah dan perguruan tinggi kita. Sekarang anak anak kita gantian yang menuntut ilmu ke semenanjung Melayu. Belajar di Malaysia jauh lebih bergengsi dan berkualitas.
Padahal tidak ada yang salah. Dalam Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional no 20/2003 memuat visi, misi, fungsi dan tujuan pendidikan nasional serta strategi untuk mewujudkan pendidikan bermutu yang relevan dengan masyarakat dan berdaya saing global.
.
Ada 3 prinsip perubahan utama dalam reformasi pendidikan nasional. Pertama, perubahan paradigma pengajaran menjadi pembelajaran. Istilah pengajaran, dalam arti belajar dan mengajar sudah tidak relevan lagi, Jika selama ini menitikberatkan pada peran pendidik memberikan pengetahuan kepada murid / peserta didik. Maka sekarang murid atau peserta didik didorong untuk mengembangkan potensi dan kreativitas diri.

Kedua. Perubahan pandangan peran manusia, yang tadinya dianggap sebagai sumber daya pembangunan, sekarang menjadi menjadi manusia berbudaya sebagai subyek pembangunan yang utuh.
Jika dulu murid atau peserta didik diarahkan menjadi manusia siap kerja. Pola pikir ini masih sisa pengaruh budaya kolonial dimana, pemerintah penjajahan membutuhkan tenaga kerja rendahan siap pakai untuk mengisi peran ambtenaar, mandor perkebunan atau pamong praja. Sementara dengan perkembangan jaman, sekarang dia menjadi subyek yang bahkan bisa menciptakan lapangan kerja.

Ketiga. Perubahan pandangan tentang keberadaan anak didik dengan memahami mereka. Melihat lingkungan tempat mereka tinggal dan budaya setempat. Perbedaan anak didik lebih dihargai daripada persamaan.

Namun hingga 14 tahun reformasi, tanda tanda perubahan belum kelihatan juga. Bahkan pendidik atau guru lebih nyaman dengan kemapanan dan bersikap anti perubahan. Kurikulum berbasis kompetensi sebagai ganti kurikulum berbasis materi tidak membawa perubahan.
Peraturan Mendiknas No 22 tentang standar isi, menyebut kurikulum tetap berbasis pada materi. Sementara Peraturan Mendiknas No 23 tentang Standar kompetensi Lulusan berisi kurikulum berbasis kompetensi. Ini menyulitkan guru. Mau berpegang pada isi atau kompetensi.

Continue Reading

Tentang Polisi

Saya tak bisa memungkiri kalau pernah menyogok polisi.  Alasannya karena malas menghadiri urusan pengadilan, karena pelanggaran lalu lintas. Ya kadang saya salah melanggar marka jalan, atau berjalan di bahu jalan tol. Tapi kadang pula saya merasa  tidak rela, menganggap polisi hanya menjebak. Saya merasa tidak melanggar lampu merah, tapi masih disemprit.  Selain itu, saya berpikir, polisi juga mencari cari kesalahan.  Jika dia bisa mencegah orang memasuki jalan itu, kenapa dia tidak mencoba mencegah. Bukannya malah menunggu di balik tikungan jalan.

Saya juga mengaku salah, memberikan uang pelicin, ketika membuat perpanjangan SIM di polres. Tentu saja melalui calo calo yang berkeliaran dan menjadi perpanjangan tangan oknum polisi dibalik pengurusan SIM.
Ujung ujungnya adalah masalah kesejahteraan Polisi. 

Apalagi dulu ketika Polisi masih menjadi bagian ABRI, mereka mendapat alokasi budget yang paling rendah. Waktu SMA, saya melihat tentara pengawal Presiden Soeharto, menendang seorang Polisi hingga terjengkang, karena dianggap menghalangi jalan.
Setelah peristiwa Trisakti, Di rumah dinasnya, Jenderal Wiranto membentak ngamuk ngamuk ke Kapolri Dibyo Widodo. “ Lu serahin anggota “.  Polisi jadi angkatan paria, diantara angkatan lainnya.
Sejak kecil istilah ‘ prit jigo ‘ sudah jadi anekdot untuk oknum oknum Polisi. Konon juga razia jalanan akan semakin sering menjelang hari hari besar seperti Lebaran.  Tragis fenomena ini menjadi sebuah prejudice.

Continue Reading

Kenangan bersama Suku Boti

Perjalanan 3 jam dari Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur menuju So’e – ibu kota Timor Tengah Selatan – di utara terasa sangat lama. Jalan yang berkelok kelok membuat supir agak berhati hati membawa kendaraan menuju dataran tinggi. Namun ini harga yang harus dibayar untuk bisa mengunjungi salah satu perkampungan yang masih memegang tradisi sejak turun temurun di Timor Barat. Saya memutuskan mengisi perut di kota kecil ini. Apalagi setelah menemukan sebuah rumah makan Padang yang sangat layak. Dari berbagai catatan perjalanan saya menembus pojok Indonesia ( timur ). Hampir selalu dengan mudah menemukan jenis rumah makan ini dimana mana.
Secara bergurau. Lexi. Penunjuk jalan kami, asal Kupang mengatakan. ‘ Silahkan bapa menikmati gurihnya santan dan bumbu rempah, karena ini perjamuan terakhir ‘.
Belakangan kami baru mengerti maksud lelucon itu, setelah kami tinggal dan makan dengan cara Suku Boti di dalam perkampungan mereka.

Kontur sekitar So’e merupakan daerah ketinggian yang banyak dipenuhi perkebunan rakyat, seperti jeruk, alpukat, apel dan kopi. Udara terasa sejuk, agak berbeda dengan panas dan lembabnya di selatan seperti Kupang.
Perjalanan ini belum berakhir. Masih 2 jam lagi dari Soe , kami harus menembus masuk menuju pedalaman. Pertama tama masih melewati kampung dan lama lama tinggal jalan berliku liku naik turun bukit kapur, dengan jurang dan lembah disisi jalan.
Hanya setengah perjalanan saja yang bisa kita nikmati jalanan beraspal selebihnya jalanan berbatu yang mengguncang-guncang isi mobil.

Sepanjang perjalanan menuju ke Boti kita akan disuguhi pemandangan panorama kering dan tandus. Sekalipun demikian, suasana yang terasa adalah damai dengan geratan ritmis barisan nyiur pohon kelapa dan pohon lontar yang mampu bertahan terhadap alam kering Timor.
Untung kami memutuskan berangkat pagi dari Kupang. Bisa dibayangkan jika malam malam melewati daerah yang gulap gulita seperti ini.

Continue Reading

Seandainya saya warga Jakarta

Ketika Bang Ali selesai dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta, hal pertama tama yang dilihat adalah kampung kampung kumuh berantakan di tengah tengah kota dan lalu lintas yang semrawut. Ia mengingat, anak anak bermata merah, perut buncit keleleran di jalan jalan karena tidak sekolah. Keluar dari kampungnya yang jorok. WC di depan rumah, saluran air tergenang dan kalau hujan becek kemana mana.
Bicara lalu lintas, bus bus tua peninggalan orde lama yang sedikit, Tidak punya terminal bus, sehingga ngetem berhenti dimana dia suka. Juga tidak ada jembatan penyeberangan, halte bus atau lampu merah. Jadi jadilah jalanan Jakarta seperti taman bermain. Dimana mana orang boleh menyeberang atau memberhentikan bus dan di setiap perempatan mobil atau becak saling mendahului karena tidak ada lampu merah. Semrawut sekali.

Bagaimana mungkin mengatasi semua permasalahan. Sementara masih banyak hal yang perlu diperbaiki untuk warga ibu kota. Duit di kas hanya 66 juta ( 44 juta dari subsidi Pemerintah pusat dan 22 juta dari pendapatan sendiri ). Ali Sadikin datang ke Bapenas, minta uang untuk perbaikan kampung. Ia ditolak karena prioritas Bapenas menekan inflasi.
Ia memutar otak, akhirnya membiayai sendiri proyek ini – kelak disebut proyek Muhammad Husni Thamrin – dari APBD. Selanjutnya ia melobby Bank Dunia yang membantu 50 % biaya proyek. Pemerintah pusat hanya diam saja.
Demikian pula urusan lalu lintas. Bang Ali sekali lagi menekan Bapenas untuk mengijinkan memasukan bus bus dari Amerika. Kali ini berhasil.
Ia juga membangun sistem lalu lintas. Halte bus, jembatan penyebrangan sampai lampu merah. Juga terminal Pulo Gadung, Grogol, Blok M dan Cililitan di bangun saat itu.

Sisa cerita diatas tinggal sejarah yang ditulis. Pemprov DKI membangun 2400 sekolah, 1200 kilometer jalan raya, memperbaiki kampung, puskesmas, rumah sakit, masjid dan penghijauan dengan uang sendiri. Ketika Ali Sadikin diganti oleh Gubernur Cokropranolo, ia meninggalkan uang kas untuk pemprov DKI, sebesar 116 milyar ( kurs 1 dollar ke rupiah, sekitar Rp 425,- )
Dari mana uang itu ? semua tahu bahwa uang dari judi yang dilegalkan Gubernur. Walau kontroversial, Ali Sadikin jalan terus. Ia punya landasan hukum Undang Undang yang memang mengizinkan Gubernur memungut pajak judi.

Continue Reading

Ini Korea Bung !

Ketika kita bicara Korea ( baca : Korea Selatan ) sekarang. Apalagi selain film drama, Boys band, tekhnologi, efisiensi kultur kerja sampai sepak bola. Mereka adalah bangsa yang kaya dan produkstif. Coba tengok perjalanan sejarah mereka dan bandingkan dengan kita sendiri.
Ketika kita sudah merdeka, mereka tak jauh lebih miskin dari kita, sampai kemudian mereka melalui perang saudara yang memisahkan bagian utara dan selatan.
Mereka memiliki Jenderal Park Chung Hee yang mirip mirip diktatornya dengan Soeharto dalam membangun negeri. Bedanya karena Korea Selatan tak punya sumber daya alam, kecuali tanah tanah berbatu. Maka dia memiliki orientasi ekspor, kalau perlu ambil teknologi luar serta mengembangkan. Sementara Soeharto dengan program penananam modal asingnya justru mengundang investor menguras sumber daya alam kita.

Tidak hanya itu. Tahun 60an, Sepak bola Korea Selatan masih ternganga meihat kelihaian Ramang, Soecipto Suntoro mengolah bola. Sementara akhir 70an, Korea Selatan meminjam pelatih bulutangkis Olih Solichin dari Bandung untuk mengembangkan bulutangkis di negeri ginseng sana.
Kini Park Ji Sung sudah melanglang buana sampai Manchester United, sementara kita masih berkutat PSSI versi siapa yang berhak memutar kompetisi. Di sisi lain, pebulutangkis kita malah keok kalau bertemu pemain Korea Selatan.

Continue Reading

Bang Haji


Lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Rhoma pernah meratap kepada gurunya, seorang Kiai. Hatinya cemas, bahwa ketika ia sedang menyanyi dia mendadak lupa dengan segala sesuatu. Juga dengan Allahnya.
“ Kenapa hal itu bisa terjadi Kiai ? Aku takut berdosa karena tak lagi zikir kepadaNya “.
Sang guru tersenyum. “

Itulah taqwa. Ketahuilah tanganmu yang memetik gitar itu berzikir. Juga spontanitas lagu dari mulutmu. Suara yang terdengar itu kehendakNya. Sang Kiai meneruskan. “ Kaum sufi akan berkata, Allah lah yang bermain gitar “. Rhoma menjadi tenang dan mendapat kekuatan baru yang mantap. Bang Haji demikian panggilan mesranya telah menghipnotis massa yang berdesak desakan berjoget menonton konsernya. Barangkali mereka tidak melihat sekadar superstar, tapi juga ratu adil, pahlawan dan panutan mereka.

Sejak tahun 1977, Bang Haji berani mengambil sikap berkampanye untuk partai Islam, ketika semua artis memilh berkampanye untuk partai penguasa Golkar. Ia sadar resiko dicekal penampilannya dari TVRI. Satu satunya televisi yang ada saat itu.
Kali ini Bang Haji berkampanye untuk kandidat Gubernur inkamben penguasa dengan stempel Islam.
Satu satunya yang membedakan, bahwa dalam kampanyenya dulu ia tidak menyerang Pemerintah apalagi issue Kristen dan golongan lain. Beberapa tahun kemudian ia juga tidak alergi berkampanye untuk Golkar dan duduk mewakili di MPR. Alasannya Golkar sudah islami sekarang.

Continue Reading

Sekali Lagi. Ini Jakarta

Jakarta kembali berbenah. Memilih Gubernur hari ini. Sungguh menyesal saya tidak bisa ikut menjalani hak warga untuk ikut pilkada, karena saat ini saya masih ‘ istirahat ‘ di Singapore. Tapi saya masih bisa menulis tentang harapan Ibu kota yang sebagaimana dikatakan Bung Karno kepada Ali Sadikin. Aku tanamkan kepadamu, cita citaku tentang Jakarta sebagai bandar perdagangan yang berdiri sejajar dengan kota kota besar di dunia.
Jakarta adalah kota kesayangan Bung Karno. Menjelang kematiannya, ketika Gubernur Ali Sadikin menengoknya. Ia hanya bisa berkata lirih. “ Ali,. Jakarta, Ali, Jakarta “. Sampai matipun ia tak pernah kehilangan harapan tentang Ibu Kota kebanggaannya.

Ali Sadikin terus menjaga amanat Bung Karno. Ia bekerja keras membangun Jakarta. Namun para penggantinya hampir tak ada yang bisa meneruskan untuk mewujudkan tata kota yang ideal.
Jakarta memang berubah, namun gagal menjadikan sebagai kota kebanggaan warganya. Kota yang kehilangan jiwanya. Sumpah serapah mereka yang terjebak macet dan banjir masih cerita yang tak habis habis. Manusia manusia apatis yang kehilangan ruang publiknya. Selain dirampas tembok mall, juga diserobot motor motor yang menggila melintas taman median dan trotoar.

Kini para Jakarta memiliki kandidat Gubernur terbanyak yang pernah ada. Semua menawarkan mengelola kota ini, walau beberapa sebenarnya kelihatan tidak mengerti apa yang harus dikerjakan kelak.
Saya seperti menyesali pemilihan langsung yang digagas sebagai manifesto roh reformasi. Perhelatan pilkada sungguh membutuhkan dana yang luar biasa besar. Bagaimana para Gubernur akan bekerja dengan tulus dan jujur, jika belum belum sudah meghabiskan biaya puluhan milyar. Betapa tidak, Tiba tiba saya takut bahwa kandidat kandidat yang mumpuni tapi tidak memiliki ‘ amunisi ‘ uang yang banyak, bisa saja tersingkir. Sebagian wargapun tersandera dengan uang politik dan sangat pragmatis. Berani bayar berapa ?

Continue Reading

Bakar bukunya !

“ Whenever they burn books, they will also, in the end, burn human beings “
(Heinrich Heine).

Tidak ada yang lebih menyesakan ketika melihat pembakaran buku buku “ 5 Kota paling berpengaruh di dunia “ yang dilakukan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, sebagai bagian dari Kelompok Keluarga Kompas Gramedia. Entah apa yang dibenak para pimpinan perusahaan, wartawan atau penulis penulis yang bernaung dalam perusahaan penerbitan terbesar di negeri ini, ketika melihat buku buku di giring ke halaman dan dibakar.
Walau judicial review bisa dilakukan. Tapi dengan mudahnya saya menebak, bahwa perusahaan ini – yang kerap direpresentasikan sebagai simbol bisnis kelompok Katolik – memang mencari jalan aman, untuk tunduk dari tekanan entah itu ormas agama atau lembaga swadaya urusan agama Islam bentukan Pemerintah.

Saya tak berani membayangkan reaksi Pak Dani ( 47 th ) yang mengelola ‘ Bank Kampung Ilmu “ di Surabaya, kalau mendengar aksi ini. Bank yang mengkhususkan simpan pinjam untuk 84 orang anggota, pemilik kios toko buku di kawasan Kampung Ilmu. Bagaimana mereka dengan uang pinjaman, memburu buku buku, baik buku bekas atau baru, termasuk majalah bekas. Komoditi buku tersebut dijual dengan harga yang sangat murah sehingga merupakan surga ilmu pengetahuan bagi masyarakat Surabaya.
Mata mereka berbinar binar jika datang pasokan buku buku yang dibawa tukang becak atau pedagang eceran. Mereka akan berbisik merintih ketika melihat jauh di ibu kota sana, ribuan buku dibakar.

Sebagai pemilik buku buku tersebut, tentu saja PT Gramedia Pustaka Utama berhak menarik dari peredaran. Apapun alasannya. Tapi membakar di depan khalayak ramai menjadi sebuah tontonan barbar ? Tidak cukupkah dengan menariknya dari peredaran.
Kalau sudah begini, saya membayangkan Gramedia, memilih publikasi murahan atas sikapnya untuk tunduk kepada tekanan.

Continue Reading

Soegija

Namaku Soegijapranata. Pada 1 Agustus 1940 aku ditunjuk sebagai uskup pribumi pertama yang memimpin 40.882 umat Katolik Jawa, termasuk 16.181 orang Belanda.. Aku mengenang, masa masa sulit pendudukan Jepang. Banyak pastor pastor Belanda dimasukan kamp tahanan atau ditembak mati seperti Uskup Agung Maluku, Mgr. Aerts.
Situasi bertambah buruk ketika negeri ini di proklamasikan kemerdekaannya. Umat Katolik selalu dicurigai sebagai golongan pengkhianat, karena agama kami bukan Islam. Kami dianggap bukan orang Indonesia, walau kami juga pribumi berkulit sawo matang. Sebagaimana saudara saudara kami sebangsa lainnya. kami juga membenci penjajahan. Aku harus mengatakan bahwa umat Kalolik Indonesia sebagai orang orang nasionalis. Pro Republik. Berulang kali kutegaskan, jadilah 100 persen Katolik dan sekaligus 100 persen Indonesia.

Setelah aksi polisional pertama Belanda tahun 1947. Aku berbicara di Radio Solo. Konon pernyataanku menggemparkan kalangan Katolik di negeri Belanda, yang melalui Khatolieke Volkspartij ( KVP ) baru saja memenangkan pemilihan umum di sana.
Aku berpidato “ mestinya umat Katolik berterima kasih buat Republik Indonesia yang diproklamasikan secara sepihak itu, bahwa semestinya mereka tidak menolak Republik, tetapi memberikan bantuan dan dukungan kepadanya. Kami berjanji akan bekerja sama dengan semua lapisan masyarakat untuk mewujudkan kemerdekaan teguh dan kemakmuran negara “.

Kudengar pemimpin kami, Bung Karno tertegun setelah mendengar pernyataanku yang mewakili sikap umat Katolik.
Aku berusaha keras menembus blokade Belanda dan akhirnya bisa menulis di majalah Commonwealth bulan Desember 1948 di Amerika. Dalam artikel itu aku menegaskan blokade bagi bangsa Indonesia berarti ‘ blockade pikiran ‘. Kukatakan, Gagasan gagasan kaum komunis menjadi menarik karena blokade Belanda di daerah Republik,, tidak ada pakaian, tidak ada makanan, pun tidak ada imbangan ideology. Tak ada mail. Books, magazines, ideas. Aku berseru kepada dunia luar agar menemukan jalan guna mengirimkan bahan bacaan kedalam daerah Republik, agar Indonesia tidak saja bebas dari komunisme tapi juga dari imperialisme.

Continue Reading

Sepenggal cerita dari Myanmar

George Orwell penulis novel Inggris yang terkenal itu pernah menjalani hidup sebagai polisi di Myanmar ( dahulu disebut Burma ) pada masa kolonialisme. Pengalaman hidupnya menghasilkan novel ‘ Burmesse Days ‘, Dalam novel itu selain digambarkan kehidupan masa penjajahan, juga eksploatasi kekayaan alam – minyak dan kayu – oleh peusahaan perusahaan Inggris. John Flory, salah seorang tokoh utama mengkritik imperium penjajahan. “the lie that we’re here to uplift our poor black brothers instead of to rob them.”

Myanmar memang memiliki sejarah yang sama dengan Indonesia tentang pergolakan kemerdekaannya. Pejuangnya bertempur melawan tentara Jepang, dan konflik antar bangsanya sendiri.
Pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia, banyak orang Indonesia yang memilih Rangoon, ibu kota Burma sebagai tempat pengasingan untuk menyuarakan pendudukan Belanda. Sewaktu aksi pendudukan Belanda ke II tahun 1949. Radio perjuangan me-rely pendudukan Belanda dari Aceh ke kantor perwakilan Garuda Airways di Rangoon sebelum diteruskan ke New Delhi, India.

Kemudian Burma bersama Indonesia, Srilanka, Philipina pada waktu itu merupakan pioneer kebangkitan negara negara baru Asia yang berdiri setelah masa kolonialisme. Bahkan salah satu putra terbaik Burma, U Thant, pernah menjadi Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa.

Kini Burma menjadi salah satu negara yang terbelakang di Asia. Setelah Militer mengambil alih kekuasaan. Negeri itu menjalani proses panjang kembali masuk ‘ era penjajahan baru ‘ oleh elit bangsanya sendiri. Junta Militer yang berkuasa memberangus demokrasi, hak hak sipil dan kebebasan politik. Nama Burma diubah menjadi Myanmar. Rangoon menjadi Yangon. Bahkan ibu kota negara dipindahkan Naypyidaw , sebuah kota baru di pedalaman Myanmar. Konon sebuah dataran tinggi ditebas dan oleh insinyur insinyur China dibangun sebuah kota baru.

Continue Reading