4 October 2012

Kenangan bersama Suku Boti

Posted by iman under: Budaya; PERJALANAN .

Perjalanan 3 jam dari Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur menuju So’e – ibu kota Timor Tengah Selatan – di utara terasa sangat lama. Jalan yang berkelok kelok membuat supir agak berhati hati membawa kendaraan menuju dataran tinggi. Namun ini harga yang harus dibayar untuk bisa mengunjungi salah satu perkampungan yang masih memegang tradisi sejak turun temurun di Timor Barat. Saya memutuskan mengisi perut di kota kecil ini. Apalagi setelah menemukan sebuah rumah makan Padang yang sangat layak. Dari berbagai catatan perjalanan saya menembus pojok Indonesia ( timur ). Hampir selalu dengan mudah menemukan jenis rumah makan ini dimana mana.
Secara bergurau. Lexi. Penunjuk jalan kami, asal Kupang mengatakan. ‘ Silahkan bapa menikmati gurihnya santan dan bumbu rempah, karena ini perjamuan terakhir ‘.
Belakangan kami baru mengerti maksud lelucon itu, setelah kami tinggal dan makan dengan cara Suku Boti di dalam perkampungan mereka.

Kontur sekitar So’e merupakan daerah ketinggian yang banyak dipenuhi perkebunan rakyat, seperti jeruk, alpukat, apel dan kopi. Udara terasa sejuk, agak berbeda dengan panas dan lembabnya di selatan seperti Kupang.
Perjalanan ini belum berakhir. Masih 2 jam lagi dari Soe , kami harus menembus masuk menuju pedalaman. Pertama tama masih melewati kampung dan lama lama tinggal jalan berliku liku naik turun bukit kapur, dengan jurang dan lembah disisi jalan.
Hanya setengah perjalanan saja yang bisa kita nikmati jalanan beraspal selebihnya jalanan berbatu yang mengguncang-guncang isi mobil.

Sepanjang perjalanan menuju ke Boti kita akan disuguhi pemandangan panorama kering dan tandus. Sekalipun demikian, suasana yang terasa adalah damai dengan geratan ritmis barisan nyiur pohon kelapa dan pohon lontar yang mampu bertahan terhadap alam kering Timor.
Untung kami memutuskan berangkat pagi dari Kupang. Bisa dibayangkan jika malam malam melewati daerah yang gulap gulita seperti ini.

Menjelang sore kami tiba di gerbang perkampungan suku Boti. Sinyal telepon seluler sudah hilang sejak perjalanan menembus bukit tadi. Salah satu dari kami, turun dan membuka pintu pagar dari kayu, agar kendaraan bisa masuk. Lalu kami masuk kedalam sekitar 500 meter sebelum tiba di halaman teras desa. Suasana sangat sepi, dan sepertinya tidak ada kegiatan.
Lexi lalu turun ke bawah, karena memang kontur rumah rumah di perkampungan Boti, berterap terap menurun ke bawah. Mirip dengan kampung Naga di Jawa Barat dalam skala kecil.

Sambil berjalan perlahan, saya mengikuti Lexi dari belakang sambil melihat lihat suasana. Saya berharap menemukan wajah wajah asli, namun tak satupun yang saya lihat. Ketika sampai di sebuah rumah sederhana seperti rumah warga pada umumnya, yang ternyata rumah Raja. Walau dia sendiri tidak tidur disana. Karena raja tidur di sebuah bangunan berbentuk bundar tanpa dinding dengan atap lontar menyerupai bentuk kubah dan menutupi dinding bagian samping. Bangunan ini terletak di belakang rumah, berdampingan dengan beberapa rumah khas timor yang disebut ‘ umekebubu ‘. Salah satu umekebubu ditinggali ibu Raja yang sudah tua. Lainnya ditinggali perempuan lain.

Bangunan umekebubu berbentuk kubah yang tertutup hingga ke tanah. Pintunya terletak di satu sisi bangunan tersebut, tingginya paling satu meter sehingga mereka yang masuk harus dengan cara berjongkok.
Umekebubu berfungsi sebagai kamar bagi para perempuan juga sebagai dapur. Bagian atas kubah umekebubu biasanya dipakai sebagai tempat menyimpan hasil pertanian. Ada juga daging yang diawetkan dengan diasapkan.
Berdekatan dengan bangunan ini dan rumah raja, terdapat sebuah dapur umum tempat para wanita memasak untuk kebutuhan raja dan keluarga.

Terlihat beberapa lelaki berusia paruh baya tengah mengerjakan pekerjaan kayu. Meraut kayu, menggergaji. Tampaknya mereka sedang membuat lemari.
Lexi berbincang bincang dengan salahsatu dari mereka, yang kemudian masuk ke dalam rumah. Umumnya penduduk desa inti, kurang memahami bahasa Indonesia, sehingga membutuhkan penterjemah.
Tak berapa lama, keluar bersama dia seorang lelaki tak terlalu muda usianya. Saya menebak sekitar 30an tahun. Dialah raja suku Boti yang bernama Name Benu. Ia putra dari Nenu Benu, raja terdahulu. Gigi raja merah karena selalu makan pinang serta tersenyum menyambut kami.

Lexi telah menjelaskan bahwa kami bermaksud menginap dan tinggal beberapa hari disini sambil melihat kehidupan suku Boti. Raja yang masih bujangan itu lalu memperkenalkan anggota keluarganya, termasuk seorang kakak perempuannya yang dihormati.
Melalui Lexi juga saya meminta ijin memotret, dan mengambil gambar dokumentasi semua kegiatan di perkampungan ini.
Setelah itu mereka mempersilahkan kami beristirahat di sebuah rumah kosong. Entah milik siapa. Tapi saya menduga ini sejenis rumah peristirahatan bagi tamu tamu yang datang berkunjung.

Sebelum hari mulai gelap, saya memutuskan mandi di kamar mandi mereka yang terletak di luar dengan atap terbuka. Mereka tidak mengenal sabun, hanya memakai sejenis batu untuk menggosok badan.
Disana tidak listrik. Mereka memiiki sebuah generator kecil yang tergeletak rusak di samping rumah raja.
Penerangan memakai semacam lilin dari minyak. Agak temaram. Terlalu gelap malah.

Ternyata sejak sore hari tadi, para wanita telah memasak makanan untuk menyambut kami. Setelah badan segar karena mandi, saya dan teman teman berkumpul di ruang tengah rumah. Saatnya mencicipi masakan mereka. Barulah kami tahu apa yang Lexi maksud sebelumnya dengan perjamuan terakhir.
Sebelumnya kami membayangkan makan malam yang lezat, karena udara dingin mudah membuat perut cepat lapar.
Ternyata masakan mereka sangat hambar, karena tidak mengenal bumbu bumbu. Hanya dimasak dengan garam yang mereka hasilkan dari sejenis pohon pohon pisang. Semua masakan direbus, tidak ada yang digoreng dengan minyak gorang.

Daging kambing yang biasanya lezat karena bayangan bumbu tongseng, malam itu sangat tidak enak. Karena hanya direbus dengan garam. Demikian juga sup jagungnya.
Walhasil kami hanya mencicipi sedikit karena tidak sopan menolak makanan yang dihidangkan.
Beberapa dari kami ketika kembali rumah peristirahatan, ada yang menyantap bekal biscuit dan membuat pop mie.

Karena terlalu lelah. Malam ini kami cepat tertidur, dengan penerangan lilin dari. minyak.
Pagi harinya menyisakan pengalaman yang menarik, karena lubang hidung kami cenderung hitam kotor karena asap lilin.
Belum sepenuhnya sadar, kami dikagetkan dengan wajah wajah anak anak yang mengintip dari balik pintu. Tiba tiba saja desa Boti ini menjadi sedikit lebih ramai dengan kerumunan anak anak kecil. Yah, berita kedatangan kami pasti sudah menyebar.

Suku Boti sendiri terdiri dari 70 Kepala Keluarga di dalam perkampungan inti dan sekitar 543 Kepala Keluarga di luar perkampungan inti. Karena belum menikah, sang Raja, Name Benu masih memanjangkan rambutnya. Jika menikah, sebagaimana lelaki Suku Boti lainnya, Ia akan memotong rambutnya.
Setiap sembilan hari sekali, pimpinan warga berkumpul di “ Lopo “.
Tepat di bagian belakang istana raja Boti, terdapat tempat pertemuan, lopo, yang lebih terbuka dengan lantai berupa tumpukan batu marmer yang belum dipoles. Bangunan ini disangga oleh empat pilar mewakili empat klan yang mendukung Raja Boti. Di sinilah, Raja dan masyarakatnya bertemu mendiskusikan masalah-masalah di wilayah mereka. Dan merembugkan semua problem.

Anak anak Boti umumnya tidak mendapat pendidikan, hingga dewasa. Ini menjawab pertanyaan kenapa sangat sedikit melihat para pemuda di desa ini. Ternyata penduduk Boti, jika sudah keluar dari desa, dianggap bukan warga inti lagi, dan tidak boleh tinggal disana.
Mereka masih menenun bahan pakaian sendiri, dan membuat pakaian, termasuk memintal kain tenun yang dijual kepada turis atau pendatang.
Aturan mereka sangat ketat dalam urusan adat. Mereka masih menganut agama tradisi, yang disebut Halaika. Jika mereka berpindah kepercayaan, mereka juga harus keluar dari perkampungan desa inti.

Selama 2 malam kami tinggal disini, berbaur dengan denyut kehidupan suku Boti. Kadang kala saya berjalan menyusuri bukit sambil mencari obyek yang menarik untuk dipotret. Sesekali bertemu dengan penduduk yang baru saja pulang dari ladang dan mencoba bercakap cakap dengan bahasa isyarat.
Degup alam membawa irama kehidupan yang telah berjalan selama ratusan tahun. Tersembunyi dibalik pegunungan dan berusaha keras bertahan dari gerusan modernisasi.
Angin sepoi sepoi membelai wajah saya dipenghujung senja ini. Esok pagi kami akan berangkat kembali menuju Kupang.
Sayup sayup saya masih teringat permintaan Raja, ketika saya meminta ijin memotret dan mendokumentasikan kehidupan Boti.
“ Saya minta dikirimi hasil fotonya kelak “
Sampai sekarang saya masih belum bisa memenuhi permintaannya. Mungkin saya harus kembali.

15 Comments so far...

Agus Lahinta Says:

4 October 2012 at 8:07 am.

Pengalaman menarik mas bisa mengunjungi Suku Boti. Tidur malam ditemani Tokek gak mas? 🙂 | ohya sampe sekarang pun saya belum ngirimin pic bersama Raja dan warganya. Harus kesana lagi rupanya 🙂

Ceritaeka Says:

4 October 2012 at 8:34 am.

Merinding bacanya, antara kepengen ke sana juga takjub sama Mas Iman.
Ah baru tau itu namanya umekebubu.
Kalau makanannya banyak direbus-rebus gitu, jadi penasaran apakah penduduknya ada yang obesitas?

lindaleenk Says:

4 October 2012 at 8:54 am.

Rajanya paham bahasa indonesia? Penasaran bahasa mereka seperti apa..

saifulmuhajir Says:

4 October 2012 at 9:56 am.

Membaca cerita tentang perjalanan berkunjung ke saudara sebangsa bagiku selalu menarik dan bikin merinding.

Fotonya dikirimin mas, pasti mereka seneng. 😀

Eh, kenapa mereka ndak kenal bumbu-bumbu ya? Padahal kan di sekitar mereka harusnya banyak jenis bumbu-bumbuan. Ya kan?

rere Says:

4 October 2012 at 10:21 am.

Woh, permintaan terakhir raja itu bikin merinding.
kalau ada waktu, mampir lah mas, kasi mereka gambarnya.

Mereka tampak ganteng ya, hitungnya mancung-mancung.

iman Says:

4 October 2012 at 11:03 am.

disana ada masjid gak?

antyo Says:

4 October 2012 at 3:56 pm.

Wow! Menantang dan mengesankan nian, Bung!
Aha perjamuan terakhir. 🙂

Adekiki Says:

5 October 2012 at 9:59 am.

Mas Iman, kalo mau kirim fotonya aku ada orang Soe (local unit aku) yang hampir tiap 2 minggu sekali keliling Boti, Soe, Atambua dll.

Iman Brotoseno Says:

5 October 2012 at 12:45 pm.

Eka,.
Penduduknya kurus , liat dan keras..
Linda,
sebagian besar, termasuk rajanya tidak bisa bahasa Indonesia. Jadi pakai penerjemah
Kiki.
Sip nanti dikabari.
Iman,
Tdk ada mesjid. Juga tidak ada gereja. Mereka beragama adat

didut Says:

14 October 2012 at 10:11 pm.

nice report mas

Kurnia Septa Says:

14 October 2012 at 10:15 pm.

orang yang keluar dari kampung itu tidak boleh kembali lagi. Wauw… lumayan ekstrim ya, mungkin kampungnya nggak ingin dimasuki budaya baru yang dibawa pulang ya

gurukecil Says:

18 October 2012 at 4:39 pm.

Nice report mas Iman, tapi kok gak ngabari kalau ke Kupang? Boti sebenarnya bukan nama suku, mereka adalah bagian dari suku Meto, nama suku penduduk Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, dan Timor Tengah Utara. Kata Meto dipendekkan dari Atoin Pah Meto, yang berarti orang lahan kering. ‘Ume kbubu’ dalam bahasa Meto berarti rumah bulat, sesuai dengan bentuknya, ume berarti rumah dan kbubu berarti bulat. Suasana seperti di kampung orang Boti sangat umum di Timor Barat, malah masih banyak kampung lain yang lebih terpencil dan tidak dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan. Tapi kampung Boti memang istimewa, ya karena orang Boti masih bisa bertahan dari gerusan modernisasi, meskipun sebenarnya modernisasi merupakan istilah yang terdengar sangat sayup di sebagian besar wilayah Timor Barat. Lain Kali kunjungi kawasan Gunung Mutis, mas, atau Lelogama dan teruskan perjalanan ke Gunung Timau. Maka pemandangan tidak akan lagi gersang …

Iman Brotoseno Says:

18 October 2012 at 7:10 pm.

Guru kecil,
terima kasih atas masukannya.. Tentu saya akan kembali ke Timor Barat

vheky Says:

30 August 2014 at 12:35 pm.

ingin tahu tentang suku boti

vheky Says:

30 August 2014 at 12:37 pm.

mengapa ya boti setiap hari di kunjungi orang barat terus

Leave a Reply

*

Mencari Jawaban

Artis tend to be dark, worried and superstitious creatures. This is not bad. It makes me perfectionist, it makes me care. Moreover the ability to see the darker side of life is an asset not just directing dramatic and tragic movies, but also for directing comedy, since comedy often has pain inside it. Do you believe that life and film tragically too close together ? I do ...
www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from Iman Brotoseno. Make your own badge here.


Categories

Archives

Hot Topics

Spice of Life


Why Blog ?

Why the BLOG will change the world ?The explosion of blogs throughout the world has been the biggest phenomenon since the rise of the Internet itself. Today, more people read blogs than newspapers. Blogs are just a tool, of course. It’s the bloggers behind the blogs that will make the difference. Here's Why

Blog lama saya masih dapat dilihat disini

( DISCLAIMER ) Photo dan Gambar Ilustrasi kadang diambil dari berbagai sumber di internet - GETTY IMAGES dan CORBIS selain photo teman dan milik saya sendiri. Kadang kala sulit untuk menemukan pemiliknya. Jika ada yang merasa keberatan bisa menghubungi untuk dicantumkan namanya.

Subscribe this blog

  Subscribe in a reader
Enter your email address:
  
Delivered by FeedBurner
November 2017
M T W T F S S
« Oct    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930