All Posts By

iman

Pembantaian yang tidak tercatat

Di Jawa kami harus menghasut penduduk untuk membantai orang orang Komunis. Di Bali kami harus menahan mereka, untuk memastikan bahwa mereka tidak bertindak terlalu jauh – Sarwo Edhie , Komandan RPKAD.

Ucapan mertua Presiden SBY, itu dalam sebuah konperensi pers awal tahun 1966 antara telah dilaporkan dalam beberapa bentuk. Ini menjelaskan, salah satu sejarah paling kelam dalam bangsa ini, yang tak pernah ditulis dalam buku buku sejarah anak anak kita di sekolah.
Pembantaian mereka yang dianggap komunis paska pemberontakan G 30 S PKI yang gagal.
Kita mestinya sepakat bahwa pengungkapan itu bukan untuk menorah luka lama. Tetapi untuk sebagai bahan pelajaran sehingga tak terulang.

Laporan The Econimist London, berdasarkan informasi ilmuwan ilmuwan Indonesia, mengemukakan bahwa 100.000 orang tewas hanya dalam hitungan bulan Desember 1965 hingg Februari 1966.
Menurut Komisi Pencari Fakta yang dibentuk setelah peristiwa berdarah itu, jumlah korban hanya 78.000 orang. Tapi, Oei Tjoe Tat – menteri negara jaman Bung Karno – yang menjadi ketua tim, justru meragukan penemuan itu. Dalam perjalanannya melakukan penyelidikan ia justru dihambat oleh aparat militer setempat. Ia menyebutkan angka itu terlalu dikecilkan. Dengan menyindir ia menyebut bukan 78.000 tapi 780.000.

Continue Reading

Fanatik Keblinger

Seorang Kiai NU pernah bercerita tentang bagaimana Wali Sanga menggubah wayang kulit sebagai media dakwah. Diceritakannya tentang Pandawa Lima. Urutan mereka, Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa mengandung rukun Islam yang lima.
Yudhistira adalah lambang syahadat, orang yang memegang teguh kalimah Thayyibah dan risalah mempunyai sifat sifat seperti dimiliki Yudhistira, yakni kejujuran dalam segala ucapan dan perbuatan.

Bima alias Brotoseno adalah lambang rukun Islam yang kedua, yaitu sembahyang lima 5 waktu yang tidak bisa ditawar. Dimana saja, dalam keadaan – sakit , sehat. Cocok dengan sifat Bima yang tegas, memperlakukan semua orang sama. Tidak dibeda bedakan.

Arjuna merupakan lambang rukun Islam ketiga, yakni Zakat. Berzakat dengan sendirinya orang harus mempunyai harta kekayaan. Semua orang mendambakan kekayaan. Persis seperti Arjuna yang disenangi semua orang, bahkan dipandang lanang ing jagad.

Lalu Nakula dan Sadewa merupakan lambang rukun Islam ke empat dan ke Lima. Sebagaimana puasa dan haji. Tidak dikerjakan setiap hari, dan ada persyaratan tertentu. Demikian pula tokoh Nakula dan Sadewa tidak sembarang waktu ditampilkan dalam lakon wayang.

Apa yang dipikirkan Wali Sanga jika ternyata tokoh tokoh wayang ini di robohkan, dalam sebuah arak arakan kekerasan oleh sebagian orang di Purwakarta baru baru ini. Apa salah Semar dan Gatot Kaca ? Mereka hanya simbol budaya yang jauh lebih lama hidup sebelum agama Islam datang.
Persoalannya bukan urusan patung patung yang dianggap musrik. Ini bagaimana kita mengingkari sejarah. Tidak ada yang bisa mengklaim sebagai pemilik orisinal budaya di negeri ini. Bukan juga budaya Islam, Kristen atau hindu.

Continue Reading

Lebaran tak kan lewat

Mantap sudah keputusan yang saya buat. Sholat ied saya lakukan hari selasa pagi kemarin di Masjid Al Azhar bersama anak lanangku. Bukan versi pemerintah yang menetapkan 1 syawal hari Rabu tanggal 31 Agustus. Ini bukan karena saya pengikut Muhamadiyah. Ini masalah kepraktisan saja. Makanan sudah dimasak sejak siang, dan secara spiritual dan emosional saya sudah mempersiapkan kalau Selasa tanggal 30 adalah hari raya.
Terlebih juga, tidak salah merayakan kemarin. Wong Pemerintah memberi kebebasan kepada umat. Jadilah saya sepakat dengan Muhamadiyah. Kalau melihat pada lelucon di twitter. Ini mungkin mashab JK – Jusuf Kalla – dengan jargonnya. Lebih cepat lebih baik.

Saya malas juga membahas sahih tidaknya perbedaan dua kubu tentang 1 syawal. Bukan itu masalahnya. Jauh lebih penting dua duanya juga sepakat inilah hari kemenangan setelah sebulan penuh melawan hawa nafsu. Silahturahmi dan saling memaafkan. Inilah kearifan lokal yang tidak ada di negara negara lain, bahkan di Arab sendiri. Ada ciri kebersamaan, gotong royongnya.
Para pemudik, tetap saja bergembira bertemu handai taulan. Tidak salah, karena Idul Fitri di Indonesia bersifat kultural. Kita memanggilnya hari raya. Bahasa Arabnya Yaumul Haflah, hari pesta.

Urusan mengintip bulan memang bukan sekali ini saja. Dari dulu orang sudah ribut menentukan tanggal jatuhnya lebaran. Namun secara adminstrasi dan tetek bengek duniawi itu bukan urusan Islam. Karena Islam tak akan bergeser sedikitpun dari kebenaran. Islam tak akan berubah satu inci karena salah paham.

Kata Cak Nun – Emha Ainun Nadjib. Laa raiba fiih. Tak ada keraguan padanya. Kalau orang ragu, itu urusan dia. Islam tidak rugi. Islam bebas dari untung rugi. Hanya manusia yang terikat untung rugi.
Jadi jangan ragu. Mau memilih sholat ied. Ya monggo. Asal jangan mengugat mereka yang berbeda. Yang penting, Lebaran tak akan kelewatan.
Satu permintaan dari saya. Jika ada salah kata dan sikap, mohon dibukakan pintu maaf sebesar besarnya.

Selamat Hari Raya Idul Fitri
Taqobbal Allahu minna wa minkum

Sepenggal pemikiran tentang Kemerdekaan

Kita selalu memikirkan proklamasi dengan renungan beratnya jaman penjajahan. Orang orang Belanda dan Jepang adalah musuh yang yang harus dibasmi habis. Bahkan ketika malam menjelang pagi tanggal 17 Agustus 1945. Para golongan muda masih mencari musuh bersama, yakni golongan tua yang dianggap sebagai kaki tangan Jepang. Padahal tujuannya sama sama mulia. Ingin secepatnya memerdekan Indonesia.

Sejak awal para golongan muda sudah merasa Soekarno , Hatta dan golongan tua lainnya sebagai pengecut, tidak percaya diri karena masih tergantung dengan panitia persiapan kemerdekaan bentukan Jepang.
Lihat saja teks proklamasi versi Sukarni yang mewakili golongan muda “ Bahwa dengan ini rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Segala badan badan Pemerintah yang ada harus direbut oleh rakyat, dari orang orang asing yang masih mempertahankannya “.

Isi teks ini tentu saja tidak memuaskan Soekarno – Hatta yang khawatir jika Jepang akan menghantam rakyat habis habisan.
Adu urat leher menjelang sahur, akhirnya mencapai kesepakatan. Sayuti Malik mengetik naskah proklamasi tersebut.
“ Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal hal yang mengenai perpindahan kekuasaan dan lain lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat singkatnya “.

Continue Reading

Tradisi XL, Tradisi Mudik

“ Lebaran sebagai perayaan budaya memiliki paralisme makna, yang pertama adalah perjalanan pulang ke dalam hakikat diri ( inner journey ) setelah nyaris setahun kita semua asyik merantau dengan kehidupan duniawi kita sebagai mahluk sosial ( outer journey ). Adapun lebaran dengan tradisi mudiknya juga merupakan perjalanan pulang. Pulang yang patut dirayakan karena kembali ke akar budaya, ke awal kita memperoleh sosialisasi yang membentuk jati diri “ Komaruddin Hidayat

Ketika saya kecil, tak ada saat saat yang lebih mendebarkan ketika ikut bapak ibu pulang mudik ke Solo dan Jogja dengan menggunakan mobil atau kadang kereta api. Setiap tahun dengan ritual yang selalu sama. Saat itu bola mata saya melompat lompat mencari jawaban. Ada apa di rumah eyang nanti ? Bagaimana kabar saudara saudara saya saat nanti kami bertemu ? Persis seperti kutipan diatas. Mudik lebaran merupakan pengalaman dan tradisi budaya yang hanya ada di Indonesia.
Dari dulu selalu saja kami mengalami pengalaman yang sama. Jika naik mobil, pasti melewati pasar tumpah di beberapa kota, yang membuat arus tersendat. Jika menggunakan kereta api, pasti akan berjuang melawan hiruk pikuk dan desakan gelombang manusia yang berebutan masuk kereta.

Sejak eyang meninggal, dan banyak keluarga yang pindah ke ibu kota. Saya sudah tak pernah lagi mengalamai ritual mudik . Sementara sekarang jika harus bepergian, tentu saya akan memilih kereta api atau pesawat terbang. Masalah kepraktisan saja.

Kali ini saya kembali mudik. Walau tidak dalam arti sesungguhnya, karena saya menggunakan kereta api atas undangan XL Axiata untuk mengikuti ‘ XL Network Rally 2011 ‘. Keistimewaannya, gerbong kereta jenis ini khusus didisain untuk kelas VIP dan konon sering disewa tokoh pasangan selibritis untuk pulang kampung ke Purwokerto.
Jadilah saya bersama 12 orang blogger lainnya diundang untuk menikmati perjalanan menuju Semarang. Ini bukan sembarangan perjalanan, karena sekaligus bisa menguji kesiapan peta sinyal XL sepanjang pesisir utara Pulau Jawa. Untuk memastikan kesiapan jaringan tersebut, XL melakukan uji jaringan (drive test). Sebuah program tahunan sebagai antisipasi lonjakan traffic komunikasi sms, voice dan data menjelang mudik lebaran.

Continue Reading

Belajar ilmu ikhlas

Saya pernah diundang sebuah seminar tentang HAM oleh sebuah LSM dan saya sebagai wakil blogger – diminta untuk bicara tentang peran blog dalam kaitannya dengan advokasi , penegakan hukum dan sebagainya. Setelah selesai, panitia menyodorkan amplop berisi honor dan setelah saya tanda tangani, saya diminta menyumbang ‘ setengah ‘ dari honor tadi untuk dana LSM tersebut. Jadilah saya kembali menandatangani form sumbangan.
“ Iklhas khan pak “ Tanya mbak mbak panitia tadi sambil tersenyum.
Tentu saja saya ikhlas. Karena berbicara tentang blog kepada orang orang yang belum mengerti blogging, saya anggap sebagai kerja amanah. Apalagi di bayar.
Cuma bagaimana dengan para peserta pembicara lainnya ? apakah mereka ikhlas tiba tiba ditodong untuk merelakan honornya dipotong ?

Problemnya adalah apakah ikhlas ini sejalan dengan ekpektasi kita ? ini yang membuat akhirnya kita justru tidak ikhlas, ketika kita merasa terjebak dalam situasi yang tidak enak.
Ada cerita lain. Karena saya suka menyelam di daerah Flores, maka saya merasa akrab dengan masyarakatnya dan daerah ini adalah salah satu daerah termiskin di Indonesia. Jadi ketika saya membaca sebuah postingan di milis group tentang program beasiswa anak anak SMA di Maumere. Saya serta merta mendaftar dan membuat komitmen untuk membiayai pendidikan 5 orang anak. Jadilah saya bapak angkat mereka selama setahun, untuk uang sekolah, seragam dan buku buku. Jika cocok, akan diperpanjang lagi.

Yang membuat saya tertarik, karena sejak awal saya dijanjikan bahwa saya akan mendapat laporan rapor, sampai korespondensi dari anak anak itu. Tentu saja saya ingin tahu bagaimana progress pendidikan mereka. Saya juga ingin tahu buku buku lain yang mereka inginkan.

Continue Reading

Tantangan Blog di era Social Media

Ada sebuah pertanyaan menarik yang sejak dulu selalu diperdebatkan. Apakah blog merupakan trend sesaat. Ini terjadi ketika kini blog tidak lagi dianggap sebagai trend setter, bagi mereka yang ingin dianggap eksis di ranah internet. Berbagai fitur fitur social media yang lebih sexy dan simple bertaburan. Facebook atau Twitter menawarkan pencitraan social media yang yang lebih real time. Jika dulu, sebuah topic dalam blog bisa menuai respon berhari hari kemudian, bahkan saat topic itu tidak lagi menjadi headline. Sementara twitter dan facebook terkoneksi secara real time, dan menuai komen seketika, saat update status terbaca di networking.

Manusia selalu bergerak cepat seiring dengan peradaban. Demikian juga teknologi. Komunikasi internet tidak lagi melulu menggunakan computer konvensional, ketika penetrasi mobile phone masuk di segala lapisan masyarakat. Untuk pertumbuhan pasar selular di Indonesia merupakan nomer 3 di dunia, yang mana 80 % handset yang terjual adalah web – enabled, atau bisa mengakses internet.

Namun tidak dapat dipungkiri blog masih dianggap sebagai salah satu sumber informasi yang terpercaya di bawah Koran, televisi dan portal web. Artinya bahwa blogger masih memiliki peluang untuk menangkap pembaca dengan cara yang tepat. Memang pertumbuhan user blog di Indonesia terus meningkat. Jika tahun 2007 baru sekitar 300 ribu blog. Tahun ini ( April 2011 ) tercatat 4, 8 juta blog. Di sisi lain, hampir 35 juta pengguna Fabebook dari Indonesia merupakan no 2 terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat. Sementara pengguna twitter merupakan no 6 terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat, Brazil, Inggris dan Jerman.

Melihat data itu juga menimbulkan pertanyaan menarik. Apakah pertumbuhan blog itu seiring dengan dinamika interaksi jumlah pengunjungnya. Saya bisa membayangkan era blog beberapa tahun lalu, sebuah blog bisa melakukan posting hampir setiap hari atau seminggu tiga kali, dengan komentar atau respons yang sangat dinamis.
Ini ditambah dengan kebiasaan orang yang mempunyai waktu lebih untuk sekian jam per hari duduk di depan computer melakukan browsing, blogwalking dan meninggal jejak disana sini.

Continue Reading

Masih. Pancasila

Saudara-saudara sekalian, kita telah bersidang tiga hari lamanya, banyak pikiran telah dikemukakan, macam-macam, tetapi alangkah benarnya perkataan dr. Soekiman, perkataan Ki Bagoes Hadikoesoemo, bahwa kita harus mencari persetujuan, mencari persetujuan faham. Kita bersama-sama mencari persatuan philosophische grondslag, mencari satu “Weltanschauung” yang kita semua setuju: Saya katakana lagi setuju! Yang Saudara Yamin setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki Hadjar setujui, yang Saudara Sanoesi setujui, yang saudara Abikoesno setujui, yang saudara Lim Koen Hian setujui, pendeknya kita semua mencari modus. Tuan Yamin, ini bukan kompromis, tetapi kita bersama-sama mencari satu hal yang kita bersama-sama setujui. Apakah itu? Pertama-tama, saudara-saudara, saya bertanya: Apakah kita hendak mendirikan Indonesia Merdeka untuk sesuatu orang untuk sesuatu golongan? Mendirikan negara Indonesia Merdeka yang namanya saja Indonesia Merdeka, tetapi sebenarnya hanya untuk mengagungkan satu orang, untuk memberi kekuasaan kepada satu golongan yang kaya, untuk memberi kekuasaan pada satu golongan bangsawan?

Ini bukan kebetulan, bahwa nama Lim Koen Hian – disamping nama Baswedan – disebut berulang ulang oleh Bung Karno dalam pidatonya tentang dasar negara dalam sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosaki tgl 1 Juni 1945.
Dua nama tersebut bisa menjadi sosok identitas ‘ bukan pribumi ‘ dalam sebuah bentukan negara baru. Satu keturunan Tionghoa dan satu lagi berasal dari Arab.
Bung Karno sekali menegaskan pentingnya asas kebangsaan yang melandasi kehidupan bernegara.
”Lupakan itu Daratan China, lupakan itu Hadramaut. tanah airmu bukan di sana, tetapi di sini, di Indonesia.” Itulah filosofi kedua orang tersebut. Dan sekian puluh tahun kedepan Pancasila menjadi sebuah dogma.

Saya adalah generasi yang besar ketika dogma Pancasila memasuki ruang hidup sehari hari. Urusan bertetangga, agama, perkawinan, kampus sampai afiliasi politik. Poster Pancasila menghiasi ruang tamu dirumah rumah. Mata pelajaran Pancasila atau kewarganegaraan menjadi ilmu pengetahuan dasar. Pak lurah akan menyelipkan Pancasila ketika bicara tentang panen di desanya. Seorang Dirjen akan bicara Pancasila disela sela upacara bendera di kantornya. Bahkan seorang Kuntilanak – ini nyata dari sebuah film pada masa orba – bicara Pancasila kepada warga desa yang datang mengepungnya.

Continue Reading

Cerita tentang kedipan mata

Benteng Kalamata, di tepi pantai Ternate masih terlalu gelap ketika saya bersama seluruh crew produksi tiba subuh itu. Pulau Tidore disisi selat yang memisahkannya juga masih belum kelihatan. Benteng yang dibangun Portugis tahun 1540 untuk menghadapi serangan bangsa Sanyol yang telah bercokol di Tidore, saya pilih untuk salah satu lokasi syuting pembuatan seri film iklan yang banyak mengambi lokasi di Indonesia timur. Hari ini break down syuting saya, memang merencanakan Bepe, alias Bambang Pamungkas sang bintang bola pujaan akan melakukan sesi latihan di atas Benteng Kalamata ketika matahari pagi menyinari ufuk timur. Tentu saja, ini scene sudah dipersiapkan dan jika cuaca pas, akan menghasilkan gambar yang indah.

Tepat dugaan saya, matahari muncul sesuai harapan saya. Semburat warna jingga, oranye muncul di balik pegungan Pulau Tidore. Dari seberang – tempat posisi kami – sungguh meupakan pemandangan indah, ketika pendar sinarnya bercampur dengan arak arakan awan. Dalam terminology film, situasi ini kami sebut ‘ magic hour ‘ yang hanya terjadi dalam waktu singkat. Maka selekasnya, saya meminta asisten saya secepatnya mengatur pengadeganan buat Bepe.

Sampai lepas makan siang, saya melakukan beberapa adegan sesuai storyboard dan semakin siang, matahari makin terik membuat terasa cepat lelah. Dari balik view finder kamera, dengan mata saya mengkomposisikan semuanya. Lalu saya kembali memperhatikan melalui layar monitor TV ketika pengadeganan diambil, serta berulang kali memutar balik rekaman pengambilan gambar tadi, untuk memastikan apa semuanya sesuai ekpektasi saya.
Tiba tiba sekilas saya membayangkan komposisi pengadeganan hidup saya sesungguhnya, betapa kita bisa melakukan apa yang kita mau. Hidup ternyata memang bisa direncanakan kemana kita melangkah, dan tidak melulu harus menjadi teka teki.

Continue Reading

Kebangkitan Nasional jilid 2 melalui media sosial

..tiap tiap mahluk, tiap tiap ummat, tiap tiap bangsa tidak boleh tidak, pasti akhirnya bangkit. Pasti akhirnya bangun, pasti akhirnya menggerakan tenaganya,kalau ia sudah terlalu sekali merasakan celakanya diri teraniaya oleh suatu daya angkara murka. Jangan lagi manusia, jangan lagi bangsa. Walau cacingpun tentu bergerak berkeluget keluget kalau merasakan sakit “

Demikian sekelumit pembelaan Bung Karno di Jl. Landraad Bandung tanggal 18 Agustus 1930. Pidato yang disusun selama 45 hari dengan tulisan tangannya sendiri dikenang sebagai “ Indonesia Menggugat “ kelak menjadi dokumen penting dalam melawan kolonialisme imperialisme di berbagai belahan dunia.
Bangsa ini pernah sekali bangkit dari tidurnya panjang di masa penjajahan. Salah satu faktor dari dalam negeri adalah pelaksanaan Politik Etis yang dijalankan oleh perusahaan Hindia Belanda sejak akhir abad ke-19, dalam usahanya sebagai balas jasa terhadap bangsa Indonesia yang telah memberikan kekayaan terhadap negeri Belanda.

Politik Etis dilaksanakan dengan maksud untuk menyejahterakan rakyat Indonesia, terdiri dari edukasi, trasmigrasi, dan irigasi. Dalam pelaksanaannya. Politik Etis lebih banyak ditujukan untuk menguntungkan kolonialisme Belanda sendiri. Dalam bidang pendidikan, misalnya agar nantinya pemerintah kolonial Belanda mendapat pegawai yang cakap dengan upah murah. Justru dengan pendidikan akhirnya bangsa indonesia menjadi melek dan tahu seharusnya melepaskan diri dari penjajah dengan menggunakan disiplin organisasi, sehingga lahirlah organisasi organisasi pergerakan nasional Indonesia, seperti Budi Utomo, Sarikat Islam dan Indische Partij.
Selain itu ada faktor dari luar negeri yang mendorong lahirnya organisasi pergerakan nasional Indonesia adalah peristiwa kemenangan Jepang atau Rusia dalam peperangan di Tsushima pada tahun 1905.

Continue Reading

Menyongsong Masyarakat ASEAN

Menjelang proklamasi Kemerdekaan, team perumus BPUPKI sudah memikirkan batas wilayah. Pada tangal 10 Juli 1945, Mohammad Yamin saat itu sudah mengusulkan wilayah negara Indonesia yang meliputi negara Indonesia sekarang, ditambah seluruh daratan Papua, Timor Timur, Kalimantan Utara, serta semenanjung Malaya. Pemikiran itu didasarkan jaman keemasan wilayah kekuasaan Majapahit.
Untuk memperkuat pendapatnya, Yamin menyitir kitab Negarakertagama, buku karya Mpu Prapanca yang ditulis pada sekitar abad ke-13. Yamin membawa para peserta sidang untuk membayangkan era kejayaan Majapahit dengan wilayah kekuasaan yang luas, mulai dari Semenanjung Malaya hingga ke Papua.

Sementara Soekarno walau menolak ide Yamin, mengakui pernah membayangkan Pan Indonesia yang bahkan bisa mencakup wilayah Filipina. Di sisi lain Hatta mengatakan batas wilayah Indonesia hanya mencakup bekas jajahan Hindia Belanda saja.
Siapa sangka jika pemikiran itu bisa terwujud kelak tahun 2015. Tentu saja tidak dalam bentuk negara baru, tetapi dalam bentuk masyarakat baru. Sebuah masyarakat ASEAN yang melepaskan batas wilayah negaranya untuk kesatuan pasar ekonomi bersama.

Jika melihat kilas balik deklarasi ASEAN pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok, menggambarkan sikap dan pemikiran negara negara Asia Tenggara untuk untuk bekerja sama daripada kepentingan sendiri, seperti konfrontasi Indonesia dengan Malaysia. Selain itu Philipina juga berselisih karena klaim Malaysia atas Sabah.
Serangkaian kegiatan diplomasi dari pemimpin di kawasan ini tidak hanya menghentikan konfrontasi dan perselisihan, tetapi juga mencari titik temu untuk kerja sama di masa depan.

Indonesia yang saat itu jumlah penduduknya sekitar 60 % dari populasi kawasan memainkan peranan yang sangat besar bagi terwujudnya kerja sama ASEAN. Bahkan sebagai negara besar, sejak awal posisi tawar Indonesia jauh lebih diperhitungkan oleh negara negara lain. Indonesia bahkan bisa menjadi negoisator dalam beberapa perselisihan seperti pemberontakan Moro di Mindanao, Philipina dan juga pertikaian di Kamboja.

Continue Reading

Bima Ngaji

Ada yang selalu saya kagumi cara Wali Songo menggubah wayang kulit sebagai media dakwah. Salah satunya tentang cerita wayang ciptaan Wali Songo yang berjudul “ Bima Ngaji “. Sebenarnya dalam cerita itu , tidak ada adegan atau scene si Bima atau Werkudoro atau Brotoseno lagi mengaji melafalkan ayat ayat suci. Hanya sebuah kisah Sang Bima berguru mencari ilmu.

Untungnya Wali Songo tidak sekasar produser produser sinetron dalam mengadaptasi cerita luar. Mereka juga tidak menambah nambahkan bumbu cerita. Wali Songo juga pintar memilih judul. Pemilihan kata ‘ Ngaji ‘ sebagai sebagai analogi mencari ilmu, yang justru dekat dengan pemahaman santri. Terasa sederhana dan sekaligus membumi.

Intinya dalam lakon itu, kesimpulan yang ditarik adalah seorang murid harus mentaati gurunya. Kalau sang guru tidak jujur, misalnya Durna, maka yang rugi justru si guru bukan muridnya. Bagi murid yang taat, seperti Bima justru mendapat kesaktian kesaktian dari gurunya yang tidak jujur, sampai akhirnya ia menemukan gurunya yang sejati, Dewa Ruci.
Pelajaran ini mengandung makna, seorang murid atau santri mesti setia kepada gurunya. Dan disisi lain, guru yang akan menyesatkan justru akan percuma, karena murid pada akhirnya akan menemukan jalan yang benar.

Tiba tiba saja cerita yang pernah dikisahkan oleh KH Zaifuddin Zuhri , mantan Menteri Agama asal NU jaman Bung Karno ini bergulir di kepala saat bangun pagi. Menjadi analogi yang tepat, ketika kita sebagai murid menghadapi guru guru alias pemimpin negeri seperti Presiden , ketua DPR , wakil rakyat, ketua Partai yang kian hari kian membingungkan. Kalau tak mau dibilang sesat.

Continue Reading