Dalam perjalanan menuju kopdar Cahandong nonton Batman – Dark Knight di Plaza Ambarukmo kemarin. Memed – yang selalu setia mengantar menjemput – bertanya seberapa penting riset dalam pembuatan film. Ini gara gara sambil lalu saya menceritakan bahwa saya perlu melakukan riset mengenai kemiskinan di pedalaman desa pinggiran Jogja. Apakah dengan melihat dokumenter di TV atau berita lainnya tidak cukup ?
Saat ini saya berada di Jogja untuk melakukan riset di pedalaman, untuk memahami arti kemiskinan buat sebuah film iklan versi Kemerdekaan yang akan saya garap disana. Ini melanjuti dalam brainstorm dengan produser saya tadi kemarin. Seberapa jauh saya melihat ‘ kemiskinan ‘ dalam mata saya. Terus terang saya tak begitu akrab.
Bukan salah saya. Kebetulan saja saya dilahirkan serba cukup. Walau bukan dari keluarga kaya. Tapi saya tak pernah mengalami susahnya makan. Tak pernah tidur di lapikan bambu atau membantu orang tua mencari nafkah.
iman
Awal & Akhir
Posted on July 16, 2008
Menyesal juga tidak bisa melihat upacara ngaben – terbesar dalam tiga dasawarsa terakhir – di Ubud kemarin. Padahal Tjokorda Anom sebagai salah satu keluarga Puri Ubud sudah jauh jauh datang membawa undangan ke Jakarta. Sebuah prosesi kematian bisa menjadi cermin diri kita sendiri. Bahwa selalu ada awal dan akhirnya. Alpha dan Omega. Secara manusiawi kita menolak ide besar awal dan akhir.
Kata akhir selalu berpretensi menggelisahkan. Sedih dan murung. Siapa yang mau berakhir ? Terlebih sebagian anggota parlemen yang masih memikirkan bagaimana bisa bertahan duduk di gedung rakyat.
Kata orang Perancis, perpisahan adalah kematian kecil. Begitu dikutip oleh Anton Rorimpandey dalam film Cintaku di Kampus Biru, ketika ia harus kehilangan kursi ketua senat sekaligus Ibu Yusnita, dosennya yang cantik. Tapi ia melihat juga hikmah sebuah perpisahan. Erika yang setia menunggu di pojok kampus.
Selamat datang Kampanye
Posted on July 14, 2008
Suatu hari IJ Kasimo, pendiri Partai Katolik bersama Frans Seda dipanggil Pak Harto ke Bina Graha tahun 1973. Sambil ngobrol ngalur ngidul, Pak Harto lalu mengatakan akan membuat keputusan dengan menyederhanakan jumlah partai yang begitu banyak saat itu menjadi hanya 3 partai. Yang mewakili Islam, Nasionalis dan Golongan Karya.
Partai Katolik dipersilahkan melakukan fusi – melebur – dengan partai Kristen, partai murba , dan partai partai nasionalis seperti PNI.
Dalam perjalanan pulang ke rumahnya di Jalan Borobudur, ia berpikir keras. Bagaimana mungkin ‘ partai baru ‘ ini bisa berjalan. Secara ideologi partai Katolik berbeda dengan PNI. Bahkan dalam jamannya Bung Karno, Partai Katolik bersama partai Islam lainnya ( minus NU ) menolak konsepsi Presiden tentang demokrasi terpimpin yang diwakili PKI, NU dan PNI. Namun siapa bisa menolak keputusan Pak Harto saat itu.
Sejarah telah digulirkan. Partai Persatuan Pembangunan , Golongan Karya dan Partai Demokrasi Indonesia menjadi representasi demokrasi orde baru.
Maafkan saya menghapus komen anda
Posted on July 11, 2008
Ada pertanyaan yang selalu terus menggelitik. Kebebasan apa yang kita miliki dalam blog milik kita sendiri. Dalam artian bagaimana jika gagasan atau tulisan kita ternyata belum mampu memuaskan ekspektasi pembaca blog kita. Jika kita tak bisa menentukan siapa yang bisa membaca tulisan ini begitu tersebar di dunia maya. Bisakah kita bisa mengatur pengunjung ke blog kita sesuai selera kita.
Sebenarnya saya malas membahas topik ini. Tetapi saya memiliki sebuah pengalaman, pertama kali harus menghapus komen komen dari seseorang yang sebenarnya – mungkin – pembaca setia blog saya. Orang ini – sepertinya bukan bloger- ternyata cukup kritis dan sebagaimana saya juga, ia juga menyenangi sejarah.
Saya ingat pertama kali komen dari orang ini muncul sewaktu tulisan saya tentang Soekarno. Ia mempertanyakan, bagaimana saya dapat memperoleh informasi saat saat kematian Soekarno. Ia juga bertanya, apakah saya berasal dari keluarga militer.
Cerpenista
Posted on July 10, 2008
Secara tradisi bangsa kita sangat menyukai kata bersambut yang tergambar dalam budaya pantun. Saling bersambut pantun menjadi keindahan cara bertutur. Namun bagaimana kita membayangkan saling bersambut untuk membentuk sebuah tulisan cerita pendek.
Inilah ide brilian dari Momon menggabungkan beberapa kontributor penulis dalam sebuah tulisan cerita pendek dalam kolom CERPENISTA . Sekaligus sulit, karena pertama bagaimana mungkin begitu banyak penulis dengan kemampuan menulis yang berbeda beda harus berusaha mengikuti alur paragraph sebelumnya.
Paragraf ? Setiap penulis harus menulis beberapa kalimat dalam sebuah paragraph sebelum diteruskan oleh penulis lain. Tentu saja idealnya kalimat kalimat itu harus berkaitan.
Iqbal & Mutia
Posted on July 8, 2008
Selalu tak ada kata bosan jika bicara tentang cinta. Siapa bisa menduga bahwa seorang balibul – pemilik rumah Colonel Seven – yang biasa paling keras suaranya, tiba tiba Mak cep diam seribu bahasa. Juga jaim.Klakep klakep klakep. Tentu saja cinta yang membuatnya malam itu menjadi tuna rungu sesaat. Mendadak tuli dan bicara tanpa suara. Hanya mulut lirih berucap, Sangat sulit untuk didengar.
Memang pada hari ulang tahunnya yang ke 29, ia memutuskan untuk bersiap siap mengakhiri keanggotaannya di klub Perjaka Senja . Dengarkanlah testimony pengakuannya di depan saya, Zam, Sarah, Gage, Hanny, Chika, Bambang, Suprie, Hedi, Ipul, Mitha.
mulutmu amarahmu
Posted on July 4, 2008
Suatu waktu dipertengahan tahun 80an, seorang pemilik restaurant Indonesia “ Soeboer “ di Den Haag, Belanda mengetahui bahwa Raja Solo Sri Susuhunan Pakubuwono XII sedang berada di kota itu untuk membawa rombongan kesenian dan budaya. Tentu saja sebagai orang Solo ia mengundang raja beserta keluarganya untuk dijamu dahar Indonesia di rumah makannya.
Tentu saja mereka sangat senang dan benar benar makan sekenyang kenyangnya. Bisa merasakan makanan Indonesia di perantauan memang sebuah anugrah.
Sampai suatu ketika salah seorang cucu mengatakan sudah kenyang. Perutnya tidak muat lagi. Sang raja sontak memarahi dan mengatakan – dalam bahasa jawa – yang artinya,
“ Sana berak dulu ke belakang, nanti makan lagi ! “
Si Pemilik rumah makan tertegun tak mempercayai ada ucapan sekasar itu keluar dari seorang simbol keraton yang semestinya penuh sopan santun.
Korupsi = Budaya
Posted on July 2, 2008
Sebegitu banyak publikasi tentang tertangkapnya orang yang disuap – terlibat korupsi -ternyata tidak membuat kapok mereka mereka untuk tetap melakukan transaksi ini. Rocky Gerung, pengajar filsafat Universitas Indonesia mengatakan korupsi menjadi soal teknis ( lolos atau sial ditangkap ). Bukan lagi soal etis ( malu atau tidak ). Ini adalah kondisi banalitas yaitu kerendahan tindakan yang bahkan alasannya pun tidak dapat dimengerti. Banalitas, yakni keadaan umum dimana moral defisit berlangsung dalam sebuah institusi agung – DPR, MA, Kejaksaan – sehingga kejahatan justru dinikmati sebagai pekerjaan.
Baiklah kita tidak berbicara di ranah filsafat yang membingungkan.
Kita mesti mengakui bahwa korupsi adalah bagian dari budaya bangsa, selain bangsa yang ramah tamah dan – mungkin – gaya hidup. Tradisi yang turun temurun.
dari Zam ke Pesta Buku
Posted on June 30, 2008
Ketika bomber Real Madrid, Raul tidak terpilih dalam skuad Sang pelatih Aragones, ia dengan besar hati menerimanya. Bahkan menggelar konperensi pers yang tetap mendukung pelatih gaek Spanyol itu.
“ Tentu ada sebuah rencana besar yang saya sendiri tidak mengetahuinya “. Demikian ia mengatakan masgul. Ternyata semalam di final perhelatan Euro 2008, Aragones membuktikan rencana besarnya. Spanyol memang membutuhkan itu. Semangat persatuan bangsanya, tidak sekadar separatisme Basque atau ras Catalan – diwakili hegemoni Barcelona – yang enggan menjadi bagian dari united Spain.
Cesc Fabregas berteriak. “ Saatnya spanyol bersatu “. Sepakbola telah menjadi perekat bangsanya.
lagi lagi Cinta Lokasi
Posted on June 28, 2008
Selalu saja issue issue seperti ini ditanyakan kepada saya. Apakah begitu mudahnya terjadi cinta lokasi dalam sebuah pembuatan film. Seperti, apakah benar si anu sutradara layar lebar ini pacaran dengan bintang filmnya. Apakah si jelita anu sedang berhubungan dengan si tampan ini, Hal hal yang sebenarnya bagi saya tidak menarik.
Pertama – kalaupun tahu – saya tidak akan menjadi corong pewartaan gossip. Biarlah ini menjadi rahasia orang orang film. Kedua, bagi saya tidak ada yang salah dengan sebuah pertemuan yang melahirkan hubungan chemistry cinta. Walau itu di lokasi film, kantor, ataupun kopdar. Hanya tempat dan ruang waktu yang membungkusnya.
Khusus bagi lokasi film, definisi cinta tidak selalu identik dengan perselingkuhan. Itu khan kadang kadang sebagian hanya bumbu bombastis dari infotainment.
Senin subuh itu
Posted on June 25, 2008
Senin dini hari. Pertandingan Spanyol dan Italia baru saja mulai. Saya sudah mengerang kesakitan, karena nyeri luar biasa di bagian perut. Rasanya mual sekaligus perih. Tak tahan terus muntah muntah, sendirian naik taxi menuju Rumah Sakit MMC.
Dokter mengambil langkah menyuntik sejumlah obat obatan yang dimasukan lubang infus lewat pembuluh vena di tangan. Setelah itu membiarkan saya sejam tiduran di ruang UGD yang dingin sambil menunggu reaksi obat bekerja.
Ya, penyakit maag yang akut ini sudah tidak dapat berkompromi dengan tubuh yang semakin tua ini.
Sambil berbaring, sayup sayup saya mendengar suara seorang perawat di balik korden berbicara kepada dokternya atau temannya.
“ Ini Iman Brotoseno, sepertinya namanya pernah dengar..”
Ternyata ia seorang pembaca blog saya. Ia mengenali tulisan saya, mungkin untuk menemai malam malam panjangnya di ruangan UGD yang sepi ini. Menyenangkan karena selalu ada kejutan. Siapa yang bisa menyangka bahwa ide dunia tanpa batas itu benar benar terjadi di sebuah ruang UGD rumah sakit.
Sang perawat masih terus menemani saya menunggu obat di depan apotik setelah dokter memperbolehkan pulang.
Tentang Jakarta
Posted on June 22, 2008
Ali Sadikin adalah orang Sunda kelahiran Sumedang. Namun selama ia menjabat menjadi Gubernur DKI Jakarta, sama sekali tak penah memperlihatkan atribut keSundaannya. Ia bangga dengan sebutan Bang Ali. Panggilan akrab orang Betawi. Ia juga menjadi gubernur pertama yang berbaris memimpin kontingen Jakarta dalam defile pembukaan PON 1973 di Surabaya, Ini ada ceritanya, karena sebelumnya para atlet atlet Jakarta –yang bukan asli Betawi – tidak pernah menunjukan kebanggaannya terhadap kontingen DKi Jakarta. Mereka selalu berkumpul di asrama atau mess kontingen daerah lain yang memiliki kesamaan suku.
Ali Sadikin marah. Ia memerintahkan seluruh atlet Jakarta dikonsinyir – diasingkan – di dalam kompleks KKO / Marinir di Surabaya selama berlangsungnya PON. Ia meninggalkan Jakarta dan mengawasi langsung kontingennya. Setiap hari ia memotivasi dan memberi pemahaman tentang kebanggaan sebagai kontingen Jakarta. Hasilnya saat itu DKI Jakarta merebut medali emas terbanyak.
