19 October 2012

Tentang Polisi

Posted by iman under: HUKUM & ETIKA; INDONESIANA; POLISI; TOKOH .

Saya tak bisa memungkiri kalau pernah menyogok polisi.  Alasannya karena malas menghadiri urusan pengadilan, karena pelanggaran lalu lintas. Ya kadang saya salah melanggar marka jalan, atau berjalan di bahu jalan tol. Tapi kadang pula saya merasa  tidak rela, menganggap polisi hanya menjebak. Saya merasa tidak melanggar lampu merah, tapi masih disemprit.  Selain itu, saya berpikir, polisi juga mencari cari kesalahan.  Jika dia bisa mencegah orang memasuki jalan itu, kenapa dia tidak mencoba mencegah. Bukannya malah menunggu di balik tikungan jalan.

Saya juga mengaku salah, memberikan uang pelicin, ketika membuat perpanjangan SIM di polres. Tentu saja melalui calo calo yang berkeliaran dan menjadi perpanjangan tangan oknum polisi dibalik pengurusan SIM.
Ujung ujungnya adalah masalah kesejahteraan Polisi. 

Apalagi dulu ketika Polisi masih menjadi bagian ABRI, mereka mendapat alokasi budget yang paling rendah. Waktu SMA, saya melihat tentara pengawal Presiden Soeharto, menendang seorang Polisi hingga terjengkang, karena dianggap menghalangi jalan.
Setelah peristiwa Trisakti, Di rumah dinasnya, Jenderal Wiranto membentak ngamuk ngamuk ke Kapolri Dibyo Widodo. “ Lu serahin anggota “.  Polisi jadi angkatan paria, diantara angkatan lainnya.
Sejak kecil istilah ‘ prit jigo ‘ sudah jadi anekdot untuk oknum oknum Polisi. Konon juga razia jalanan akan semakin sering menjelang hari hari besar seperti Lebaran.  Tragis fenomena ini menjadi sebuah prejudice.

Sampai sekarangpun, bisik bisik tentang persekongkolan Polisi dengan bandar judi, cukong illegal logging, bandar narkoba, penyelundup dan berbagai macam praktek praktek korupsi.   Saya memiliki teman seorang Komisaris Polisi. Masih muda dan tinggal di pedalaman Sumatera Selatan yang banyak berhubungan dengan Hak pengelolaan hutan, pertambangan.  Sementara istrinya dan anak anaknya tinggal di Apartemen mahal di Jakarta. Saya kadang suka berpikir, berapa gaji dia, sehingga bisa membelikan mobil mewah untuk istrinya.

Ini baru perwira menengah. Bagaimana dengan Jenderal jenderalnya ?  Kisruh rekening gendut perwira Polisi, sekarang simulator yang menyeret Irjen Djoko Susilo menunjukan betapa Korps Kepolisian jadi bancaan. Saya jadi ingat wawancara Gus Dur setelah dia lengser dengan Greg Barton. Disebutkan bahwa Kapolri Surojo Bimantoro sebagai perwira Polisi yang paling korup pada saat itu.   Tentu kita juga masih ingat, mantan Kapolri lainnya, Rusdihardjo yang akhirnya menjadi terpidana kasus korupsi dana TKI di KBRI  di Malaysia.

Barang kali cuma dua Jenderal Polisi yang tidak perduli dengan uang. Pertama RS Soekanto dan Hoegeng Imam Santoso.  Kapolri Soekanto seorang penganut aliran Kebatinan diturunkan Bung Karno karena desakan perwira perwira Polisi lainnya yang tidak suka Kapolrinya lebih banyak mengurusi kebatinan daripada Kepolisian.  Sementara Hoegeng dengan track record integritas dan kejujurannya.
Ada suatu masa ketika Hoegeng  mendapat telpon dari istrinya, Bu Mery. “ Mas, ada tamu datang ke rumah yang meninggalkan banyak hadiah “.
Hoegeng bergegas pulang, dan menemukan sebuah peti besar dari kayu berisi mesin cuci, alat alat elektronik sampai pakaian pakaian mahal. Banyak sekali.  Kemudian oleh Hoegeng, peti itu ditutup dan dikembalikan ke alamat pengirimnya.

Pada masa kepemimpinannya, Hoegeng kerap dipusingkan oleh rekan rekan koleganya yang bermain dengan uang panas.  Bahkan beberapa jenderal jenderal Polisi meminta agar ia menghentikan penyidikan seorang tersangka wanita. Alasannya bahwa wanita itu sudah banyak membantu dalam hal materi ke Korps Polisi !
Belum lagi ia harus terbang ke Papua ( dulu Irian Jaya ), untuk menenangkan pemberontakan polisi polisi asli orang Irian yang berpangkat rendah. Di Ennarotali, Irian.  Pemberontakan ini dipicu karena, pejabat – termasuk pimpinan polisi lokal – yang bukan warga asli Irian, justru mengkorup bahan pakaian dan kebutuhan pokok lainnya yang mestinya dibagikan kepada rakyat di sana.

Setelah Polisi disapih dipisahkan dari struktur ABRI. Ia menjadi lembaga otonom yang bertanggung jawab ke Presiden.  Anggaran melimpah, dana dari Amerika digelontorkan untuk reformasi dan pelatihan Polisi.   Masalah keamanan dan teritorial yang tadinya menjadi monopoli tentara, tiba tiba masuk ke ruang lingkup Polisi.  Jadilah Korps ini menjadi incaran cukong.  Jaman berubah. Kini Akademi Kepolisian jadi salah satu rujukan favourite. Bahkan anak anak Jenderal Angkatan Daratpun lebih memilih masuk Akpol daripada Akmil.
Konglomerat pemilik modal tidak lagi melulu membina perwira perwira Angkatan Darat.   Sebuah karaoke dan klub kelas atas di Hotel Borobudur, Jakarta kerap berisi perwira perwira menengah Polisi melepas lelah dan bernyanyi nyanyi.  “ Sudah biasa Mas, Boss selalu mengundang mereka ke sini “. Bisik sang manajer klub.

Secara psikologi, Kepolisian ingin menunjukan Korps yang sejajar dengan TNI. Hingga mengundang kecemburuan Angkatan angkatan lain.  Di daerah daerah, Brimob tidak takut lagi untuk bentrok senjata dengan Angkatan Darat. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi jaman orba.
Polisi jadi lebih arogan..  Kalau dulu pemeriksaan di markas tentara bisa dengan metode menaruh jari kaki tersangka di bawah kursi penyidik yang mengetik berkas acara.  Ditataran bawah, polisi tak mau kalah. Pemeriksaaan mahasiswa  Universitas Pamulang yang terlibat bentrokan harus memakai bumbu kekerasan. Dipukul, disiksa.  Jangan heran kalau model Novie Amalia harus dibugili, dilecehkan dalam markas Polisi.

Sementara di tataran elit.  Para Jenderal sibuk menyerang mereka yang mengusik usik ‘ ketentraman ‘ dengan alasan l’esprit de corps.   Kasus rekening gendut menguap hilang begitu saja. Sekarang, walau sudah ada perintah Presiden agar KPK menjadi penyidik tunggal dalam kasus Simulator.  Polisi justru menetapkan tersangka baru. Komisaris Legimo Puji Sumarto sebagai orang yang dituduh memalsukan tanda tangan Irjen Djoko Susilo.  Gampang ditebak, ini bisa jadi skenario penyelamatan perwira tinggi.

Kini kembali kepada rakyat dan pembuat kebijakan.  Apa yang akan kita lakukan kepada Korps Kepolisian ini ? Ada yang meminta ditaruh di bawah Departemen Dalam Negeri, sehingga kontrol dilakukan oleh Gubernur atau Kepala Daerah.   Ada juga suara yang  meminta reformasi total seandainya masih tetap dibawah Presiden.
Kebosanan rakyat melihat Polisi arogan dan korup hampir sampai titik didih. Ucapan Wakapolri, Jangan munafik gaji polisi tidak cukup. Jelas mengusik perasaan. Terlebih dengan kedudukannya menjadi pembina penggemar motor gede milik orang orang kaya.

Saya tiba tiba teringat ucapan Kapolri Hoegeng.  Bahwa ada 2 citra yang harus ditegakan pimpinan Kepolisian secara bersamaan. Yakni, citra diri Polisi terhadap dirinya sendiri, kehormatannya yang berkaitan dengan citra sosial polisi sesuai dengan hakikat sosial dirinya di masyarakat.
Kalau sudah begini siapa yang akan mengatakan, apakah Polisi jaman sekarang masih memiliki kehormatan itu ?

poster Hoegeng dari sini

26 Comments so far...

Sam Ardi Says:

19 October 2012 at 10:05 am.

Mas, Soekanto pengikut aliran kebatinan apa?

yoszca Says:

19 October 2012 at 10:19 am.

Semoga suatu saat nanti institusi POLRI bisa memiliki sosok pemimpin bermoral bersih dan amanah menjalankan tugas seperti pak Soekanto dan pak Hoegeng

Ceritaeka Says:

19 October 2012 at 10:32 am.

Aku baru tau istilah Prit jigo ini.
Makin hari gue makin ngefans ama Mas Iman! :D Hahahaha

Ceritaeka Says:

19 October 2012 at 10:33 am.

Aku baru tau istilah Prit jigo ini….
Makin hari gue makin ngefans ama Mas Iman! :D Hahahaha

saifulmuhajir Says:

19 October 2012 at 10:37 am.

Iya. Sekarang lebih banyak yang memilih ke Akpol sampai-sampai Akmil sepi peminat. Padahal kan jadi anggota TNI juga penting.

Ah.. kehormatan polisi itu sudah hilang sepertinya.

lindaleenk Says:

19 October 2012 at 10:38 am.

Miris..
Dan habbit yg suka korup itu..susah diubah.__.

tukangkopi Says:

19 October 2012 at 10:58 am.

Panas hati saya baca tulisan ini. Tinggal tunggu mendidih dan tumpah kalo apinya tidak dimatikan.

gurukecil Says:

19 October 2012 at 11:23 am.

Kepolisian melakukan reformasi setengah hati. Mau jadi sipil, tetapi gaya tetap ABRI. Lihat seragam mereka, penuh tanda jasa meniru cara berpakaian TNI. Lagipula, organisasinya terlalu gemuk. Saya lebih suka organisasinya direformasi dulu, sipisahkan antara kepolisian biasa dengan kepolisian khusus, misalnya kepolisian perairan diubah menjadi penjaga pantai (coast guard) yang terlepas dari kepolisian. Demikian juga dengan divisi Narkoba, dijadikan lembaga terpisah semacam FDA-nya AS. Polisi biasa dijadikan di bawah kementerian dalam negeri saja, supaya Kapolda bertanggung jawab kepada gubernur. Tapi tentu saja ini sangat sulit, sebab perwira tinggi polisi pasti sangat nyaman dengan organisasi seperti sekarang ini. Entah kapan kita bisa membanggakan pak polisi…

antyo Says:

19 October 2012 at 11:47 am.

Dengan kondisi korps yang demikian, lantas dari mana kita dapat pemimpin baru polisi yang punya integritas?
Sejak masuk akademi pun ada yang menggunakan cara aneh, termasuk hubungan baik bapaknya yang jenderal AD dengan guburner akpol.
#geram #prihatin

meong Says:

19 October 2012 at 12:02 pm.

integritas… yayaya…
kalo orang masih suka silap ama harta materi banda, mudah tergoda utk bermewah2, ya integritasnya masih lemah mudah digoyah.

rekrutmen mustinya mensyaratkan mereka2 yg ingin jd polisi & pejabat publik utk:
1. berintegritas
2. lebih suka hidup sederhana

snydez Says:

19 October 2012 at 4:05 pm.

*ngebayangin desentralisasi polri dengan berada di bawah kendali gubernur (bahkan walikota) seperti di negeri sono itu

mizan Says:

20 October 2012 at 7:09 am.

Kalau semenjak saat masuk akademi sudah dilakukan dengan cara “kotor” bagaimana mungkin hasilnya akan bersih?

Rere @atemalem Says:

20 October 2012 at 7:09 am.

tiap mampir ke sini, mesti dapet ilmu baru. :)

Kurnia Septa Says:

20 October 2012 at 5:37 pm.

Benar juga kata paman tyo, bagaimana bisa mempunyai integritas jika masuknya saja sudah pakai ‘belakang’. Sampai kapan kesejahteraan jadi alasan, manusia memang nggak ada puasnya.

DV Says:

22 October 2012 at 7:18 am.

Kasian pulisi disorot abis-abisan. Bukannya pembenaran, tapi dengan pola yang salah sejak awal perekrutan, banyak banget sektor lain yang juga tak kalah kelam

dilla Says:

22 October 2012 at 1:01 pm.

budaya polisi kayak begini mah udah mengakar.. kayanya semacam mustahil bisa diubah :|

a'ung Says:

24 October 2012 at 10:19 am.

dan masyarakat pun skrg sudah tidak takut polisi mas,ya karena prit jigo dan juga jengah dengan kelakuan nya..polisi tak ubah nya karyawan swasta isi pospolisi aja cuma sampe jam 20.00wib

adit Says:

26 October 2012 at 9:24 pm.

polisi gak salah, manusia yg salah, yang selalu haus akan kekuasaan, jabatan, dan kekayaan.dan gak semua seperti itu, anda terlalu menyudutkan polisi dan tidak adil.. coba selidiki tentang pengadilan, kejaksaan, TNI, KPK, Pemda, sekolahan, perguruan tinnggi, rumah sakit, dan wartawan pasti ada yang tidak sesuai dengan hati anda dan mungkin akan menemukan yang lebih buruk dari apa yg anda ceritakan tentang polisi.kalau anda udah tahu semua silahkan bicara, biar berimbang dan adil .semoga indonesia tetap bersatu . amin

Bayu Aji Says:

31 October 2012 at 10:36 am.

Saya yakin sih pasti selalu ada polisi yang bersih yang mempunyai prinsip. justru orang2 ini yang perlu diangkat ke publik.

Tyas Says:

18 February 2013 at 9:02 pm.

mengapa posting ini terlalu menyudutkan polisi? bahkan bila dapat ditelusuri lagi, TNI mungkin bisa lebih buruk dari itu. kepolisian adalah instansi negara yang bermartabat dan layak dihormati, setahu saya, di luar negeri, Polisi lebih di hormati dr pada Tentara, pula bergaji tiga kali lipat lebih tinggi. tuga-tugas polisi juga jauh lebih berat dr tentara yang hanya hadir ke markas utk olahraga, dan sekedar apel, tidak seperti polisi yang menegakkan hukum. tentara tidak bisa menegakkan hukum di masyarakat, karena mereka lebih mengandalkan otot, sedangkan polisi jauh mengandalkan otak dan juga otot. ini juga salah satu alasan mengapa masuk polisi lebih sulit dr pada tentara. keburukan polisi terletak pada OKNUM-nya,,

pasabremo Says:

9 March 2013 at 10:32 am.

Kepolisian, yah sebahagian besar hanya memunculkan arogansi. Sebahagian besar masyarakat ketika mendengar nama polisi yg muncul dibenaknya, nyogok atau dihukum.. Begitulah pandangan umum. Disisi lain kadang polisi memang berguna meredam kericuhan namuun ujung2nya tetap siapa yg kuat dia yg menjadi pemilik polisi. Polri belum berhasil menjadi institusi penegak hukum, ia lebih berhasil menunjukkan diri sebagi institusi yg menakutkan dimana tak ada yg boleh menandingi

Metmut Says:

22 April 2013 at 3:11 pm.

Ada sampe 20 persen ga yah yang masuk akpol/stpdn (yang tesnya banyak banget, fisik dan intelektual) murni tanpa “duit pelicin” dan atau “pengaruh orang kuat/pejabat”?

Kalau yg masuk STAN/STIS sih aku yakin lebih 80 persen murni karena terbukti cerdas-cerdas sih otak alumninya yg aku kenal.

Metmut Says:

22 April 2013 at 3:14 pm.

Kalau masih ada sampe 20 persen yang masuk akpol atau bintara atau tamtama polisi dengan murni (tanpa pelicin atau dukungan pejabat/orang kuat), hebattttt…….. masih ada harapan walau seperlima sajah.

anggota Says:

22 April 2013 at 5:15 pm.

Polri, Kadang Sipil Kadang Militer
REP | 05 May 2012 | 05:15 Dibaca: 640 Komentar: 7 Nihil

sejak reformasi gagasan demiliterisasi Polri telah dilaksanakan secara intensif, yakni dengan memisahkan Polri sebagai bagian dari unsur angkatan bersenjata. Selanjutnya, institusi yang semula dikenal sebagai Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI)diganti menjadi Tentara Nasional Indonesi (TNI). Tak ketinggalan pula pembuatan perangkat peraturan perundangan yang memisahkan institusi serta kewenangan kepolisian dari militer.

Pada masa Orde Baru, keberadaa Polri sebagai bagian dari militer merupakan komsekuensi doktrin politik ‘dwi fungsi ABRI’ dimana institusi militer (ABRI saat itu) memiliki legitimasi untuk berperan dominan dalam tatanan sosial, politik, budaya maupun ekonomi. Dalam praktek, doktrin ini membuat hampir semua urusan kewargaan ditentukan dan dilaksanakan dengan melibatkan institusi militer, khususnya Angkatan Darat.Polri sebagai bagian dari institusi militer pada saat itu meleksanakan wewenangnya sebagai institusi penegak hukum meleksanakan tugas dan fungsinya dengan gaya militer. Polri mengedepankan gaya komando dari pada keterampilan penyidikan, bahkan sering menggunakan cara-cara kekerasan dalam menangani suatu perkara.

Dengan gaya militer itu kelihatannya tugas-tugas kepolisian menjadi mudah dan cepat karena bisa mengabaikan prosedur Hukum Acara. Akan tetapi pada kenyataannya bukan demikian, yang terjadi adalah kewenangan kepolisian sering diambil alih atau diintervensi oleh tentara dengan alasan demi stabilitas keamanan. Keadaan ini sering membuat frustrasi di kalangan anggota Polri. Juga mewmbuat jengkel masyarakat yang menghendaki keadilan yang berdasarkan hukum.

Orde reformasi kemudian mengubah keadaan. Polri bukan bagian dari militer. Sehingga anggota Polri tidak lagi tunduk pada hukum militer serta cara kerjanyapun tidak lagi bergaya militer. Penampilan dan uniformnya juga didisain sehingga lebih familiar. Secara kelembagaan Polri menjadi tersendiri dan secara sruktural langsung berada di bawah presiden. Pamor kepolisian menjadi naik, dan kewenangan mereka kembali mereka raih. Mereka telah terlepas dari belenggu militer. Dengan lepasnya belenggu itu Polri menjadi warga sipil, memiliki wewenang dalam ranah sipil dimana mereka diberi kewenangan melakukuan paksaan secara terbatas guna keperluan penegakan hukum.

Namun dalam prakteknya cara-cara militer yang mengedepankan paksaan atau kekerasan ternyata masih bagian dari cara kerja polisi. Malah menjadi semakin menghawatirkan karena kuasa mereka untuk melakukan upaya paksa dibenarkan oleh hukum. Mereka memanggil seseorang secara serampangan asal ada laporan polisi tanpa terlebih dahulu mengkaji masalah yang dilaporkan; mereka mengancam menahan orang jika tidak mengakui sesuatu yang ingin didengar oleh pemeriksa/polisi sebagai fakta (cara inilah yang seringkali menjadi pangkal peradilan sesat).

Selain cara kerja yang masih kental cara militer, ternyata Polri juga belum siap untuk tunduk pada hukum sipil. Ketika institusi lain seperti KPK atau Kejaksaan menetapkan anggota Polri sebagai tersangka dalam perkara korupsi maka tersangka yang anggota Polri itu dikembalikan kepada kesatuannya (yakni institusi Polri) untuk diproses lebih lanjut.

Penindakan anggota polri dengan cara ‘dikembalikan ke kesatuan’ ini pernah terjadi saat ada anggota polri yang diperbantukan di KPK diduga menerima suap. Saat ini terjadi di Bandung terkait penyidikan dugaan korupsi dana Bansos Pemkot Bandung, seorang anggota polri yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Barat tidak dilanjutkan penyidikannya bersama tersangka yang lain, melainkan dikembalikan ke kesatuan.Sementara kesatuannya sendiri tidak memproses lebih lanjut status tersangka anggotanya tersebut, bahkan setelah perkara atas tersangka lainnya telah memasuki persidangan.

Jika perlakuan istimewa terhadap anggota polri tersangka korup terus dilakukan dengan cara ‘mengembalikan ke KESATUAN’ maka Polri secara diam kembali menyeret dirinya sebagai bagian dari militer. Jika polri ingin menjadi bagian dari penegak hukum dalam ranah sipil maka ia tak boleh membiarkan perlakuan istimewa terhadap anggotanya seakan-akan mereka tunduk pada hukum acara pidana militer dimana hanya melalui atasan yang berhak manghukum di kesatuan barulah seseorang boleh diproses secara hukum. Jika Polri ingin menegakkan hukum maka ia tak boleh melakukan diskriminasi hukum dengan cara mengistimewkan anggotanya.***

riee Says:

14 June 2013 at 8:28 am.

Klo menanam kebaikan, hasilnya jg pasti baik (insyaAllah)
tp klo dari awal masuk polri aja sudah gak wajar ya ibarat pedagang pasti maunya balik modal klo bisa untung
selain itu para perwira polri kayaknya perlu pembinaan rohani secara intensif. sebab mereka memimpin wajib dengan hati nurani.
masalah gaji gak cukup sebenarnya bukan alasan, karena secara sadar ketika menjadi polisi gaji mereka gak besar. klo maunya banyak uang yaa jadi pedagang aja.
para anggota polri jg wajib sadar sepenuh hati kalau mereka abdi masyarakat, dan pekerjaan mereka itu mulia. negara pun mengakuinya dengan memberikan tanda jasa.
saya harap terjadi revolusi (bkn hanya reformasi) d polri. para anggota (perwira khususnya) yang nakal di singkirkan, di proses hukum selayaknya. kemudian polri diisi anggota” yang punya satu kebanggan, yaitu” kami abdi masyarakat, kami bangga akan hal itu”. ” kami juga merasa malu bila berbuat yang tercela!!!”

charles Says:

18 June 2013 at 3:48 pm.

wah serba salah juga yah, apa mungkin aturannya kurang keras yak jadi mereka berani berbuat semena-mena

Leave a Reply

*

Mencari Jawaban

Artis tend to be dark, worried and superstitious creatures. This is not bad. It makes me perfectionist, it makes me care. Moreover the ability to see the darker side of life is an asset not just directing dramatic and tragic movies, but also for directing comedy, since comedy often has pain inside it. Do you believe that life and film tragically too close together ? I do ...
www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from Iman Brotoseno. Make your own badge here.


Categories

Archives

Hot Topics

Spice of Life


Why Blog ?

Why the BLOG will change the world ?The explosion of blogs throughout the world has been the biggest phenomenon since the rise of the Internet itself. Today, more people read blogs than newspapers. Blogs are just a tool, of course. It’s the bloggers behind the blogs that will make the difference. Here's Why

Blog lama saya masih dapat dilihat disini

( DISCLAIMER ) Photo dan Gambar Ilustrasi kadang diambil dari berbagai sumber di internet - GETTY IMAGES dan CORBIS selain photo teman dan milik saya sendiri. Kadang kala sulit untuk menemukan pemiliknya. Jika ada yang merasa keberatan bisa menghubungi untuk dicantumkan namanya.

Subscribe this blog

  Subscribe in a reader
Enter your email address:
  
Delivered by FeedBurner
December 2014
M T W T F S S
« Nov    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031