5 February 2008
Unconditional Love
Posted by iman under: CINTA DAN PERKAWINAN .
Sicilia, Italy – 1940. Malena harus mempercayai takdirnya saat Nico Scordia sang suami meninggalkan dirinya dan kota kelahirannya untuk berperang. Sebuah kisah menyentuh dalam film garapan Giussepe Tornatore , yang mengambil setting perang dunia II. Cerita ini mengalir begitu saja dalam sebuah bingkai bingkai kehidupan seorang gadis cantik yang menjalani hidupnya sepeninggalan sang suami. Pelecehan pria pria, imajinasi anak anak sekolah disekitarnya serta kemiskinan membuat ia harus menjalani perang sendiri yang lebih berat. Sampai harus menjual kehormatan dan menjadi salah satu gadis peliharaan tentara pendudukan Nazi.
Ketika Jerman kalah. Ia menjadi tertuduh bersama para kolaborator, diarak dan rambutnya digunting didepan umum. Perih dan terhina.
Malena harus meninggalkan kotanya, meninggalkan masa lalunya. Saat Nico Scordia kembali ke Sisilia, ia mendapatkan rumahnya telah diambil orang dan istrinya hilang tanpa bekas. Ia lalu pergi mencari dan akhirnya membawa Malena pulang kembali.
Sebuah kisah perang selalu mengabarkan sebuah potret kekejaman manusia, namun ada yang lebih menarik, bahwa Cinta mesti berkorban.
Malena tidak pernah menyalahkan keputusan suami untuk bergabung dengan tentara partisan. Nico Scordia, juga tidak pernah menyalahkan pilihan Malena menjadi prostitusi selama pendudukan Jerman.
Apakah ini yang disebut Unconditional Love – bahwa cinta tidak pernah menuntut, juga memberi. Cinta hanya untuk cinta. Terasa absurdkah itu ?
Selama ini kita membayangkan sebuah hubungan cinta adalah bentuk take and give . Seberapa besar yang bisa kamu beri seberapa besar yang aku dapat. Sebuah mutual benefit. Dalam bungkus apapun itu, kasih sayang, harta, perhatian maupun perlindungan. Malena hampir lima tahun tidak pernah bertemu Nico Scordia, ia juga tidak mendapatkan kasih sayang, berita, apalagi harta. Pada akhirnya ia menemukan sosok veteran perang yang tangannya buntung sebelah. Sebagaimana sang suami juga melihat seorang wanita yang rapuh dan frustasi. Ini bisa jauh berbeda dengan bayangan seorang kekasih haruslah sempurna dan menjadi sandaran curahan jiwa setiap saat. Malena dan Nico menjadikan cinta tanpa kondisi. Hanya mutual understanding yang tersisa.
Saya selalu melihat hubungan cinta dalam perspektif yang lain. Ketika keduabelah pihak sepakat mengatasnamakan keterikatan dalam bingkai cinta. Sampai seberapa jauh juga mereka bisa bertahan dalam penderitaan cinta. Bukan dalam kebahagian cinta.
Kahlil Gibran menuliskan prosa tentang Cinta dengan sangat mempesona.
“ Pabila Cinta memanggilmu, ikutlah dengannya,
meski jalan yang akan kalian tempuh terjal dan berliku.
Dan pabila sayap sayapnya merengkuhmu.
Pasrahlah serta menyerahlah,
meskipun pedang yang tersembunyi di balik sayap itu akan melukaimu. “
Pertanyaan itu terus saja berputar putar, tentang apa hakekat cinta. Mungkinkah cinta tanpa sebuah pertemuan. Mungkinkah cinta tanpa sebuah sentuhan. Mungkinkah cinta tanpa sebuah tawa. Hanya harapan tersisa yang membuat kita terus hidup dan percaya. Karena justru keraguan yang akan membunuh cinta itu.
Memang tak ada yang salah dengan cinta. Hanya kita yang salah karena terlalu menyederhanakan cinta atas nama perasaan. Cinta tidak melulu berbungkus sekuntum bunga mawar valentine. Pun tidak berupa vignyet makan malam yang romantis.
Kahlil Gibran dan Malena mungkin sepakat dalam sebuah hakekat arti cinta.
Sebagaimana ia memahkotaimu, cinta juga menyalibmu.
86 Comments so far...
antobilang Says:
5 February 2008 at 1:27 am.
Loh mas, judulnya mirip ama entrynya Bu Sastro…
Saya yang masih menganggap cinta itu adalah sebuah kebohongan dan kepura-puraan, kecuali cinta kepada Gusti Allah..
Iman Says:
5 February 2008 at 1:29 am.
Anto, Nahh kamu ketahuan, sering BWALK kesana…
saya nggak kesana, jadi nggak tahu kalau sama he he
leksa Says:
5 February 2008 at 2:04 am.
Yang mas iman ungkapkan itu saya pahami benar, saya amini.. dan menjadi mimpi saya .. dan mungkin semua pasangan yang dibuai asmara….
tetapi TETAP saya tidak bisa..
take and give itu selalu ada sepanjang umur saya ini…
fertob Says:
5 February 2008 at 2:32 am.
Saya malah menganggap bahwa take and give dalam cinta adalah sejatinya cinta itu sendiri. Cinta yang memberi (give) adalah ketika seseorang memberikan sesuatu yang paling berharga dalam dirinya yaitu kehidupannya. Dengan tindakan memberi itu dia menunjukkan kalau dia adalah makhluk yang berkelimpahan. Dan dalam tindakan memberi itu, seseorang seperti meniupkan secercah kehicupan pada diri orang lain, dan kemudian kehidupan itu memancar kembali padanya (take).
Tidak ada unsur materialitas, memberikan sesuatu, mutual benefit, atau mengorbankan disitu, karena cinta sendiri adalah hakikat manusia.
enade Says:
5 February 2008 at 6:43 am.
Kalau ada “give”, bukankah akan ada “take”? Dan sejatinya cinta adalah “memberi diri”. Sangat disayangkan ketika kalimat, “I love you” saat menyatakan cinta mempunyai makna lain yang tersembunyi, “Give your love to me.”
He.. ini dah lima februari ya? Pantas mulai banyak yang bicara cinta.
venus Says:
5 February 2008 at 7:12 am.
cinta pacar si rangga? lhoh, ini masih soal dian sastro ya, mas? :p
venus Says:
5 February 2008 at 7:13 am.
btw, film ini salah satu favorit saya. gak bosen2 nonton bellucci…
didut Says:
5 February 2008 at 7:41 am.
yg pasti yah tetep mie instan
komen blog dian sastro mode on
BTW mas, mie instan sudah menunggu di semarang loh
ika Says:
5 February 2008 at 7:53 am.
sebagaimana cinta memahkotaimu, dia juga menyalibmu…
mmmm ini petikan yang dahsyat mas.
ga mudah untuk memiliki unconditional love, karena kita lebih kerap memiliki prasyarat. butuh hening, butuh utuh, butuh detachment untuk sampai kesana. Detachment itu yang susah mas….
Goop Says:
5 February 2008 at 8:22 am.
Selalu memberi, namun di lain pihak juga menerima kekurangan…
Seperti matahari, yang juga tak lelah memberi…
namun mengikhlaskan sebagian tubuhnya terbakar menjadi nyala…
Apa yang dilakukan bumi??
ah metafora yang hanya berhenti…
menjadi pembelajaran, atau dipandang terpana??
aneh…
_________________________________________________________
posting yang bagus mas, makasih…
belluci, dan anak yang mengintip, sebuah scene yg jenaka
Brahmasta Says:
5 February 2008 at 8:22 am.
Dicintai karena sesuatu yang merupakan ‘atribut’, itu menyakitkan buat saya. Karena dia mengincar sesuatu yang menguntungkan dari kita. Bukan menerima kita apa adanya.
Mbah Sangkil Says:
5 February 2008 at 8:23 am.
saya juga suka film ini, tapi saya melihat dari sisi kemanusiaanya, betapa perang bisa membuat orang menjadi beringas dan saling membenci.
*masih menunggu hasil pengundian komen blog nya si mbak itu hehehehehehe*
mei Says:
5 February 2008 at 8:41 am.
aku yo sek bingung..saktemene cinta itu ada atau tidak ya..masalahnya kata kata cinta itu terasa murni, dan ternodai dengan adanya tuntutan, dan berbagi macam hal yang berada di dalamnya…
Nazieb Says:
5 February 2008 at 9:01 am.
Adegan perangnya banyak ndak Mas? Soalnya saya lebih suka nonton adegan pas di medan tempur daripada adegan romantisnya
rey Says:
5 February 2008 at 9:10 am.
Kita tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta, cinta lah yg memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta (halahh…), karena itu ada pepatah “love is blind”, yg artinya cintailah orang buta (lho??) hehe
Btw maap pak, kalo hari ini (Selasa, 5 Feb) ada waktu, sapa tau berminat hadir ke acara pemutaran film indie di Goethe Institut, Jl. Sam Ratulangi 9-15, jam 6 sore. Kebetulan aku ada bantu2 dikit di salah satu filmnya, judulnya “Garis Hitam”. Ada acara diskusinya juga, yaa sapa tau mau membantai, hehehe. Maap undangannya dadakan dan kayak gini, soalnya baru dapet kepastiannya semalem.
Ani Says:
5 February 2008 at 9:43 am.
Saya setuju, cinta lebih cenderung tanpa syarat, tanpa meminta, cinta ya cinta, walau terkadang menyakitkan ketika kita tidak mendapatkan apa-apa dari cinta (pun tidak dicintai), walau terkadang menyakitkan ketika kita begitu takluk pada cinta tanpa bisa berbuat apa-apa. Cinta begitu sulit didefinisikan, hanya bisa dirasakan dan kemudian kita lakukan semuanya demi rasa cinta.
* wah tambah mumet & mbulet*
aprikot Says:
5 February 2008 at 9:56 am.
setahu saya unconditional love itu cuman cinta bapak ke anak, ibu ke anak. lainnya selalu ada tuntutan dibelakang, cinta itu sebenrnya apa sih mas?? deskripsikan sampai sekarang aku blum menemukan deskripsi yang pas
wieda Says:
5 February 2008 at 10:10 am.
walah…mumet mas mikir cinta….hihihi….wong pada dasarnya cinta sendiri itu “egois” logikanya gini…..mas imam mencintai seseorang karena ingin melihatnya bahagia..maka mas imam berusaha membuatnya bahagia..(padahal itu pemuas diri mas imam sendiri yg ingin bahagia dengan melihat dia bahagia…) mumetttt…muyer ae
jadi sebenernya mas imam ingin membahagiakan dirinya sendiri….(egois to??)
Jiewa Says:
5 February 2008 at 10:56 am.
Always love Belucci ![]()
Konon ia mengasuransikan -maaf- payudaranya
funkshit Says:
5 February 2008 at 11:01 am.
sepertinya yang saya pikirkan sama seperti wieda diatas ini :D:D
yang muter2 ngga karuan kaya gitu
bahagia karena melihat yagn kita cintai bahagia , untuk membahagiakan diri kita yang akan bahagia jika melihat nya bahagia . .. .
Ray Says:
5 February 2008 at 11:32 am.
Cinta itu sebuah pengakuan dan ungkapan dari perasaan *aktualisasi diri*, dia tulus dan ikhlas, tak pernah menuntut semata hanya ingin membuat bahagia. kalo ada yg merasa sakit hati, kecewa dan benci karena cinta, sudah pasti dia tidak tulus dalam mencintai.
ah cinta.. sesuatu yg terkadang penuh warna, terkadang juga buram.
*gak ngarti dah*
yus Says:
5 February 2008 at 11:58 am.
Malena? saya juga mau bikin bilem, judulnya MARLENA. setting di madura abad pertengahan..bo abo tak kempes-kempes.
sluman slumun slamet Says:
5 February 2008 at 12:03 pm.
mas jatuh cinta ya? sama siapa? paman tyo kah?
Goenawan Lee Says:
5 February 2008 at 12:16 pm.
Nasib Malena di paragraf-paragraf awal mirip dengan yang saya saksikan di film Band of Brothers, saat para perempuan yang dituduh menjadi pemuas nafsu tentara Jerman dicukur habis rambutnya dan diusir dari desa dan kota bersama bayi hasil hubungan dengan tentara Jerman tersebut…
Ironis, ya…
Tapi ketika menyoal cinta, saya… tauk ah gelap ![]()
*berlindung di balik alesan belum berkepala dua*
Iman Says:
5 February 2008 at 12:47 pm.
venus,
jeng…ini bukan soal dian sastro, ini soal saya lho…hanya satu saya
Didut,
Iya lagi ngatur waktu he he
Jiewa,
itunya memang ampunnnnnn
muthe Says:
5 February 2008 at 1:32 pm.
cinta itu menyakitkan dan indah di saat yang bersamaan.pokoknya kalo udah jatuh cinta, siap2 aja membangun kekuatan untuk ngerasain pedih yang luar biasa…jangan harap cinta selalu indah, boi!
LieZMaya Says:
5 February 2008 at 2:20 pm.
nah lo kalo ngomongin cinta sampe muter2 muntah gak bakalan ada akhirnya
tapi kalo filmnya OK, ada tamatnya
*halah ngomong paan siy
la mendol Says:
5 February 2008 at 2:28 pm.
mbaca posting ini, kok aku kepengen nonton film ini lagi. *nyiapin tisu
The Sandalian Says:
5 February 2008 at 2:45 pm.
Unconditional love, sebuah rasa dimana manusia sudah lepas dari rasa kepemilikan dan lepas dari keinginan, seperti pencapaian sebuah nirvana kayaknya.
cK Says:
5 February 2008 at 2:49 pm.
saya suka postingan ini! keren mas.
kalau ngomong soal cinta, saya masih hijau banget nih haha…mungkin belum ngerasain hitam putihnya. tapi saya pribadi berpendapat cinta itu take and give. take and givenya itu nggak usah berupa materi, tapi bisa berupa cinta juga..
loving and being loved…
Rystiono Says:
5 February 2008 at 3:34 pm.
Cinta…lagi-lagi cinta…
Cinta itu menerima apa adanya. Yang baik maupun yang buruk. Tapi sayangnya, jaman sekarang, banyak muda-mudi yang nggak transparan *halah*, diliatin baiknya mulu. Giliran nikah, keliatan aslinya, nggak cocok, cerai… *capek deh*
@cK
Take & Give? Kayak kita ya cK? * digampar cK *
nico Says:
5 February 2008 at 4:22 pm.
“Cinta tidak melulu berbungkus sekuntum bunga mawar valentine.” Dan melulu semanis coklat kala itu.*jadi teringat masa sma mas:D*
nico Says:
5 February 2008 at 4:23 pm.
ulang-ulang ada yang ketinggalan,
“Cinta tidak melulu berbungkus sekuntum bunga mawar valentine.” Dan tidak melulu semanis coklat kala itu.*jadi teringat masa sma mas:D*
siska Says:
5 February 2008 at 6:12 pm.
wah, disini ngomongin cinta juga? hmm love is blind, eventually
Alex Budiyanto Says:
5 February 2008 at 6:47 pm.
Heran, disini juga posting bertemakan cinta.
Ya…ya…ya, cinta memang nggak akan pernah ada habis-nya untuk dibahas.
pencerita Says:
5 February 2008 at 7:24 pm.
kalau buat saya, cinta itu give and take (give nya yang di depan)… giving is unconditional without expecting anything in return. sounds stupid, but … diiklasin ajah hehehe …
dan saya berpikir quote dari Kahlil Gibran itu emang gitu adanya, cinta itu penuh terjal dan berliku, kepasrahan yang akan meringankan segalanya.
nirwan Says:
5 February 2008 at 9:41 pm.
jadi pengen nonton
tapi ini bukan penetrasi budaya (lagi) kan?
kalo pun, enjoy the movie ajalaa….
Pacarnya Zaskia Mecca Says:
6 February 2008 at 12:58 am.
susah, mas. susah buat saya mencapai tahap itu. mungkin gara2 darah muda yang masih suka meledak. saya memberi sesuatu, otomatis saya mengharapkan sebuah pertukaran. masih belum bisa bagi2 barang secara gratis dan ikhlas
buanaDara Says:
6 February 2008 at 7:22 am.
Setiap orang memang punya cara pandang yg berbeda, apalagi soal cinta. Demikian pula postingan di atas, itu pengertian Cinta menurut mas iman, menurut khalil gibran, juga menurut malena. Sedangkan menurut aku, yaa.. mampir aja atuh mas ke Buanadara.
Tukang Nggunem Says:
6 February 2008 at 1:38 pm.
“Irreversible”, kalo mau lihat Belluci seutuhnya…hehehehe….pertanyaan2 yang mungkinkah mungkinkah dari Pak Iman jawabnya cuma satu..mungkin. Karena cinta bisa memungkinkan segalanya…yak’e ding, aku cah cilik ngerti opo bab kuwi…..
andrias ekoyuono Says:
6 February 2008 at 6:50 pm.
menurut saya cinta itu adalah Cerminan Ikhtiar Nan Tiada Akhir, karena cinta itu adalah rangkaian usaha untuk berkorban, mengerti dan saling memahami yang hanya akan berakhir bila pasangan udah meninggalkan dunia ini
kw Says:
6 February 2008 at 8:55 pm.
adegan paling menyayat ketika ia di gunduli, di hajar dan di telanjangi sampai berdarah-darah tanpa sensor oleh para isteri seluruh kampung karena dianggap menganggu suami orang.
cinta? masih ada meski sedikit saja.
stey Says:
6 February 2008 at 9:34 pm.
asli..saya ga mudeng cinta, ga tau itu rasanya gimana..saya cuma tau kalo saya senang bersama dengan nya, menikmati setiap yang saya mampu nikmati, dari tawa bahagia dan damai sampai tangis perih dan lukanya, dari rindu yang menggebu sampai desahan dalam hening,saya mencandu setiap rasa itu..saya tidak paham saya sedang mencinta atau sedang menjadi gila..hehe..
Hedi Says:
6 February 2008 at 11:31 pm.
cinta? banyak, mas…di mana ada uang segepok 100 ribu plus tenda remang2 hahaha
tata Says:
7 February 2008 at 9:37 am.
Katanya nih mas kita baru mulai merasakan cinta ketika kita merasa akan kehilangannya ciehhhhh banget deh
aLe Says:
7 February 2008 at 1:35 pm.
Cinta?
cerita indah nan tiada ahir
atau
cerita indah namun tiada arti?
franya Says:
7 February 2008 at 10:26 pm.
love…? i always failed with this kind of life. no one love me as personaly.. just my background and …. i dont know why../ i felt is not fair for me.. i need love but i get bullsit only.. some one just fun but they get true love.. oh.. sedih banget deh
fauzan sigma Says:
8 February 2008 at 1:14 am.
sekarang substansi aja mas kita cari..
substansi dari cinta itu apa?
nah, klo persepsi masing2 individu sudah sma ttg cinta … ya udah sebut aja itu cinta..
huwaah…tau lah mas, ga jelas komen ini
Yaya Says:
8 February 2008 at 10:36 am.
Lagi baca buku love in the time of cholera niiih. Bener2 love deeeh. eh nonton film Indo “LoVe” deeeh..bagus bangeeet
tari Says:
8 February 2008 at 11:29 am.
“Love will find you if you try”, seperti yang dibilang “Katakan Cinta”
maruria Says:
8 February 2008 at 4:55 pm.
cinta yang penuh pengorbanan, ketulusan tanpa pengharapan mendapat balasan. huuhuuuu..mengharukan.
rd Limosin Says:
8 February 2008 at 8:30 pm.
duh, ak setuju bgt sama kata² Gibran yg di atas. Wuih, sampe dijadiin Dhani Dewa lagu
titiw Says:
8 February 2008 at 9:46 pm.
Akh cinta.. absurd mas, ada yg karena cinta malah merkosa, ada yg krn cinta malah bunuh2an, ada yg karena cinta jadi gila layaknya Layla & Majnun..
[H]Yudee Says:
8 February 2008 at 9:49 pm.
Cinta yaa ?
hhmmm …. yg jelas, kecintaan terhadap manusia itu terbatas oleh waktu, dan juga permainan perasaan yg menghiasi hati insan manusia ….
Kecintaan yg tulus dan abadi, menurutku hanya kepada sang Pencipta …
Agus Susanto Says:
9 February 2008 at 6:16 am.
Aku hanya ingin kenal dengan cewek rambut panjang yang pakai baju biru bersama cowok berkaos hitam. Kalau boleh kenal, tolong kirim email ke :
agus_susanto_r@plasa.com
atau SMS ke HP-ku di 081 9383 49877
Tx.
tiyokpras Says:
11 February 2008 at 2:36 am.
Saya sudah nonton filmnya. Hmmm… Jadi kangen sama pacar saya. Sehabis menonton film percintaan tragis, pikiran saya hampir selalu melayang ke dia, membayangkan bagaimana jadinya kalau dia ada di posisi itu. Ah, jadi makin sayang…
Hehehe, maaf kalo curhat di sini. Salam kenal!
franya Says:
14 February 2008 at 3:38 pm.
i wish one day some one really love me and take care of me……
anggangelina Says:
19 February 2008 at 9:06 am.
aq stuju banged sm kahlil gibran. dia pcinta yg hatinya, hidupnya, dan pikiran2nya penuh dg cinta. ga ada yg nggak mungkin oleh cinta. cinta bs saja membuat kita tersenyum walaupun sdang menangis. cinta bs mebuat kita terbang walaupun tanpa sayap. cinta bs membunuh tanpa perlu meninggalkan sidik jari. cinta itu punya 1001 tugas,, cinta emang rumit, dan luas….
kam bun Says:
1 March 2008 at 9:15 am.
cinta… menurut saya adl memberikan kbahagiaan kpd pasangan kita, walaupun itu menyakitkan kita… dan menerima pasangan kita apapunyg dia perbuat pada kita
Silly-yg sometimes-Stupid Says:
12 March 2008 at 6:14 pm.
Duhhh, dalem banget…
(ps:… ini komentar terpendek pertama saya, hahaha, tololnya masih tergoda untuk menceritakan prestasi saya… padahal PS ini justru menggagalkan kesuksesan saya comment pendek… *sigh*… I’ll try next time deh)
affandi Says:
17 March 2008 at 4:29 pm.
kenapa kl urusan cinta, komentarnya mesti banyak dan berderet-deret? nadanya sewarna. jatuh dari langit, bersih, suci, tak terkontaminasi. ning ming omongane tok.
Fitria Says:
31 March 2008 at 2:47 pm.
Cinta…itu putih, Cinta…itu suci, Cinta…itu tinggi, cuma SLANK aja tuh yang ngarrrti !
Cinta…hanya dari keduabelah pihak yang bersangkutan lah,yang dapat mengerti apa isi arti dari cinta tersebut.
jafis Says:
25 April 2008 at 3:45 pm.
Cinta = Tanggung Jawab
Bila memutuskan untuk mencintai maka harus bertanggung jawab
contoh : “Allah tidak pernah berhenti mencintai makhluknya, karena Allah punya tanggung jawab berlaku adil terhadap hambanya”
Febi Says:
19 May 2008 at 9:50 pm.
slm kenal..
My opinion is…there is no unconditional love in this real life……
Ermay Says:
16 December 2008 at 1:54 pm.
Cinta… kata yang susah di mengerti.
Muncul begitu saja.. tiba-tiba menghilang tak tau rimbanya…
Tinggalkan luka yang berbekas dan menyelinap dalam dada.
ahh…untuk apa terluka karena Cinta…
tapi tak jarang kita terluka karenanya.
adhitya Says:
1 February 2009 at 3:42 pm.
Mempertanyakan kenapa tidak akan menuntun kita pada jawabannya. Merasakannya, terlibat didalamnya, kemudian merenungkannya justru akan membawa kita kepada makna hakiki dibaliknya.
thanks atas tulisannya, menginspirasiku membuat tulisan baru di blogku
meong Says:
6 February 2009 at 10:55 pm.
cinta itu penderitaan unik yang menyenangkan.
bahkan sakitnya pun mendewasakan.
tidak pernah menyesal dg jatuh bangunnya bercinta.
karena saya percaya cinta sejati itu ada.
dan beruntungnya saya, ada di dalamnya.
terus untuk belajar dan bercinta.
aksesoris wanita Says:
5 July 2009 at 9:13 am.
I found your blog on google and read a few of your other posts. I just added you to my Google News Reader. Keep up the good work. Look forward to reading more from you in the future.
Artis tend to be dark, worried and superstitious creatures. This is not bad. It makes me perfectionist, it makes me care. Moreover the ability to see the darker side of life is an asset not just directing dramatic and tragic movies, but also for directing comedy, since comedy often has pain inside it. Do you believe that life and film tragically too close together ? I do ...



