Cerita tentang St Petersburg

The climax of the evening came in true Sukarno style. A flock of pretty Indonesian girls he had brought with him to Moscow in his chartered U.S. jet rushed up and kissed the top Soviet leaders.

Sukarno then demanded to be kissed in return by a Russian girl. Resourcefully, Nina Khrushchev walked into the crowd of lower-ranking guests and spied a pretty girl. “Are you Russian?” she asked. “Yes.” said the girl. “Then come and kiss President Sukarno,” commanded Nina. The girl said no, she did not want to. Her husband said he did not want her to. But Nina was not to be denied. “Oh, please come,” she said. “You only have to kiss him once, not twice.”
Reluctantly, the girl came forward and got soundly kissed. Khrushchev thanked her for “upholding Russian honor,” and with that he left the party, an hour behind schedule and apparently without a care in the world.

Kutipan penggalan cerita diatas dimuat dalam majalah Time tanggal 16 Juni 1961. Disatu sisi memperlihatkan gadis Russia yang pemalu walau Bung Karno sebelumnya sering membuat humor tentang karakteristik perempuan dilihat dari asal usul benuanya. Perempuan Russia digambarkan wanita tua, berpengalaman namun tidak ada lagi lelaki yang menolehnya.

Kini paradigma itu berubah. Perempuan Russia tidak lagi identik dengan pemalu atau wajah tua, kaku dan berpakaian mantel seragam, seperti yang kita bayangkan jaman perang dingin. Lihatlah di sepanjang Nevsky Prospekt di St Petersburg. Jalanan utama yang menjadi tempat lalu lalang manusia, sudah seperti panggung fashion show. Perempuan perempuan Rusia yang modis, cantik berjalan hilir mudik dengan menggenggam Iphone, Tab, atau merokok Marlboro. Produk barat yang dulu menjadi barang haram bagi masyarakat komunal komunis, kini menjadi bagian dari budaya mereka.

Perjalanan ke St Petersburg – dulu disebut Leningrad – bukan tidak sengaja. Saya merencanakan jauh hari karena kebetulan akan menghadiri undangan Internet Forum di Stockholm Swedia. Jarak tempuh dari Stockholm yang hanya satu setengah jam penerbangan, membuat saya tak ragu mengambil visa di kedutaan besar Russia di Jakarta. Kenapa tidak ?

Security approach jaman Soviet masih terasa, dalam proses pengambilan visa. Salah satu persyaratan, adalah saya diharuskan melampirkan surat konfirmasi dari hotel tempat saya menginap kelak, yang ditulis dalam bahasa Russia. Surat yang ditujukan ke Kedutaan besar di Jakarta berisi keterangan bahwa saya akan tinggal di hotel tersebut, untuk sekian hari dan telah membayar semua biaya.

Bagaimanapun Russia masih tak bisa menghilangkan kesan kecurigaannya terhadap orang asing. Larangan memotret dipasang diseantero airport Pulkovo. Seorang petugas bermantel panjang, menyilangkan tangannya sambil menunjuk ke saya yang secara otomatis memotret suasana airport.

Cuaca saat itu masih dingin menusuk tulang. Temperatur masih berkisar 1 – 4 derajat celcius. Bahkan 100 km di utara St Petersburg masih turun salju, dan diselenggarakan perlombaan ski disana. Transportasi dari airport menuju pusat kota yang hanya 15 kilometer sebenarnya sangat membingungkan bagi orang yang pertama kali ke sini. Agak mengherankan, mengingat kereta bawah tanah merupakan transportasi yang biasa bagi warga kota, tapi tidak ada jalur sampai airport.

Anna, – seorang pemain biola di sebuah konservatorium disana, bercerita bahwa rezim Soviet dulu sengaja membuat airport agak terisolasi, tidak memudahkan orang orang mencapainya. Bagian dari sistem keamaanan mereka.
Kalau mau repot, untuk menuju pusat kota. Pengunjung harus naik bus dahulu sampai sebuah zona perhentian sebelum melanjutkan dengan kereta. Problem utamanya adalah rambu rambu dan penunjuk jalan semua ditulis dengan huruf Russia. Sementara warganya agak susah berbahasa Inggris.

Satu satunya cara yang mudah adalah dengan menggunakan taxi. Hampir mirip di Indonesia, calo atau supir taxi gelap berkeliaran menawarkan mobilnya. Kita harus berhati hati dalam memilih taxi. Hargapun bervariasi antara 600 rubel sampai 1000 rubel ( 1 rubel sekitar 300 rupiah ).

Banyak kejadian penumpang asing yang dirampok ditengah jalan. Pilihan lain , bisa memesan taxi di counter resmi setibanya di airport. Hanya saja, biasanya counter ini sudah kosong, ketika jam makin malam. Saya disarankan oleh Svetana, seorang travel agen yang tinggaldi St Petersburg, agar memesan taxi saja melalui internet. Lebih mahal, sekitar 1200 rubel. Ya sudah.
Jadilah saya dijemput dengan supir yang membawa nama saya dalam board. Mudah dan saya tak mau repot repot untuk urusan ini.

Penerbangan menuju St Petersburg cukup mudah. Dari Jakarta umumnya dengan connecting flight di Frankfurt , Stockholm atau Amsterdam. Sebuah maskapai penerbangan dari Arab malah memiliki direct flight dari Jakarta via Bangkok. Salah satu cara menekan biaya adalah dengan mengambil paket hemat budget airlines, melalui Internet. Saya mengambil paket hemat naik SAS ( Scandinavian ) Stockholm – St Petersburg – Stockholm,. Harganya termasuk akomodasi hotel.

St Petersburg memang memiliki sejarah panjang tentang Russia. Kaisar ( Tsar ) Peter the Great ingin membangun ibu kota baru di yang lebih dekat dengan Eropa Barat waktu itu. Maka ia mengundang arsitek dari Italy untuk merancamg kotanya. Sehingga kalau kita lihat sampai sekarang, arsitektur kota ini lebih mirip Austria, Paris bahkan Venesia dengan kanal kanalnya. Berbeda dengan di Moscow, dengan kubah bulat bulat gaya Konstantinopel.

Kota yang berpenduduk 5 juta orang, adalah kota multi etnis. Bisa dikatakan sebuah cermin Soviet masa lalu. Selain etnis Russia, juga berbaur etnis Belarusia, negara negara Baltik ( Latvia, Estonia dan Lithuania ) atau etnis pecahan Soviet di selatan seperti Azerbaijan, Tajikistan, Usbekistan, Kirgistan. Turkmenistan, Kazakhtan dan Armenia. Umumnya etnis asal selatan ini bekerja di level pekerjaan rendah seperti pedagang di pasar, kondektur bus, pelayan dsb.

Harga barang barang atau makanan di St Petersburg tidak terlalu mahal seperti di London atau Stockholm, walau tidak bisa dikatakan murah juga. Namun kita masih bisa menemukan barang barang bagus di pinggiran jalan dengan harga murah. Bahkan kita bisa menawarnya.

Ketika Komunis mengambil alih negeri. St Petersburg diganti namanya menjadi Leningrad. Dikota ini pula revolusi merah 1917 dimulai. Kelak Tsar Nicholas beserta istri dan anak anaknya yang masih kecil ditahan di sebuah kota pedalaman Russia, sebelum akhirnya ditembak.
Cerita tentang bagaimana mereka dieksekusi tentara merah bikin merinding. Seluruh keluarga dikumpulkan, diberi tahu bahwa akan diphoto. Setelah semuanya berpose, tiba tiba masuk tentara yang langsung memberondongkan peluru panas.

Leningrad beberapa kali dikepung oleh invasi asing. Napoleon sampai Nazi Jerman. Semuanya gagal, karena iklim Russia sekitarnya bisa sangat tidak bersahabat ketika musim dingin tiba. Hitler sudah wanti wanti ke Panglima udaranya, untuk tidak menjatuhkan bom ke Hotel Astoria. Ini karena ia sesumbar akan minum champagne kemenangan di hotel ini.
Namun setelah 300 hari pengepungan. Pasukan Nazi Jerman tidak pernah bisa memasuki Leningrad.

Hampir dalam kunjungan ke kota kota lain di dunia, saya selalu menyempatkan melihat museum. Barangkali ini kota yang terbaik didunia dalam hal wisata museum. Mereka memiliki kurang lebih 300 museum. Mulai dari museum arileri, angkatan laut, kapal selam, luar angkasa, lukisan, sampai museum imperium Kekaisaran Russia.
Bandingkan dengan Jakarta yang sebenarnya memiliki potensi. Bangunan yang hampir roboh di kota tua, sebenarnya bisa direnovasi dan dijadikan kawasan museum.
Museum museum umumnya memakai bangunan bangunan warisan masa silam. Gereja gereja sebagian ruangannya dijadikan museum, dan sebagian masih dipakai untuk misa. Seperti St Isaac Chatedral atau The SS Paul & Peter Chatedral. Demikian pula Istana istana bekas dinasti Tsar seperti Istana Musim Dingin – The Hermitage – yang legendaris atau Istana musim panas Peter Hoff – tempat dilaksanakan KTT negara negara G 8 – yang terletak sekitar 50 km luar kota.

Memasuki Istana Hermitage yang luas sekali, kita bisa melihat kejayaan Kekaisaran Russia jaman dulu. Koleksi lukisan lukisan, kristal sampai ruangan atau pavilion yang didisain dengan cita rasa yang tinggi oleh arsitek arsitek berbeda dari Italy, Perancis, Inggris, Russia sampai Belanda. Misalnya untuk lapangan Istana dan ruang tangga yang diarsiteki Fransesco Bartolomeo Rastrelli, ruang singgasana raja dirancang oleh Auguste de Montferrand, ruang Leonardo Da Vinci yang dirancang Andrei Stakenschneider dan banyak arsitek lainnya.

Saya juga mengunjungi Chatedral of Resurrection ( Our Saviour on the spilt blood ) yang dirancang oleh Alfred Parland. Katedral ini menonjol dengan kubah kubah yang indah dengan dekorasi aneka warna gaya Russia tradisional. Arsitek ini justru kontras dengan arsitektur gaya klasik dari gedung gedung di sekelilingnya. Salah satu towernya setinggi 81 meter. Katedral ini dibangun dari tahun 1883 sampai 1907 untuk memperingati Kaisar Alexander II yang meninggal di lokasi itu, karena bom yang diledakan oleh Ignaty Grinevitsky.

Yang menarik adalah masjid Biru di St. Petersburg. Mesjid ini dibangun tahun 1913, namun karena berkuasanya komunis, masjid ini dijadikan gudang senjata. Hingga suatu saat Presiden Soekarno melihatnya dalam kunjungan ke kota ini. Dengan kepiawaiannya berdiplomasi, Bung Karno meminta penguasa Soviet agar masjid ini dibuka kembali untuk beribadah.
Menakjubkan. Permintaan ini dikabulkan. Sebuah negeri komunis akhirnya tunduk pada permintaan seorang pemimpin dari negara muslim, untuk membuka masjid itu kembali.

” Semua umat Islam di St. Petersburg selalu mengenang jasanya dan sangat berterima kasih kepada almarhum Soekarno.,” ujar Cafer Nasibullahoglu yang sudah puluhan tahun menjadi muft di masjid ini. “ Tanpa Soekarno mungkin masjid indah ini sudah hancur seperti masjid lainnya. Semoga Allah SWT memberikan surga tertinggi baginya,” doa sang Imam sambil mengangkat kedua tangannya.

Gubernur Bang Ali pernah mengatakan, sebuah kota dikatakan berbudaya dengan melihat jumlah museum yang dimiliki. St Petersburg memang kota yang berbudaya. Bangga dengan sejarah masa silamnya. Tidak seperti di Jakarta dimana setiap weekend orang orangtua membawa anak anaknya ke Mall. Disana mereka justru membawa anak anaknya ke museum atau toko buku.
Saya hampir tidak pernah melihat anak anak kluyuran di mall atau pusat perbelanjaan mereka yang kalah besar dengan mall mall di Jakarta.

Disain tata kota mereka, sebagaimana kota kota lain di Eropa, memang tidak meletakan sebuah gedung Mall besar untuk pusat perbelanjaan seperti yang di Jakarta. Toko toko dan kantor menyebar diantara jalan jalan utama diantara gedung gedung mereka. Kalaupun ada pusat perbelanjaan,itu tidak besar yang tidak menyediakan tempat parkir.
Budaya mereka, memang suka berjalan kaki. Jarak antara bangunan dan jalan raya utama dibuat lebar, sehingga nyaman trotoarnya untuk para pejalan kaki. Mereka memiliki sistem transportasi publik yang baik.

Transportasi di dalam kota St Petersburg cukup mudah. Jalur kereta subway dan bus kota menghubungkan tiap titik. Bagi yang sudah biasa naik MRT di Singapore, tidak akan menemukan kesulitan, karena metodenya hampir sama. Jelas dengan warna warni jalur kereta di tiap stasiun.
Uniknya terminal rel keretanya, terletak sangat dalam Melalui escalator turun hampir 100 – 200 meter di bawah tanah. Rupanya lokasi lokasi ini dulu dirancang sebagai bunker perlindungan bawah tanah, untuk mengantisipasi perang nuklir. Karena perang dingin sudah berakhir, maka dijadikan sebagai terminal antar stasiun.

Biayanya cukup murah. Untuk kereta sekitar 25 rubel, sementara untuk bus kota bervariasi. Ada yang 21 rubel ada pula yang 35 rubel. Tergantung jenis busnya. Jangan salah. Selain bus yang modern, mereka masih mengoperasikan bus bus bobrok mirip metromini peninggalan jaman Soviet. Hanya saja, penumpangnya tetap modis dan ‘ unyu unyu ‘ . Membuat saya makin betah dalam metromini mereka.

Urusan perempuan Russia memang bikin penasaran mereka yang datang. Sudah rahasia umum, perempuan Russia terkenal cantik dan berani. Mereka bisa berkelana ke manca negara hanya untuk bisnis esek esek. Mungkin karena ingin hidup lebih baik dan memang berjiwa konsumtif.

“ Cewe matrelah Pak..” Demikian penuturan Henry Lolongan, seorang mahasiswa Indonesia yang sedang mengambil program doktor disana.
Saya hanya tersenyum mendengar cerita para mahasiswa Indonesia disana yang disuruh mencarikan perempuan bagi rombongan DPR yang berkunjung kesana.

Klub klub malam memang tersebar dipenjuru kota. Bahkan dengan mudah melalui internet bagi yang membutuhkan ‘ teman tidur ‘. Namun kita tidak pernah menemukan lapak lapak yang menjual fim film bokep di pinggiran jalan seperti di Jakarta. Bebas dan vulgar.
Sebagai negeri peminum vodka, anak dibawah umur dilarang membeli minuman ini di toko toko.

Sisi lainnya adalah mengenai mafia Russia. Walau saya tak pernah melihatnya. Namun praktek praktek mafia seperti belahan dunia lainnya kerap terjadi. Pungutan uang keamanan bagi pemilik toko, restoran, klub klub malam. Banyak diantaranya mantan agen agen KGB jaman Soviet. Sudah rahasia umum, jika mereka bekerja sama dengan polisi lokal. Tapi mereka tidak pernah mengganggu turis.

Ketika saya meninggalkan St Petersburg. Matahari mulai berani sesekali menampakkan diri. Walau hanya sejam dua jam. Membelai wajah saya dengan hangat dan mesra. Memotret disini merupakan surga karena bisa sepanjang hari, karena posisi matahari yang miring. Tidak seperti memotret di negeri Katulistiwa. Karena posisi matahari tepat di atas kita, maka memotret yang ideal di Indonesia, antara jam 6 – 8 pagi atau jam 4 – 6 sore.
Walau udara masih dingin tapi orang orang sudah mempersiapkan konstruksi bar bar atau café pinggir jalan yang menghadap kanal di benteng St Peter. Beberapa memeriksa kapal kapal yang akan membawa turis membelah kanal.

Tentu saja sebentar lagi White Night. Peristiwa tahunan yang selalu ditunggu tunggu. Karena musim panas yang singkat, sinar matahari merupakan anugrah. Anna bercerita tentang fenomena ini. Bola matanya yang coklat meloncat loncat riang membayangkan matahari yang terus bersinar sepanjang hari ,sehingga tidak ada pernah malam. Biasanya ini terjadi pada akhir bulan Juni.

Sayang sekali saya tidak bisa menunggu White Night. Menyesal tidak bisa berlama lama. Menolak ajakan Anna untuk lebih lama lagi menonton drama teater, pagelaran orchestra, juga menjelajahi negerinya lebih jauh ke selatan, sambil bercerita tentang padang rumput suku Kosak.
Bung Karno pasti menyesal telah menjuluki wanita Russia tua dan tak menarik. Sebagaimana saya menyesali waktu yang terbatas di St. Petersburg. Anna mungkin tahu, saya tak sungguh sungguh mengucapkan janji akan ke sini lagi. Tapi siapa tahu ? Yang saya ingat malam ini terlalu dingin dan nafas lembut yang meminta untuk lebih lama tinggal.

You Might Also Like

13 Comments

  • taqdir
    April 28, 2012 at 10:26 am

    Wow, menarik sekali ceritanya Mas, dan semoga jasa Bung Karno menjadi ama jariyahnya..amin..tengkyu

  • venus
    April 28, 2012 at 5:29 pm

    Whoaaaa foto2 dan ceritanya bikin ngiler. Eh btw, jadi namanya Ana? Perempuan rusia yg gak percaya janji itu namanya Ana? *dibekep* :))

  • angki
    April 29, 2012 at 9:40 am

    hmm jenis cewek Rusia cuman keknya cuman ada dua ya mas Iman?
    cantik dan cuantik banggetttt 😀

  • Ceritaeka
    April 29, 2012 at 12:05 pm

    Aku ngikutin twit-twitmu soal cewek Russia ini mas 😀 Serrru..
    Weh harga tiket udah sekalian akomodasi? Hmmm

    Last, apakah dirimu jadinya diambung wedok russia koyo pak Presiden mbiyen, Mas? 😉
    Hihihi

  • DV
    April 30, 2012 at 11:45 am

    Anjoorrr.. terakhirnya itu bermakna sekali, Bung!
    Cewek russia di sini juga yahud2 dan suaminya juga yahud2 (mobilnya) :))

  • trian
    April 30, 2012 at 4:10 pm

    mantap…

    sekalian nyambung Trans Siberia, Mas..

  • ivan
    April 30, 2012 at 9:16 pm

    Anna…. sama ”gadis sastra”, mana lebih menarik ?……..

  • andrias ekoyuono
    May 1, 2012 at 1:20 pm

    Endingnya…..aw aw

  • annosmile
    May 2, 2012 at 8:47 am

    kawasan yang indah..
    tapi kebebasan para penghobi foto sedikit dibatasi ya..hihi
    tetep sosok Bung Karno belum tergantikan 😀

  • arifr
    May 2, 2012 at 6:09 pm

    Semoga doa sang imam masjid dikabulkan Allah…

  • edratna
    May 16, 2012 at 5:28 pm

    Cerita mas Iman selalu menarik dan bikin ngiler, dan serasa ikut menikmati perjalanan di St Petersburg

  • Priyo
    November 20, 2015 at 7:30 am

    Pengalaman yang sangat menyenangkan pastinya dan sosok Presiden RI Pertama kita yang memiliki andil di bukanya Masjid Biru di St. Petersburg.

  • ibas
    October 10, 2023 at 11:09 am

    good article, thank you

Leave a Reply

*