FILM & ISLAM

Hari ini saya malas berbicara tentang film atau bahkan underwater fotography yang menjadi passion saya. Mungkin saja nuansa bulan Ramadhan membuat saya secara tiba tiba ingin membahas mengenai Islam. Ya, agama yang saya junjung tinggi tetapi juga menyisakan banyak pertanyaan mengenai hakekat Islam itu sendiri, terutama dalam segi peradaban manusia modern.
Dalam buku ‘ Pergolakan Pemikiran Islam ‘ – Catatan Harian Ahmad Wahib’, seorang pemikir Islam yang mati muda karena kecelakaan pada tahun 1973. Ia menulis,
“ Apakah nilai nilai budaya modern itu mendapat support dari ajaran Islam ? atau bahkan merupakan nilai nilai Islam itu sendiri ? tetapi apakah budaya yang dianggap modern itu sudah siap ? Kemanakah kira kira kemungkinan perubahannya ? Pemahamanku sampai kini tentang pada ajaran Islam menunjukan bahwa budaya budaya modern tidak senafas dengan Islam. Karena Islam itu tidak mensupport apalagi dikatakan merupakan nilai nilai Islam itu sendiri. Kelihatannya dalam ajaran Islam ada unsure penyerahan, unsure puas terhadap Kurnia Allah, unsure nrimo, qisnaah, waro yang karena itu tidak sesuai dengan nilai nilai budaya modern. Tapi mudah mudahan kesimpulan saya salah, karena saya belum terjun pada fondamen yang lebih mendasar dari ajaran ajaran Islam…”
Memang pada masanya, Ahmad Wahib bersama pemikir islam modern lainnya seperti Nurcholis Madjid dianggap kelewatan cara berpikirnya, bahkan ada yang mengganggapnya murtad dan bidah. Beruntung FPI belum lahir pada zaman itu sehingga kantor penerbit LPES tidak diobrak abrik oleh massanya yang beringas.
Walaupun demikian catatan harian yang ditulis hampir 36 tahun yang lalu, masih saja relevan untuk di bicarakan sampai hari ini. Apalagi hiruk pikuk pro kontra RUU Pornografi / Pornoaksi belum saja usai. Mungkin saja Ahmad Wahib tak akan pernah menduga bahwa, musik Islam yang dahulu identik dengan irama gambus padang pasir, sekarang bisa saja metamorfosa dalam bentuk aliran rock ala grup musik GIGI atau pop kreatif dengan orchestra seperti OPICK.

Saya selalu bertanya tanya bagaimana Islam bisa menerima budaya pop art, fashion, trend serta pergaulan modern ( bukan pergaulan bebas ) orang orang film. Wah ternyata mau tidak mau saya harus balik ke film lagi !. Saya juga berpikir apakah saya nanti benar benar bisa dituntut ke pengadilan, karena membuat iklan minuman energi Kuku Bima, dengan Miss Energy yang memakai kostum ketat dan sexy. Atau bagaimana saya merefleksikan sebuah kehidupan anak muda saat ini dalam film layar lebar saya ( someday ), tanpa harus memperlihatkan tank top, celana jeans yang robek di pantat, atau gaun backless. Disini saya tidak bicara berciuman apalagi adegan sex. Mungkin hanya pegangan tangan yang lazim dilakukan anak muda jaman sekarang.

Jika mengutip salah satu tulisan Gunawan Mohammad, …” Ada lagi ketentuan: “Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa”.
Jika ini diterima, saya pastikan kesenian Indonesia akan macet. Para pelukis akan waswas, sastra Indonesia akan kehilangan puisi macam Chairil, Rendra, dan Sutardji serta novel macam Belenggu atau Saman. Koreografi Gusmiati Suid atau Maruti akan terbungkam, dan film kita, yang pernah melahirkan karya Teguh Karya, Arifin C. Noer, Garin Nugroho, sampai dengan Riri Riza dan Rudi Sujarwo akan menciut ketakutan. Juga dunia periklanan, dunia busana, dan media.
Walhasil, silakan memilih: Indonesia yang kita kenal, republik dengan keragaman tak terduga-duga, atau sebuah negeri baru, hasil “RUU Porno”, yang mirip gurun pasir: kering dan monoton, kering dari kreativitas. “

Akhirnya semua pertanyaan yang menggelisahkan saya, tak akan begitu saja mendapat jawaban. Jika selama ini dikatakan sumber Islam adalah Qur’an, Sunnah dan Akal ( ijtihad ), mungkinkah akal manusia bisa mendeskripsikan budaya modern sehingga bisa beriringan dengan prinsip prinsip Islam ? Tentu saja pensiun dari dunia film bukan merupakan jawaban yang memuaskan. Tentu saja tidak.

You Might Also Like

14 Comments

  • totot
    October 1, 2006 at 12:13 pm

    Tenang aja, nanti di penjara bakal rame banget dan pasti ketemu banyak temen kita kok. Mungkin lebih susah nyari temen yang nggak masuk penjara… 😛

    Hiks, jadi pengen ngeblog lagi…

  • papahnya syifa
    October 2, 2006 at 1:36 pm

    Mas, kenapa di Iran yang nota bene Islamnya lebih keras & ketat (dominan kaum Syiah) justru film- filmnya maju pesat? FPI bisa jadi kalah keras sama kaum Syiah. Jadi Islam bukanlah pengekakng kebebasan berekspresi tapi justru institusi yang mengatasnamakn Islam. Jadi ingat semboyan Cak Nur di tahun 70-an : Islam Yes, Partai Islam NO.

  • Iman Brotoseno
    October 2, 2006 at 2:32 pm

    only time will tell…indonesia mau jadi apa ya

  • Iman Brotoseno
    October 2, 2006 at 2:33 pm

    only time will tell…indonesia mau jadi apa ya

  • Anonymous
    October 9, 2006 at 12:03 pm

    tapi selain pasrah dan qanaah, dalam islam ada juga nilai: ‘mau melakukan perubahan’ kan mas? dan termasuk di dalamnya, bikin film setting pesantren dengan “islam” yang meng-indonesia.
    makasih sudah mampir ke matapena, kita add link ya…

  • Edwards
    January 31, 2007 at 3:12 pm

    Komen soal film Iran: yang saya tau film di Iran menyesuaikan diri dengan aturan di negaranya, jadi disana ga ada film “bebas ekspresi” semacam Virgin dkk. Toh filmnya tetap sangat bagus dan penuh makna.

    Tolong diralat kalo saya salah 🙂

  • Anton William
    February 1, 2007 at 4:25 pm

    Mungkin yang membuat kita bingung di tengah kerumunan peradaban modern ini adalah pola berpikir kita. Kalau mengambil contoh Iran; justru mereka mengambil tema-tema lokal yang adaptif dengan selera “peradaban”.
    Semoga kita juga bisa!

  • elly.s
    February 17, 2007 at 11:13 am

    tentang film Iran memang”best punya”. Children of Heaven” misalnya….wah bener2 hebat.

    tentang islam, rasulullah aja bersabda. Nikmatilah duniamu seolah2 kau akan hidup selamanya kan?…tapi jangan lupa bahwa malikat maut seliweran mencari mangsa..Jadi kuncinya apa? Kesetimbangan jiwa kali ya…

  • DEWI'S GELIAT PENA
    August 15, 2007 at 4:28 pm

    Islam is rahmatan lil alamien….jadi Islam bukan hanya untuk orang-orang islam tapi untuk seluruh umat manusia. Kemajemukan Islam harusnya bisa lebih ditangkap dengan kamera tidak saja kamera digital tapi juga kamera hati. Islam adalah agama dan bukan budaya…kalau kita mengerti hakikat islam dan pemahaman Al-Qur’an, tentu akan lebih Indah dan Mudah menelaah Hidup. Lain lagi kalau ingin masuk surga harus pake test dulu. It is difficult to reach the heaven with hard competition, Islam yes but not garantued to enter the heaven….khan!!.

  • kang zaki
    April 3, 2008 at 10:30 am

    Ada tiga motivasi orang dalam berkesenian (film). Ada orang yang memproduksi seni sebagai aktualisasi murni seni, ada orang yang memproduksi seni karena kepentingan pasar (pemodal), ada orang yang berkesenian karena untuk mewujudkan kehidupan yang humanis, meningalkan pesan-pesan moral. Untuk menyampaikan pesan di film yang menceritakan pergaulan bebas tidak serta merta dengan mengumbar aurat dan mempertontonkan adegan senggama. Masih banyak ide-ide kretaif yang lebih segar dan original. Islam ajaran penuh kebebasan. Yang membuat terkungkung hanyalah sudut pandang kita yang masih sempit dalam meneropong sisi-sisi kehidupan.

  • thalib
    July 3, 2008 at 2:42 pm

    saya sangat setuju pendapat kang zaki, seni adalah bahagian kehidupan jadi enakkan klu bahagian kehidupan kita di isi dengan seni yang baik (tidak melanggar menyalahi hukum agama islam)

  • ariek singgih
    March 11, 2009 at 10:08 pm

    bahagia itu hanya akhirat yang kekal . kalau dunia masih relatif bahkan menipu. ikuti aja kebenaran walau pahit. insyaallloh bahagia di akhirat..dunia tempatnya kerja keras dan kesengsaraan

  • iklan gratis
    August 15, 2010 at 4:19 am

    Terima kasih atas sharing nya

  • Konveksi Tas
    January 21, 2020 at 2:40 pm

    terimakasih atas info yang sangat bermanfaat ini. Jadi melek akan dunia luar.

Leave a Reply

*