Peran Tionghoa dalam keprajuritan dan pertempuran di Indonesia

Prabowo mengingat jaman di Timor Timur, ada 2 sukarelawan Tionghoa yang ikut bertempur bersamanya tahun 1978. Domingus asal Ossue dan Roberto Lin Lin Kai dari Vikeke. Mereka ikut bertempur tanpa jabatan, tanpa ikatan dinas demi merah putih.

Mantan KSAL Bernard Sondakh punya kisah menarik tentang seorang perwira etnik Tionghoa yang berdinas di KRI. Masa itu persoalan rasial masih sangat terasa. Perwira ini sering diejek dengan panggilan ‘ Cino ‘ dan disepelekan oleh teman temannya. Suatu hari ada kebakaran di kamar mesin, dan semua berlarian mencari selamat. Justru si ‘ cino ‘ ini yang seorang diri masuk ke kamar mesin, berjuang memadamkan api. Setelah api padam, dengan baju kotor ia berkata di depan Komandan dan teman teman perwiranya, “ ternyata hanya perwira Cino yang tidak takut mati “. Sayangnya karena kekecewaan yang berat, kelak ia meminta berhenti dari TNI AL.

Persis cerita di atas, Ben Sondakh melanjutkan, kisah seorang perwira Marinir etnik Tionghoa yang paling berani dalam pertempuran di Timor Timur. Dia yang selalu diejek, ternyata menunjukan keberanian yang luar biasa. Sayang akhirnya gugur dalam pertempuran jarak dekat.

Mantan gubernur Sumatera Selatan, Asnawi Mangkualam pernah menuturkan pengalamannya dalam ‘ Perang kota 120 jam ‘ di Palembang 1 Januari 1947. Saat itu ia masih Letnan bersama Kapten Makmun Murod dan Kapten Ryacudu memimpin laskar rakyat menghadapi Belanda yang menyerbu Palembang. Ia mengenang ada satu anggotanya keturunan Tionghoa yang bernama Sing yang berbaur bersama rakyat lainnya, bertempur untuk negerinya. “ Pak As, saya kena “ Segera Letnan Asnawi menyambut tubuh Sing yang hampir rubuh dengan dada berlumuran darah. Akhirnya Sing meninggal karena luka yang parah.

Tahun 1950, setelah menerima pengakuan kedaulatan dari Belanda, negeri ini melakukan pembangunan segala bidang termasuk pertahanan. Maka TNI AU membuka pendaftaran menjadi pilot pesawat . Setelah melalui seleksi dari 300 peserta, dipilih 60 pemuda pilihan yang akan diberangkatkan ke sekolah pilot Transocean Air Lines Oakland Alameda ( TALOA ) Academy of Aeronautics di Bakersfield California. Mereka adalah instruktur dan navigator dari pilot pilot generasi awal TNI AU. Diantaranya Omar Dhani, Saleh Basarah, Sri Mulyono Herlambang dan juga 2 orang etnik Tionghoa. Gan Sing Liep dan The Tjing Hoo.

Nama mereka tercatat dalam sejarah resmi TNI AU sebagai navigator pesawat Hercules dalam konflik Trikora. Saat itu dilakukan operasi penerjungan di daerah sekitar Merauke yang didukung 3 pesawat Hercules. Kedua perwira Tionghoa tadi menjadi navigator di 2 pesawat tersebut.

Kapten Benny Moerdani yang menjadi komandan dalam operasi Naga, sempat memancarkan kekuatiran sebelum lepas landas. Barangkali pertama kali, ia harus melakukan operasi lintas udara di daerah musuh yang sama sekali buta. Letkol Udara Moh Slamet lalu menghampiri Kapten Benny Moerdani. “ jangan khawatir, saya pilihkan the best navigator – Mayor Gan “. Rupanya di kalangan AURI, Mayor Gan dikenal sebagai navigator terbaik.
Gan Sing Liep yang lahir di Tuban 1928 kemudian berganti nama menjadi Sugandi. Ia pensiun dalam pangkat Marsekal pertama, serta dimakamkan di TMP Kalibata.

Dalam konfrontasi dengan Malaysia, banyak pilot pilot Tionghoa yang menjadi tulang punggung AURI. Salah satu pilot tempur yang terkenal, seorang Tionghoa asal Maluku bermarga Tjong. Dalam suatu kesempatan, dengan membawa Mig 21 dia berhadapan dengan sepasang Hawker Hunter dari Royal Australian Air Force yang berpangkalan di Butterworth , Penang. Ia pensiun dalam pangkat Marsekal Pertama dan dekat dengan Jend Benny Moerdani.

Cuplikan kisah diatas menunjukan bukti historis keterkaitan hubungan etnik Tionghoa di Indonesia dengan dunia militer, walau dalam keseharian, hal tersebut masih dipersepsikan sebagai hal yang terpisah.
Di Jawa timur mengenal folkflore yang ditradisikan dalam pertunjukan ludruk, seperti tembang. “ Es gandul ditaleni merang. Cina gundul ora wani perang – Es tergantung diikat jerami. Tionghoa gundul tidak berani maju perang “.

Padahal sejak abad 17 orang orang Cina telah memberikan sumbangan penting di bidang militer dan teknologi. Ketika Mataram menyerang Giri tahun 1636, Sunan Giri mendapat bantuan 250 orang Cina penembak tepat, termasuk seorang komandan yang menangani senjata api yang telah ikut berjuang bersama Trunojoyo. Selain ahli dalam perdagangan, Banyak mereka juga ahli dalam seni bela diri, termasuk menggunakan tongkat. Tidak heran, karena tradisi kungfu yang telah ada di Cina daratan.

Dalam geger pecinan tahun 1740 – 1743, keberanian orang Tionghoa menyerang Belanda telah mengejutkan Pakubuwana II, karena selama ini Tionghoa diidentikan dengan perempuan yang tidak memiliki kekuatan sendiri dan hanya cocok untuk perdagangan saja. Sterotipe Tionghoa tidak berani memegang senjata terus diabadikan melalui tradisi lisan.

Aksi militer geger pecinan adalah aksi mereka yang paling spektakuler, yakni persekutuan Tionghoa bersama Jawa melawan VOC. Para pejuang Tionghoa- Jawa mampu meluluhlantakan Keraton Mataram di Kartasura, dan mengangkat Mas Garendi sebagai raja baru. Raja ini dijuluki sebagai Sunan Kuning, mengambil referensi etnis berkulit kuning etnis Tionghoa.

Perang Pecinan sebenarnya menjadi rangkaian perang panjang berbagai perang di tanah Jawa. Perang ini juga melibatkan pasukan Bugis dan Madura, sehingga disebut perang ini lebih besar dari skala Perang Diponegoro ( 1825 – 1830 ). Anehnya perang ini dilupakan ( dihapuskan ? ) dalam sejarah nasional Indonesia.
Perang yang disebut ‘ Perang Tjina melawan Ollanda ‘ merupakan salah satu perang besar terhadap VOC. Seandainya koalisi Jawa – Tionghoa bisa menghabisi VOC, maka besar kemungkinan tidak ada penjajahan Belanda di negeri ini. Sayang sejarah tidak mengenal kata ‘ seandainya ‘. Besarnya skala perang ini, dianggap seperti perang Sepoi yang dihadapi kolonialisme Inggris di India.
Dimulai sejak pembantaian orang Tionghoa oleh VOC di Batavia. Diperkirakan 7 ribu sampai 10 ribu orang Tionghoa dibunuh dalam pembantaian selama 2 hari itu.

Melihat pembantaian massal itu, pasukan Tionghoa dipimpin Sepanjang, yang disebut Kumpeni sebagai Khe Panjang alias Tay Wan Soey berusaha menyerbu Batavia, yang dimulai dari benteng Tangerang. Orang Jawa kelak mengenalnya sebagai Kapiten Sepanjang yang memimpin pasukan koalisi Tionghoa – Jawa melawan VOC

Pasukan Tionghoa yang tersisa bergabung dan menyingkir ke wilayah Mataram, melintasi Cirebon, Losari , Tegal dan sampai Lasem. Saat itu peranakan Tionghoa sudah kawin membaur di wilayah pesisir utara. Bahkan Bupati Mataram di wilayah pesisir diketahui berdarah Tionghoa, seperti Bupati Lasem, Tumenggung Widyaningrat alias Oei Ing Kiat.

Awalnya Sunan Pakubuwono II mendukung pemberontakan Tionghoa melawan VOC. Panglima pasukan Tionghoa dari wilayah Mataram adalah Singseh dengan perwiranya Leyang, Etik, Epo. Panglima pasukan tionghoa dari wilayah Batavia dipimpin Kapiten Sepanjang Di wilayah perbatasan Jawa Tengah- Jawa Timur ada pasukan Tionghoa dipimpin Encik Mas, Encik Lika, Encik Putih yang mengambil posisi di sekitar Blora. Pasukan ini menghadap pasukan Madura yang diperintahkan residen VOC di Surabaya untuk membunuhi orang Tionghoa di wilayahnya.

Benteng VOC di Kartasura jatuh yang membuat pasukan Tionghoa- Jawa semakin bersemangat menyerang benteng di Semarang. Pertempuran Semarang sangat mengerikan. Korban bergelimpangan di kedua belah pihak. Koalisi Jawa Tionghoa dipimpin Kapiten Sepanjang dan Singseh dari pasukan Tionghoa. Dan dari Pasukan Jawa dipimpin Patih Notokusumo. Ketika itu Raden Mas Said, kelak dijuluki pangeran Sambernyawa dan menjadi Mangkunegara I, sudah bergabung dan sekaligus belajar ilmu militer dari Kapiten Sepanjang.

Kelak Sunan berbalik memihak VOC dan memusuhi laskar Tionghoa. Para bangsawan yang kecewa membentuk pasukan gabungan jawa- Tionghoa melawan VOC dan Sunan Pakubuwono II. Koalisi ini juga harus menghadapi pasukan Bugis, Ambon dan Madura.

Sekitar bulan Feb – Maret 1742. Berkumpul 3 brigade Jawa dan 3 Brigade Tionghoa di bawah pimpinan Raden Mas Garendi atau Sunan Amangkurat V ( Sunan Kuning ) . Ia dinobatkan menjadi raja, untuk menggantikan Sunan Pakubuwono II yang dianggap mengingkari perjuangan dengan berbalik memihak Belanda.

Sunan yang masih remaja ini bersama pasukan Jawa – Tionghoa menyerang Kartasura, ibu kota Mataram. Pasukan Tionghoa dipimpin panglimanya Entik, Macan dan Pibulung. Sementara pasukan Jawa dibawah komando Kertawirya, Wirajaya dan Martapura. Secara khusus Kapiten Sepanjang dan Singseh, bersama Patih Mangunoneng mengawal Sunan muda itu. Mereka bertempur diwilayah Salatiga sampai Boyolali.

Akhirnya Keraton Kartasura jatuh ke pasukan koalisi Jawa Tonghoa. Dalam keadaan kacau balai Sunan Pakubuwono II melarikan diri bersama pasukan VOC yang mengevakuasi melalui pintu belakang, kabur ke arah timur, melalui Magetan, terus mendaki Gunung Lawu dan menuju Madiun sampai ke Ponorogo.

Pasukan Amangkurat V terus dikepung dari pasukan Pakubowono II yang dibantu VOC, Bugis, Madura yang membuatnya lama kelamaan kehabisan tenaga. VOC sempat menawari Kerajaan Mataram di bagi dua, asal Sunan Amangkurat V mau meninggalkan pasukan Tionghoa. Namun Sunan muda ini menolak berkhianat kepada pasukanTionghoa yang sudah sekian lama berperang bersama pasukan Jawa.

Dalam bulan Septemberur 1743, Sunan Kuning dan Kapiten Sepanjang bergabung dengan laskar Untung Surapati bergerilya di selatan Surabaya. Dalam sebuah pertempuran Sunan terpisah dengan Kapiten Sepanjang daninduk pasukan. Sunan Kuning yang terpisah dengan panglimanya Kapiten Sepanjang bagaikan layangan putus. Akhirnya Sunan Kuning menyerah kepada VOC yang kemudian membawanya ke Batavia, dan kelak dibuang ke Sri Langka.
Pasukan Jawa Tionghoa dipimpin Kapitan Sepanjang terus berjuang dan menyingkir ke arah Banyuwangi. Catatan terakhir tentang Kapitan Sepanjang adalah, tahun 1750 dia pindah ke Bali dan mengabdi pada salah satu kerajaan di sana.

Semasa revolusi kemerdekaan, di Solo dibentuk Barisan Pemberontak Rakyat Tionghoa ( BPRT ) tgl 4 Januari 1946. Pembentukan Badan ini dihadiri wakil wakil Keraton Kasunanan Solo dan Pura Mangkunegara. Barangkali ini semacam repertoar sejarah masa lalu, saat Kapiten Sepanjang, Singseh ( Tan Sin Ko ) bersama Pangeran Mangkubumi, Sunan Amangkurat V dan Pangeran Sambernyawa bersama melawan VOC dan Keraton Kartasura yang dikuasai pengaruh Kumpeni.

Salah satu tokoh BPRT adalah Tony Wen alias Bun Kin To, seorang tionghoa asal Bangka. Sebelum perang dunia II, Tony Wen pernah menjadi pemain bola di klub bola terkenal UMS. Tony Wen terlibat dalam pasukan gerilya yang disebut ‘ International Volunteer Brigade ( IVB ) yang berjuang disekitar Magelang. IVB menghimpun pemuda India, Filipina, Tionghoa dan kebangsaan lain yang bersimpati pada kemerdekaan Indonesia. Kelompok IVB sepertinya terinspirasi Brigade Internasional dalam perang Spanyol ( 1936 – 1938 ) yang menghimpun pemuda sosialis dan komunis Internasional melawan kubu fasis Jenderal Franco.

Tak ketinggalan di kota Pemalang berdiri Laskar Tionghoa. Tony Wen kemudian menjadi pelaksana penyelundupan candu atas gagasan AA Maramis. Operasi dimulai 7 Maret 1948 dengan mengangkat setengah ton candu dari pantai Popoh, selatan Kediri lalu melewati selat Lombok untuk menghindari blockade Belanda di Laut Jawa dan Sumatera.
Tony Wen akhirnya sampai di Singapura dan membuka kontak dengan pedagang candu. Tony Wen juga dua kali membawa candu 2 ton dengan pesawat carteran Catalina. Operasi lanjutannya di Singapura dilakukan dengan bantuan John Lie. Jaringan Tony Wen akhirnya terbongkar, dan dia ditangkap polisi Inggris di Singapura serta ditahan sampai pengakuan kedaulatan Indonesia tahun 1949.

Masih di Jawa Tengah, dalam pertempuran palagan Ambarawa, ada sosok pejuang Tionghoa yang dilupakan sejarah. Sosok itu adalah Kho Sien Ho alias Surjo Budihandoko. Ia menjadi komandan tertinggi Laskar Rakyat Magelang dan Kedu. Alumnus Akedemi Militer Whampoa, Tiongkok bersama BKR merampas senjata Jepang dan melawan tentara Inggris dan NICA di Amabarawa. Kho Sien Ho adalah wakil Surjo Sumpeno ( kelak jadi Panglima di Jawa Tengah dan aspri Presiden Soeharto ) di front Magelang – Kedu saat itu.

Salah satu menantu Kho Sien Ho, yakni Ganda Winata masuk TNI AL, dan menjadi perwira instruktur KKO ( Marinir ). Di Kota Kudus lahir pasukan Matjan Poetih, yang berintikan priyayi kelas menengah, aktivis PNI dan tokoh tokoh Tionghoa.

Sejak peristiwa G 30 S, orang Tionghoa dicurigai sebagai agen komunis sehingga harus mengalami nasib sama seperti kader PKI lainnya. Bedanya untuk orang Tionghoa ini, prasangka komunis menjadi satu paket dengan prasangka rasial. Orang Tionghoa entah itu Islam, Katolik, Protestan harus rela meninggalkan budayanya.

You Might Also Like

1 Comment

  • Marhaen Menang
    February 25, 2019 at 11:11 am

    personifikasi FASISME sangat lekat dengan rejim militer ORBA dan SUHARTO….walaupun dalam kenyataannya SUHARTO sendiri adalah campuran tionghoa (diduga hasil hub gelap antara seorang saudagar tionghoa di semarang dengan ibunya), dan sejak awal SUHARTO dikelilingi kapitalis2 tionghoa macam BOB HASAN dan LIEM SWIE LIONG waktu jadi panglima diponegoro….hingga menjadi diktator 32 tahun dia membentuk “grup jimbaran” yaitu kumpulan konglomerat2 tionghoa yg diberikan konsesi ekonomi dalam rangka mendukung mesin ekonomi ORBA yg rapuh..disatu sisi kebijakan RASISME ORBA tertuju kepada kaum tionghoa kelas bawah namun menguntungkan segelintir kaum tionghoa menengah keatas

Leave a Reply

*