14 December 2008

Ngeseks dan Ngeres

Posted by iman under: REFLEKSI; REMAH REMAH .

Dahulu saya mempunyai paman pelaut, dan kamarnya sering kosong berminggu minggu.  Suatu hari karena sering menyembunyikan diri di kamar itu, saya menemukan majalah bergambar wanita telanjang. Seingat saya, waktu itu saya masih kecil untuk bisa memahami mengapa seorang wanita mau telanjang di sebuah taman terbuka. Kelak saya mengetahui wanita telanjang itu bernama Sylvia Kristel , salah sorang pemeran dalam film semi erotis “ Emmanuelle “ yang menjadi hits pada jaman itu.

Dosakah melihat gambar itu ? pertanyaan berkecamuk sampai akhirnya ayah saya menjewer saya habis habisan karena lancang memasuki kamar orang dan melihat gambar gambar orang dewasa.
Sejak itu ada pemahaman yang sedikit aneh dengan melihat lawan jenis kita, wanita. Waktu itu masih kelas 3atau 4 SD, saya sudah mendengar bisik bisik dari teman teman yang lebih dewasa, kalau bayi dihasilkan dari hubungan seks antara pria dan wanita.  Dan yang lebih parah kami sepakat bahwa perbuatan berhubungan seks itu dosa dan aib.

Pengetahuan saya tentang seks terus bertambah, terutama ketika duduk dibangku SMP. Selalu ada saja cara tak terduga dan mengejutkan melihat buku buku stensilan ‘ Valentino ‘ atau gambar porno yang diedarkan oleh teman seusai pulang sekolah.
Informasi tentang seks dan rangsangan rangsangan dapat datang dari mana saja. Bisa dari senda gurau dan bisik bisik teman. Gambar, video kaset dan cerita cerita cabul. Menohok yang seketika membuat kita kehabisan akal bagaimana mencegah rangsangan yang timbul. Namun bayangan seks yang menjijikan berubah menjadi sesuatu yang lain.  Ketika sewaktu SMA, saya membaca novel sastranya Linus Suryadi “ Pengakuan Pariyem “ yang membawa kita bagaimana seorang pembantu wanita asal Wonasari yang menyerahkan segala galanya untuk putera majikannya, den bagus Ario Atmojo.

Ternyata penggambaran lewat tulisan bisa lebih dasyat, dan saya waktu yakin tulisan sastra itu bukan untuk merusak akhlak, dan membuat kita menjadi cabul. Bagaimana budaya jawa, ronggeng misalnya atau tayuban di rumah mantri hutan yang digambarkan Ahmad Tohari dalam trilogy ‘ Ronggeng Dukuh Paruk ‘ . Juga cerita wayang Betara Guru yang birahinya memuncak sewaktu berdekatan dengan Dewi Uma.
Seks bukan lagi dipandang sebagai sesuatu yang menjijikan dan membawa sial. Bahkan Pangeran Diponegoro pernah mengakui dalam otobiografinya yang dia tulis di pengasingan.  Kelak tulisan itu disebut Serat Babad Diponegoro. Ada sebuah kisah ketika Pangeran Diponegoro bersama pasukannya dipukul di desa Growok dekat Surakarta. Sang pangeran mengakui – dalam tembang sinom – sebabnya ia dikalahkan, kerena malam sebelum pertempuran, ia telah jatuh hati dengan seorang wanita cina yang dipekerjakan sebagai pemijat dan pelipur hati sang pangeran. Dengan kata lain, Pangeran yang gagah perkasa itu telah berhubungan seks pada malam sebelum pertempuran.

Tentu saya sudah lupa, mungkin juga anda, berapa film porno yang sudah ditonton. Dan walau itu dosa, tapi tidak membuat saya menjadi bejat. Banyak orang orang yang tumbuh dan melihat dalam budaya seks bebas – seperti di barat – atau teman teman kita, saudara kita hidup menjadi orang normal walau kadang di hard disk komputernya ada film film Japan Adult Video.
Walau banyak berita berita pemerkosaan karena si pelaku sering kedapatan menonton film film porno, tapi saya sendiri tak merasa menjadi cabul atau ngeres. Tetap saja saya membutuhkan waktu berjam jam duduk gelisah di teras rumah pacar . Hanya untuk berpikir, bagaimana merangkai kata kata yang tepat untuk mengucapkan kata I Love You. Satu satunya kemajuan saat itu adalah, kelak dengan pacar yang lain, saya lebih berani menciumnya lebih dulu, baru mengucapkan kata I Love You. Itu saja.

Seberapa jauh kita memandang seks, tidak penting karena itu menjadi bagian rahasia yang paling dalam dari manusia. Pendidikan seks yang benar memang perlu untuk anak anak kita, sehingga tidak melulu berguru pada pemahaman seks ala Miyabi dan Russian erotic.

Itulah yang selalu kita pikirkan, bahwa rusaknya hubungan, dan komitmen kita pada Tuhan tidak bisa diterjemahkan dengan manusia otomatis menjadi bejat. Bahwa hubungan manusia juga terganggu. Ini memang menggelisahkan dan berpretensi membuat frustasi.  Masalah janji kepada Tuhan bisa diperbaharui dengan semangat pertobatan. Tapi bagaimana menolong peradaban merupakan pertanyaan lain. Tapi apakah mungkin dalam dunia yang hedonis dan norma yang semakin bergeser.
Dulu orang memakai bikini bisa dianggap cabul, namun sekarang, sebagian orang mengganggap sebagai mode, dan bagian dari aktivitas di pantai dan kolam renang terbuka.  Jadi waktu kemarin di pantai kuta, rombongan turis turis Arab – berharap – tidak bisa dikatakan berdosa karena para suaminya melototi habis habisan wanita wanita yang berbikini, sambil menggandeng isteri isterinya yang tertutup cadar dan hanya menyisakan matanya saja.

Tapi saya tidak kuatir bahwa moral dunia akan rusak gara gara urusan ngeres ngeseks, dan sejumlah cerita porno, lalu serta merta merubah generasi ini. Anak anak kita , anak anak teman kita akan menjadi orang yang baik baik.  Bahkan pemimpin yang bijak siapa tahu.
Terlalu optimiskah cerita saya ? Tentu saja. Who knows ….

58 Comments so far...

Eky Says:

20 December 2008 at 12:11 am.

“Dan walau itu dosa, tapi tidak membuat saya menjadi bejat”

@Iman,

Gua suka banget dengan penggalan kalimat di atas, meskipun konteksnya bisa macem-macem. Gw baru liat weblog ini, besok-besok mau main-main lagi kesini. Btw, kok meeting IPFII hari ini dilewatkan? 🙂

akmal.eky@gmail.com

baebae Says:

23 December 2008 at 7:06 pm.

tulisanya menarik, saya suka, krn berani menceritakan kisah masa lalu, yg seharusnya disimpan jadi kenangan saja. tapi salut, mau diceritain, oiya, terima kasih juga buat link2nya hehe, seharusnya dihapus saja linknya, biar ga nambah2 dosa. salam peace..

ambar Says:

23 December 2008 at 11:05 pm.

Mas Imam, seks itu bisa diejawantahkan sebagai passion yang sehat atau tidak sehat bergantung pada etika dan nilai sosial kita. Salah satu komentator disini mengatakan, dia dikeluarkan dari kantor karena download esek2 di komputernya. Itu menunjukkan ia tidak menyadari nilai hukum dan sosialnya dengan kantor tempat dia bekerja. Komputer itu milik kantor, dan ia melakukan di waktu jam kerja. Bukan karena isinya yang esek2 saja.
Nilai sosial itu yang mungkin berubah berdasar jaman dan perkembangan tapi tiap orang punya standar moral. Benar salah. Baik buruk. Itu menurut saya yang ngga bisa dipertentangkan. Salam ambar.

bintang Says:

25 December 2008 at 8:00 pm.

saya minggu nanti mau berbikini di Pantai Dreamland dengan teman2

berminat ikut bersama kami menikmati pantai??hehehehe

abdee Says:

8 January 2009 at 8:58 am.

Emanuelle… sering nonton jaman SMA… dengan berbagai versi… Emanuelle in Bali, Emanuelle in India, dll.

Rie Rie Says:

11 January 2009 at 4:34 pm.

Tulisannya menarik sekali, antara pengalaman pribadi dan kejadian sekeliling.

rüya tabiri Says:

24 June 2010 at 5:34 am.

shares utilize a wonderful ınternet site decent Gives gives thanks for the efforts to support people

UPE Says:

14 July 2012 at 9:26 am.

SEBAIK.Y ANAK KITA SEJAK DINI KITA BEKALI DENGAN ILMU PORNOH GRAFI SEBELOM MEREKA SENDIRI YG MENCARI TENTANG PORNOGRAFI,DAN KASIH TAHU JG TENTANG AKIBAT BURUK AGAR ADA YG MENGHALANGI MEREKA UNTUK BERBUAT PELECEHAN SEKSUAL N JGN LUPA JG BEKALI ANAK TENTANG AGAMA

AKU SETUJUH2 AJA CERITA MAS DI ATAS HEHEHEH

Leave a Reply

*

Mencari Jawaban

Artis tend to be dark, worried and superstitious creatures. This is not bad. It makes me perfectionist, it makes me care. Moreover the ability to see the darker side of life is an asset not just directing dramatic and tragic movies, but also for directing comedy, since comedy often has pain inside it. Do you believe that life and film tragically too close together ? I do ...
www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from Iman Brotoseno. Make your own badge here.


Categories

Archives

Hot Topics

Spice of Life


Why Blog ?

Why the BLOG will change the world ?The explosion of blogs throughout the world has been the biggest phenomenon since the rise of the Internet itself. Today, more people read blogs than newspapers. Blogs are just a tool, of course. It’s the bloggers behind the blogs that will make the difference. Here's Why

Blog lama saya masih dapat dilihat disini

( DISCLAIMER ) Photo dan Gambar Ilustrasi kadang diambil dari berbagai sumber di internet - GETTY IMAGES dan CORBIS selain photo teman dan milik saya sendiri. Kadang kala sulit untuk menemukan pemiliknya. Jika ada yang merasa keberatan bisa menghubungi untuk dicantumkan namanya.

Subscribe this blog

  Subscribe in a reader
Enter your email address:
  
Delivered by FeedBurner
July 2016
M T W T F S S
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031