Maafkan saya menghapus komen anda

Ada pertanyaan yang selalu terus menggelitik. Kebebasan apa yang kita miliki dalam blog milik kita sendiri. Dalam artian bagaimana jika gagasan atau tulisan kita ternyata belum mampu memuaskan ekspektasi pembaca blog kita. Jika kita tak bisa menentukan siapa yang bisa membaca tulisan ini begitu tersebar di dunia maya. Bisakah kita bisa mengatur pengunjung ke blog kita sesuai selera kita.
Sebenarnya saya malas membahas topik ini. Tetapi saya memiliki sebuah pengalaman, pertama kali harus menghapus komen komen dari seseorang yang sebenarnya – mungkin – pembaca setia blog saya. Orang ini – sepertinya bukan bloger- ternyata cukup kritis dan sebagaimana saya juga, ia juga menyenangi sejarah.
Saya ingat pertama kali komen dari orang ini muncul sewaktu tulisan saya tentang Soekarno. Ia mempertanyakan, bagaimana saya dapat memperoleh informasi saat saat kematian Soekarno. Ia juga bertanya, apakah saya berasal dari keluarga militer.

Setelah itu orang ini sering memberi komen di setiap postingan saya yang bertopik sejarah atau suatu lintasan peristiwa. Kadang ia menyapa melalui YM, padahal biasanya saya tak pernah membalas sapaan YM dari seseorang yang saya anggap tidak beridentitas.
Lama kelamaan saya perhatikan komen komen dari dia selalu bernada koreksi dan tendensius. Saya asumsikan ia mempertanyakan metodologi riset atau data sekunder dibalik postingan saya. Kadang ia menulis “ data ini – maksudnya tulisan saya – masih mentah “. Atau ia mengatakan “ saya memiliki sumber lain tentang tulisan ini “ .
Tentu saja saya berharap seandainya ia tahu mengapa tidak sekaligus memasukan dalam isi komennya sehingga memperkaya sebuah postingan.
Padahal saya pernah keselip menulis tahun pelantikan Ali Sadikin – 1967 – dan lagi lagi ia mengkoreksi. Tentu saja saya hargai dan merubah tahun pelantikan itu 1966.

Saya menduga ia seorang yang sangat perfeksionis, moralis atau naïve. Pernah ia mengirim sebuah email mempertanyakan dari mana saya memperoleh foto foto – Cerita Indonesia – di blog saya yang lain. Dia lalu menceramahi mengenai hak cipta, bahwa saya harus mencantumkan nama fotopgraphernya. Ia juga mungkin taat hukum, karena mengatakan bahwa ia tidak pernah membeli dvd bajakan dan software bajakan.
Padahal jelas dalam blog itu saya selalu mencantumkan sumber photo, dan jika tidak ada sumber photonya berarti saya tidak mengetahui. Untuk itu ada disclaimer di sisi kanan di blog itu, yang mengatakan bahwa jika ada yang keberatan dengan pemuatan foto foto itu seyogyanya menghubungi saya untuk dicantumkan namanya.
Sampai sekarang sudah ada satu orang yang menghubungi saya, dan sudah saya cantumkan namanya. No worries.

Lalu pernah dalam sebuah tulisan saya menyerempet tentang Galileo, bagaimana ia divonis mati. Langsung dengan gagah berani orang ini menyergah di komennya bahwa Galileo tidak dihukum mati.
Mestinya ia bisa membedakan vonis mati dengan eksekusi hukuman mati. Sebuah vonis belum merupakan eksekusi. Padahal selanjutnya dalam cerita saya juga menulis bahwa Galileo menghabiskan hidupnya di pengasingan.
Jelas orang ini tidak membaca seluruh isi postingan atau tidak mengerti permasalahannya.

Terakhir komen muncul lagi dalam postingan saya. Sekali lagi ia mempertanyakan dari mana saya tahu bahwa Sri Sunan mengatakan hal itu.
“ Jangan menyebar fitnah “ katanya. Saya hanya ngunandika, “ kurang asem ini bocah maunya apa sih “. Kok lama lama seperti lembaga nirlaba Iman Brotoseno Watch !
Apakah saya harus selalu mencantumkan metodologi , cara mendapatkan berita dari setiap postingan saya. Apakah saya harus menjelaskan asal usul saya ? Apakah saya harus menjelaskan bahwa saat itu saya ada di Restaurant tersebut yang notabene milik keluarga sendiri.

Sebagaimana media mainstrem lainnya, blog juga memiliki hak hak menyampaikan sebuah pewartaan menurut caranya masing masing. Justru kelebihannya dibanding media konvensional, para pembaca bisa langsung memberikan komentar atau sanggahan. Semestinya juga proses diskusi ini harus konstruktif. Tidak asal jeplak seolah mempertanyakan integritas saya.
Masalah ada yang merasa tidak nyaman dengan isi tulisan ini, ya itu urusan sodara sodara. Tentu saja saya tidak bisa otomatis memenuhi standard ekspektasi dari setiap pembaca. Untuk itu saya mohon maaf, wong blog ini cuma isinya cerita curhat tidak bermutu, Bukan Kompas, Tempo atau blog terpercaya.

Sejak itu komen si orang itu saya hapus. Bahkan saya masukan dalam daftar spam. Saya menganggap sudah mengganggu kehidupan rumah blog saya. Saya anggap ada orang gila yang selalu melempar batu ke rumah saya. Tentu saja saya tidak bisa membunuhnya,kecuali membangun pagar tinggi.
Sebenarnya saya menyesal telah menjadi tiran dalam blog saya. Sewenang wenang. Adagium itu khan blog saya sendiri, mudah mudahan bisa jadi pembenaran. Jika tidak, sekali lagi saya mohon maaf. Mudah mudahan kejadian ini adalah pertama dan terakhir.
Mungkin saja saya sedang emosional dan not in the mood. Ya sudah, que sera sera.

Ketika saya mengetik draft postingan ini, tiba tiba ada pesan masuk di YM saya.
“ kenapa komen saya di hapus, ada apa..ada apa…? “
Masya Allah.

You Might Also Like

79 Comments

  • heny
    July 11, 2008 at 7:47 pm

    kalau koment aku gak kena sensor kan pak….or di spam…aku kan orang baik..baik…hehhehe…jgn cepet marah pak…ntar gantengnya ilang tuh…

  • Epat
    July 11, 2008 at 7:59 pm

    wah lagi musim kasus seperti ini ya mas, kemaren juga ada yang cerita, bahkan komen terornya terbilang kasar, saru dan penistaan. akhirnya si empunya blog memoderasi semua komen. memang dah, kebangeten!

  • nita
    July 11, 2008 at 8:01 pm

    saya juga mengalami hal yg kurang lebih sama. ada komen yg bilang agar saya mencantumkan sumber tulisan. memang saya mencantumkan sumber tulisan, tapi tak semua, karena ada data2 yg sudah lama mengendap di kepala dan saya lupa sumbernya drmana tapi tetap saya tulis.

    jika semua data harus dicantumkan sumbernya gimana ya…sulit juga jadinya. misalnya saya pernah baca kalau rod stewart itu dulunya tukang gali kubur atau tornado terjadi karena pertemuan udara panas dan dingin….nah, apa perlu dicari sumber datanya dulu sebelum menulis hal tsb. bisa2 satu postingan penuh sumber data dunk

  • didut
    July 11, 2008 at 8:06 pm

    kalo blog yg udah byk fans seperti mas iman mungkin disclaimernya hrs lbh panjang mas, seperti mencakup opini personal di blog 😀
    kalo ada yg protes langsung tunjuk disclaimer aja 😛

  • danalingga
    July 11, 2008 at 8:07 pm

    Duh, saya malah jadi inget ama tante silly bersama SA nya itu mas. Sepertinya mirip.

  • andrias ekoyuono
    July 11, 2008 at 8:12 pm

    *ngetes komen*
    bukan komen saya yang dihapus kan ?
    btw, ini sepenuhnya hak mas Imam. Itulah resiko punya pembaca banyak mas, pasti ada yang kontra juga, biasa itu

  • Anang
    July 11, 2008 at 8:44 pm

    untung saya ga dihapus, meski hanya komen sampah… hiks. saya memang sampah…

  • cK
    July 11, 2008 at 8:53 pm

    menurut saya menghapus komen itu hak si empunya blog. saya juga kadang-kadang menghapus, tapi habis itu saya beritahu orang tersebut (kalau saya kenal) kenapa komennya saya hapus. wajar kok mas kalau merasa terintimidasi… 😕

  • mitra w
    July 11, 2008 at 8:58 pm

    hahahaha… kayaknya saya pernah baca komen2 orang tersebut :D.
    ^_^, mm… gpp mas, saya juga pernah digituin pas ngomongin masalah keperawanan dan pacaran beda agama. Malah saya dituduh membela penzinahan dll… 🙁

    well, hak setiap bloger kok memoderasi komen, makanya fasilitas tersebut ada ^_^.

  • ikram
    July 11, 2008 at 9:07 pm

    Andreas Harsono bilang, kritik itu konsultan gratis 🙂

  • fadli
    July 11, 2008 at 9:13 pm

    Ngga apa² Pak, kan itu mah hak prerogative pemilik blog.

    kalau emang comment nya menurut bapak tidak sesuai ya hapus aja.

  • mbakDos
    July 11, 2008 at 9:20 pm

    been there 🙂
    but mine, is about my pictures.

  • Nazieb
    July 11, 2008 at 9:23 pm

    Perbedaan pendapat itu bagus, asal tidak sampe “segitunya”.
    Soal hapus komen: “You’re God in your own blog”

    Betewe maafkan kalo selama ini komen saya ndak bermutu.. :mrgreen:

  • -tikabanget-
    July 11, 2008 at 9:25 pm

    sayah blom tega mas.. *nyengir..*
    walo kadang ada aja komen yang ndak jelas dan bikin jengkel..
    nuduh begini dan nuduh begitu..
    tapi sayah blom tega..
    *berasa sinetron*

  • ngodod
    July 11, 2008 at 9:26 pm

    kadang kesabaran ada batasnya kan mas…

  • Donny Verdian
    July 11, 2008 at 10:09 pm

    Sik sik sik…
    Ide bagus Mas, Iman Brotoseno Watch! Hahahahahaha 🙂

    Anyway, saya setuju dengan Anda tentang penghapusan YM itu tapi saya tak setuju dengan pendapat Anda yang mengatakan bahwa blog Anda ini ndak bermutu.

    Bagi saya, banyak hal bisa saya temukan dari sini.
    Go! Go! Go! AMDG!

  • Kardjo
    July 11, 2008 at 10:09 pm

    Sing sabar yo mas… wong urip iku ora mung urip mergo mangan… panguripane jalmu kuwi yo amarga kersaning Pangeran sing gawe urip… (sok mandhita)

    ingat cerita kepompong khan?

    Ketika calon kupu2 keluar dengan susah payah, maka akan mucul kepak sayap yang indah. proses. tetapi jika kita menolong kupu2 itu keluar dari kepompong dengan membuatkan lobang, maka yang terjadi kupu2 dengan sayap kecil sperti lebah…. jadi ndak indah bukan.

    buat yang di-ignore sama mas iman…. ingat falsafah jawa ‘Bener ning ora Pener!’

  • Kardjo
    July 11, 2008 at 10:12 pm

    Untung saya bukan selebblog™. Yang komentar di blog saya paling banyak 5 orang. Ada sih banyak, itupun karena mereka ndak berhasil nyedot file yang saya sharing. Saya kasih password.

    Lha wong cuma diminta ‘terima kasih’ saja ndak amu jee…

    mas kapan ke Surabaya? (aku traktir Es Teh)

  • Hedi
    July 11, 2008 at 10:17 pm

    memang repot kalo orang senengnya protes, mas…perubahan apapun yg kita buat malah ga keliatan

  • Tetes Embun dotORG » Blog Archive » Microblogging berembun (part 1)
    July 11, 2008 at 10:22 pm

    […] yang sok ingin tahu hanya berkisar 1 hingga 5 orang. Bagaimana jika anda semacam seleb blog seperti mas Iman, jongos tua, bapak blogger,  new blogstar atau ibu tolol ini… whuah… pasti capek […]

  • Kardjo
    July 11, 2008 at 10:27 pm

    Sekali-sekali.. nyampah di blog keren ini… hehehehehe
    (*semoga gak ikutan di-spamlisted*)

  • sawali tuhusetya
    July 11, 2008 at 11:12 pm

    itulah repotnya kalau komen dari pengunjung yang ndak mencantumkan url blog atau bahkan ndak punya blog, mas iman. mereka seringkali komen seenaknya tanpa mengindahkan kaidah dan etika memberikan tanggapan secara sehat, bahkan sendrung mengganggu kenyamanan kita. komen2 seperti itu memang layak diblakclist dan dimasukkan kategori spam sehingga ndak bisa nongol lagi. saya pun juga kena tuduhan menjiplak proposal ptk. saya kasih waktu 2×24 jam utk membuktikan. eh, satu huruf pun ndak mau mbalas via email, haks.

  • Bagas
    July 12, 2008 at 12:00 am

    Wah, aku merasa kesindir sama yang komen diatasku 😀
    Gak apa-apa wis.. 😀

    URL blog gak penting, yang penting itu email dan IP.
    *membela diri*

  • edy
    July 12, 2008 at 12:41 am

    *liat komen atas*
    mari kita sukseskan gerakan Ayo ngeBlog 😀

    soal menghapus komen, itu udah pasti sepenuhnya hak mas Iman
    oh iya mas, kalo IBW udah ada kaosnya saya minta yak :mrgreen:

  • Nofie Iman
    July 12, 2008 at 1:31 am

    Wajar saja, bahwa makin populer blog/blogger, maka makin banyak pula mata yang mengawasi. Saya juga setuju bahwa komentator seringkali tidak membaca seluruh posting dan komentar terdahulu — asal main tancap begitu saja.

  • Thomas Arie
    July 12, 2008 at 1:47 am

    Pernah juga mengalami hal seperti itu, walaupun tidak sama persis, dan tidak terjadi di blog pribadi saya…

    Seolah-olah apa yang saya sampaikan diposisikan selalu “tidak tepat” dan “oknum tersebut” merasa tahu lebih banyak. Padahal, JIKA artikel dibaca dengan teliti… ujung-ujungnya komentar/sanggahan dari orang tersebut tidak nyambung… dia mengomentari bukan di esensi tulisannya. Duh!

    Soal menghapus komentar, saya pernah juga melakukannya kok.

  • ika
    July 12, 2008 at 5:59 am

    aku seneng dengan cara mas mengupas masalah. justru postingan ini menunjukkan bahwa mas selama ini melakukan riset untuk membuat postingan. dan ini pasti tidak banyak orang yang melakukannya. betewe mas, kalo suatu saat dia bertobat pie????? jadi ganti comment yang memuja muji mas…. arggggg plin plan banget

  • Silly
    July 12, 2008 at 8:10 am

    Hahahahahahahhaa… YESSSS!!!!!!

    Sepakat, Amin to this. Seneng banget ama tulisan ini, karena kebetulan saya juga bermasalah dengan salah satu pembaca yg hanya komentar ketika tulisan saya dianggap bisa dia serang… Diblog lama saya dia sudah 5x menyerang saya dengan kata2 yg nggak ngenakin telinga, seperti becandaan lo kampungan, jorok, gak lucu, gak berkelas, garing dsb. Haduhhh… diblog yang lama saya masih jawab dengan sopan… Saya berharap begtu pindah, dia gak akan ngikutin saya pindah juga…. Wong tulisan saya gak berkelas kok menurut dia…

    Tapi ternyata dirumah baru saya dia masih juga ngekor, dengan komentar yang masih sama negatifnya. Kebakar dong jenggot saya… (ehh, saya gak punya jenggot ya… berarti ubun2 saya yg kebakar). Panas hati ini dihina dina seolah dirinya sudah sangat berkelas. Lupa kali dia kalo TAG lin e dari blog saya adalah Silly Stupud Life… sharing my stupidity and sillyness in life. Tentu saya saya isi dengan pengalaman TOLOL, KOTOR, KAMPUNGAN dan TIDAK BERKELAS saya… (ya iyalah, masak yaoloh tolonggg, hehehee)… gak mungkin juga tag linenya gitu, saya isi dengan hal2 yg smar and clever dong…

    Maka, meradanglah diriku… Dan menyatakan penolakan secara tegas kepada sodara itu untuk mampir ke blog saya dan memberikan komentar yg negatif. Cape dehhhhhh… 🙁 *tangan kanan dijidat* 🙂

  • Yoyo
    July 12, 2008 at 9:07 am

    Alhamdulillah, kalau saya kasih comment di sini nggak dihapus 🙂 sebab comment dari saya biasanya garing……. 🙂
    betewew ,,,,,,,, mau nanya nih buat yang lebih pengalaman, kalau yang kirim comment itu masih blogger juga, kita kenal baik dia di dunia maya, tapi yang dia kirim itu semacam iklan ….. nggak menghujat sih, tapi OOT bener …… dia nggak permisi dulu mau OOT, boleh nggak kira-kira kita hapus tuh komeng ?

  • Rystiono
    July 12, 2008 at 9:26 am

    Bukan saya kan pak? Saya kan orang baik…

    Saya juga ada tuh pak yang kayak gitu… tiap saya posting yang berbau agama, sekalipun nggak nyinggung siapa-siapa, pasti tuh orang komen. Sensi banget komennya. Untungnya dia nggak add YM ku. 😀 Ya kumasukkan daftar spam aja.

    Btw, pak Iman mau jadi juri kontes konten blog yang saya adakan? Temanya tentang Patriotisme, Lingkungan dan Pendidikan. Bisa cek di blog saya pak. *sorry kalo dianggap nyepam*

  • iman brotoseno
    July 12, 2008 at 9:50 am

    Temans,
    sebenarnya mo komen OOT, nyampah , garing, dagelan, lawak malah nggak apa. Wong saya juga kadang ngasih komen * nyungsep di mana mana..Apalagi kalau komennya menambah ilmu postingan. Alhamdulilah.
    BUT Kritis ya kritis, banyak komen kritis terhadap tulisan saya ( terutama menyangkut masalah agama ) ya saya terima dengan lapang dada. Karena kita menghargai kebebasan ekspresi. Hanya kalau kasih komen yang langsung menyerang integritas saya, seolah olah saya ngawurr nulisnya…konsisten lagi. Lha ini kritis atau ngajak beranteeeeeeeeeeeeeeemmmmmmmm

  • Catshade
    July 12, 2008 at 11:48 am

    Apakah Mas Iman punya bukti transkrip percakapan YM yang mendukung tuduhan ini? Apa sudah melakukan konfirmasi/klarifikasi kepada yang bersangkutan? Jangan sampai menjadi character assassination lho Mas…

    *digas Mas Iman*

    Just kidding 😛

  • wieda
    July 12, 2008 at 12:41 pm

    tuhhhh kan resiko blog seleb….

    emang id nya mas imam di ym apa?

  • -may-
    July 12, 2008 at 1:10 pm

    HAHAHAHA… saya juga punya tuh, Mas, komentator yang seperti itu 🙂 Biasanya kalau lagi punya banyak waktu, ya saya ladenin. Pernah berbalas komentar sampai 76 biji… average-nya sih sekitar 30-an.. hehehe…

    Yaah… karena saya ini “gerwani”, jadi kalau nemu komentator kayak gitu rasanya puaaaas banget nemu ‘sansak’ 😉 Biarpun rugi waktu dan mempertaruhkan citra diri ;). Tapi… sering kali akhirnya saya nemu sesuatu yang baru dari perdebatan itu. Setidaknya, saya jadi belajar sabar dan belajar fokus dalam membahas sesuatu (sehingga dipertanyakan dari angle mana pun tetap fokus).

    Dalam kasus saya sih saya tahu komentator itu tidak bermaksud buruk. Emang gayanya aja rada nyolot, dan seneng “nggodain” saya. Nggak tahu deh kalau komentatornya Mas Iman 🙂 Tapi, seandainya dia maksudnya nggak buruk ke Mas Iman, mestinya dia tahu Mas Iman nggak suka dan tidak memaksakan kehendaknya ya 🙂

    *asal habis ini dia nggak pindah ke blog saya aja… HAHAHAHAHA…*

  • kombor
    July 12, 2008 at 1:26 pm

    Wooo… Pantes di tiga tulisan terakhir ini komentar saya nggak ada. Ternyata karena Mas Iman menghapus komentar orang itu toh.

    Loh, apa hubungannya? Wakakaka…

    Tenang Mas Iman. Saya langganan blog Mas Iman via email dan Google Reader– (apa nggak hebat?) — karena saya cinta Mas Iman. Gyaaahhh… bayut banget sih? Eh, walaupun langganan, saya nggak selalu komentar habis membaca. Kadang karena tiba-tiba ada telpon masuk. Maklum, bacanya pake hape.

    Mengenai penghapusan komentar. Silakan. Itu hak prerogatif empunya blog.

  • edratna
    July 12, 2008 at 2:25 pm

    Hahaha…komentar di blog saya juga ada yang aneh, kayaknya saya ingat komentarnya orang itu di blog mas Iman. Komentar yang aneh selalu tak mencantumkan blognya (atau nggak punya, dan memang hobby memberi komentar sinis?).

    Saya pasang disclaimer di blog….jadi saya berhak menghapus komentar yang diluar jalur. Jangan-jangan Gita (aprikot) juga dapat komen seperti itu ya, saya jadi ga bisa masuk di blognya….maaf numpang disini, terus katanya suruh log in…lha udah log in kok tetap ga bisa. Blognya Iko juga sekarang dimoderasi…atau makin banyak komentar yang aneh ya.

    Saya tetap bebas, ga pake moderasi, tapi kalau ada yang aneh, dan tak sesuai misi blog (hohoho…pakai visi/misi segala)…maksudnya niat nulis di blog mau berbagi ilmu, pengalaman dsb nya…kalau kritik ya membangun, ada dia nambahi infonya yang bener…..jadi komentar aneh saya hapus. Ada juga yang menyerang penulis yang tulisannya saya buat bahan cerita di blog..langsung saya jawab, kalaupun ada yang patut dpersalahkan adalah saya, bukan penulis itu…ehh kok ga balik lagi. Ada juga yang marah-marah karena situasi sekarang ini, padahal dia punya blog, mestinya kalau marah ya nulis aja di blognya sendiri…..syukurlah terus beliau minta maaf, malah bilang kalau saya seumur ayah ibunya…..hahaha…saya maklum jiwa muda memang bergolak.

    Memang lucu, menggelikan, bikin kerawa, tapi juga ada yang menyebalkan. Mungkin betul, punya blog menjadi banyak pengalaman yang lucu-lucu.
    Btw, blog mas Iman memang banyak pengunjungnya….jadi tentu ada yang aneh…..gpp biar seru mas….

  • mikow
    July 12, 2008 at 2:33 pm

    suruh dia bikin blog sendiri aja mas, biar dia bisa puas komen disana 🙂

  • yuswae
    July 12, 2008 at 2:52 pm

    ya wajar toh mas…makin tinggi, anginnya kan makin kencang.
    Di ranah blog, sampean itu sudah jadi tokoh. Pasti banyak yang nyoroti..
    😀

  • puty
    July 12, 2008 at 5:13 pm

    wah, kalo saya mah, saya diemin aja, selama nggak mengandung kata2 yang nggak pantes.. dan alhamdulillah selama ini belum ada pengalaman tentang itu 🙂

    salam kenal 🙂

  • Dony
    July 12, 2008 at 5:58 pm

    Teman saya juga pernah mengalami hal yang hampir mirip dengan sampeyan mas. Dia diteror dan digoblok-goblokkan gara2 posting di blognya yang menyangkut FPI.
    Yah, blog memang seperti radio, kalo kita nyetelnya terlalu kenceng, tetangga sebelah bisa menyambit dengan batu 😀

  • nana
    July 12, 2008 at 6:08 pm

    waduh.. serem juga orang kayak gitu.
    hahahahaha.. suruh dia jadi polisi aja deh.
    polisi tidur maksudnya…

    loh?loh?

    tapi bisa berarti juga loh dia nge-fans!
    hahahahahaha

  • siska
    July 12, 2008 at 6:31 pm

    trus dijawab gak pak waktu orang itu nanya kenapa komennya dihapus?? apa? hehehe…

    hmm, selamat berakhir pekan, Pak Iman…

  • Iman
    July 12, 2008 at 9:07 pm

    May,
    wadohh kalau urusan sabar..mestinya sih iman di hati ..sabar, cuma imron di kepala bawany nyolot..hi hi
    ya ya sayapun paham pasti tidak ada niatan buruk dari komentator siapapun, hanya saja caranya berbeda. Mudah mudahan saya lebih arif saja..

  • aminhers
    July 12, 2008 at 9:20 pm

    Rumahku sorgaku. Blogku sorgaku.So kalau ada orang yg ngobok2 rumah/Blog, ya kita “Del” aja. Gak usah pusing Mas Iman, jangan sampai berhenti berkreasi. Sukses slalu.

  • zen
    July 12, 2008 at 9:51 pm

    keputusan ini tentu sudah dipikirkan. jadi, kenapa mesti minta maaf, mas?

  • pakde'
    July 12, 2008 at 10:02 pm

    Saya kebetulan baru mampir nih mas, Mungkin orang itu lupa, kalau setiap kepala itu memiliki pemikiran yang berbeda. Bayangkan kalau semua pikiran sama, berarti saya bisa donk minjem kepala si a si b si c kepala siapapun lah. Saya setuju bagusnya dia menjelaskan informasi tambahan yang cukup jelas jika memang tahu persis sejarah ataupun data yang berhubungan dengan postingan mas seno. Bersyukurlah karena peristiwa ini ternyata memberikan dampak yang cukup berarti buat temen2 blog lainnya.

  • suprie
    July 13, 2008 at 12:27 am

    tes komeng…

    yah, klo saya pikir sih, itu tanda – tandanya blog ini udah masuk blog – blog selebriti :D. Makanya banyak yang syirik

  • dian
    July 13, 2008 at 10:00 am

    bener2x pain in the butt yak hwaaaaaaaaaaaaaaaaaa

  • Fitra
    July 13, 2008 at 11:55 am

    Anggep aja mas dia punya perhatian khusus buat sampeyan….yaa mungkin juga dia naksir sampeyan (sekarang taksir menaksir toh tidak mempermasalahkan gender kan, hihihihi)…..itu salah satu cara dia menarik perhatian sampeyan yang fans blognya bejibun ini….kalo ndak gt mungkin sampeyan ga notice sama dia….wahahahhaha…..*dibalang teklek*

  • venus
    July 13, 2008 at 2:20 pm

    dengan alasan yg kurang lebih sama, saya mulai pakai moderasi untuk tiap komen yg masuk. maaf kalo gak nyaman. tapi percayalah, selama ga ada komen yg tendensinya aneh2, anda semua AMAN, hehehe…

1 2

Leave a Reply

*