28 September 2008

Laskar Harapan

Posted by iman under: FILM; KESEHARIAN; REFLEKSI .

Apa yang bisa kita lihat dari sebuah tafsir ? Kejujuran atau justru sebuah metamorfosa pola pikir yang melompat jauh. Jelas Riri Riza telah melakukannya dalam film ‘ Laskar Pelangi ‘. Sebuah terjemahan dari memoar sporadis si penulis Andrea Hirata. Disini kekuatan Riri dalam mengemas sebuah cerita tidak melulu menjadi cerita anak anak biasa – kenakalan dan kejeniusan belaka – tetapi menjadi protes sosial terhadap perusahaan raksasa sebagai latar belakang.
Saya teringat “ Petualangan Sherina “ dari delapan tahun lalu, dimana ada simbol perlawanan antara si anak anak dengan tokoh jahat dari perusahaan yang ingin menguasai asset tanah.

Lebih setahun lalu saya sempat ngobrol ngobrol dengan Riri dan Mira Lesmana di Star Buck Kemang. Ngalor ngidul urusan MFI dan ujungnya saya menggelitik dengan pertanyaan.
“ Katanya mau buat film anak anak lagi ? “
Karena saya tahu mereka memiliki integritas tidak asal membuat film, seperti horror kuntilanak atau cinta memble. Barangkali memang kelebihan Riri dengan latar belakang dokumenternya yang kental. Ia selalu bisa mengangkat sebuah issue issue sosial melalui mata anak dengan jujur. Lihat saja dokumenter ‘ Anak seribu Pulau ‘ nya. Mendadak kita begitu mencintai keanekaragaman negeri ini melalui penuturan anak anak.

Ini memang bukan tafsir mimpi. Dalam dalam bukunya, Andrea menyukai hiperbola. Ia gemar memakai kata kata ajaib atau bahasa ilmu pengetahuan. Sementara kosa kata Ibu Muslimah di novel yang kadang ganjil untuk ukuran ibu guru di daerah terpencil atau kejeniusan Lintang yang terlalu over.
Riri justru menafsirkan dengan adegan yang lebih membumi. Mengganti Tennesse Waltz yang dinyanyikan Mahar dengan Bunga Seroja yang terasa nuansa melayunya. Lintang tak perlu berdebat tentang rumus Newton yang muskil, karena Riri menggantinya dengan adegan yang lebih wajar bagi anak seusianya. Riri membuat menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari hari.

Film memang berbeda dengan buku. Tidak bisa semua kompleksitas penokohan ditampilkan. Dalam film harus kompromi dan focus dengan pilihan tertentu. Ini membutuhkan tafsir yang brilian dari sutradara. Penulis kondang seperti JK Rowling bisa saja gelagapan untuk menuangkan tafsir sinematografi atas bukunya sendiri.

Saya justru kuatir bahwa banyak penonton, dan anak anak kota besar yang tak bisa membayangkan tafsir kritik sosial dari film ini. Bahwa ini cerita tentang orang orang yang terpinggirkan dan seolah tak memiliki masa depan. Kesan yang dibuyarkan begitu mereka melangkah keluar dari gedung bioskop, karena para generasi wangi wangi hanya melihat dari bungkus setting alam Belitung yang indah, keriangan dan kenakalan disana.
Jauh diluar jangkauan tafsir mereka, bahwa masih ada sekolahan yang begitu reyot dan hampir roboh. Ah, itu khan bisa bisanya film.

Jauh ribuan kilometer dari Selat Bangka menuju laut midetarania. Pierre Brosnan dan Merryl Streep melenggak lenggok bernyanyi atas nama laskar cinta. Tak memerlukan tafsir menonton film musical “ Mama Mia “ dengan setting pantai dan rumah rumah eksotis di Yunani. Selalu ada happy ending untuk sebuah romansa percintaan. Tafsir yang diminta sebagaian besar penonton. Unsur penting menentukan film itu laku atau tidak.
Walau tak ada yang istimewa kecuali soundtrack ABBA yang membuat hati saya meluap luap gembira. Padahal generasi disebelah saya – Ungu fans club – akan keheranan.
“Lagu lagu apaan itu…jadul amat “ .
Padahal siapa tahu Ikal menyanyikan lagu Take a chance on me saat perjumpaan pertamanya dengan A Ling.

Dalam memenuhi undangan berbuka di padepokan rumah sawah Medina dan kang masnya di dusun Kaliwaru. Diantara jalan tembus dari Sleman menuju Kaliadem Gunung Merapi. Teman jeng jeng baru saya, Dipto begitu riang bermain main di kali kecil sambil menunggu berbuka puasa – ikan nila bakar, botok teri dan lalapan – sejam lagi. Menggulung celananya , menangkapi kerang dan ketam di kali dingin yang mengalir deras.
Inilah kenangan masa kecil yang tiba tiba bisa melankolik, karena lahir sebagai anak petani di desa.

Inilah semua tafsir kehidupan yang sebenarnya dekat dengan keseharian kita. Pulau Belitung, Yunani sampai Petani sayur yang kebingungan menjual panennya di dusun Kaliwaru. Kita melihat begitu banyak ketidakadilan dan kesewenang wenangan. Namun justru selalu ada sesuatu yang berangkat dari keputus-asaan. Perjuangan hidup membuat kita lekat dengan apa yang dinamakan harapan.
Percayalah itu yang membuat kita tetap hidup.
Bahwa pelangi bisa muncul dari sebuah hujan badai.
Medina juga melihat pelangi di perbatasan sawah dan kolam kolam ikan yang didatangi burung burung kuntul setiap sore. Sambil berjalan diantara semburat matahari sore yang begitu bagus. Menyusuri pematang sawah dan kebun kebun cabai, tomat. Sepertinya saya mendengar ia bersenandung lagu ABBA. Sebuah tafsir lain.

I don’t wanna talk
If it makes you feel sad
And I understand
You’ve come to shake my hand
I apologize
If it makes you feel bad
Seeing me so tense
No self-confidence
But you see

The winner takes it all

The winner takes it all…

64 Comments so far...

pinkina Says:

3 October 2008 at 7:54 pm.

novelnya bagus, filmnya juga bagus, tapi bagus menurutku di sini yha bagus dalam artian bagus dalam dunia masing2.Novelnya bagus yha menurut dunia novel, filmnya bagus juga menurut dunia film. Wong film sama novel itu beda… hehehe….oh yha 1 lagi yg bikin film ini keliatan bagus, yaitu ceritanya tidak tentang setan2an ato pocong2an hehehe…

Met Idul fitri yho mas Iman, maaf lahir dan batin.

yuki tobing Says:

3 October 2008 at 11:12 pm.

Ah, sayang filmnya keluarnya tgl 25 kemaren, saya tgl 21 sudah harus kembali lagi, jadi gak sempat nonton, menunggu ada yang ngupload di youtube aja kali yah. 😀

Penasaran, novelnya benar2 fantastis.

iks Says:

4 October 2008 at 8:44 am.

yang jelas satu film dengan tema yang beda, sesuatu yang nyata yang memang terjadi.

scene yang paling saya suka, pas Mahar jemur baterei di atap, realita banget 😀

ika Says:

4 October 2008 at 6:59 pm.

aku udah nonton laskar.. dan jatahnya desember ke belitung nih..
mas ini telp dan alamat hotel kresnanya
Jl P Ronggolawe 30 WONOSOBO 56311
No Telepon: 0286-324595

Thomas Arie Says:

5 October 2008 at 12:51 am.

Pas pertama mau nonton, batal. Antriannya horror banget… Tsk.

Fitra Says:

5 October 2008 at 7:57 am.

Baru kali saya lebih suka sebuah film ketimbang novelnya, film laskar pelangi memang terasa lebih masuk akal….walau cut mini banyak nyelip memakai dialek bahasa melayu malaysia bukan belitung, tapi tetap saya suka dengan actingnya!

Mamamia? Wahhhh film itu bener2 menghibur, walau agak ilfil aja liat si ganteng brosnan itu nyanti 😀 ! Saya suka ABBA dari koleksi lagu2 ayah saya

rackoen Says:

6 October 2008 at 2:56 pm.

setelah ini mungkin satu lagi film yang aku tunggu, SOEKARNO by Iman Brotoseno. salam mas 🙂

bocah_ilang Says:

10 October 2008 at 10:04 pm.

Baca novelnya dah setahun yg lalu,tp nonton pelmnya br besok,itu pun dpt gratisan,nasib2x…Laskar pelangi kalo diEnglishkan jd Rainbow Warrior,keren khan?itu nama slh satu kapal Green Peace.Siapa terinspirasi siapa?

indi Says:

13 October 2008 at 9:04 pm.

@bocah_ilang, bener Laskar Pelangi kalo diinggrisin jadi Rainbow Warrior. Dan gara2 itu waktu di sekitar bulan November tahun 2005 liat buku Laskar Pelangi di rak Gramedia dan liat nama pengarangnya Andrea Hirata, saya sempat berpikir wah paling juga ini cerita tentang kapalnya Green Peace dan pengarangnya perempuan Jepang (abis namanya Andrea Hirata sih). Akhirnya saya nggak tertarik ambil tuh buku dari rak. Baru tau kehebatan buku ini setelah nonton acara Kick Andy di youtube, telat banget. Tapi gpp lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Cuma sekarang saya nggak bisa nonton filmnya, baru bisa pulang ke Indonesia tahun depan. Duh padahal pengen banget ngerasain nonton film ini di bioskop, ketawa, nangis dan merinding bareng2 ratusan orang. Pasti sensasinya beda dibanding nonton DVD sendirian di rumah.

sesy Says:

16 October 2008 at 6:08 pm.

numpang tanya, anak seribu pulau itu ada dvd nya gak ya??? bisa di dapat dimana ya???

Sharon Says:

16 October 2008 at 11:45 pm.

Keren ya Riri sama Mira 🙂

aDhiNi Says:

19 October 2008 at 12:54 am.

Namun justru selalu ada sesuatu yang berangkat dari keputus-asaan. Perjuangan hidup membuat kita lekat dengan apa yang dinamakan harapan.
Percayalah itu yang membuat kita tetap hidup.
Bahwa pelangi bisa muncul dari sebuah hujan badai.

kata2 diatas begitu menampar-nampar otak saya. thx mas iman! dapet kata2 bagus darimu 🙂

Dhani hargo Says:

21 October 2008 at 8:44 pm.

OSTnya jelek jelek

nanang Says:

24 October 2010 at 1:54 pm.

riri & mira emank hebat
gw suka hasil karya’a

Leave a Reply

*

Mencari Jawaban

Artis tend to be dark, worried and superstitious creatures. This is not bad. It makes me perfectionist, it makes me care. Moreover the ability to see the darker side of life is an asset not just directing dramatic and tragic movies, but also for directing comedy, since comedy often has pain inside it. Do you believe that life and film tragically too close together ? I do ...
www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from Iman Brotoseno. Make your own badge here.


Categories

Archives

Hot Topics

Spice of Life


Why Blog ?

Why the BLOG will change the world ?The explosion of blogs throughout the world has been the biggest phenomenon since the rise of the Internet itself. Today, more people read blogs than newspapers. Blogs are just a tool, of course. It’s the bloggers behind the blogs that will make the difference. Here's Why

Blog lama saya masih dapat dilihat disini

( DISCLAIMER ) Photo dan Gambar Ilustrasi kadang diambil dari berbagai sumber di internet - GETTY IMAGES dan CORBIS selain photo teman dan milik saya sendiri. Kadang kala sulit untuk menemukan pemiliknya. Jika ada yang merasa keberatan bisa menghubungi untuk dicantumkan namanya.

Subscribe this blog

  Subscribe in a reader
Enter your email address:
  
Delivered by FeedBurner
October 2018
M T W T F S S
« Sep    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031