18 August 2009

Riwu Ga dan Kemerdekaannya

Posted by iman under: BERBANGSA; REFLEKSI; SOEKARNO .

Hiruk pikuk pemuda yang kecewa memenuhi teras halaman rumah Jl Pegangsaan 56 Jakarta. Mereka ada yang bersenjata klewang dan kecewa karena terlambat menyaksikan Proklamasi yang sudah diucapkan beberapa waktu yang lalu. Soekarno menolak mengulang membacakan proklamasi lagi.
Suasana panas. Sebagian orang termasuk Mohammad Hatta sudah meninggalkan kediaman Soekarno. Riwu Ga, putera dari pulau Sabu, Flores diam diam memperhatikan dari balik pintu. Tangannya mengepal dan matanya menatap tajam situasi panas itu.

Ia sudah mengikuti Soekarno sejak tahun 1934, ketika ia dibuang di Pulau Flores. Ada beberapa putera flores yang tinggal di rumah pengasingan itu. Riwu adalah yang paling muda. Ia bertugas menyiapkan makanan dan minuman untuk Bung Karno.

Ketika diasingkan ke Bengkulu, Riwu diminta Soekarno untuk ikut dengannya. Sehingga secara adat ia harus dilepas, karena Riwu merupakan anak sulung di keluarganya. Ia kelak akan menggantikan ayahnya menjadi tetua adat. Sekaligus ndu namatu. Penjinak petir, badai dan semua bahaya dari langit.
Kelak tak ada yang tahu kalau Riwu Ga adalah corong kemerdekaan yang pertama. Setelah para pemuda pulang. Soekarno memanggil Riwu dan memerintahkan mengabarkan kepada rakyat Jakarta bahwa kita sudah merdeka. ” “Angalai (sahabat), sekarang giliran angalai,” lalu Bung Karno melanjutkan instruksinya, “sebarkan kepada rakyat Jakarta, kita sudah merdeka. Bawa bendera.” Waktu itu hampir mustahil menggunakan radio, mengingat fasilitas masih dikuasai Jepang.

Dengan menaiki jip terbuka yang disupiri Sarwoko, Adiknya Mr. Sartono, sahabat Soekarno dari PNI. Riwu berteriak dengan megaphone di jalan jalan dan gang gang Jakarta mengabarkan. Indonesia sudah merdeka. Rakyat yang tadinya diam tak percaya akhirnya bersorai sorai. Bahkan ada yang menangis.

Kesederhanaan adalah ciri orang orang yang merdeka. Sampai sekarang sebuah ide besar tentang Indonesia ternyata dibangun tidak saja oleh orang orang besar, politikus, tentara, sastrawan, ilmuwan bahkan pengusaha. Tapi juga para rakyat kecil yang tidak pernah berpretensi apapun. Rakyat kecil yang selalu sederhana, tulus dan tak pernah meminta secara berlebihan dari negerinya.
Sejarah juga mengajarkan selalu ada orang orang kecil yang tak pernah tahu bahwa keringat, darah dan doanya membawa perubahan dalam perjalanan bangsa ini.

Leo Kristi mengingatkan kita untuk menjaga negeri ini dengan caranya sendiri, melalui lagu. Konser rakyat semalam di Taman Ismail Marzuki dibuka dengan semua penonton berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya. Berbeda kontras dengan anggota dewan yang justru lupa menyanyikan lagu ini, pada rapat paripurna dan pidato kenegaraan Presiden tanggal 14 Agustus 2009 lalu.

Tiba tiba saya bertanya tanya. Kapan terakhir menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Rakyat tumpah ruah menyaksikan konser gratis mensyukuri kemerdekaan. Dalam lengkingan suara Leo Kristi dan Sisilia Fransisca. Jauh dari hiruk pikuk seremonial. Leo telah mencekram dengan nafas kecintaan yang luar biasa terhadap negeri ini, tanpa basa basi.

Ketika ditemui wartawan Peter A Rohi periode tahun 90an, di Flores pada hari kemerdekaan. Riwu Ga yang terbungkuk tua, sedang menggarap ladang tanah tandusnya. Ia tak pernah diundang hadir dalam peringatan kemerdekaan di kelurahan , kecamatan, bahkan di propinsi. Tak ada orang atau pejabat yang tahu bahwa dia adalah corong kemerdekaan Indonesia yang pertama.
Riwu Ga tidak perduli, dan ia juga tidak berharap apapun. Indonesia merdeka adalah karunia dan sudah selayaknya disyukuri. Kesetiaan Riwu untuk ‘ menjaga’ Bung Karno tanpa pamrih. Dia tidur menemani di lantai kamar Soekarno atau di depan pintu ketika Fatmawati sudah resmi menjadi istri.
Setelah Indonesia merdeka. Soekarno mengatakan ke Riwu, karena sudah menjadi Presiden maka protokoler yang akan mengambil tugas menjaga. ” Kau tidak bisa lagi tidur di depan kamarku “. Sejak itu Riwu memutuskan kembali pulang ke tanah kelahirannya.
Ketika Soekarno datang ke Ende, tahun 50an, ia memerintahkan memanggil Riwu Ga. Malam malam itu Riwu Ga kembali menjaga Presidennya, tidur di depan pintu kamarnya.

Demikian pula Leo Kristi, yang terus menyanyikan suara suara rakyat, walau ia tahu nyanyiannya akan tergerus oleh lagu lagu pop masa kini.

Barang kali dalam peringatan hari kemerdekaan ini, kita membutuhkan sesuatu kesederhanaan perilaku dan sikap. Sesuatu yang hilang sejak lama. Dalam perjalanan menuju Taman Ismail Marzuki di Cikini, kami melewati rumah rumah di Menteng, yang dipenuhi mobil mobil yang parkir di pinggir jalan. Ada pesta dimana mana.
Saya jelaskan kepada teman teman blogger BHI yang ikut bersama nonton konser rakyat, bahwa sudah jamak bagi petinggi negeri, pensiunan jendral untuk membuat keramaian syukuran di rumahnya pada hari kemerdekaan.
Tidak ada yang salah memang. Bukankah semua punya hak untuk mensyukuri hari jadi negerinya.

Tentu tak dapat disamakan dengan Bung Karno, ketika mensyukuri kemerdekaan negerinya. Jaman memang berubah. Sehari setelah proklamasi Soekarno ditetapkan sebagai presiden. Ia menikmati pengangkatannya dengan memanggil tukang sate yang bertelanjang dada.
“ Sate lima puluh tusuk “ pintanya.
Sambil duduk dekat selokan, ia menikmati pesta kemerdekaan negerinya.
Dirgahayu negeriku.

foto/catatan Riwu Ga – Peter A Rohi

33 Comments so far...

yok Says:

18 August 2009 at 5:25 pm.

“Kesederhanaan adalah ciri orang orang yang merdeka”

mantab ini

Helene Says:

18 August 2009 at 5:56 pm.

Dan pada pesta kemerdekaan Indonesia, di KBRI yang berada Paris, sang MC memakai bahasa Perancis!!!!

Oca Says:

18 August 2009 at 6:01 pm.

Makasih mas untuk informasinya…

lance Says:

18 August 2009 at 10:09 pm.

Kemerdekaan sejati adalah keberanian mengatakan kata hati..
( kata siapa )

gagahput3ra Says:

19 August 2009 at 4:35 am.

Sampe sekarang kalimat Soekarno yang sate itu masih jadi kalimat favorit saya karena bikin jadi laper & justru yang paling menggambarkan kegembiraan Indonesia waktu itu 😀

DV Says:

19 August 2009 at 5:56 am.

Hhhhhh.. tulisan ini khas ImanBrotoseno banget:)
Penuh alur dan perbandingan yang sangat baik 🙂
Thanks untuk info, baru tahu bahwa orang yang menjadi corong pertama adalah Riwu Ga itu.

Ardiansyah Says:

19 August 2009 at 6:00 am.

Merdeka, dan jaya Bangsaku

Fenty Says:

19 August 2009 at 6:55 am.

Memang hebat orang yang hidup dalam kesederhanaan 🙂

edratna Says:

19 August 2009 at 7:07 am.

Mas, kok komentarku ditelan akismet?

rozy Says:

19 August 2009 at 7:15 am.

saya suka sekali tulsian dari mas iman ini
meskipun saya baru baca di sini
keren
salut mas

kanglurik Says:

19 August 2009 at 7:53 am.

Pejuang memang belum tentu diabadikan sebagai pehlawan. Dan di negeri ini banyak sekali nasib pejuang kemerdekaan yang masih seperti dulu.
Mereka masih berjuang demi sesuap nasi untuk menyabung hidupnya esok….

bangsari Says:

19 August 2009 at 7:59 am.

Leo Kristi emang top. Bahkan bagi orang yang tak tahu musiknya, seperti saya, pun merasakan suasana yang asyik. Berdendang dan bergoyang. merasakan kecintaan dengan sudut pandang yang serba positif tentang indonesia. keren…

hedi Says:

19 August 2009 at 9:47 am.

waktu Indonesia Raya kemaren, aku ga ikut nyanyi secara bersuara, tapi nyanyi dalem hati, semoga ga salah 😀

Iman Says:

19 August 2009 at 10:30 am.

bu enny endratna,..yang mana bu ? nggak ada komen yang dimoderasi kok

Sembilan Says:

19 August 2009 at 10:31 am.

Leo Kriti seniman yang sangat merakyat, tidak mau dibayar malah

arham blogpreneur Says:

19 August 2009 at 12:00 pm.

kesederhanaan sikap
suatu yang hilang …. tapi jangan pula kita ber-pura pura berkesederhanaan

David Says:

19 August 2009 at 1:55 pm.

kadang yang tulus memang harus menghilang…,hikshiks….

btw saya juga jualan sate lho hihihih, moga2 ketemu presiden pesta bloger 09 aka manusia kursi… hiiiiiiiiiii

afreeze Says:

19 August 2009 at 11:50 pm.

64 tahun apakah sudah terlalu tua sehingga banyakan pikun??

rasanya tidak!

KangBoed Says:

20 August 2009 at 12:04 am.

Saya mengucapkan SELAMAT menjalankan PUASA RAMADHAN.. sekaligus Mohon Maaf Lahir dan Bathin jika ada kata kata maupun omongan dan pendapat yang telah menyinggung atau melukai perasaan para sahabat dan saudaraku yang kucinta dan kusayangi.. semoga bulan puasa ini menjadi momentum yang baik dalam melangkah dan menghampiriNYA.. dan menjadikan kita manusia seutuhnya meliputi lahir dan bathin.. meraih kesadaran diri manusia utuh.. meraih Fitrah Diri dalam Jiwa Jiwa yang Tenang

Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

Sarah Says:

20 August 2009 at 12:40 am.

Semoga menjadi Indonesia yang lebih baik

Lex dePraxis Says:

20 August 2009 at 9:44 am.

Sate lima puluh tusuk, benar-benar merdeka. 😀

Salam kenal.

racheedus Says:

20 August 2009 at 10:58 am.

Selalu saja ada sepotong cerita unik di balik narasi besar yang beredar di masyarakat. Mas Iman selalu saja punya cerita seperti itu. Salut, deh.

Embun Says:

20 August 2009 at 5:01 pm.

Jika Riwu Ga adalah corong kemerdekaan pertama dalam negeri, mungkin nama K’tut Tantri bisa disebut sebagai corong kemerdekaan pertama untuk luar negeri. cmiiw.

Surabaya Sue - Tetes Embun dotORG Says:

20 August 2009 at 5:12 pm.

[…] Jika Ketut Tantri berhasil menjadi corong kemerdekaan RI pertama ke luar negeri, maka Riwu-Ga adalah corong kemerdekaan RI dalam negeri yang […]

kombor Says:

20 August 2009 at 6:46 pm.

Banyak tokoh seperti Riwu Ga, yang tidak pernah diundang ke Kelurahan, Kecamatan atau kabupaten setiap 17-an. Akan tetapi, saya yakin bahwa mereka memaknai kemerdekaan itu lebih dalam daripada undangan-undangan upacara kepada mereka.

Dirgahanyu Republik Indonesia!

novanov Says:

21 August 2009 at 5:14 am.

sederhana memang selalu penuh makna

wahyu hidayat Says:

21 August 2009 at 1:31 pm.

saya selalu suka bagian terakhir tulisan mas iman. Nice !!!

Ismawan Says:

22 August 2009 at 10:41 am.

Lagu ‘Indonesia Raya’ memang selalu berhasil menggugah perasaan saya, semoga hal yg sama terjadi dengan bapak-ibu anggota dewan yang terhormat… 🙂

BTW, terima kasih Mas, informasinya. Selalu ada informasi dan fakta yg saya baru ketahui dari tulisan-tulisan Mas Iman…

ivan Says:

28 August 2009 at 10:18 am.

Riwu Ga kayak Paul Revere, ya mas Iman…….

Sam Says:

29 August 2009 at 2:57 pm.

patriotisme natural agak susah sekarang di tumbuhkan…. kalau ada ancaman atau kemalingan dari negri tetangga pada rame2 berteriak :). tapi bagaimanapun inilah wajah diri kita. Bukan gitu mas

yudi Says:

11 April 2012 at 12:46 pm.

bersyukur saya bs menemukan blog mas iman ini,
setelah saya ikuti satu persatu tulisan mas imam,
makin terbuka semuanya.
pkoknya hebring dech…!!!
karena almarhumah ibu saya termasuk salah satu pecinta sang Proklamator Soekarno.
tp baru kali ini saya tau sejarah yg lebih lengkap tentang beliau.
ga lupa saya jg ijin share mas…
makasih..

arievrahman Says:

13 December 2013 at 9:49 am.

Ah, jadi ini kisah Riwu yang sebenarnya.
Putra Flores memang dikenal karena loyalitasnya, bukan?

likyled Says:

13 December 2013 at 10:38 am.

riwu ga itu putra sabu (pulau sebelah selatan indonesia) yang merantau ke flores.

Leave a Reply

*

Mencari Jawaban

Artis tend to be dark, worried and superstitious creatures. This is not bad. It makes me perfectionist, it makes me care. Moreover the ability to see the darker side of life is an asset not just directing dramatic and tragic movies, but also for directing comedy, since comedy often has pain inside it. Do you believe that life and film tragically too close together ? I do ...
www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from Iman Brotoseno. Make your own badge here.


Categories

Archives

Hot Topics

Spice of Life


Why Blog ?

Why the BLOG will change the world ?The explosion of blogs throughout the world has been the biggest phenomenon since the rise of the Internet itself. Today, more people read blogs than newspapers. Blogs are just a tool, of course. It’s the bloggers behind the blogs that will make the difference. Here's Why

Blog lama saya masih dapat dilihat disini

( DISCLAIMER ) Photo dan Gambar Ilustrasi kadang diambil dari berbagai sumber di internet - GETTY IMAGES dan CORBIS selain photo teman dan milik saya sendiri. Kadang kala sulit untuk menemukan pemiliknya. Jika ada yang merasa keberatan bisa menghubungi untuk dicantumkan namanya.

Subscribe this blog

  Subscribe in a reader
Enter your email address:
  
Delivered by FeedBurner
September 2021
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930