11 December 2018

Dibalik kisah dalam pembebasan sandera di Irian Jaya 1996

Posted by iman under: Militer; ORDE BARU; POLITIK; SEJARAH .

Tanggal 8 Januari 1996, Kodim Jayawijaya, Irian Jaya, menerima laporan dari Mission Aviation Fellowship cabang Wamena, bahwa sejumlah peneliti yang tergabung dalam Ekspedisi Lorentz ’95 disandera kelompok OPM Kelly Kwalik di desa Mapenduma, Kecamatan Tiom, Kabupaten Jayawijaya. Adanya penculikan dan penyanderaan tidak membuat ABRI kelabakan, sebab sudah siap dengan pasukan dan perlengkapan. Restu Pangab Jend Feisal Tanjung untuk mengerahkan pasukan sudah di tangan. Beruntung, Letjen Soeyono telah mengeluarkan warning order sebelumnya.

Hanya Soeyono menangkap adanya kejanggalan pada saat ia meminta rencana operasi pembebasan sandera tersebut. Dalam suatu briefing yang membahas rencana operasi itu, Danjen Kopassus Brigjend Prabowo Subianto hanya mengirim wakilnya, Kolonel Idris Gasing. Soeyono meminta Kolonel Idris untuk memberikan gambaran konsep pengerahan pasukan apabila nanti diperlukan. Entah kenapa, Kol Idris menjawab bahwa ia tidak diijinkan oleh komandannya ( Prabowo ) untuk memaparkan garis besar rencana operasi pembebasan sandera.

“ Aneh, padahal saya yang mempunyai kewenangan memberikan warning order “. Soeyono merasakan keanehan dan lebih itu adanya pembangkangan, karena penolakan dari bawahan Prabowo kepada Letjen Soeyono yang secara hirarki lebih tinggi.

Soeyono menduga Prabowo akan menjadikan operasi pembebasan sandera sebagai upaya menyulam kesuksesan kesuksesan sebagai komandan pasukan elite Indonesia. Sebelumnya Pangab Jend Feisal Tanjung sudah memerintahkan agar penanganan tugas operasi pembebasan sandera diserahkan kepada perwira menengah berpangkat Kolonel, dan tidak perlu perwira tinggi.

Keputusan Pangab membuat Prabowo jengkel karena tidak bisa memimpin operasi yang bergengsi ini. Namun menurut Soeyono, tidak sepantasnya Prabowo memerintahkan bawahannya menolak membeberkan konsep operasi kepada Mabes ABRI. Penyimpangan prosedur ini sudah dilaporkan Soeyono kepada atasanya Pangab Jenderal Feisal Tanjung, termasuk kebiasaannya yang salah, yakni sering pergi keluar negeri tanpa ijin atasan.

Operasi pembebasan sandera dilakukan dengan mengerahkan personel dan perlengkapan khusus yang dipimpin Prabowo sendiri, meski Pangab kurang menyetujui seorang perwira tinggi memimpin operasi ini. Untuk memantau jalannya operasi, akhirnya Pangab memerintahkan Kepala Badan Intelejen ABRI – KABIA, Mayjen Syamsir Siregar untuk iikut dalam operasi ini.

Kehadiran perwira tinggi di Kodam VII / Trikora tentu merepotkan Pangdam Mayjen Dunidja, khususnya Prabowo yang sering bertindak melewati jalur jalur resmi yang berlaku. Ada serentetan peristiwa yang terjadi dalam upaya pembebasan sandera saat itu. yakni penembakan di hangar udara oleh Letnan Sanurip, seorang prajurit Kopassus.

Sanurip adalah seorang penembak jitu ( snipper ) yang diterjunkan di daerah operasi untuk pembebasan sandera. Karena stress karena proses persiapan operasi, pada suatu subuh ia nekad menembaki siapa saja yang dilihatnya di Kawasan landasan lapangan terbang Timika. Sekitar 15 orang anggota Kopassus tewas terbunuh, termasuk Letkol Inf Adel Gustinigo, Komandan Den-81 yang saat itu menjadi orang kepercayaan Prabowo.

Sanurip kemudian ditangkap dan dibawa ke Jakarta. Namun pemeriksaan terkesan ditutup tutupi oleh pihak Kopassus. Tim dari Puspom ABRI tidak dapat memeriksa Sanurip. Komandan Puspom ABRI, Mayjen Syamsu Djalal melaporkan hal ini ke Letjen Soeyono. Akhirnya setelah Soeyono memerintahkan Prabowo, barulah tim Puspom ABRI bisa memeriksa Sanurip. Namun lagi lagi tim Puspom ABRI di kemudian hari mendapat hambatan, karena mereka dilarang masuk ke ksatrian Kopassus.

Prabowo sendiri langsung mengambil alih pemeriksaan dan mengambil kesimpulan sendiri bahwa Sanurip merupakan personil yang mental ideologinya harus dicurigai karena latar belakang keluarganya yang komunis. Tak berapa lama, tiba tiba terdengar kabar kalau Sanurip meninggal bunuh diri di dalam sel.

Mayjen Syamsu Djalal mengenang “ Sanurip dipaksa Prabowo untuk tidak menceritakan secara detail. Nampaknya Prabowo khawatir Sanurip akan mengungkapkan hal hal yang dapat membuka aibnya “

Kembali pada operasi pembebasan sandera yang terus dilanjutkan karena berpacu dengan waktu. Suatu hari Letjen Soeyono mendapat telepon dari Mayjen Syamsir Siregar di Irian Jaya yang menginformasikan bahwa pasukan telah mengendus penyandera dan orang orang yang disandera. Posisi mereka telah diketahui termasuk jumlah orang yang berkumpul serta koordinatnya.

Kemudian dari lokasi, Prabowo menelpon Letjen Soeyono untuk meminta ijin membawa pasukannya segera ke lokasi yang telah diketahui sebelumnya. Soeyono mengatakan ia harus meminta ijin Pangab terlebih dahulu yang saat itu sedang berada di Jawa Timur. Berkali kali Soeyono berusaha menghubungi Pangab Jend Feisal Tanjung, namun tidak berhasil mendapatkan kontak. Sampai datang lagi telepon dari Prabowo yang mengatakan bahwa awan mendung sudah menggantung dan akan menutup langit di sekitar daerah sasaran dalam waktu 10 menit lagi.

Soeyono lalu mengecek laporan Prabowo kepada Mayjen Syamsir Siregar yang membenarkan kondisi itu. Kemudian Soeyono bertanya kepada Prabowo, berapa persen kemungkinan keberhasilan operasi hari itu.

“ 80 sampai 90 persen “ Jawab Prabowo dengan yakin.

Maka Soeyono memutuskan untuk menyetujui permintaan Prabowo agar memberangkatkan pasukan ke lokasi, sementara ia berusaha mencari hubungan dengan Pangab di Jawa Timur, untuk melaporkan situasi terakhir sekaligus permintaan Prabowo tersebut.

Namun pada menit pertama, Soeyono mendapat laporan bahwa helicopter yang mengangkut pasukan mengalami kecelakaan fatal. Heli naas yang diterbangkan Lettu CPN Agus Riyanto dan Lettu CPN Tukiman jatuh terjerembab. Ekornya menghantam pohon dan terbalik. Namun karena misi belum selesai, kecelakaan ini tidak menghentikan jalannya operasi.

“ Laporan 80 sampai 90 persen ternyata omong kosong belaka dan merupakan suatu kecerobohan “ tukas Soeyono. Prabowo merasa terpukul dengan kecelakaan yang menimpa pasukannya. Kelak ketika operasi sudah selesai, Prabowo menangis kepada Mayjen Syamsir Siregar untuk meminta mundur dari tentara. Serta merta Mayjen Syamsir Siregar menasehati agar jangan cengeng.

Pasukan tambahan diturunkan dengan tali. Karena ternyata kelompok Kwalik yang dicari tidak ada di lokasi yang diburu. Kondisi ini sangat mengecewakan Prabowo sendiri, karena awalnya data posisi mereka sudah sangat akurat sehingga Prabowo berani memutuskan untuk melakukan aksi. Apakah ada kebocoran informasi?

Hari pun sudah mulai sore, sehingga akhirnya misi pengejaran dibatalkan. Pasukan yang sudah di lokasi memutuskan untuk bermalam di situ sambil menjaga reruntuhan pesawat dan mengevakuasi korban,yaitu pilot Lettu Agus Riyanto, Serka Suparlan (teknisi), Lettu Inf Umar dan dua bintara dari Kopassus.

Malam itu mereka lalui dalam kesedihan sambil memanjatkan doa kepada Tuhan untuk mereka yang gugur. “ Malam itu cukup hening karena operasi pembebasan sandera tidak berhasil, tempat yang dicari sudah kosong, malah kami kehilangan teman dan heli crash. Kami bersedih sambil menyusun rencana besoknya,” kata Lettu CPN Eko Priyanto salah satu pilot Heli yang tinggal di lokasi.

Tidak mau menyesali apa yang sudah terjadi, besoknya pagi-pagi sekali operasi kembali dilakukan. Satgas akan membuat pagar betis dan menutup jalur-jalur yang kemungkinan menjadi akses pelarian bagi OPM. Heli-heli Penerbad melaksanakan operasi yang cukup sulit, yaitu menurunkan pasukan di ketinggian di atas 6.000 kaki, termasuk pasukan tambahan dari regu Rajawali yang sudah disiapkan.

Pasukan-pasukan inilah yang menjepit posisi kelompok Kwalik dari berbagai arah sehingga terkonsentrasi di sebuah tempat. Menurut analisa pasca kejadian, Kwalik dan kawan-kawan beserta para sandera sepertinya berusaha menghindari pasukan dari ketinggian yaitu Kopassus dan Rajawali, sehingga memilih maju ke depan.

Di situlah mereka berpapasan dengan tim dari Yonif 330 yang dipimpin Kapten Inf Agus Rohman, yang baru saja sehari dikirim dengan heli sebagai pasukan penutup. Hari itu, 15 Mei 1996, pasukan pemburu berhasil menyelamatkan sembilan sandera. Kaget karena bertemu pasukan pemburu Kostrad, sebagian gerombolan memilih kabur termasuk Kwalik sendiri. Namun beberapa orang meninggal diterjang timah panas sebelum sempat menghilang.

Malang bagi dua sandera. Mereka dibacok oleh beberapa anggota OPM. Keduanya, Navy Panekenan dan Yosias Mathias Lasamahu, keduanya warga negara Indonesia, meninggal kemudian dan ditemukan esok harinya. Berita ini langsung diterima Prabowo yang menunggu di Kenyam. Operasi pembebasan sandera di Mapenduma memang tergolong sukses, sekaligus mencatat sebagai sebuah operasi militer yang melibatkan begitu banyak helicopter. Bagi Penerbad dan mungkin juga Kopassus, ini adalah operasi terbesar yang pernah mereka laksanakan secara bersama.

( Sebagaimana disadur dari biografi Letjen Soeyono ‘ Bukan Puntung Rokok “ dan Majalah Angkasa )

Leave a Reply

*

Mencari Jawaban

Artis tend to be dark, worried and superstitious creatures. This is not bad. It makes me perfectionist, it makes me care. Moreover the ability to see the darker side of life is an asset not just directing dramatic and tragic movies, but also for directing comedy, since comedy often has pain inside it. Do you believe that life and film tragically too close together ? I do ...
www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from Iman Brotoseno. Make your own badge here.


Categories

Archives

Hot Topics

Spice of Life


Why Blog ?

Why the BLOG will change the world ?The explosion of blogs throughout the world has been the biggest phenomenon since the rise of the Internet itself. Today, more people read blogs than newspapers. Blogs are just a tool, of course. It’s the bloggers behind the blogs that will make the difference. Here's Why

Blog lama saya masih dapat dilihat disini

( DISCLAIMER ) Photo dan Gambar Ilustrasi kadang diambil dari berbagai sumber di internet - GETTY IMAGES dan CORBIS selain photo teman dan milik saya sendiri. Kadang kala sulit untuk menemukan pemiliknya. Jika ada yang merasa keberatan bisa menghubungi untuk dicantumkan namanya.

Subscribe this blog

  Subscribe in a reader
Enter your email address:
  
Delivered by FeedBurner
November 2019
M T W T F S S
« Sep    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930