Browsing Category

LUAR NEGERI

Tentang Lockdown

Definition of lockdown. 1 : the confinement of prisoners to their cells for all or most of the day as a temporary security measure. 2 : an emergency measure or condition in which people are temporarily prevented from entering or leaving a restricted area or building (such as a school) during a threat of danger.

Lockdown tiba tiba menjadi istilah yang ramai diperbincangkan saat pandemik Covid 19 menjadi hantu yang menakutkan di seluruh dunia. Banyak orang di Indonesia meminta agar Pemerintah melakukan lockdown sebagaimana yang dilakukan di beberapa negara seperti Cina dan Italy untuk mencegah penyebaran virus.

Para pemimpin Cina tampaknya berusaha menutupi ketika virus mulai terkuak secara luas awal tahun ini. Pihak berwenang pada awalnya memberangus dokter dokter yang berusaha memperingatkan masyarakat umum tentang virus baru yang mematikan itu. Tanpa adanya keterbukaan justru membuat penularan semakin menyebar. Sejak itu, Beijing mulai membalikkan secara agresif. Kampanye relasi publik yang digambarkan oleh pemimpin Cina Xi Jinping sebagai perang rakyat,  menggabungkan ilmu pengetahuan dengan teknik-teknik Maois sebelumnya.

Ketika penguasa memerintahkan lockdown kota Wuhan pada tanggal 23 Januari jam 2 pagi, maka banyak warga seketika menyerbu toko toko serba 24 jam untuk mengumpulkan bahan makanan yang bisa dibeli.  Ada juga yang mencoba kabur dengan kendaraan ke kota lain saat dini hari. Semakin pagi, situasi kota sudah terkunci ketika seluruh moda transportasi – bus, kereta, pesawat dan kendaraan pribadi dilarang beroperasi.  Selain itu aparat berjaga jaga di pintu tol atau perbatasan kota mencegah siapapun masuk atau keluar.  Pasukan militer menjaga kompleks perumahan dan melarang isi rumah untuk keluar rumah.

Continue Reading

Mengenal Kuba

Terik matahari menyengat begitu menjejakkan kaki di terminal kedatangan Bandara Jose Marti, Havana yang sepintas seperti bangunan tua Halim Perdana Kusumah. Udara panas yang menyentuh 38 derajat Celcius tak menghalangi antusias yang meluap luap karena akhirnya bisa mengunjungi negara Kuba.

Negara yang terletak di kawasan Karibia ini terasa akrab bagi karena hubungan sejarah kedua negara, terutama periode perang dingin. Gambar gambar keakraban Bung Karno dan Fidel Castro banyak memenuhi literatur sejarah. Bahkan Bung Karno adalah kepala negara pertama yang mengunjungi Kuba pada tahun 1960 sejak Fidel Castro menggulingkan Rezim Batista yang tiran dan didukung Amerika.

Perjalanan memasuki Ibu kota Havana, kita melihat dominasi bangunan dan rumah tua yang mengesankan negeri yang terbelakang. Jalanan sepi dengan mobil yang tak terlalu banyak, sehingga hampir tak pernah ada kemacetan. Beberapa warga tampak antri di pinggir jalan menunggu kendaraan umum. Perjalanan tak sampai 45 menit sudah memasuki pusat kota yang terbagi dua antara Old Havana dan New Havana.

Khususnya bagian Old Havana memang tidak banyak mengalami perubahan sejak dulu hingga saat ini. Sementara bagian New Havana mulai tumbuh dengan munculnya beberapa gedung baru seperti perkantoran atau Hotel. Namun menurut penuturan warga, secara umum tidak banyak yang berubah sejak era Batista.

Old Havana merupakan bagian dari sejarah panjang sejak era Spanyol di Kuba. Bangunan bangunan tua eksotis masih berdiri tegak dan menjadi denyut nadi kehidupan warga Havana. Fidel Castro tidak membangun atau mengubah struktur lingkungan dan arsitek di kawasan kota. Walau beberapa tempat terkesan kumuh, karena penduduk Kuba umumnya berada dalam garis kemiskinan, namun kawasan ini menjadi obyek wisata yang paling sering dikunjungi turis mancanegara.

Para penduduk menyewakan rumahnya untuk wisatawan yang ingin bermalam. Turis turis berjalan dengan nyaman dan aman, karena angka kriminal sangat rendah disini. Ada pameo di Kuba bahwa orang lebih takut dengan penjara daripada neraka. Beberapa polisi terlihat berjaga jaga di pojokan. Memang turisme menjadi sumber pendapatan utama setelah ambruknya Uni Sovyet yang menjadi penyokong utama perekonomian Kuba. Dengan embargo ekonomi dari Amerika saja, jumlah turis yang datang bisa mencapai 4 juta orang pertahun.

Continue Reading

Melihat Muslim di Xinjiang

Setelah penerbangan 4 jam dari Beijing, akhirnya pesawat yang membawa saya mendarat siang hari di Bandara Urumqi, ibu kota Xinjiang. Tampak pegunungan Kunlun dengan puncaknya yang masih bersalju di bulan Mei menjadi latar belakang kota. Urumqi adalah kota modern dengan gedung gedung tinggi yang menjulang. Kota ini macet disana sini karena efek pembangunan konstruksi kereta bawah tanah seantero kota. Perjalanan menuju Xinjiang bisa merupakan kejutan setelah mengurus tiket pesawat dari Beijing usai menghadiri seremoni negara negara ‘ One Belt One Road ” di perusahaan Chetaah Mobile yang memproduksi aplikasi seperti Clean Master.

Xinjiang yang luasnya 1,6 juta kilometer persegi secara resmi disebut daerah otonom Xinjiang Uyghur terletak di Asia barat berbatasan dengan Kazakhtan, Russia, Mongolia di utara, lalu dengan Kyrgyztan, Tajikistan, Kashmir di barat.
Ada banyak suku suku di Xinjiang, namun tercatat 13 suku asli yakni: Uyghur, Han, Kazakh, Hui, Usbek, Kirgyz, Mongol, Tajik, Xibe, Manchu, Rusia, Daur, dan Tartar. Dari suku asli tersebut, Uyghur, Khazak, Hui, Tajik, Uzbek dan Tartar mayoritas beragama Islam. Bahkan Uyghur menempati 44 persen dari 24 juta penduduk di Xinjiang, sementara Kazakh hampir 7 persen.

Wajah etnis etnis yang berada di Xinjiang terutama Uyghur memiliki karakater yang berbeda dengan etnis Han yang menjadi mayoritas di daratan Tiongkok. Bola matanya yang lebar lalu wajah perpaduan antara ras mongoloid dan kaukasoid. Ada juga yang mewarisi garis garis wajah etnis Turki, karena konon etnis Uyghur berasal dari Turki. Kelak, saya mengatakan di akun twitter saya, bahwa wajah Raisa Raisa bertebaran di Xinjiang.

Suhu udara siang itu cukup sejuk, sekitar 22 derajat celcius dan terik matahari tak menghalangi saya keluar hotel sendiri, untuk menyusuri jalan jalan kota berbekal google translate. Saya cukup percaya diri berjalan kaki memasuki daerah pertokoan yang menjual makanan, pakaian, sepatu, telepon seluler sampai barang barang elektronik. Tampak penjagaan yang ekstra ketat, dimana setiap memasuki area pertokoan, gedung gedung harus melewati mesin scanner. Beberapa tentara tampak berjaga jaga di pojokan tanpa memberikan kesan seram bagi pengunjung seperti saya. Kerusuhan etnis beberapa tahun lalu, disamping ancaman teroris merupakan momok bagi Pemerintah pusat, sehingga pengamanan masih diberlakukan di seluruh propinsi.

Sebelum tiba di Urumqi, saya sudah mengantongi begitu banyak informasi tentang penindasan kaum muslim, yang umumnya saya dapat dari berita berita dalam dan luar negeri. Misalnya larangan mengenakan jilbab, shalat, berpuasa, naik haji dan sebagainya.

Continue Reading

Tentang Raja Saudi dengan Presiden kita

Ketika melaksanakan ibadah haji tahun 1955, Bung Karno disambut sebagai tamu kehormatan oleh Raja Saudi, Saud bin Abdulaziz Al Saud. Berbagai cara dilakukan Raja Saudi untuk mengambil hati Bung Karno, salah satunya memberikan hadiah mobil.

“Ketika aku akan kembali ke tanah air, Raja Arab Saudi mengatakan, Presiden Soekarno, mobil Chrysler Crown Imperial ini telah Anda pakai selama berada di sini. Dan sekarang saya menyerahkannya kepada anda sebagai hadiah ” kata Soekarno menirukan ucapan Raja Saudi. Tentu saja Bung Karno girang kepalang dengan pemberian hadiah itu.
Pada jaman itu belum ada KPK sehingga ia tak perlu memberikan mobil itu ke KPK, seperti yang dilakukan Jokowi ketika mengembalikan bass gitar Metalica yang diterimanya ke KPK. Sebagai balasan, Bung Karno mengundang Raja Saudi untuk datang ke Indonesia.

Raja Saudi sangat mengagumi Bung Karno sebagai pendorong kemerdekaan negara negara Asia Afrika. Dia juga menemani saat Bung Karno berziarah ke makam Nabi di Madinah. Saat itu pula, Bung Karno melepaskan semua atribut-atribut dan pangkat kenegaraan yang digunakan. Kemudian Raja Saudi keheranan dan bertanya pada Bung Karno.
“ Disana hanya ada Rasulullah SAW yang memiliki pangkat yang jauh lebih tinggi dari kita, aku, dan dirimu “. Jawab Bung Karno.
Komitmen Bung Karno terhadap Islam tak pernah berhenti. Kelak Bung Karno menggagas Konperensi Islam Asia Afrika yang dilaksanakan di Bandung tahun 1964.

Continue Reading

Surat surat Usman sebelum kematian

21 September 1966

Ayah dan Bunda yang tercinta,
Sepeninggalan surat ini, anaknda dalam keadaan sehat sehat saja. Demikian pulalah yang anaknda mohonkan kehadirat Illahi siang maupun malam, semoga ayahanda dan bunda serta handai taulan disana dikarunia kesejahteraanNya, kemulianNya dan dijauhkan dari bala bencana.

Ayah dan Bunda,
Maafkan semua kesalahan anaknda karena telah sekian saat lamanya anaknda baru mengirim surat.

Saat menulis surat ini, Usman teringat kilas balik peristiwa itu. Malam yang pekat, sehingga sebuah objek yang terapung apung di lepas pantai Singapura tak begitu mengusik perhatian. Sepintas bagaikan batang kayu yang dipermainkan alunan ombak di laut lepas. Jika diperhatikan lebih jelas, obyek itu bukan batang kayu, melainkan sebuah perahu karet, dimana tiga orang bergelantungan di balik perahu.

Mereka – sambil menunggu waktu yang tepat untuk bergerak menuju pantai -adalah anggota KKO – Korps Komando AL ( sekarang Marinir ) Sersan Dua KKO Djanatin, Kopral Satu KKO Tohir dan rekannya Gani bin Aroep. Ketiga awak perahu tadi menyeberangi selat Malaka sambil menghindari patrol Inggris dan Singapura. Misi utama dari prajurit KKO adalah melakukan sabotase di pusat kota Singapura dengan membawa bom peledak seberat 12,5 kg. Sasarannya adalah Mc Donald House tempat dari Hongkong dan Shanghai Bank di tepi Jalan Orchard. Ini adalah bagian perang yang dilakukan oleh Indonesia, yakni penghancuran alat alat vital, klandestin, sabotase dan menciptakan teror dengan harapan Inggris akan kehilangan kesaabaran dan menerima rumusan penyelesaian politik. Demikian JAC Mackie menuis dalam bukunya “ Konfrontasi, The Indonesia – Malaysia Dispute 1963 – 1966 “.
Hongkong Bank sebagai sumber keuangan terbesar di Singapura menjadi pilihan pemboman, dengan tujuan mengacaukan sumber sumber keuangan.

Hiruk pikuk massa menyambut aksi Dwikora yang dikumandangkan tanggal 3 Mei 1964. Usman paham ini adalah politik konfrontasi. Bung Karno memang menolak pembentukan negara baru ini, yang dianggap bertentangan dengan hak hak rakyat Kalimantan Utara yang enggan bergabung kedalam federasi Malaysia.

Continue Reading

This is ASEAN Way

Udara malam ini tidak terlalu dingin sehingga banyak orang yang lalu lalang disekitar Nortwest Street, Washington DC. Sebuah kawasan banyak kedai makanan, bar atau toko toko, dimana saya menghabiskan waktu bersama teman lama dari Indonesia yang bekerja sebagai lawyer disini.
Sambil menikmati kuliner Afrika di sebuah restaurant Ethiopia, saya memperhatikan time line tentang hajatan ASEAN Blogger Festival di Solo. Senangnya melihat hiruk pikuk time line dari seluruh Indonesia. Ada yang bergembira bisa kopdar bertemu teman teman baru dari kawasan ASEAN. Ada juga yang nyinyir mempertanyakan hajatan ini. Ada juga yang mengutip di time linenya, ini sekadar komunitas EO mantenan ( perkawinan ). Saya hanya tersenyum. Bukankah kita harus bergembira dengan kehidupan demokrasi dalam menyampaikan kebebasan ekspresi ini ?

Seperti biasa saya hanya ngunandika, bergumam dalam hati. Selalu kegiatan blogger dikaitkan dengan urusan urusan seperti ini. Sepanjang kegiatan atau hajatan itu bermanfaat bagi blogger. Kenapa tidak ?
Namun ada yang menarik, ketika saya melihat kicauan teman diatas tadi. Sebut saja Dodo. Tampaknya teman ini mempertanyakan ( atau marah ? ) karena tidak mendapat jawaban memuaskan tentang bagaimana peranan ASEAN Blogger Community khususnya di Indonesia, tentang keadaan blogger blogger di kawasan Asia Tenggara yang mendapat tekanan represif dari penguasa negerinya.

Tentu ini tidak salah, karena netizen Indonesia setelah merasakan kebebasan berekspresi di internet seperti punya kewajiban moral menyuarakan hak hak ini, khususnya kepada netizen lainnya yang hidup di kawasan Asia Tenggara.
Pertanyaannya adalah seberapa bisa kita bisa membantu. Apa dengan melakukan advokasi terhadap blogger Vietnam yang dipenjara ? atau melakukan protes di depan kedutaan Myanmar ? atau cukup dengan menggalang dukungan publik melalui blog masing masing ?

Dalam diskusi di Washington DC dengan Dr. Pek Koon Heng, Direktur ASEAN studies di American University, kami – 10 partisipan delegasi ASEAN ‘ International Leadership Visitor Program ‘ kecuali Laos – menyadari dan sepakat bahwa kebebasan berekspresi merupakan hal esensial para warga. Secara spesisik Dr Heng menyebut Indonesia sebagai penjaga ASEAN, memiliki contoh tentang bagaimana social media di Indonesia yang bergerak menjadi Social movement. Sudah semestinya solidaritas masyarakat netizen seluruh ASEAN mulai digalang.

Continue Reading

Sepenggal cerita dari Myanmar

George Orwell penulis novel Inggris yang terkenal itu pernah menjalani hidup sebagai polisi di Myanmar ( dahulu disebut Burma ) pada masa kolonialisme. Pengalaman hidupnya menghasilkan novel ‘ Burmesse Days ‘, Dalam novel itu selain digambarkan kehidupan masa penjajahan, juga eksploatasi kekayaan alam – minyak dan kayu – oleh peusahaan perusahaan Inggris. John Flory, salah seorang tokoh utama mengkritik imperium penjajahan. “the lie that we’re here to uplift our poor black brothers instead of to rob them.”

Myanmar memang memiliki sejarah yang sama dengan Indonesia tentang pergolakan kemerdekaannya. Pejuangnya bertempur melawan tentara Jepang, dan konflik antar bangsanya sendiri.
Pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia, banyak orang Indonesia yang memilih Rangoon, ibu kota Burma sebagai tempat pengasingan untuk menyuarakan pendudukan Belanda. Sewaktu aksi pendudukan Belanda ke II tahun 1949. Radio perjuangan me-rely pendudukan Belanda dari Aceh ke kantor perwakilan Garuda Airways di Rangoon sebelum diteruskan ke New Delhi, India.

Kemudian Burma bersama Indonesia, Srilanka, Philipina pada waktu itu merupakan pioneer kebangkitan negara negara baru Asia yang berdiri setelah masa kolonialisme. Bahkan salah satu putra terbaik Burma, U Thant, pernah menjadi Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa.

Kini Burma menjadi salah satu negara yang terbelakang di Asia. Setelah Militer mengambil alih kekuasaan. Negeri itu menjalani proses panjang kembali masuk ‘ era penjajahan baru ‘ oleh elit bangsanya sendiri. Junta Militer yang berkuasa memberangus demokrasi, hak hak sipil dan kebebasan politik. Nama Burma diubah menjadi Myanmar. Rangoon menjadi Yangon. Bahkan ibu kota negara dipindahkan Naypyidaw , sebuah kota baru di pedalaman Myanmar. Konon sebuah dataran tinggi ditebas dan oleh insinyur insinyur China dibangun sebuah kota baru.

Continue Reading

Cerita tentang St Petersburg

The climax of the evening came in true Sukarno style. A flock of pretty Indonesian girls he had brought with him to Moscow in his chartered U.S. jet rushed up and kissed the top Soviet leaders.

Sukarno then demanded to be kissed in return by a Russian girl. Resourcefully, Nina Khrushchev walked into the crowd of lower-ranking guests and spied a pretty girl. “Are you Russian?” she asked. “Yes.” said the girl. “Then come and kiss President Sukarno,” commanded Nina. The girl said no, she did not want to. Her husband said he did not want her to. But Nina was not to be denied. “Oh, please come,” she said. “You only have to kiss him once, not twice.”
Reluctantly, the girl came forward and got soundly kissed. Khrushchev thanked her for “upholding Russian honor,” and with that he left the party, an hour behind schedule and apparently without a care in the world.

Kutipan penggalan cerita diatas dimuat dalam majalah Time tanggal 16 Juni 1961. Disatu sisi memperlihatkan gadis Russia yang pemalu walau Bung Karno sebelumnya sering membuat humor tentang karakteristik perempuan dilihat dari asal usul benuanya. Perempuan Russia digambarkan wanita tua, berpengalaman namun tidak ada lagi lelaki yang menolehnya.

Kini paradigma itu berubah. Perempuan Russia tidak lagi identik dengan pemalu atau wajah tua, kaku dan berpakaian mantel seragam, seperti yang kita bayangkan jaman perang dingin. Lihatlah di sepanjang Nevsky Prospekt di St Petersburg. Jalanan utama yang menjadi tempat lalu lalang manusia, sudah seperti panggung fashion show. Perempuan perempuan Rusia yang modis, cantik berjalan hilir mudik dengan menggenggam Iphone, Tab, atau merokok Marlboro. Produk barat yang dulu menjadi barang haram bagi masyarakat komunal komunis, kini menjadi bagian dari budaya mereka.

Perjalanan ke St Petersburg – dulu disebut Leningrad – bukan tidak sengaja. Saya merencanakan jauh hari karena kebetulan akan menghadiri undangan Internet Forum di Stockholm Swedia. Jarak tempuh dari Stockholm yang hanya satu setengah jam penerbangan, membuat saya tak ragu mengambil visa di kedutaan besar Russia di Jakarta. Kenapa tidak ?

Continue Reading

Menyongsong Masyarakat ASEAN

Menjelang proklamasi Kemerdekaan, team perumus BPUPKI sudah memikirkan batas wilayah. Pada tangal 10 Juli 1945, Mohammad Yamin saat itu sudah mengusulkan wilayah negara Indonesia yang meliputi negara Indonesia sekarang, ditambah seluruh daratan Papua, Timor Timur, Kalimantan Utara, serta semenanjung Malaya. Pemikiran itu didasarkan jaman keemasan wilayah kekuasaan Majapahit.
Untuk memperkuat pendapatnya, Yamin menyitir kitab Negarakertagama, buku karya Mpu Prapanca yang ditulis pada sekitar abad ke-13. Yamin membawa para peserta sidang untuk membayangkan era kejayaan Majapahit dengan wilayah kekuasaan yang luas, mulai dari Semenanjung Malaya hingga ke Papua.

Sementara Soekarno walau menolak ide Yamin, mengakui pernah membayangkan Pan Indonesia yang bahkan bisa mencakup wilayah Filipina. Di sisi lain Hatta mengatakan batas wilayah Indonesia hanya mencakup bekas jajahan Hindia Belanda saja.
Siapa sangka jika pemikiran itu bisa terwujud kelak tahun 2015. Tentu saja tidak dalam bentuk negara baru, tetapi dalam bentuk masyarakat baru. Sebuah masyarakat ASEAN yang melepaskan batas wilayah negaranya untuk kesatuan pasar ekonomi bersama.

Jika melihat kilas balik deklarasi ASEAN pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok, menggambarkan sikap dan pemikiran negara negara Asia Tenggara untuk untuk bekerja sama daripada kepentingan sendiri, seperti konfrontasi Indonesia dengan Malaysia. Selain itu Philipina juga berselisih karena klaim Malaysia atas Sabah.
Serangkaian kegiatan diplomasi dari pemimpin di kawasan ini tidak hanya menghentikan konfrontasi dan perselisihan, tetapi juga mencari titik temu untuk kerja sama di masa depan.

Indonesia yang saat itu jumlah penduduknya sekitar 60 % dari populasi kawasan memainkan peranan yang sangat besar bagi terwujudnya kerja sama ASEAN. Bahkan sebagai negara besar, sejak awal posisi tawar Indonesia jauh lebih diperhitungkan oleh negara negara lain. Indonesia bahkan bisa menjadi negoisator dalam beberapa perselisihan seperti pemberontakan Moro di Mindanao, Philipina dan juga pertikaian di Kamboja.

Continue Reading

Bima Ngaji

Ada yang selalu saya kagumi cara Wali Songo menggubah wayang kulit sebagai media dakwah. Salah satunya tentang cerita wayang ciptaan Wali Songo yang berjudul “ Bima Ngaji “. Sebenarnya dalam cerita itu , tidak ada adegan atau scene si Bima atau Werkudoro atau Brotoseno lagi mengaji melafalkan ayat ayat suci. Hanya sebuah kisah Sang Bima berguru mencari ilmu.

Untungnya Wali Songo tidak sekasar produser produser sinetron dalam mengadaptasi cerita luar. Mereka juga tidak menambah nambahkan bumbu cerita. Wali Songo juga pintar memilih judul. Pemilihan kata ‘ Ngaji ‘ sebagai sebagai analogi mencari ilmu, yang justru dekat dengan pemahaman santri. Terasa sederhana dan sekaligus membumi.

Intinya dalam lakon itu, kesimpulan yang ditarik adalah seorang murid harus mentaati gurunya. Kalau sang guru tidak jujur, misalnya Durna, maka yang rugi justru si guru bukan muridnya. Bagi murid yang taat, seperti Bima justru mendapat kesaktian kesaktian dari gurunya yang tidak jujur, sampai akhirnya ia menemukan gurunya yang sejati, Dewa Ruci.
Pelajaran ini mengandung makna, seorang murid atau santri mesti setia kepada gurunya. Dan disisi lain, guru yang akan menyesatkan justru akan percuma, karena murid pada akhirnya akan menemukan jalan yang benar.

Tiba tiba saja cerita yang pernah dikisahkan oleh KH Zaifuddin Zuhri , mantan Menteri Agama asal NU jaman Bung Karno ini bergulir di kepala saat bangun pagi. Menjadi analogi yang tepat, ketika kita sebagai murid menghadapi guru guru alias pemimpin negeri seperti Presiden , ketua DPR , wakil rakyat, ketua Partai yang kian hari kian membingungkan. Kalau tak mau dibilang sesat.

Continue Reading

Apa Kabar Obama

Barang kali memang tidak ada kepala negara selain Amerika Serikat yang begitu menyita perhatian dalam kunjungannya ke Indonesia. Tentu saja Barack Obama yang bisa membuat Presiden Austria ‘tenggelam’ di hari yang sama kunjungannya ke Indonesia.
Sejarah Indonesia sejak perang kemerdekaan memang susah untuk dilepaskan dari Amerika, terutama urusan dengan komunisme dan perang dingin. Selalu timbul tenggelam. Amerika jadi ogah ogahan membela sekutunya Belanda, karena negara muda ini sudah menunjukan keberpihakannya menumpas pemberontakan komunis di Madiun 1948. Amerika juga mati matian berusaha agar Indonesia tidak jatuh ke tangan komunis dalam periode selanjutnya.
Armada VII Amerika sudah lepas jangkar di perairan Riau sambil mendrop persenjataan untuk pemberontak PRRI yang jelas mengangkat senjata terhadap Jakarta yang dianggap pro komunis.

Presiden Soekarno yang awalnya kesal karena Presiden Einshower selalu merecoki urusan dalam negeri Indonesia dengan membantu pemberontak PRRI – Permesta, mendadak berubah pikiran pada masa pemerintahan Kennedy. Presiden ini memang tahu cara mengambil hati Soekarno. Berbeda dengan sebelumnya, dimana Soekarno hanya disambut di Gedung Putih. Kali ini Presiden Kennedy menjemputnya di lapangan terbang.
Mereka berdua sangat cocok dalam pemikiran. Mereka juga sama sama menyukai keindahan – wanita – khususnya. Presiden Indonesia ini diajak ke pabrik Lockeed, untuk melihat dan boleh membeli pesawat angkut C 130 Hercules yang saat itu masih gress dari pabrik. Padahal sekutu Amerika lainnya masih jarang memiliki pesawat jenis ini.

Continue Reading

Jika saya berharap pada SBY

Hari hari terakhir minggu lalu, SBY memang disibukan dengan pilihan politik yang mungkin membingungkannya. Jangan salah, ini bukan masalah ragu ragu – seperti banyak orang menuding sifat dasarnya. Jika beberapa Presiden sebelumnya gemar bermeditasi ke petilasan atau tempat tempat sakral untuk mencari jawaban. SBY mungkin lebih mempercayai nalarnya, juga bisikan staff khususnya yang juga rajin memantau gejolak di jejaring sosial media.

Begitulah ia membatalkan kunjungannya ke Belanda. Sementara para wartawan, peserta rombongan yang sudah berada di atas pesawat semakin gelisah. Tambahan ransum pop mie dari pramugari untuk mengganjal perut, hanya menenangkan mereka beberapa saat.
“ Dalam waktu 45 menit, setelah konfirmasi dan mendengar pendapat Wapres dan menteri terkait. Saya memutuskan untuk menunda dan membatalkan “ Kata Presiden.

Ada untungnya anak lanang saya, mendadak googling Republik Maluku Selatan dan ingin tahu mahluk apa RMS itu. Bagus buat pelajaran sejarah. Tentu saja, SBY sangat mengenal sejarah gerakan separatis ini. Mertuanya, Jenderal Sarwo Edhie sangat mengagumi Slamet Rijadi – pendiri pasukan khusus, kelak RPKAD – yang gugur tertembak di depan Benteng Victoria, Ambon saat menumpas pemberontakan RMS tahun 1950. Saat itu ia baru berusia 23 tahun.
Ketika ‘ngapel’ semasa taruna di Magelang, SBY pasti mendengar cerita dari calon mertuanya, bagaimana keberanian Letkol Slamet Riyadi, mantan komandan Brigade Komandan Brigade V Wehrkreise I, menduduki Solo selama 4 hari pada masa perang Kemerdekaan.
Slamet Riyadi tak pernah takut datang, ke markas RMS di Ambon sana. Sedikitpun tak ragu ketika ia tak diijinkan membawa pasukan brigadenya yang sudah sehidup semati sejak perang kemerdekaan. Ia hanya diberi brigade pasukan eks KNIL untuk menumpas pasukan RMS – sebagian besar juga eks KNIL.

Continue Reading