6 February 2010
Warok & Gemblak
Posted by iman under: Budaya; INDONESIANA .
Suatu hari di tahun 1973. Sudarno asal Desa Kacangan, Kecamatan Sawo – Ponorogo, waktu itu masih berusia 10 tahun. Ia curiga akan terjadi sesuatu yang merubah jalan hidupnya kelak, ketika beberapa warok datang mengamati dirinya seusai pulang sekolah. Hampir tiga bulan, ia ditunggui di pagar luar sekolah. Sesuatu yang membuatnya ketakutan. Tidak salah. Para Warok sudah menilai layak tidaknya bocah Sudarno dipinang menjadi Gemblak.
Selama itu, teman temannya sudah mengejeknya sebagai calon Gemblak. Ia marah dan tidak terima sehingga melempar teman temannya dengan batu. Ia bahkan tidak bisa meminta perlindungan orang tuanya, Kehidupan keluarganya yang teramat miskin, membuat orang tuanya tak bisa menolak imbalan 2 ekor sapi dewasa untuk kontrak Gemblak selama 3 tahun.
Sudarno tidak terima dengan takdir ini, Ia berontak, membuang isi lemari pakaiannya. Dengan kalap ia memaculi lantai rumahnya yang masih tanah sehingga berantakan. Airmatanya tak berarti karena ia harus menjalani perintah orang tuanya, demi penghidupan keluarganya.
Hingga suatu watu ia diajak memancing oleh Sang warok. Anehnya, setiba di rumah orang tuanya, ia merasa ingin cepat cepat keluar dari rumahnya dan pergi bersama Warok yang telah membelinya. Kelak ia menduga bahwa si warok telah memberinya guna guna agar ia mau menjadi gemblak.
Sejak itu Sudarno menjadi milik perkumpulan Warok. Istilah ini dinamakan Gemblak Kumpulan. Ia dikontrak sebagai gemblak dari sekumpulan orang orang yang menjadi warok. Para warok berpatungan untuk memiliki gemblak. Artinya beberapa hari sekali, Sudarno kecil dipindahtangankan dari satu warok ke warok lainnya selama 3 tahun, sesuai isi perjanjian.
Memelihara gemblak adalah tradisi yang telah berakar kuat pada komunitas seniman reog. Bagi seorang warok hal tersebut wajar, bahkan diterima masyarakat. Warok bisa mempunyai satu atau banyak gemblak, yaitu lelaki belasan tahun usia 10-17 tahun berparas elok dan terawat yang dipelihara sebagai kelangenan. Kadang lebih disayangi ketimbang istri dan anaknya. Dalam tradisi turun temurun, kesaktian bisa diperoleh bila seorang warok rela tidak berhubungan seksual dengan perempuan.
Biaya yang dikeluarkan warok untuk seorang gemblak tidak murah.
Bila gemblak bersekolah maka warok yang memeliharanya harus membiayai keperluan sekolahnya di samping memberinya makan dan tempat tinggal. Sedangkan jika gemblak tidak bersekolah maka per satu atau dua tahun, warok memberikannya seekor sapi.
Lain cerita Mbah Basir asal Desa Siman yang menjadi gemblak pada tahun 1957 sampai 1963. Saat itu ia masih berusia 10 tahun dan menjadi gemblak ekslusif hanya buat Dasuki asal Desa Totokan , seorang warok yang menjadi pemilik sebuah komunitas reog. Bagi seorang warok, ini disebut ngondolan. Memiliki sepenuhnya gemblak itu tanpa harus dipindahkan ke warok yang lain. Berbeda dengan Sudarno yang maharnya berupa sapi. Basir muda hanya disekolahkan dan dirawat.
Basir tinggal bersama 3 orang gemblak lainnya dalam rumah Warok Dasuki yang waktu itu sudah mempunyai isteri, tapi belum memiliki anak. Setiap malam Dasuki tidur bersama gemblak gemblaknya, sementara istrinya tidur sendiri di kamar belakang yang terpisah.
Selain disekolahkan, Basir juga diajarkan menari dan berlatih kesenian reog. Ia memulai dengan menjadi penari jathilan.
Baik Sudarno atau Basir, mendapat tempat yang istimewa dalam kehidupan warok. Mereka dididik tata krama dalam berpakaian, bersikap di meja makan sampai bagaimana melayani waroknya. Mereka umumnya menyebut warok yang memelihara dengan panggilan Bapak.
Gemblak sekaligus menjadi semacam asisten pribadi yang dibawa kemana mana. Kegiatan pasar atau undangan hajatan perkawinan merupakan saat untuk memamerkan gemblaknya kepada masyarakat dan warok yang lain.
Sudarno mengingat, ia selalu dibonceng sepeda fonger oleh sang Warok. Ia bercelana pendek dan berpakaian lengan panjang yang ujung lengannya dikancing, Tak lupa asesoris kacamata biru bergagang kulit penyu.
Sementara Basir mengenakan baju linen warna pink, dan sudah memakai jam tangan. Sesuatu yang masih langka bagi anak seusianya.
Dalam acara ini, gemblak wajib membawakan rokok berpak pak, yang nanti bisa ditawarkan kepada tamu tamu lainnya atau ke bapak waroknya sendiri. Gemblak juga sudah diajarkan merokok sejak ia menjadi gemblak.
Bagi seorang warok , memiliki gemblak adalah simbol status. Banyak cara yang harus ditempuh untuk bisa mendapatkan gemblak idaman yang sudah dincarnya. Demi sebuah perhelatan, seorang warok bisa menyewa gemblak pujaan yang dimiliki warok lain selama beberapa jam, untuk dibawa dan dipamerkan selama hajatan tersebut.
Mbah Sisok kini 85 tahun, seorang bekas warok yang kini menjadi pengrajin reog asal Desa Kauman. Dulu ia pernah menanggung biaya sunat calon gemblaknya sambil menggelar pagelaran wayang kulit yang tergolong mewah pada jamannya. Itu belum termasuk mahar seekor sapi dewasa untuk 2 tahun.
Beberapa kasus, sering terjadi perkelahian antar warok untuk memperebutkan gemblak, bahkan yang berujung kematian salah satu warok.
Ada juga Warok yang menjadi perampok agar memiliki dana yang cukup untuk menebus gemblak.
Mbah Tobroni ( 75 th ), salah satu tokoh warok yang masih tersisa, pernah memiliki empat orang gemblak pada tahun 1990an. Ia menyekolahkan semuanya sampai lulus SMA. Kini Jingkang, menjadi anggota Marinir, Rengga menjadi guru di Pondok Pesantren, Agus – yang menurutnya paling tampan – menjadi pedagang mas. Terakhir Anto, yang disesali karena menjadi buron polisi.
Tobroni pernah menikah tiga kali. Ia masih memiliki grup kesenian reog dan hidup bersama isteri yang ketiga sambil mengelola sebuah restaurant. Hari hari tuanya dinikmati dengan menunggang motor Harley Davidsonnya dan memelihara burung perkutut kontes.
Ia adalah tokoh masyarakat terpandang di Ponorogo. Salah seorang anak perempuannya menjadi wakil ketua DRPRD di sana.
Tidak mudah membayangkan apa yang terjadi dalam kehidupan gemblak. Mereka sangat dicemburui oleh warok pemiliknya, terutama jika mereka menunjukan ketertarikan kepada lawan jenisnya. Basir muda harus dimarahi dan dicubit ketika hanya melirik kepada seorang gadis yang ditemui di sebuah warung dawet. Apalagi waktu itu Basir juga menjadi primadona reog, yang selalu dielu elukan penonton.
Ia mengingat, ketika sedang berjalan melintas desa. Para petani yang sedang bekerja di sawah, harus menghentikan kegiatan memacul hanya untuk melihat sang gemblak primadona dari dekat.
Untuk itu, warok Dasuki selalu secara reguler memberikan kemenyan kecil yang sudah di jampi jampi untuk dimakan sedikit demi sedikit oleh Basir, dan 3 orang gemblak lainnya yang tingga bersama. Ini agar sang Gemblak selalu betah dan ‘ mencintai ‘ bapak waroknya.
Mbah Mulud ( 80 tahun ) asal Desa Kutu Kulon, dulu mempunyai cara unik ada agar kelakian sang gemblak tidak berfungsi secara normal. Dengan ilmu, ia mematikan burung si gemblak. Ketika masa kontraknya habis, si gemblak dibuat normal kembali.
Sampai batas waktu perjanjian, Warok mengembalikan Gemblak ke rumah orang tuanya atau bisa memperpanjang masa kontrak. Beberapa kasus ketika Gemblak sudah menginjak dewasa, sang warok mencarikan istri untuk gemblaknya agar bisa lepas. Ini biasa terjadi ketika Gemblak tak mau dilepaskan dari kehidupan Warok. Mereka ada yang benar benar akhirnya ‘ mencintai ‘ bapak waroknya. Sehingga perpisahan bisa membuat kesedihan yang mendalam.
Ada beberapa alasan mengapa Warok melepas ikatan gemblaknya. Pertama, karena memang ingin mencari gemblak baru. Kedua, Warok memutuskan pensiun dan kembali menjadi orang normal atau menikah untuk memiliki keturunan.
Kehidupan gemblak telah merampas kemerdekaan masa kecil mereka. Jika anak anak sebayanya masih suka bermain layang layang. Para gemblak sudah dibuat cepat dewasa. Mulai dibiasakan merokok sampai memahami hubungan yang biasa dilakukan orang dewasa.
Dalam wawancara ini para warok dan gemblak menolak jika dikatakan ada praktek sodomi dalam hubungan mereka. Bisa jadi hal ini memang ditutupi, karena menjadi issue yang sensitive. Disamping karena masyarakat modern mencap stigma homoseksual sebagai penyimpangan.
Umumnya para warok mengakui hanya memeluk ketika tidur , sambil membelai dan menciumi Gemblaknya.
Mbah Gani ( 70 tahun ) bekas warok asal Desa Plunturan, Kecamatan Pulung mengakui jika harus melakukan penetrasi, ia menjepitkan kemaluannya yang sudah keras diantara paha gemblaknya. Lalu ia membersihkan air spermanya yang berceceran di tubuh Gemblaknya dengan kain.
Hubungan seksual yang terjadi memang hanya menjadi rahasia malam antara Warok dan Gemblaknya. Tertutup dan terasing. Praktek sodomi sangat dimungkinkan, mengingat Gemblak dalam posisi yang tak bisa menolak.
Seperti yang dikatakan Mbah Basir. Hanya satu yang dibenak Gemblak, yakni patuh dan taat kepada bapak Waroknya.
Sudarno kecilpun, harus menyimpan rasa jijiknya ketika harus melayani Warok yang jelek, kemproh dan kotor. Tapi ia diam saja, membiarkan jerit hatinya tersimpan dalam kamar peraduan.
Jaman yang terus berubah serta pemahamaan norma agama membuat praktek Warok – Gemblak hampir sulit ditemui lagi di kawasan Ponorogo. Warok jaman sekarang lebih diartikan sebagai seniman reog saja. Bukan dalam arti pendekar yang menggembleng dirinya untuk ilmu kanuragan. Walau secara tertutup bisa saja ditemui secara diam diam.
Kehidupan mereka memang sangat absurd, bagaimana sebuah realitas hubungan warok gemblak bisa tumbuh. dalam tatanan masyarakat tradisional. Bahkan dengan penerimaan masyarakat – waktu itu – yang menganggap bagian dari sebuah budaya.
Sudarno yang kini berjualan gorengan didepan toko swalayan, tak pernah merasa apa yang dilakukan sebagai bentuk aib. Ia bangga bisa membantu kehidupan keluarganya saat itu, walau dengan cara yang paling hina sekalipun.
40 Comments so far...
manusiasuper Says:
7 February 2010 at 12:59 am.
Misterius, mistis, tabu dan aneh…
Tapi justru itu yang membuat menarik…
surin welangon Says:
7 February 2010 at 1:53 am.
terima kasih sebesarnya kepada mas iman brotoseno yang telah menyitir warok & gembal semanusiawi mungkin, catatan mas iman ini kelak akan menjadi sumber motivasi perjuangan Dlondongane arek ponorogo untuk lebih memandang bijak kebelakang tentang sebuah budaya merubah derajat sosial meski cara meng-gemblak guna merubah nasib anak turun. Warok & gemblak hanya milik ponorogo tetapi auranya hingga mendunia. dunia terheran dengan cara Warok mengemblak. dunia akan merasa lebih ingin tahu tentang catatan -catatan mas imam brotoseno. tentang Mengapa manusia menjadi warok
Donny Says:
7 February 2010 at 9:09 am.
Kejamnya dunia dan realita. Kita tak boleh menghakimi gemblak karena proses kemiskinan yg sedemikian lama
DV Says:
8 February 2010 at 5:51 am.
Haih.. tulisan ini kaya betul! Pantas masuk majalah..
Aku nunggu liputan anda tentang Sucipto yang sempat di tweet tempo hari jhe
edratna Says:
8 February 2010 at 4:14 pm.
Kota kelahiranku, yang tetangga kota Ponorogo, dan kebetulan punya saudara di Ponorogo sangat memahami cerita tentang warok dan gemblak ini.
Tapi kondisi sekarang mungkin sudah tak seperti ini lagi ya mas Iman….
ea_12h34 Says:
10 February 2010 at 1:10 pm.
wow tulisan yg padat dan mengenyangkan mas!!!
thx for sharing
nots Says:
10 February 2010 at 1:53 pm.
wah, aku baru tau loh tentang ini
makasih utk share-nya mas
ada lagi ga, ttg budaya2 di suku2 Indonesia yg kelam dan tak diketahui?
ternyata…Indonesia kaya
berty Says:
10 February 2010 at 7:09 pm.
Amazing, ternyata sisa warok dan gemblak masih ada….
wigati Says:
10 February 2010 at 7:59 pm.
amazing! saya ngeliat reyog cuman dari luarnya aja … saya pernah dengar tentang fenomena ini sebelumnya, cuman ya itu … belum pernah baca yang seperti ini. THanks for the sharing mas!
Ajitekom Says:
11 February 2010 at 3:53 pm.
Untungnya sekrang budaya semcam itu sudah nyaris punah.
Dulu belum ada Komnas Anak sih ya hehehe …
hamlennon Says:
12 February 2010 at 5:01 pm.
Saya baru tau kalau para Warok punya Gamblak. Padahal sahabat karib saya orang ponorogo, hehehe.. Makasih banyak Mas Iman atas infonya.
Kurt Says:
13 February 2010 at 1:50 am.
Ada yang jadi guru pesantren ndilalahnya kok ada yang jadi buronan yah….
meong Says:
13 February 2010 at 2:12 am.
mas, para mantan warok dan gemblak ini ga keberatan ya, foto, nama, dan kisah hidupnya dipajang?
aminhers Says:
14 February 2010 at 10:12 pm.
Waduh baru tahu saya seperti itu, terima kasih Mas Iman
Abihaha Says:
16 February 2010 at 8:53 pm.
Sebetulnya saya sudah paham dengan cerita warok dan hal ‘di balik’nya, hanya saja dengan cara cerita mas Iman, menambah pencerahan saya tentang ‘watak’ budaya bangsa kita.
Dari cara cerita mas Iman, kuat saya tangkap bahwa bangsa kita tidak mengembangkan budayanya ke arah ‘sempurna’, melainkan ke arah ‘harmoni’, yang mencoba merangkul semua hal-hal ‘di balik’ tadi. Humanis sekali.
Tukang belanja Says:
17 February 2010 at 11:15 am.
Waduh, baru tau saya tuh mas. Kalo saya sih paling banter dikejar-kejar sama homo aja.
ael Says:
19 February 2010 at 8:12 am.
wealah, baru tahu saya
budaya oh budaya, indonesiana
Kombor Says:
19 February 2010 at 4:04 pm.
Berbeda dari sebagian yang belum tahu adanya cerita Warok – Gemblak, saya sebagai keturunan orang Jawa cukup memahami dari cerita-cerita tradisional. Kalau tidak salah ada film nasional tempo dulu, film silat, yang di dalam ceritanya ada adu kesaktian antara warok dengan pendekar yang lain. Warok itu ke mana-mana juga diikuti oleh gemblak. Kalau tidak salah bintang filmnya WD Mochtar. Coba, mungkin Mas Iman punya memori yang lebih tajam soal itu.
dony Says:
23 February 2010 at 1:05 pm.
tulisannya bagus mas … kembali menambah wawasan saya terhadap budaya sendiri
thanks for share
Buthe Says:
24 February 2010 at 10:42 am.
Baru tau ada warok dan gemblak ini maka membacanya sampai mengulang2, jadi paham saya. Alhamdulillah jadi tambah informasi…tk u Mas Iman.
aimuz Says:
27 February 2010 at 6:45 pm.
msih bgtu bnyk realita masyarakat kt yg blm kt ketahui
terima kasih infony mas
indrafathiana Says:
28 February 2010 at 12:11 am.
mas, kalo dalam kacamata perlindungan anak, kynya anak2 gemblak itu bakal rame dibela2 para aktivis..
vitta Says:
2 March 2010 at 7:30 am.
bagus sih, tolong dijelaskan tentang makna kostumnya ya!!! =)
fariz Says:
5 April 2010 at 10:17 pm.
nice & depth info ttg gemblak dan warok. di satu sisi, gemblak butuh karena kemiskinan, warok juga butuh untuk ngelmu, untuk kesaktian.
saat dua-duanya butuh, ya jalan teruuus
surono Says:
16 April 2010 at 11:07 pm.
wah sangat bagus nihh tulisanya,mungkin saran saja tolong telusuri lagi kenapa gemblak harus diganti wanita sebagai penari jathilan.kapan ?
yuds Says:
19 April 2010 at 3:07 pm.
Saya asli ponorogo, tapi baru tahu kalau ternyata tradisi gemblak sampai sebegitunya.
ade Says:
23 April 2010 at 7:46 pm.
apakah para warok itu tidak memikirkan bagaimana nasib anak-anak yag dijadikan gemblak yang akhirnya menjadi homo dan sulit untuk melupakan masa lalunya?
Hendi Setiadi Says:
27 April 2010 at 9:53 am.
Hendi itu bukan nama asliku. Klo bicara gemblak, saya sangat paham n sangat familiar sekali. Saya lahir di desa Tulung, Sampung, Ponorogo, thn ’60an. Sekarang saya tinggal di Surabaya dg anak istri. Ketika masih SD saya punya teman karib yg miskin tp body n wajah lumayan tampan. Krn kemiskinan n ketampanan dia, maka suatu waktu dia “dipinang” menjadi gemblak. Padahal sebelum temanku mau, dia pernah bilang tidak akan mau menjadi gemblak dg alasan, menjadi gemblak waktu itu (th ’75 an) agak “miring” dimata masyarakat desa Tulung, krn pasti didandani tiap hari, harus jadi “jaranan/jatilan”, harus pakai gigi emas, rambut selalu pakai minyak “kemadhel”, dan tiap malam pasti selalu tidur dg warok, bergantian tiap seminggu sekali. Tetapi krn kondisi ortunya yg miskin, membuat dia mau menjadi gemblak. Begitu dia sudah menjadi gemblak, lalu menjadi “jaranan/jathilan” seni reyog, maka hubungan persahabatan dg aku menjadi rengang, sampai2 krn “kesibukan” dia menjadi “artis gemblak” akhirnya dia tidak naik kelas sampai dua kali… Iya bener tidak naik kelas dua kali. JUJUR YA, misalnya ortu ku miskin, pasti yg jadi gemblak jatuh ketanganku, untungnya aku gak di lirik warok krn ortu ku adalah pegawai negeri di desa itu (Kepala SDN), sehingga posisi Guru di desa saya sangat di hormati sekali. Kebayang deh misal saya di pinang jadi gemblak, apa jadinya? kebayang di cium warok yg bau apek, jarang mandi walo di kasih duit hehe… Ada cerita lanjutan, temanku tsb setelah SMP tdk jadi gemblak lg krn jaman mulai berubah sehingga menjadi gemblak itu lambat laun hilang di desaku. Tetapi sayangnya temanku tsb. keluar dr dunia gemblak, masuk ke dunia “homosex” krn temanku dijadikan teman selingkuhan seorang guru yg “gay” (walo waktu itu istilah GAY belum ada yg ada adalah “wandu”..:-). Temanku di biayai sama guru gay tsb sampai lulus SLTA. Dan setelah lulus SLTA, temanku pergi cari kerja ke MALUKU di pabrik triplex, dan di MALUKU dapat jodoh lalu menikah punya anak. Gara2 pecah perang SARA di MALUKU akhirnya temanku pulang kampung, lalu membangun rumah di desaku sampai sekarang. Dan aku gak tahu apakah di dlm hatinya masih “mau tidur dg laki” aku gak tahu krn aku n dia dah lama gak ketemu dan jarak kami berjauhan… Paling di setiap lebaran kami bertemu… lalu bercerita tentang keluarga masing2… Begitulah cerita kami. Bagi yg mo share dg saya silakan email japri ke : hendisetiadi@yahoo.com. matur suwun
Jabor Says:
31 May 2010 at 9:33 am.
zaman sekarang nggak sama dengan dulu , Syeh Puji yang njalur saja bisa masuk bui, apalagi warok ?
galih priangan Says:
10 June 2010 at 9:12 am.
warok…warok…katanya orang sakti kelakuan ko kayak banci ,malu tu ma titel…
agahrid Says:
12 July 2010 at 11:47 am.
mudah2an sekarang dah bener2 gak ada lagi ya praktek warok-gemblak, kasiaan banget tuh anak2…ortunya yg miskin kok anaknya yg nanggung beban..parahh
fikri Says:
28 July 2010 at 11:06 pm.
mas hendi, salam kenal yah, sayah share dan penasaran dengan kisahnya teman mas itu yg jadi korban warok
fikri Says:
28 July 2010 at 11:07 pm.
oia ini sayah sudah kirim email ke mas hendi, ini email saayah fikri_pratamapolioto@yahoo.com
Hendi Says:
29 July 2010 at 9:20 am.
To all:
Sebenarnya WAROK itu bukan “homo” spt yg kita tahu sekarang ini. Mungkin dulu lebih tepatnya hanya sebagai “syarat supaya sakti mondro guno”. Krn dulu klo mo sakti harus menjauhi dg perempuan/istri. Makanya para calok WAROK mengambil alih peran istri ke GEMBLAK. Nah yg namanya tiap hari ketemu gembalk, bagaimanapun “nafsu sex” akan muncul. Dg adanya GEMBLAK yg bau wangi maka mau gak mau… ya TAK ADA ROTAN AKARPUN BERGUNA. Geto kale ya jaman dulu. Untuk mengetahui apakah GEMBLAK jaman dulu itu di SODOMI “anusnya” aku sendiri belum bisa komentar. Karena belum ada bukti yg cerita ke aku. Cuma yg pasti tiap malam dikeloni, di cium, mungkin RUDALnya WAROK dijepit sama pahanya GEMBLAK. Mungkin klo itu. Trus klo RUDALnya WAROK di emut sama GEMBLAK juga aku belum memastikan. Krn jaman dulu sangat sangat privacy dan masih kuno “utun” akan hal2 seperti itu. Dah geto ajah.
Dan terima kasih bagi teman2 yg dah kirim email ke saya. Suwun.
Hendi Says:
29 July 2010 at 9:24 am.
Perlu diketahui, salah satu anake mbah TOBRON (warok Po.) adalah temanku satu kelas di SMAN 1 Po. Anake nuuuuakal ra jamak. Opo meneh mbak yune uuuuuuuayuuuu bahenol tp nakal juga hehe….
Artis tend to be dark, worried and superstitious creatures. This is not bad. It makes me perfectionist, it makes me care. Moreover the ability to see the darker side of life is an asset not just directing dramatic and tragic movies, but also for directing comedy, since comedy often has pain inside it. Do you believe that life and film tragically too close together ? I do ...




