14 April 2009
Mencelat
Posted by iman under: POLITIK; REFLEKSI .
Bercakapan ini benar benar terjadi. Dalam sebuah pesawat terbang menuju Surabaya minggu kemarin. Di depan saya, seorang ibu bersikeras memangku anaknya – bukan bayi – menjelang pesawat landing. Sang pramugari sudah memberitahu, bahwa sebaiknya si anak duduk di kursi sendiri, bersebelahan dengan sang ayah.
Si ibu tak bergeming. Demikian pula anaknya.
Jadilah pramugari mengatakan jurus pamungkas, sambil tetap tersenyum sopan.
“ Kalau terjadi sesuatu waktu pendaratan, ibu akan tetap selamat di kursi sementara anak ibu akan mencelat ke depan sana. “
Sambil menunjuk ujung gang pesawat yang jauh itu.
Sang ibu bergidik, lalu akhirnya mendudukan anaknya di kursi sendiri.
Saya tersenyum pahit mendengar dialog ini. Salah siapa ? Parodi unik negeri ini, warganya yang keras kepala dan bangsa yang ramah tamah namun sarkartis.
Tiba tiba saya teringat seorang ibu lain yang begitu keras kepala untuk maju terus menjadi capres walau perolehan suara partainya jeblok. Bukankah dia pernah dua kali kalah mencelat keluar dari kompetisi kompetisi sebelumnya.
58 Comments so far...
dafhy Says:
14 April 2009 at 5:05 pm.
namanya juga demokrasi om
rela menjual harga diri demi sebuah jabatan
nothing Says:
14 April 2009 at 5:12 pm.
semoga ada pemimpin baru yang muncul, meski hal itu sepertinya susah terwujud
arya Says:
14 April 2009 at 5:17 pm.
dia itu rumongso iso, bukan iso rumongso. malah jadi konyol kan sekarang.
agiek Says:
14 April 2009 at 5:45 pm.
makanya ibu2 jangan bodo toh yo!!
*inget kata2 sang ibu*
Basuki Hardjo Says:
14 April 2009 at 6:28 pm.
Bu Mega memang repot,modalnya masyarakat yang fanatik mengkultuskan Bung Karno.Kalo bu Mega nggak nyalonin diri jadi capres,ya yang jadi korban PDIP,karena kekuatan pemersatunya ya itu kultus individu.Karenanya demi existensi PDIP mau gak mau harus nyalonin diri sbg capres. Orang2 disekitar bu Mega yg kritis,sebenarnya memanfaatkan peluang saja untuk naik ke tangga posisi politik. That ‘s it.
taufikasmara Says:
14 April 2009 at 6:29 pm.
Ibu itu memiliki krisis kepercayaan diri sebenarnya. Malu, gengsi, minder, tidak bisa menerima kekalahan. Krisis Pede ini jualah yang akhirnya “memaksa” si Ibu untuk maju jadi Presiden lagi.
BTW mencelat bahasa mana sih, Mas? kalo di daerahku yang ada ‘main celat’ atau main curang
hanny Says:
14 April 2009 at 7:00 pm.
jarang pramugari menggunakan kata ‘mencelat’. hebat juga kosa kata pramugarinya *mengomentari postingan ini dari sudut pandang lain*
wieda Says:
14 April 2009 at 7:33 pm.
hehehehe…jadi ingat reklame kursi….”klo sudah duduk lupa berdiri”………laah klo sudah mencelat? lupa diri kali….wong pingsan
rintik Says:
14 April 2009 at 7:39 pm.
hati-hati mas iman, nanti blognya di tutup, kaya kejadian di facebook kemarin.. hehehe
edo Says:
14 April 2009 at 7:50 pm.
nggg…
ibu yang terakhir kira2 baca tulisan sampeyan gak ya mas :p
leksa Says:
14 April 2009 at 8:02 pm.
Sebuah pesan bung Karno :
“..Apapun dia jadinya kelak, terserah kepada hari depannya. Cuma satu doaku untuknya, semoga dia tidak terpilih menjadi presiden. Kehidupan ini sungguh terlalu berat..”
sepertinya Mega bener2 paham pesan itu, karena memang pesan itu ditujukan kepada Guntur ..
kenny Says:
14 April 2009 at 8:38 pm.
hehehe, mbok pramugarinya suruh ngingetin “ibu” itu siapa tahu jadi bisa sadar
didut Says:
14 April 2009 at 9:17 pm.
wakakakka~ aku pikir mau mendiskripsikan mencelatnya sang pramugari kekeke~
bonek kesasar Says:
14 April 2009 at 9:54 pm.
hahahahahaha….baca judulnya udah cengengesan. Membuat pagiku semakin ceria hari ini.
Aku sudah seneng yang dibahas bukan politik, eh njekethek….buntut2nya politik lagi politik lagi.
Tap bagus juga, mengungkap kejujuran dan (mungkin) mewakili suara2 yg dah mblenek sama kelakukan orang2 disana.
titiw Says:
14 April 2009 at 10:12 pm.
Hahahaha.. Mas Iman ini.. selalu saja ada issue2 di balik tulisannya..
racheedus Says:
14 April 2009 at 10:23 pm.
Kok, nggak berani langsung nyebutin namanya, to, Mas?
Betul kata Pak Basuki Hardjo. Kalau si ibu tidak mencalonkan, keutuhan partai yang jadi korban. Tapi, suka tidak suka, regenerasi juga harus diperhatikan. Makanya, Puan Maharani sudah diterjunkan.
Tapi dilihat dari pengalaman kompetisi sebelumnya, sang ibu memang sudah tidak layak jual lagi, deh. Udah deh jangan keras kepala! Nanti mencelat seperti kata sang pramugari.
Salma Says:
14 April 2009 at 10:33 pm.
Mas Iman,
btw logo di atas sebenarnya hasil jiplakan bukan sih??? (atau siapa menjiplak siapa) kok bisa sama persis dengan logo sebuah toko perlengkapan olah raga di Kanada??? http://www.shopping.662mob.com/index.php
Epat Says:
14 April 2009 at 11:37 pm.
eh tapi si ibu yang ngeyel jadi presidennya ituh adalah satu-satunya presiden RI yang legal loh mas, maksudnya pas turun di terima dengan baik laporan pertanggung jawabannya. presiden lain? hahaha….
gagahput3ra Says:
15 April 2009 at 12:31 am.
Kata “Mencelat” itu catchy ya…kyknya musti dibikin lagu tuh
DV Says:
15 April 2009 at 4:28 am.
Sebagian orang justru menganggapnya sebagai Ibu yang Pantang Menyerah hehehehe.
Sayang tulisanmu pendek, Mas, kupikir kamu akan mengulas dan memberi wcana tersendiri seperti yg biasanya saya nikmati di sini.
LuXsmaN Says:
15 April 2009 at 4:37 am.
banyak orang yang belum menguasai ilmu sabar dan ikhlas PakDhe…
Iman Brotoseno Says:
15 April 2009 at 4:39 am.
Taufik,
Mencelat – bahasa Indonesia ( sepertinya he he ) ,..terlontar secara tidak sengaja,
Hanny, Didut,
Aku kok merasa kamu berpikir ‘ ngeres’ wakakakakk
Basuki, Leksa
Iya ibu itu hanya teh celup rasa Soekarno…jadi hambar dan biasa biasa saja. Sangat berbeda dengan sang bapa tentang visi nasionalismenya. Bung Karno dulu pernah tak mau membuka seluruh konsesi minyaknya untuk asing ketika didesak oleh Caltex, Shell.
” Biarlah nanti kalau Indonesia sudah punya insiyur insinyur sendiri..” Jawabnya. Jadi tidak asal jual seluruh kekayaan negara
Salma,
bener persis banget itu logo,..seperti Kanada yang menjiplak Indonesia deh he he
wahyu hidayat Says:
15 April 2009 at 7:29 am.
ya sudah mas iman, kita teruskan saja kampanye say no to ibu itu…. (lmao)
evi Says:
15 April 2009 at 7:29 am.
iya heran, ibu itu selalu tidak bisa menerima kekalahan.
yang jadi pertanyaan, apa benar itu maunya si ibu sendiri…? atau maunya orang2 disekelilingnya, terutama bapak gendut itu…?
dony Says:
15 April 2009 at 8:51 am.
yang lebih repot lagi mas … si ibu itu gak mau ngaku kalah eh sekarang malah mau berfikir ngejorokin anaknya juga …
sekali lagi teh celup rasa soekarno doang
gak jelas mas semuanya … lebihnya dari kita dia cuman beruntung aja punya darah soekarno
btw kok Indonesia ini hobi banget mengkultuskan yah ?
tukang Nggunem Says:
15 April 2009 at 9:03 am.
Ya karena ibu yang mencelat itu dengan keluguannya(gak tega bilang goblok) selalu dipangku oleh sang suami dan juga cuma memangkukan diri diatas nama besar Bapaknya…mencelat deh…sukur..
-tikabanget- Says:
15 April 2009 at 11:06 am.
pramugarinya perlu diberi diklat berbahasa indonesia yang baik dan benar mungkin?
untung si ibu ngerti kata mencelat.
lha kalo dia dari kalimantan dan gak ngerti basa jawa gimana?
roi Says:
15 April 2009 at 11:24 am.
Kasian ibu itu ya Mas Imam, kecuali kalau memang hobi-nya mencelat…
bangsari Says:
15 April 2009 at 11:50 am.
kalo kejadian lagi. kali ini yang mencelat ibunya, bukan anaknya ya. hehehe
Welly Silva Borneo Augusty (ex. Muha Yk) Says:
15 April 2009 at 12:50 pm.
Mas Imam, Ibu-ibu jaman sekarang emang hobinya, mencelatkan diri. wakakakak…….ups!!!
fahmi! Says:
15 April 2009 at 2:41 pm.
lha herannya ibu yg pingin jadi presiden itu kok masih banyak juga pemujanya. padahal jelas kualitas beliau seperti gitu. hebat.
bodrox Says:
15 April 2009 at 2:57 pm.
akh mas… siapa tahu si ibu bener-bener jadi pilot pesawatnya ntar. wah, saya teringat iklan pemerintah kita tentang pendidikan akhir-akhir ini, iklan janji pemerintah terhadap pendidikan: “walau bapaknya sopir…. siapa tahu ntar anaknya jadi pilot……. “
Koen Says:
15 April 2009 at 6:19 pm.
Huuuh, si ibu (yang terakhir itu) bikin aku dimarahin sopir taxi sepanjang jalan. Hampir aku yang mencelat gara2 doi (sopir, bukan si ibu) nyetir sambil marah2.
Kenil Says:
15 April 2009 at 9:45 pm.
pertamaxxx dulu mas imam salam kenal ya . . . . murid baru nie
dew Says:
16 April 2009 at 8:19 am.
Pas Mas Imam mencelat ke suroboyo aku mencelat ke jakarta… Pdhl pgn ngangsu kawruh…
Nyante Aza Lae Says:
17 April 2009 at 9:30 am.
mas
dq kan orang awam
boleh kan nanya
sapa gerangan ibu yg mo nyalon tapi suaranya jeblok??
klo gak initialnya aja deh…
cK Says:
17 April 2009 at 1:12 pm.
postingan bermakna ganda.
si ibu itu punya pede yang tinggi mas, jadi tetap kekeuh untuk masuk dalam capres…
langitkotabandung Says:
17 April 2009 at 10:18 pm.
bisa aja mas iman, jadi nyambungin ke politik.
malah seru mas, klo ada saingan tangguh melawan incumbent. klo gak ada saingannya, curiga kayak orba lohhhh…. adanya rival dan pemilih (DPT) hanya dimanipulasi semata.
edratna Says:
18 April 2009 at 8:44 pm.
Memang menilai kemampuan diri sendiri apakah diterima oleh banyak orang tidak mudah….dan juga di sekeliling kita sering masih kental budaya sungkan.
Silly Says:
20 April 2009 at 7:40 am.
Hahahahahahaha… cara yang manis untuk menghubungkan kemencelatan *halah* anak yang dipangku si ibu… dan negara yang bakal “mencelat” dari pangkuan si IBU jika dia benar2 “mencelat”kakan dirinya lagi menjadi capres lagi
.
Sudah dua kali mencelat kok ya masih gak belajar-belajar juga sih…
santoso Says:
21 April 2009 at 4:26 pm.
Ada juga seorang penumpang angkot yang selalu menjulurkan kepalanya lewat jendela samping mobil. diingatkan oleh sopir juga tetap nekat. AKhirnya salah satu penumpang lain di angkot itu gemas dan berkata
“Pak, maaf ya, di depan itu ada jembatan. Nah kalau Anda nggak mau menarik kepala Anda dari luar, tiang jembatan itu bisa roboh kena kepada Anda, dan kita semua bisa mati tenggelam di sungai”.
Baru si penumpang itu menarik kepalanya.
david Says:
22 April 2009 at 10:10 am.
Ingat komentarnya dulu…
“Wong saya ngga kalah kok….., cuman kurang aja(r) aja yg milih……”
woalahhh mbokde mbokde….
Alexhappy Says:
23 April 2009 at 10:49 am.
“parodi unik negeri ini, warganya yang keras kepala dan bangsa yang ramah tamah namun sarkartis.”
betul tuh mas……
…dan pemimpinnya mencerminkan masyarakatnya.
Alexhappy Says:
23 April 2009 at 10:50 am.
apa khabar mas? udah lama ngga kesini? sehat2kah dirimu mas? moga sukses slalu
ailtje Says:
5 May 2009 at 5:13 pm.
bukan kalah, tapi kurang suara *mengutip kata si ibu mencelat itu, hihihihi*
Artis tend to be dark, worried and superstitious creatures. This is not bad. It makes me perfectionist, it makes me care. Moreover the ability to see the darker side of life is an asset not just directing dramatic and tragic movies, but also for directing comedy, since comedy often has pain inside it. Do you believe that life and film tragically too close together ? I do ...




